Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 34 ~ Ingatan 15 tahun lalu


__ADS_3

Farhan yang sedang mabuk menjadi bingung, melihat gadis di depannya kembali mengingatkannya pada masa lalu yang pernah dikurung di ruangan gelap bersama gadis gadis kecil saat berusia 13 tahun. Dia mengucek mata dan juga seperti mengalami de javu. "Hah, ini karena aku terlalu mabuk," gumamnya yang memijat pelipis untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya. 


Momok yang menakutkan masih terngiang di pikiran nya, saat itu mereka ingin melarikan diri, tapi ada penjaga di luar pintu dan seekor anjing serigala jantan dan juga ganas. 


"Bagaimana ini, ada penjaga dan juga seekor anjing yang terlihat sangat ganas," ucap Farhan kecil yang baru saja mengintip dari lubang kecil di depannya, dan melirik gadis kecil di sampingnya yang terlihat santai. 


"Kau tenang saja, aku ada di sini. Aku akan memikirkan caranya dan akan melindungimu," jawab gadis kecil itu yang menepuk bahu Farhan kecil berusaha untuk menenangkannya. 


"Aku ingin keluar dari sini," rengek Farhan kecil. 


"Ikuti langkahku dan jangan sampai kau membuat suara, aku akan menarik perhatian anjing serigala itu dengan melemparkan batu. Kita punya kesempatan lima belas detik saja, jangan bertindak ceroboh atau aku akan meninggalkanmu di sini," jelas si gadis kecil. 


"Baiklah, aku mengerti." Dengan cepat Farhan kecil mengangguk, dan melakukan semua apa yang dikatakan oleh gadis penyelamatnya. 


Hingga mereka berhasil dan menuju tempat yang sangat gelap untuk bersembunyi sementara, Farhan kecil bisa melihat dengan jelas mata besar dari gadis penyelamatnya. Farhan kecil berinisiatif untuk mencari penerang dan menemukannya sebuah lentera setelah meraba-raba. Farhan kecil sangat senang dan menyalakan lentera itu, ruang yang awalnya gelap menjadi sedikit terang. 


"Terima kasih telah menyelamatkan aku," tutur Farhan yang tersenyum. 


"Tidak masalah, tapi itu semua tidak gratis. Kau harus menikah denganku saat kita dewasa nanti," ujar gadis kecil yang hanya bergurau, tapi Farhan kecil menganggapnya serius dan langsung menganggukkan kepala dengan cepat. 


"Aku berjanji akan menikahimu saat kita dewasa nanti."


"Hem, tepati janjimu."

__ADS_1


"Baiklah."


Lamunan Farhan terhenti saat melihat Ayu yang memegang kepalanya. "Ada apa dengannya?" gumam Farhan yang menatap gadis cantik di depannya. 


Ayu memegang kedua kepalanya yang sangat sakit, seolah-olah sebuah ingatan melintas di pikirannya. 


"Rara, ada apa denganmu?" Tanya Farhan yang terus memanggilnya dengan kata Rara. "Apakah gadis kecil itu adalah Ayu?" Gumamnya yang berjalan mendekati Ayu dan menarik tangannya. 


"Hei, lepaskan tanganku," cetus Ayu yang berusaha untuk memberontak. 


"Diamlah!" Farhan membawa Ayu menuju kamarnya, dia hanya pasrah. 


Ketika sedang berjalan ke lantai dua, terdengarlah suara yang memekakkan telinga. Langkah mereka berhenti dan menoleh ke belakang. "Apa yang terjadi dengan kak Farhan?" Tanya Laras yang mengkhawatirkan kakak sepupunya yang kehilangan kesadaran akibat mabuk. 


Ayu yang tak ingin repot-repot menjelaskan semuanya, lebih memilih berlalu pergi meninggalkan Laras dan berjalan menuju kamar Farhan. 


"Berhenti di sana!" teriak Laras yang menghampiri mereka. 


"Apa?" Ketus Ayu yang sangat jengah. 


"Apa kau sengaja membuat dia mabuk? Dan terpana saat melihatmu?" Tatapan mengintimidasi dari Laras membuat Ayu menghela nafas dengan kasar. 


