
Ayu melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Laras, dan menghentikannya dengan deheman. "Ehem."
Laras yang mendengarkan adanya suara, dia berbalik dan melihat Ayu yang berdiri di depan pintu kamar. "Sejak kapan kau berdiri di sana?" Tanya nya yang panik.
"Saat kau mencium bibir Farhan," sahut Ayu yang mengembalikan raut wajah terkejutnya.
"Aku mencium kakakku sendiri? Itu tidak mungkin."
"Benarkah? Aku melihatnya dengan sangat jelas, bagaimana kau menciumnya!" ujar Ayu dengan tatapan menyelidik.
"Aku hanya menyeka mulutnya saja." Elak Laras.
"Apa itu masih dikatakan dengan alasan yang logis?" ucap Ayu yang terus memojokkan Laras.
"Terserah, apa yang ingin kau katakan, tapi aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan."
"Apa kau takut ketahuan? Menyeka bisa menggunakan tanganmu, bukan menggunakan bibirmu." Ejek Ayu yang tersenyum miring.
"Wanita ini benar-benar membuat aku sangat marah," batin Laras yang meremas kedua tangannya. Dia tak bisa lagi membendung perasaan marahnya saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ayu, berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri rivalnya. Dia menatap Ayu dengan pelototan mata, tatapan kebencian dilontarkan kepada rivalnya. Laras mengangkat tangan dan melayangkan nya hendak menampar Ayu.
"Ups…tidak semudah itu kau bisa menamparku," cetus Ayu yang menahan tangan Laras dan mencengkram nya sangat erat sembari menatap wanita itu dengan tatapan datarnya.
"Lepaskan tanganku!" ketus Laras.
"Akan aku penuhi." Ayu mendorong Laras hingga jatuh ke lantai, membuat sang empunya meringis sambil menatap Ayu tajam.
"Kau sangat kasar sekali, dasar wanita kampung."
Ayu melupakan niatnya untuk mengembalikan kancing berlian milik Farhan, dan ingin meninggalkan ruangan itu. "Sebaiknya jaga batasanmu dan kendalikan hasratmu itu," cibir Ayu yang menoleh beberapa detik dan kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Ayu masuk ke dalam kamarnya, memikirkan kejadian yang dilihat oleh mata nya sendiri. "Apa hubungan wanita itu hingga berani mengambil kesempatan mencium Farhan? Ini sangat mencurigakan," gumamnya yang berjalan mondar mandir. Rasa penasaran yang begitu dalam membuat Ayu ingin mencari tahunya, dengan cepat dia mengambil ponselnya yang ada di atas ranjang dan mencari nomor ponsel seorang peretas terkenal kepercayaannya dan menghubungi nya.
"Halo."
"Ada pekerjaan penting untukmu."
"Informasi apa yang membuat nona kembali menghubungi ku?"
"Aku ingin kau mencari informasi mengenai Laras, sepupu dari Farhan Hendrawan."
"Beri aku sepuluh menit, Nona."
"Baiklah."
__ADS_1
Ayu memutuskan sambungan teleponnya, kembali memikirkan mengenai identitas dan data Laras yang selalu menebarkan kebencian kepadanya. Tak lama kemudian, terdengar suara nada dering ponsel dan mengangkatnya.
"Apa ada informasi?"
"Aku sudah menemukan semua datanya."
"Katakan semuanya."
"Bahwa Laras bukanlah anak kandung dari keluarga Hendrawan, melainkan hanya adopsi dari panti asuhan."
"Baiklah, terima kasih dengan informasi nya. Aku akan mentransfer bayaranmu!"
"Terima kasih, nona."
"Hem."
Ayu memutuskan sambungan telepon, melempar ponsel di atas ranjang dan tersenyum saat mengetahui fakta sebenarnya. "Hah, aku tahu kenapa dia selalu mempersulitku. Ternyata dia hanya anak adopsi dan menyukai Farhan, pantas saja tatapan kebencian di matanya selalu tertuju kepada ku," gumamnya.
Dia melemparkan tubuhnya di atas ranjang yang sangat empuk, menatap langit-langit kamar dengan meletakkan tangan di depan dadanya, memikirkan nasib kedepannya dan menjalani hari-harinya.
"Semoga tiga bulan ini berakhir dengan cepat, dengan begitu aku bisa kembali ke kehidupanku dan dengan cepat memutuskan kontrak pernikahan yang dibuat oleh kakek," lirihnya seraya menghirup nafas panjang dan mengeluarkan dengan perlahan.
