Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 217 ~ Ke Mansion


__ADS_3

Farhan berenang menghampiri Ayu, dia sangat mengkhawatirkan sang sekretaris dan segera menolongnya, bahkan dia lupa bagaimana wanita itu dulu pernah membawanya ke tepian pantai saat terdampar ke pulau kecil. Sementara Yuna tersenyum puas karena berhasil membuat rivalnya jatuh ke kolom. "Itulah akibatnya jika bermain-main denganku, dan dia lantas menerimanya." Batinnya sembari melipat kedua tangan didepan dadanya, berpikir jika rencananya bisa mencelakai musuhnya. 


Ayu tetap tenang, melirik Yuna yang tengah tersenyum puas dan semua orang juga melihat kejadian itu. "Dia sengaja mempermalukan ku," gumamnya dengan tatapan tak suka, berniat untuk membalasnya nanti. Kemudian, seluruh perhatiannya kepada seorang pria yang tak jauh darinya. 


"Aku akan menyelamatkanmu," tutur Farhan yang membawa Ayu ke tepian.


Ayu hanya terdiam sambil menatap Farhan dengan tatapan anehnya. "Ada apa denganmu?" 


"Jangan berbicara dulu, bagaimana keadaanmu?" tanya yang sangat khawatir.


"Baik, jangan berlebihan dalam berekspresi."


"Aku sangat mengkhawatirkanmu, tapi kau tidak menghargainya."


Ayu menepuk dahinya, terkadang Farhan membuatnya kebingungan. "Aku bisa berenang, sepertinya kau melupakan saat kita terdampar di pulau."


Farhan tampak berpikir, cengengesan karena melupakan kejadian waktu itu. "Hah, aku lupa. Tapi ya sudahlah, apa kau baik-baik saja?"


"Ya, seperti yang kau lihat."


Farhan hendak memeluk Ayu, lega jika mantan calon tunangannya dalam keadaan baik-baik saja. Namun hal itu terhalang, saat Gabriel menghampiri menganggu momet mereka. 


"Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?" 


Ayu menganggukkan kepala, dia melirik Yuna dengan tajam, segera menghampiri wanita itu dalam hati yang sangat kesal. Tanpa menunggu waktu lagi dia menyeret tangan wanita itu dan menyeburkan nya ke kolam. "Apa kau pikir aku diam saja? Hah, sekarang kau nikmati itu!" 


Yuna memukul permukaan air dengan kuat, mendelik kesal karena seluruh tubuhnya basah kuyup. Kejadian yang sangat memalukan baginya, bagai senjata makan tuan. Beberapa orang menertawakan dirinya dan hal itu juga diliput oleh para reporter sehingga menjadi konsumsi publik di internet. "Sialan, berani sekali kau menceburkan ku ke kolom!" pekiknya tak terima, ingin rasanya dia menampar sang rival.


"Aku hanya melakukan apa yang kau perbuat padaku, sekarang kita impas. Aku basah kuyup dan kau juga, sesuai dengan timbangan porsinya." Jelas Ayu dengan enteng, dia tertawa melihat wajah Yuna yang cemberut.


"Seseorang, tolong bantu aku!" pekik Yuna yang mengangkat kedua tangannya ke atas. "Gabriel, bantu aku!" rengeknya dengan manja.

__ADS_1


Gabriel hanya menonton dan tidak menghiraukan rengekan Yuna, tidak ambil pusing dalam wanita yang pernah meninggalkannya disaat kabar kebangkrutan keluarga. "Jangan manja," ucapnya yang menohok.


"Ini semua karena dirimu!" Yuna menunjuk Ayu dengan sangat kesal, menjadi tontonan semua orang membuatnya dipermalukan.


"Ck, kau bertingkah seperti tidak melakukan apapun. Kita impas," balas Ayu tersenyum puas. 


Farhan mengambil jasnya, berjalan menghampiri Ayu. Tapi tangan seseorang menghentikan langkahnya, melirik pria itu dingin. "Apa kau punya masalah?" 


"Ya, jangan dekati Ayu."


"Aku tidak memerlukan izin darimu, minggir!" 


"Tidak." Gabriel tetap bersikukuh menghalangi Farhan, mereka mencintai orang yang sama hingga persahabatan ketika terjalin sedari kecil menjadi renggang.


"Minggir!"


"Tidak akan aku biarkan kau mendekati Ayu."