"Apa kau menyukai Farhan? Kau selalu saja mencemaskannya?" Tanya Ayu yang tercengang dengan pernyataan Laras yang sangat tidak masuk akal, untuk apa dia melakukan itu, bahkan dia sendiri juga tidak tahu kenapa Farhan sampai mabuk. 

__ADS_1


"Dia kakak sepupuku, tentu saja aku mengkhawatirkan nya," ketus Laras. 


"Benarkah? Tapi yang aku lihat tindakanmu sangat berlebihan." Ucap Ayu yang menohok membuat Laras terdiam seribu bahasa. 


"Hah, tubuhmu sangat berat sekali! apa yang kau makan?" keluh Ayu yang bersusah payah untuk membantu Farhan ke kamarnya. 


Pada saat ini, Laras menatap Farhan dengan tatapan kosong. "Iya, itu memang benar. Jika aku mencintai Farhan, aku tak ingin jika ada perempuan lain di dekatnya," batin Laras dengan nanar. Ternyata Laras menyukai Farhan sejak dia berusia 14 tahun, Laras selalu mengungkapkan perasaannya kepada Farhan. Tapi, Farhan hanya menganggapnya sebagai sepupu dan tidak lebih daripada itu. 


"Apakah aku tidak mempunyai kesempatan untuk mendekati Farhan, aku sangat menyukainya. Tapi dia tidak pernah melihat keberadaanku," gumam Laras didalam hati, sembari menatap punggung Farhan dari kejauhan. Laras merupakan anak adopsi yang berasal dari panti asuhan, tante dari Farhan menerima Laras layaknya anak kandung sendiri. Jadi, sah-sah saja jika dia menyukai Farhan karena mereka bukanlah saudara kandung. 


Ayu berusaha keras dan sangat lega bisa mengantarkan pria tampan itu kembali kamarnya, menjatuhkan tubuh Farhan keatas ranjang serta menyelimutinya dengan perlahan. 


"Kau berhutang budi padaku karena aku sudah menolongmu, tubuhmu sangat berat sekali. Butuh waktu yang lama untuk mengantarmu sampai kesini." Racau Ayu yang melihat wajah Farhan yang sudah tertidur. "Apa kau selalu mabuk seperti ini? Apa yang membuatmu mabuk? Hah, untuk apa aku menanyakan itu. Sebaiknya kau beristirahat dengan nyenyak di sini, aku akan kembali ke kamarku," ucap Ayu yang menatap wajah Farhan terlihat sangat damai. 


Ayu berlalu pergi meninggalkan kamar itu, menutup pintu dan berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. "Oh ya ampun…tubuhku seakan remuk." Dia memegang bahu dan tangannya yang pegal saat membantu Farhan untuk kembali ke kamarnya. 


Laras berjalan menuju kamar saudara sepupunya, membuka pintu dan mendekati Farhan. Dia melihat pria tampan yang selalu membuat hatinya berdebar di saat mereka berdekatan. 


"Kau terlihat tampan saat tertidur," lirihnya pelan. Perlahan dia membungkukkan badannya, wajahnya dengan Farhan semakin dekat. Laras bisa merasakan hembusan nafas dari pria yang dicintainya sejak lama, jantungnya seakan berdetak dengan cepat. Laras mencium bibir Farhan dengan sangat lembut, menikmati bibir saudaranya dengan perasaan yang amat bahagia. 


Ayu baru saja sampai di kamarnya, membaringkan tubuhnya di ranjang empuk itu, tak sengaja dia menemukan kancing berlian di tangannya. 


"Eh, kenapa kancing berlian ini ada ditanganku? Apa ini milik pria itu? Aku rasa ini miliknya. Sebaiknya aku mengembalikan kancing berlian ini ke kamarnya," gumamnya yang melihat kancing berlian yang ada di tangannya. 

__ADS_1


Ayu melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan menuju kamar Farhan, tak sengaja dia melihat pintu kamar itu sedikit terbuka. "Perasaanku tadi sudah menutup pintu itu," batinnya yang menautkan kedua alisnya dan masuk ke dalam kamar Farhan. 


Baru saja dia masuk dan melihat pemandangan yang ada di hadapannya, melihat dengan jelas saat Laras mencium Farhan. 


__ADS_2