****
Hari berikutnya, Ayu pergi ke kantor dan duduk di kursinya dengan perhatian dan fokus yang tertuju kepada materi proyek kerjasama. Tiba-tiba Maudi membawa setumpuk berkas bahan ke meja Ayu, membuat sang empunya mengalihkan pandangan.
"Itu semua mengenai materi proyek yang kau jalani itu."
"Bukankah anda sudah mempunyai materinya? Lalu, kenapa memberikan materi baru?"
"Proyek ini kaulah penanggung jawabnya, dan berusaha lah untuk mengerjakan sendiri tanpa bantuan dari orang lain," sahut Maudi dengan enteng.
"Sepertinya dia ingin mempersulitku dengan mengulang kembali keseluruhan materi," gumam Ayu di dalam hatinya.
"Wanita ini sangat beruntung, seharusnya proyek kerjasama itu adalah milikku. Tapi tuan Farhan malah memberikan kepadanya," batin Maudi yang ingin mempersulit bawahannya.
"Tidak, itu akan mempersulit pekerjaanku?!" tolak Ayu.
"Tapi kau harus mengulangnya kembali," Bentak Maudi.
"Jika aku tidak mau, apa yang akan anda lakukan?" Tantang Ayu yang mendekatkan wajahnya, menatap ketua sekretaris dengan tajam.
"Berani sekali kau menantangku!"
__ADS_1
"Aku tidak takut."
Pertengkaran mereka terhenti saat saluran telepon khusus CEO berbunyi menelpon Ayu. Dengan cepat dia mengangkatnya sebelum terjadi masalah.
"Halo."
"Aku ingin kau membuatkan aku kopi."
"Aku sedang sibuk, dan minta saja office boy atau office girl untuk membuatkannya.
" Ini perintah?!"
"Baiklah, sesuai perintah tuan."
Ayu bergegas pergi meninggalkan ketua sekretaris, dia tidak mengatakan apapun karena tidak ingin terjadi masalah dengan bos besar.
"Berani sekali dia meninggalkan aku tanpa sepatah katapun? Dasar kurang ajar," umpat Maudi yang menggertakkan giginya saat melihat kepergian sekretaris baru itu.
Ayu yang telah selesai membuatkan kopi, mengantarkan ke ruangan bos besarnya. Mengetuk pintu setelah menghirup udara dengan dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Masuk." Terdengar suara dari dalam ruangan, Ayu membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. Menyuguhkan secangkir kopi yang diminta oleh tuannya, meletakkan di atas meja kerja.
"Silahkan diminum, Tuan!" ucapnya dengan ramah dan berbalik untuk meninggalkan ruangan itu. Namun, dia teringat dengan kancing berlian yang masih ada di tangannya.
"Hampir saja aku melupakannya," gumam Ayu yang berbalik, berjalan mendekati bosnya.
"Ada apa?" Tanya Farhan yang menatap wajah Ayu.
"Aku ingin mengembalikan kancing berlian ini kepada Tuan."
"Kancing berlian?" Farhan menautkan kedua alisnya.
"Tak sengaja saya membawanya, saat Tuan sedang mabuk semalam," sahut Ayu dengan Formal.
"Baiklah, bisakah kau pasangkan?" Tanya Farhan.
"Ta-tapi Tuan?"
"Tidak ada tapi-tapian, lakukan sesuai perintahku," ujar Farhan dengan tegas.
"Baik." Ayu memasangkan kancing berlian itu di kemeja milik Farhan, jarak di antara mereka sangatlah dekat. Ayu begitu disibukkan dengan perintah bosnya, sedangkan Farhan mengambil kesempatan dengan menghirup aroma wanita yang ada di dekatnya.
"Tidak salah lagi, jika dia adalah Kira." Batin Farhan yang sangat senang, karena sekarang pencariannya telah berakhir. Dengan cepat dia memegang kedua tangan Ayu, mengedipkan matanya dengan haru. Sedangkan Ayu sangat terkejut dengan reaksi spontan dari bosnya.
__ADS_1
"Eh, kenapa tiba-tiba dia memegang tanganku? Dan kenapa dia seakan ingin menangis?" Batin Ayu yang menatap bosnya dengan bingung. Berusaha untuk melepaskan tangannya yang dipegang oleh Farhan.
"Kira…kau adalah Kira," ucap Farhan dengan suara rendah.