
Farhan mulai memikirkan apa yang menimpa dirinya, tidak menerima kekalahan yang terjadi padanya. Kali pertama dia kalah dalam melakukan penawaran, padahal dia sudah menyusun dan menyiapkan dengan sangat baik. Dia melirik wanita di sebelahnya, yang terus menempel membuatnya merasa risih. Menyingkirkan tangan itu sedikit kasar, dan kembali merenungi apa masalah sebenarnya.
"Farhan, aku hanya memegang tanganmu saja." Gerutu Kira yang cemberut, kembali memeluk tangan pria di sebelahnya dengan senyum yang mengembang.
Farhan mendelik kesal, karena permasalahannya semangkin runyam di saat wanita itu terus menempel bagai permen karet. "Apa kau tidak bisa melepaskanku sehari saja, hah?" bentaknya yang sudah emosi, menghempaskan tangan lentik itu dengan kasar.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan."
"Aku tidak bisa mengabaikannya, jangan menggangguku!" tegas Farhan dengan jengah.
Wajah cemberut begitu terpampang jelas, dimana pria itu tidak menganggapnya. "Apa kehadiranku selama ini mengusikmu?" tanya Kira yang memelankan suaranya, menundukkam kepala di sertai linangan air mata. Sedih mendengar penolakan dari pria tampan di sebelahnya, kembali melakukan hal terbaik dalam menjalankan peran sebagai protagonis wanita.
Farhan menghela nafas, merasa bersalah karena sudah membentak wanita itu. Dia menatap Kira yang tengah menundukkan kepala, guratan rasa bersalah menyelimuti pikirannya. "Maaf, tidak seharusnya aku membentakmu."
Permintaan maaf juga tak membuat Kira mendongakkan kepala, masih merajuk agar pria itu membujuknya dengan kata-kata manis.
"Tolong, maafkan aku! Akhir-akhir ini aku banyak pikiran, dan tanpa sengaja malah melampiaskannya padamu."
"Yes, berhasil! Farhan masuk dalam permainanku, dia akan menjadi protagonis pria dan aku protagonis wanita. Sementara Ayu hanyalah peran pendukung," batin Kira yang sangat senang, menganggukkan kepala. "Kau aku maafkan, asal kau tidak membentakku lagi."
"Hem, aku usahakan."
"Bagaimana dengan ucapanku?"
"Ucapan yang mana?" ujar Farhan yang mencoba mengingatnya.
"Mengenai hantu dalam, aku curiga dengan orang yang bermain di dalam perusahaan milikmu, mungkin saja itu orang yang dekat agar tidak menimbulkan kecurigaan. Coba kau pikirkan, bagaimana penawaran yang sudah dipersiapkan bisa bocor? Hingga diketahui oleh pesaing dari perusahaan lain, apa itu masih dikatakan cukup masuk akal?" Jelas kira yang mencoba untuk merasuki dan mencuci pikiran Farhan, bermaksud untuk memberikan tuduhan palsu kepada rival nya.
__ADS_1
"Entahlah, aku juga tidak tahu siapa yang menjadi hantu dalam, setiap orang wajib dicurigai." Ujar Farhan yang juga setuju, tapi belum mengusut siapa dalang di balik semuanya.
Ayu melihat Farhan, dia mengerti mengapa pria itu terlihat murung, apalagi mengingat penawaran kali yang gagal. Melemparkan tatapan sinis kepada wanita yang sangat dekat dengan pria itu, dia tahu jika pelakunya adalah wanita itu. "Ck, si rubah itu pasti mengatakan yang tidak-tidak, ingin rasanya aku mengetuk kepalanya di dinding." Gumamnya di dalam hati. Berjalan mendekati dua orang yang sedari tadi diperhatikan olehnya, tersenyum tipis ingin melihat bagaimana musuhnya memainkan peran.
"Ayo Farhan, kita harus pergi dari sini! banyak hal yang harus dibahas mengenai apa yang terjadi!" ajak Ayu yang sengaja memegang tangan pria itu tampak mesra, berniat membuat Kira sakit hati.
"Tidak, aku juga ingin membahasnya dengan Farhan. Kau boleh pergi!" usir Kira yang membalas.
