
Dua pasang mata saling menatap satu sama lain, wajah yang semakin dekat berjarak hanya beberapa sentimeter saja. Hembusan nafas terasa di antara keduanya, ditambah dengan suasana di dalam kamar yang romantis. Beberapa dekorasi indah dan juga mewah, mendukung langkah selanjutnya. Tak tahan dengan bibir ranum milik Ayu membuat Farhan langsung menciumnya dan mulai menikmati.
Ayu hanya terdiam tanpa membalas balik ciuman itu, beberapa pikiran mulai menghantuinya. Segera dia mendorong tubuh pria itu hingga ciuman itu terlepas.
"Kau kenapa?" tanya Farhan yang mengerutkan keningnya.
"Sebaiknya aku mandi, jadwal yang sangat padat membuatku belum membersihkan diri." Sahut Ayu yang memalingkan wajahnya ke samping, tak ingin jika pria itu bertanya lebih jauh.
"Alasan yang masuk di akal," ujar Farhan menganggukkan kepala.
Ayu menghela nafas, berdiri dari sisi ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Baru lima langkah, dia kembali menoleh karena mengingat jika tak punya baju ganti.
"Kenapa?" tanya Farhan seakan tak mengerti apapun.
"Begini, aku tak mempunyai baju ganti. Aku ingin kau mengambilkannya untukku, bagaimana?" ucapnya yang tersenyum kaku.
Farhan tersenyum tipis tanpa diketahui oleh wanita yang tak berada jauh darinya dan menghampiri. "Aku tahu, kau mendorongku karena ingin menghindari ini, 'bukan?"
"Apa? Aku mengatakan yang sebenarnya." Cetus Ayu yang tampak kesal.
"Ck, sudahlah. Jangan katakan apapun lagi, aku sudah mengetahui niatmu."
"Kau sangat menyebalkan." Keluh Ayu jujur.
"Tentu saja."
"Daripada kau membual tidak jelas, sebaiknya bantu aku carikan pakaian ganti!" ucap Ayu memerintah.
"Berani sekali kau memerintahkan, aku ini adalah bosmu."
Ayu yang tak ingin berdebat, menyatukan kedua tangannya dengan pasrah. Karena sepulang kantor, dia terbiasa membersihkan diri baru kemudian tidur. "Tidak ada niatku untuk memerintahmu sama sekali, aku hanya ingin mandi, itu saja!"
"Ck, kau menyatukan tangan seakan ingin mengusirku."
"Kapan aku mengatakan itu? Kau ini seorang CEO tapi dibalik ketegasan mu tersimpan sifat kekanak-kanakan." Protes Ayu.
"Apa kau tidak lihat, jika pintu dikunci?"
Ayu mengalihkan perhatiannya beberapa saat. "Hah, aku melupakannya," gumamnya yang masih terdengar. "Tapi, pikirkan caranya. Aku tidak punya baju ganti." lirihnya pelan sembari mengerlingkan kedua matanya yang terlihat sangat menggemaskan dan juga imut.
"Oh ya tuhan…dia terlihat sangat imut." Batin Farhan yang terpesona.
"Hai, kenapa kau diam saja. Bagaimana? Apa kau ingin membantuku?" celetuk Ayu membuat Farhan menganggukkan kepala dengan cepat.
"Akan aku usahakan."
__ADS_1
"Jangan usaha saja, lakukan dengan kerja keras. Bajuku berkeringat dan membuat kulitku terasa gatal," tutur Ayu yang memohon.
"Hah, baiklah. Akan aku usahakan!"
"Itu bagus." Ayu bersorak riang dan segera berlari menuju kamar mandi, seakan mendapatkan undian berhadiah.
Setelah menyelesaikan mandi beberapa menit yang lalu, Ayu mengambil handuk dan hendak keluar. Namun, handuk putih yang tersedia di kamar tidak cukup menutupi segalanya. "Tidak…aku tidak mungkin melakukan itu. Jika keluar dari sini, itu sama saja aku memberikan kesempatan untuk pria mesum itu." Monolognya terus berpikir, menerka-nerka kejadian yang akan terjadi. Dia sedikit takut, mengingat Farhan menggunakan kesempatan dengan mencium bibirnya.
"Cepatlah keluar dari sana, apa kau tidak merasa dingin?" teriak Farhan.
"Tunggu sebentar lagi." Jawab Ayu berteriak. "Bagaimana ini? Tidak ada baju ganti yang bisa aku pakai." Gumamnya yang gelisah.
Cukup lama Ayu berada di dalam kamar mandi, membuat Farhan mulai bosan. Berjalan ke kamar mandi dan mengetuk pintu beberapa kali. "Kenapa kau sangat lama sekali?" keluhannya.
