
Keesokan paginya, Ayu telah bersiap-siap, keluar dari kamar dan menuruni tangga. Langkah yang sangat tergesa-gesa, masuk kedalam mobil dan meminta sang supir untuk mengantarkannya. "Antarkan saya ke kantor polisi, Paman!"
"Bukannya hari ini ke kantor ya Neng?" tanya sang sopir.
"Tidak, karena saya ada urusan di sana."
"Hem, baiklah." Pak sopir mengemudikan mobil, pandangan lurus kedepan berfokus pada jalanan.
"Tambahkan kecepatan mobilnya, Paman!" titah Ayu.
"Baik, Neng!"
Tak lama mobil berhenti, Ayu segera turun dari mobil dan berjalan menuju kantor polisi untuk melanjutkan penyelidikan. Menjelaskan situasi dengan sangat rinci, apalagi dia menjadi korban jebakan dari orang yang tidak menyukainya.
"Pernyataan malam itu, saya mengatakan yang sebenarnya terjadi. Maudi mencoba mendorongku, namun rencananya tidak berhasil. Tidak sampai disana, Maudi mencoba membunuhku dengan mengancam menggunakan pisau. Pertarungan itu membuat kami tergelincir dan masuk ke jurang, membuat Maudi tercebur ke dalam Danau." Jelas Ayu dengan sangat antusias.
"Saya akan menindaklanjuti kasus ini, anda bisa menunggu kabar selanjutnya dari kami." Tutur ketua polisi yang menatap wanita yang duduk berhadapan dengan memberikan jalan penyelidikan.
"Terima kasih, jika semuanya telah selesai, saya pamit dulu!" ucap Ayu yang menjabat tangan ketua polisi.
Ayu berlalu pergi meninggalkan tempat itu, setelah memberikan penjelasan situasi kejadian secara rinci. Masuk ke dalam mobil seraya melirik jam di layar ponsel miliknya. "Sebentar lagi tengah hari, sebaiknya aku segera sampai ke kantor." Gumamnya.
__ADS_1
"Kita mau kemana, Neng?" tanya pak sopir menoleh ke belakang, sedari tadi memperhatikan kegelisahan Ayu.
"Antarkan saja ke kantor."
"Baik."
Mobil berhenti tak jauh dari gedung yang menjulang tinggi, Ayu turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih kepada sang supir.
Berjalan dengan penuh keyakinan, baru beberapa langkah sekelompok orang mulai mengepungnya. "Ada apa? Kenapa kalian mengepungku?" tanya Ayu yang mengerutkan kening akibat penasaran.
"Karena kau mencoba melenyapkan putriku!" teriak wanita paruh baya, menatap tajam Ayu yang ditunjuk sebagai tersangka.
"Ya, kau membuat putriku hampir meninggal. Kau wanita yang tidak berperasaan, hampir memisahkan seorang putri dari ibunya." Ucap wanita tua itu yang bernama Lina.
"Jangan menuduh sembarangan jika nyonya tidak mengetahui apapun!" bantah Ayu, dia sangat kesal dengan tuduhan palsu dari segelintir orang, dan sekarang ibu dari mantan ketua sekretaris juga ikut andil dalam masalah yang semakin meluas saat membawa sekelompok orang.
"Kalian lihat itu? Wajah wanita ini begitu polos, tapi di dalamnya sangat busuk bagai bangkai. Mencoba untuk melenyapkan putriku yang sangat suci dan tidak bersalah." Lina menatap satu persatu orang yang dia bawa, mengatakan kebohongan demi mendapatkan simpati.
Ayu menghela nafas dengan jengah, mendengar perkataan wanita yang menjunjung tinggi putrinya. "Hentikan ini, aku sungguh menghormati Nyonya sebagai orang yang lebih tua dariku. Sebelum menuduh, carilah kebenarannya. Polisi sedang mengusut masalah ini, dan jika aku terbukti bersalah? Maka Nyonya berhak menuntutku."