"Sialan, menyingkirlah!" tegas Farhan yang ingin menerobos, tapi masih dihalangi oleh pria di sebelahnya.


Lain halnya dengan Yuna yang sangat kesal, dua orang pria yang memperebutkan satu wanita yang sama. "Apa bagusnya wanita itu, hingga mereka berebutan. Aku bahkan jauh lebih baik, mengapa mereka tidak memperebutkan aku." Gumamnya yang segera beranjak dari kolom, air dingin di malam hari membuatnya sangat dingin. Rasa sejuk menyentuh kulit dan terasa hingga ke tulang membuatnya menggigil, begitupun yang dialami Ayu.


"Astaga…ini sangat dingin sekali," monolog Ayu yang menggosokkan kedua telapak tangan, badan yang sedikit membungkuk karena tak tahan memakai baju basah yang membuatnya kedinginan. 


Farhan tak tega dengan rasa kedinginan mantan calon tunangannya, ingin segera memberikan jas miliknya. Hanya satu rintangan, yaitu Gabriel yang menahannya. Merasa muak dengan semua itu, dia mengangkat kaki dan menghentakkan dengan sangat kuat mengenai kaki dari pria di sebelahnya hingga terdengar ringisan. 


"Kau!" 


"Apa? Kau ingin membalasnya? Silahkan, aku tak peduli." Farhan memasang jas di tubuh Ayu yang tampak kedinginan, membawa pergi meninggalkan semua orang. 


"Sial, Farhan selalu saja dua langkah di depanku!" umpatnya yang begitu kesal, dinner romantis kacau dan pernyataan cintanya juga belum diselesaikan. "Padahal hanya sedikit lagi, aku bisa mendapatkan Ayu," erangnya sembari mengelus wajah dengan kasar.

__ADS_1


Ayu hanya patuh, karena suhu tubuhnya sangat kedinginan, Farhan membantunya memasang seal bet. Tatapan keduanya saling bertemu beberapa detik, dan pria tampan itu mengemudikan mobilnya dengan fokus ke jalanan. Kesunyian malam membuat keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing, kecanggungan terjadi di antara mereka. 


Ayu mengerutkan dahi, karena jalan yang ditempuh oleh Farhan bukanlah ke rumahnya, melainkan ke Mansion Hendrawan. Segera menoleh kesamping, begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab pria di sebelahnya. "Ini bukan jalan menuju rumahku, segera putar balik!"


"Kita akan ke Mansion ku, di sana kau bisa beristirahat."


"Itu tidak diperlukan, aku ingin pulang. Antarkan aku ke rumahku sendiri!" tegasnya.


"Aku membawamu bukan tanpa alasan."


"Apa alasannya? Apa kau sedang membohongiku?" 


"Ck, berhenti memikirkan hal buruk mengenai ku. Aku hanya ingin membahas masalah perusahaan denganmu di sana." Jelas Farhan.


"Bicarakan itu besok pagi saja, jangan katakan jika kau mempunyai rencana lain?" Ayu menunjuk wajah Farhan sembari menyipitkan kedua matanya, menyelidiki layaknya seorang polisi.


"Berhentilah menatapku seperti pencuri," Farhan sangat risih, berusaha agar wanita di sebelahnya tidak bertindak nekat. 


"Besok saja, apa ada masalah yang lebih penting? Hingga kita membahasnya di Mansion?" 


"Ya, dan kau tidak punya pilihan selain setuju. Jangan lupakan poin penting dari peraturan ku, mematuhi semua perintah dengan baik." 


Ayu kembali ke posisi duduknya dengan benar, jengkel karena sang atasan menekannya. "Aku heran mengapa asisten Heri bisa bertahan disisinya!" gumamnya di dalam hati. 


Setelah sampai, Ayu masuk ke dalam Mansion yang masih terlihat sama seperti sebelum dia meninggalkan tempat itu. Pria itu menuntunnya ke sebuah kamar yang dulu pernah ditempati, dan tidak ada yang berubah. "Sebaiknya kau mandi dan bersihkan tubuhmu, aku sudah menyiapkan pakaiannya."


"Hem, kau boleh pergi!" 


"Tidak, aku akan menunggu disini. Memastikan apa kau aman atau tidak," tolak Farhan yang memilih duduk di sofa empuk tak jauh darinya.


  

__ADS_1


__ADS_2