
Ayu sempat ragu-ragu mengenai pernyataan cinta yang dikatakan oleh Farhan, dia tidak begitu yakin dengan pria itu, yang selalu saja plin-plan dan tidak mempunyai ketegasan. Tapi dia terkesan dengan kejutan yang diberikan oleh pria itu, bukan berarti dia menerima jika masih saja dibayangi oleh masa lalu, karena dia bukanlah pengganti siapapun.
Ingin rasanya dia menerima dan mengatakan "Ya" hanya saja ragu mengenai keberadaan Kira asli ataupun Kira yang palsu. Dia tidak tahu di mana keberadaan yang Dewi penolong Farhan yang asli, entah dia masih hidup, atau tidak. Tak ingin jika dirinya hanya dimanfaatkan sebagai pelampiasan saja, cukup lama dia berpikir mengenai ungkapan perasaan dan apa yang akan dia balas. "Aku mencintainya, hanya saja bayang-bayang gadis masa kecil dari masa lalu mantan calon tunangannya, membuatku tak mudah menyetujui dan menerima," batinnya tampak gusar.
Farhan melihat ekspresi dari teman kencannya, dia tahu jika wanita itu masih saja meragukan perasaan yang dia ucapkan. Dia tidak ingin menunggu terlalu lama, karena cincin yang sudah dipersiapkan ada di balik saku jasnya. "Ayo berikan jawabanmu sekarang, aku ingin mendengar jika kau mencintaiku!" desaknya yang sudah tidak sabar.
Ayu mendelik kesal, tidak suka jika dirinya dipaksa. Dia tidak menghiraukan dan menggubris perkataan Farhan, dia tidak bisa menerima pria yang masih terikat dengan masa lalu yang akan menjadi bumerang di masa yang akan mendatang. "Apa yang harus aku jawab? Dia mendesakku, sebenarnya aku hanya ingin membutuhkan kepastian saja. Apakah dia mencintaiku atau tidak, atau hanya menjadikanku pelariannya." gumamnya di dalam hati.
Keduanya terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing membuat suasana hening seketika. Ayu mengalihkan perhatiannya menata pemandangan yang ada di bawah, panorama yang indah yang memanjakan mata di malam hari. Suasana romantis tercipta di saat Farhan memegang kedua tangannya, dengan cepat dia menoleh.
"Lihatlah ke bawah, apa kau menyukainya? Ini yang dimaksud dengan kejutan untukmu, sudah dipersiapkan sebelumnya." Farhan mencoba untuk mencari topik lain, agar tidak ada kecanggungan yang terjadi diantara mereka.
Kedua melihat laut dan juga pantai yang sangat indah, apalagi disinari oleh cahaya rembulan yang mempesona. Farhan sedari tadi memperhatikan wajah dari sang wanita pujaan, mengetahui keraguan itu dan segera mengambil kesempatan di waktu yang pas.
"Inilah saatnya," gumamnya seraya mengeluarkan cincin putih permata berlian dari dalam saku jasnya, tersenyum dengan hadiah dan menaruh harapan besar.
Ayu terkejut di saat tangannya disentuh oleh pria itu, segera dia menoleh. "Mengapa kau melihatku seperti itu?" tanyanya dengan penuh.
Farhan tersenyum tipis, segera menyematkan cincin putih bermata berlian tanpa menunggu aba-aba dari sang empunya jari. Senyum di wajahnya terukir indah, menatap cincin yang berkilau terpasang di jari manis dari sekretarisnya. "Kau begitu lama untuk menjawab, hanya mengatakan ya dan tidak. Jangan salahkan aku untuk bertindak nekat." Ungkapnya yang mengatakan keluh kesah.
__ADS_1
Sementara Ayu sangat terkejut, cincin yang sudah tersemat di jari manisnya membuatnya sedikit shock, padahal tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. "Apa yang kau lakukan? Aku bahkan belum memberikan jawabanku!" protesnya yang menatap tajam Farhan.
Tatapan tajam dibalas dengan senyum di wajah dari pria itu, sangat menyenangkan melihat kekesalan dari Ayu yang begitu tidak menyukai tindakannya yang nekat. "Aku tidak punya cara yang lain lagi, aku tidak berdaya. Bagaimanapun juga cincin itu adalah milikmu yang terikat padaku." Jawabnya dengan enteng.