"Ya, sebaiknya kita pergi dari sini! Masih banyak yang harus dipecahkan dalam permasalahan, dan kegagalan yang baru saja kita lewati." Putus Farhan dan kelompoknya untuk pergi dari tempat itu.
Begitupun dengan Kira yang tak ingin ketinggalan berlari mengikuti kelompok orang-orang dari perusahaan HR Grup.
Di saat hendak keluar, begitu banyak reporter yang menunggu kedatangan mereka, tak lupa untuk menyoroti menggunakan kamera dan alat perekam suara. Beberapa awak media yang langsung menanyai masalah apa yang sebenarnya terjadi, untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi, ini kali pertamanya anda gagal dalam penawaran?" tanya salah satu reporter yang mewakili para reporter lain, mengarahkan alat perekam suara dekat dengan Farhan.
"Ini tidak masuk akal, penawaran tuan Farhan tak pernah meleset. Lalu, apa yang terjadi?"
"Sudah saya tegaskan, biarkan itu menjadi masalah tim dalam mengurus semuanya."
"Maaf, kami ingin mendengar penjelasan langsung dari tuan Farhan."
Asisten Heri segera menghentikan reporter yang bertindak nekat menerobos. "Untuk saat ini, tuan Farhan tidak akan menjelaskannya. Tanyakan pertanyaan itu kepada saya saja!" tegasnya yang memandang para reporter tak suka.
"Tapi kami hanya ingin tahu saja, jangan menghalangi awak media, semua orang harus tahu permasalahan apa yang terjadi."
"Oh ya, apa dengan mengganggu kenyamanan orang lain mengenai serentetan pertanyaan?" cetus asisten Heri.
__ADS_1
"Tanyakan semuanya padaku!" celetuk Kira yang menarik perhatian semua orang mulai menyorot kamera.
"Baik, coba anda jelaskan!"
Kira maju sembari melempar tatapan mengejek pada rivalnya, mengeluarkan kartu King tanpa mengetahui adanya kartu As di tangan sang musuh. "Apa kalian tidak curiga dengan apa yang terjadi? Penawaran yang sebelumnya tidak pernah gagal didapat, tapi kali ini malah…kalian pasti tahu sendiri apa maksudku. Curiga akan orang dalam yang berkhianat, baik di depan tapi busuk di belakang. Orang yang sangat licik yang menjadi dalang disebut dengan hantu dalam, karena tak terlihat." Jelasnya seraya mengancang-ancang menarik nafas.
"Jadi itu efek adanya hantu dalam perusahaan?" tanya reporter yang sedikit mengerutkan dahi, sangat tertarik dengan pembahasan kali ini.
"Ya, hantu dalam itu adalah sekretaris Ayu. Dialah biang keladi dan akar masalah yang terjadi dalam perusahaan," tuduh Kira yang membuat semua orang tampak terkejut.
Ayu menghela nafas jengah, dugaannya sangat tepat mengenai Kira yang pasti menuduhnya. "Sabar Ayu…hari ini kau bersabarlah, biarkan dia berbicara," batinnya seraya mengelus dada.
"Mengapa kau melakukan ini pada perusahaan milik Farhan? Berkhianat setelah memutuskan pertunangan, itu sangat salah." Jelas Kira yang berusaha agar terlihat baik dihadapan awak media.
"Benarkah? Bagaimana jika aku mengatakan kaulah yang menjadi hantu dalam perusahaan?" balas Ayu yang tersenyum mengejek, menyukai ekspresi musuh yang sedikit gugup.
"Sudahlah, jangan membahasnya disini!" sergah Farhan menengahi pertengkaran yang membuat permasalahan semakin rumit, dia melirik sang asisten untuk menyelesaikan segalanya dengan reporter itu.
Setelah kembali ke perusahaan, Kira masih tak terima dengan tuduhan sang rival. "Mengapa kau menatapku begitu, apa kau ingin bola mata itu di congkel?" cetus Ayu.
"Mengapa kau menuduhku? Aku tahu kaulah yang menjadi hantu perusahaan, membocorkan harga penawaran pada perusahaan lain demi meraup keuntungan." Tuding Kira.
"Kau sangat yakin sekali, jika akulah pelakunya."
"Jika bukan kau, lalu siapa lagi? Aku melihatmu masuk ke dalam mobil Leon, Ceo dari perusahaan Sky Grup."
__ADS_1