"Kalian lihat? Ternyata wanita ini bermulut manis. Aku seorang ibu, tidak akan diam melihat putriku menderita." Lina menoleh ke belakang, berupaya mendapatkan dukungan semua orang. Dia Menatap Ayu menusuk, menghampiri dan mengangkat tangan berniat untuk menampar pipi mulus wanita muda di depannya.
__ADS_1
Ayu berhasil mencegah tangan Lina yang mendarat di pipi mulusnya, membalas tatapan wanita paruh baya dengan tajam. "Pertama aku menghormati anda sebagai orang yang lebih tua, kedua anda menuduhku tanpa bukti, ketiga dengan membawa orang-orang ini untuk mendapatkan simpati. Aku cukup bersabar saat anda mengatakan hal buruk tentangku, tapi aku tidak menyukai kekerasan." Tekannya seraya mengancam wanita paruh baya, melepaskan cengkramannya dan mendorong dengan pelan. Lina yang didorong memanfaatkan situasi dan terjatuh ke tanah, memasang raut wajah tersakiti dan tidak berdaya di hadapan semua orang. Meneteskan air mata dan mulai terisak, berusaha untuk berdiri.
"Aku hanya meminta keadilan untuk putriku, tapi kau malah mendorongku. Aku mengutukmu, kutukan seorang ibu yang teraniaya!" ucap Lina yang meninggikan suaranya, menunjuk Ayu disela isak tangisnya. Semua orang mulai melalui berbisik-bisik, simpati dengan Lina yang berhasil menjalankan akting dan menyebabkan kontroversi.
Keributan di luar kantor membuat beberapa keamanan datang, mengusir wanita paruh baya itu dan sekelompok orang yang dibawanya. "Sebaiknya kalian bubar, jangan membuat keributan di sini!" usir security dengan tegas.
Lina tak terima dengan perlakuan security, merasa tidak puas dan menerobos untuk mendekat ke arah Ayu "Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang atas apa yang terjadi dengan putriku dan aku akan membiarkan sekelompok orang mengambil tindakan." Ancam Lina sambil menunjuk wajah Ayu, tak lupa sorot mata tajamnya.
"Aku tidak bersalah dan tidak takut dengan ancaman anda!"
Situasi semakin rumit dan memanas, dikala petugas keamanan kewalahan dengan sekelompok orang yang ingin menyerbu Ayu. Farhan datang layaknya seorang pahlawan, melindungi wanita itu menggunakan tubuhnya. Asisten Heri membantu para petugas, menertibkan sekelompok orang yang menargetkan Ayu.
Dia mengelus pucuk kepala Ayu dengan lembut, menarik tubuh wanita itu ke belakang dan mulai menyorot satu persatu sekelompok orang. "Jika kalian masih membuat keributan lagi? Aku tidak segan-segan untuk memenjarakan kalian semua." Ucap Farhan dengan penuh ancaman. Sekelompok orang satu persatu meninggalkan tempat itu, tidak ingin berurusan dengan Farhan. Bahkan Lina juga tak bisa berkutik lagi, mengingat tidak akan bisa melawan pria itu.
Setelah semua orang pergi, Farhan melihat wajah Ayu yang sediki khawatir. "Aku sangat kasihan dengannya, dituduh sebagai seorang pembunuh," batinnya. "Kau tenang saja, mulai sekarang aku tidak akan membiarkan orang lain mengganggumu lagi!" ucapnya dengan penuh keyakinan, tatapan penuh cinta terus tertuju kepada wanita di hadapannya.
Ayu tersenyum mendengarkan kata yang terucap di bibir pria itu. "Sebaiknya aku masuk ke dalam, terima kasih sudah menolongku," ujarnya yang menunduk malu, berusaha menutupi rona wajah yang memerah, berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Dia tampak menggemaskan," gumam Farhan yang tersenyum, mengetahui jika Ayu tersipu malu. Sedangkan asisten Heri hanya mengelus dada, mengingat dirinya yang masih sendiri. "Apa aku berdiri di sini sebagai nyamuk?" batinnya yang meringis.
Ayu berjalan menuju meja kerjanya, melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda akibat kontroversi yang di ciptakan oleh ibu mantan ketua sekretaris.
__ADS_1