"Kau tidak bisa berbuat seenaknya, aku mempunyai hak untuk menentukan pilihanku sendiri!" ketus Ayu yang sangat jengkel.
Seketika raut wajah Farhan berubah menjadi begitu serius, menatap mantan calon tunangannya dengan ambisius. Dia menggeser posisi duduknya, mendekat dan semakin dekat. Hal itu dibalas oleh Ayu dengan memundurkan posisi duduknya untuk memberi ruang.
"Jangan mendekat!" pakainya yang memberikan isyarat, tapi itu percuma saja Farhan tetap memojokkannya.
Farhan tersenyum penuh arti, membuat Ayu merinding. Dia memegang tengkuk leher jenjang itu dan mencium bibir indah merah merekah, ******* nya dengan perlahan. Memasukkan lidah dan mulai mengabsen deretan gigi yang tersusun rapi juga putih.
Farhan sangat senang mendapatkan sinyal balasan, seakan dunia milik mereka berdua. Sedangkan pilot hanya menelan saliva, karena dirinya masih saja jomblo dan merindukan kekasihnya. "Astaga…mereka menodai mata suciku." Batinnya yang hanya bisa pasrah pada situasi bagai seekor nyamuk, tak di anggap ada.
Akhirnya mereka menghentikan ciuman itu, Farhan memperhatikan emosi yang dimiliki oleh Ayu dan bertanya mengenai apa yang ingin diketahui. "Jadi bagaimana dengan jawabanmu? Aku membutuhkannya sekarang!"
"Jangan memaksaku untuk mengatakannya sekarang, tunggulah sampai periode janji tiga bulan terakhir. Aku akan mengatakan jawabanku kepadamu, lagi pula aku tidak bisa membuat keputusan dengan cepat mengenai sikapmu yang terlalu plin-plan dan tidak bisa membuat keputusan sendiri." Ayu mengatakan itu dengan sangat jujur, dia tidak ingin jika ada kesalahpahaman yang terjadi lagi di antara mereka.
Farhan menganggukkan kepalanya, Dia mengerti apa yang dialami oleh Ayu dan berusaha untuk memahaminya. "Baiklah, aku akan menunggu selama periode tiga bulan berakhir. Tapi, jangan menambah waktu lagi sulit bagiku untuk menyesuaikan ini."
__ADS_1
"Pasti aku memberikan jawabannya!" ujar Ayu tersenyum.
Helikopter mulai mendarat, Farhan membantu Ayu untuk turun dan hendak mengantar kembali ke apartemen. "Aku akan mengantarmu pulang, jangan menolak tawaranku kali ini, mengingat hari sudah sangat malam!"
Ayu mengangguk patuh mengikuti langkah kaki Farhan, dan masuk ke dalam mobil, tapi sebelum itu dia merasakan kecurigaan. Menyadari bahwa, seseorang tengah mengambil foto mereka secara diam-diam. "Siapa yang berusaha bermain-main denganku kali ini?" gumamnya di dalam hati.
Farhan membukakan pintu mobil, mempersilakan wanita itu untuk masuk ke dalam. "Apa yang kamu lihat? Ayo masuklah ke dalam mobil, udara disini sangat tidak cocok untukmu."
Ayu menatap sekeliling dan masih mencari keberadaan seseorang yang tengah memotret mereka namun perkataan dari Farhan segera dituruti dan seger masuk ke dalam mobil dan mengabaikan feelingnya.
Baru saja mobil berangkat, tiba-tiba terdengar suara dari ponsel milik Ayu. Dia segera mengeluarkan benda pipi yang ada beli tas kecil yang selalu dibawa, melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata itu adalah Gabriel, sahabatnya sekaligus aktor terkenal.
"Ada apa pria ini tiba-tiba menghubungiku?" gumamnya pelan sambil mengerutkan dahi, membiarkan ponsel itu berdering tanpa ingin diangkat.
"Ponselmu sangat berisik, sebaiknya angkat telepon itu!" jengkel Farhan.
"Hem, baiklah."
__ADS_1