Pintu terbuka membuat Farhan tercengang, terlihat kaki mulus dan leher jenjang membuat jakunnya naik turun. "Dasar mesum, hentikan tatapanmu itu!" ketus Ayu berlalu pergi tanpa menghiraukan tatapan pria itu.
"Apa yang aku pikirkan? Sebaiknya aku masuk ke kamar mandi," batinnya menggeleng kepala, menyadari pikiran yang mulai bergerilya.
Ayu mendudukkan dirinya di ranjang empuk, sedikit terkejut dengan pakaian yang geletak di sampingnya. "Dia mengabulkan permintaanku," lirihnya tersenyum, tapi seketika berubah saat memikirkan bagaimana pria itu mendapatkannya. "Bukankah pintunya terkunci dari luar?" monolog Ayu sedikit curiga.
Pikiran buruk segera di hempaskan, di saat tidak ada pilihan lain. Memakai pakaian dengan cepat sebelum Farhan datang dan mengintip aktivitasnya.
Beberapa saat kemudian, Farhan keluar dari kamar mandi dan menghampiri Ayu. "Syukurlah jika pakaian itu cocok denganmu," ucapnya enteng.
"Kenapa kau cemberut?" tanya Farhan mengerutkan kening.
"Apa kau tidak bisa membedakan ekspresi? Aku hanya terdiam saja."
"Lalu?"
"Darimana kau mendapatkan pakaian ini?" tanya Ayu menyelidik.
"Pelayan yang mempersiapkan segalanya."
"Benarkah?"
"Kenapa kau selalu mencurigaiku? Seharusnya kau berterima kasih padaku tanpa memperbesarkan masalah."
"Hah, baiklah."
"Mana ucapan terima kasih untukku?"
"Aku tidak percaya ini? Tapi baiklah, terima kasih sudah membantuku dalam masalah ini." Ucap Ayu yang bercanda dan keduanya tertawa lepas, suasana mulai mencair di antara keduanya.
"Apa kakekmu selalu begini?" tanya Ayu mendongakkan kepala, menatap wajah pria tampan itu.
__ADS_1
"Itulah kakek, tapi walaupun begitu aku tetap menyayanginya. Kakek adalah segalanya bagiku," ungkap Farhan.
"Sifat kakekmu dan kakekku tidak jauh berbeda," celetuk Ayu.
"Sebaiknya kau tidur," titah Farhan.
"Kau benar, aku sangat lelah karena kesibukan pekerjaan kantor." Ayu berjalan di sisi ranjang, membaringkan tubuhnya yang sangat letih.
Baru saja mata terpejam, dengan cepat Ayu membelalakkan kedua matanya saat merasakan tangan yang melingkar di pinggangnya. Membalikkan posisi, dan berteriak kaget. "Kenapa kau tidur di sini?"
"Memangnya kenapa?" jawab Farhan dengan santai.
"Dasar tidak sopan, carilah tempat untukmu sendiri."
"Apa kau tidak lihat! Tidak ada tempat untukku tidur dan aku sudah terbiasa tidur di ranjang."
"Itu ide yang sangat buruk, sebaiknya kau tidur di tempat lain saja."
"Tidak."
Ayu sangat kesal mendengar perkataan pria itu, ingin berlalu pergi dari ranjang. Tapi dengan cepat Farhan menggendong tubuhnya ala bridal style. "Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" pekik Ayu yang berusaha memberontak.
"Jangan memberontak, atau sesuatu dibawah sana akan mengamuk dan aku tidak bisa menghentikannya," ujar Farhan dengan kata kiasan. Seketika Ayu terdiam, mengerti maksud dari perkataan itu.
Farhan tersenyum tipis. "Good girl."
"Mau sampai kapan kau menggendongku?" tukas Ayu.
"Kau benar, tubuhmu sangatlah berat." Farhan menurunkan Ayu dari gendongannya secara perlahan-lahan di atas tempat tidur.
"Eh, kenapa kau berubah pikiran dengan cepat?" cetus Ayu mengerutkan kening.
"Ada yang ingin aku katakan kepadamu, dan ini mengenai hubungan kita."
"Aku tidak mengerti," seloroh Ayu yang menautkan kedua alisnya.
"Aku ingin kau dan aku sama-sama menerima untuk melanjutkan hubungan perjodohan ini." Jelas Farhan yang mengatakan sejujurnya, menginginkan wanita itu menjadi miliknya.
"Apa kau yakin?"
"Aku sangat yakin."
"Lalu? Bagaimana jika Kira kembali?"
__ADS_1