Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 71 ~ Kancing berlian


__ADS_3

Raina semakin terpojokkan dengan tuduhan yang mengarah ke arahnya. Pintu terbuka mengalihkan seluruh perhatian yang berada di dalam studio, terlihat seorang pria tampan berkharisma pemimpin. Farhan berjalan masuk ke dalam studio dengan raut wajah datarnya, melirik Ayu dengan sekilas dan menghampiri kerumunan itu. 


"Ada apa? Kenapa kalian berkumpul dan belum memulai audisi iklan?" tanya Farhan yang mengerutkan kening. 


"Tadinya begitu, hanya saja sekretaris itu sengaja mempersulitku." Sela Raina yang langsung menunjuk Ayu. 


Farhan menatap Ayu, entah apa yang dia pikirkan. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan intimidasi. 


"Tentu saja terjadi masalah," cetus Raina. 


"Masalah?" ulang Farhan yang mengerutkan dahi karena belum memahami situasi.


"Seperti yang aku katakan!" sahut Raina yang melipat kedua tangan di depan dadanya, melirik Ayu dengan sinis dan tersenyum tipis. "Sekretaris itu hanya membuang-buang waktuku, dia menyerahkan gaun dengan kancing berlian yang hilang." 


"Jangan berpura-pura, serahkan kancing berlian itu sekarang juga." Pinta Ayu yang menatap Raina dengan jengah. 


"Lihatlah, dia malah menuduhku atas kecerobohannya sendiri." Raina berakting sebaik mungkin untuk mendapatkan simpati dari Farhan, Raymond, dan juga Gabriel. 


"Ayu tidak mungkin melakukan kesalahan, pekerjaannya selalu memuaskan." Ucap Farhan yang sangat yakin. 


"Itulah yang aku coba katakan," celetuk Gabriel yang juga sangat mempercayai Ayu. 


"Ck, diamlah. Aku tidak meminta untuk kau bersuara," cetus Farhan yang mendelik kesal menoleh ke arah Gabriel.


"Aku hanya menyampaikan pendapatku saja," jawab Gabriel dengan santai. 


"Dan aku tidak membutuhkan pendapatmu itu."


"Kenapa kalian berdebat? Selesaikan masalah ini." Tukas Raymond yang mulai jenuh dengan Farhan dan juga Gabriel. 

__ADS_1


"Kau diamlah!" ucap Farhan dan Gabriel serempak membuat Raymond terdiam beberapa saat.


Ayu menggelengkan kepalanya dengan pelan, memijat pelipisnya yang pusing akibat mendengar pertikaian para pria tampan di hadapannya. 


"Ck, bagaimana ini? Kedua pria itu membela Ayu dan bahkan Raymond hanya diam tanpa membelaku sama sekali." Umpat Raina di dalam hati, dia sangat kesal dengan kekasihnya. 


"Kalian persis seperti anak-anak!" cibir Ayu. Farhan dan Gabriel menatapnya dengan penuh cinta, kemudian mereka mengalihkan pandangan ke arah Raina yang diduga sebagai tersangka utama. 


"Eh, kenapa kalian menatapku begitu?" ujar Raina yang gugup, takut jika rencananya terbongkar dan bisa berakibat fatal baginya. 


"Pekerjaan Ayu selalu memuaskanku, dan aku tidak yakin jika kau mengatakan dia ceroboh." Kata Farhan dengan menyelidik. 


"Setiap orang pasti membuat kesalahan, dan aku sangat yakin jika Ayu sengaja melakukannya hanya untuk menunda proses syuting." Lagi-lagi Raina menuduh Ayu, dia tidak menyukai wanita yang ingin merebut kekasihnya. 


"Apa kau ini bodoh, aku melakukan pekerjaan untuk menyelesaikan dengan tuntas." Tukas Ayu yang jengah.


Farhan mencoba untuk memahami situasi yang terjadi, hingga dia mengambil gaun itu dan mulai memeriksanya. "Ayu tidak akan melakukan kesalahan sebesar itu," batinnya Farhan yang tetap mempercayai sekretaris nya. 


"Kalian begitu mempercayainya." Ujar Raina menghapus air matanya.


"Hentikan aktingmu itu, dan serahkan kancing itu!" sarkas Ayu yang sangat bosan dengan situasi penuh drama. 


"Kau menuduhku tanpa bukti, sangat mustahil jika aku memotong kancing berlian. Itu bisa memperlambat proses syuting, dan tak menguntungkan ku sedikitpun." Elak Raina. 


Ayu memejamkan matanya beberapa detik, mendelik kesal saat mendengar Raina yang masih mengelak. "Tidak ada benang yang tersisa di gaun bagian belakang, jika kancing itu terjatuh pasti akan meninggalkan benang walau sedikit. Itu artinya ada yang ingin menjebakku, tapi dia sangat bodoh dengan meninggalkan sebuah bukti." Batah Ayu dengan cepat. 


"Aku tidak tahu menahu mengenai itu, kau selalu saja mencari alasan untuk menyudutkan aku." Ketus Raina yang tersulut emosi. 


"Gaun itu hanya dipegang oleh mu, tim wardrobe, dan juga manajer mu." Ayu menatap Raina dengan tajam.

__ADS_1


Raina menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokan, sedikit gugup dengan tatapan Ayu. "Sial, sepertinya wanita ini cukup pintar," batinnya. 


"Sudahlah, sebaiknya kau mengaku saja!" celetuk Gabriel yang tak ingin masalah gaun menjadi panjang. 


"Aku tidak melakukan kesalahan, lalu? Untuk apa aku mengaku!" jawab Raina yang meninggikan suara seraya memandang Gabriel dengan tajam. 


Raymond hanya terdiam, dia sangat mempercayai Ayu. Tapi, disisi lain dia tak tega dengan tuduhan yang terus memojokkan kekasihnya. Sedangkan Farhan menyaksikan secara langsung, hingga mendapatkan sebuah ide. "Apa ada buktinya? Jika Raina sendirilah yang mengambil kancing berlian itu."


"Tentu saja." Sahut Ayu dengan santai dan enteng, membuat Raina berkeringat dingin. Tapi dia segera menghempaskan pikiran buruk yang akan terjadi dan sangat yakin dengan rencananya. 


"Aku rasa dia hanya membual saja," gumam Raina yang meragukan bukti dari sekretaris itu. 


"Heh, aku tidak bodoh. Gaun itu akulah yang merancangnya!"


"Tunjukkan bukti itu," lantang Farhan dengan tegas. Ayu tersenyum saat melihat raut wajah Raina yang berubah dengan cepat. "Kau tidak akan bisa menjebakku, Raina." Batinnya dengan penuh penekanan. 


"Setiap perancang akan mempunyai ciri khasnya sendiri, begitupun denganku. Kancing berlian di gaun itu telah diolesi dengan bahan khusus yang bisa merubah warna kancing dengan mengganti warna lampu." Jelas Ayu penuh percaya diri. 


Seketika Raina semakin gugup dengan penjelasan Ayu, berusaha untuk mengendalikan dirinya. "Apa itu bisa dijadikan bukti? Ck, sangat menjijikkan."


"Kau diamlah, biarkan Ayu mengatakan apa yang ingin dia katakan." Ucap Raymond yang menatap Raina dengan tajam, berusaha menghentikan kekasihnya untuk menyela pembicaraan. 


"Aku akui, Ayu sangat unggul dan juga pintar menempatkan dirinya." Batin Gabriel yang memuji wanita pujaan hatinya. Sementara Farhan tersenyum tipis saat mengetahui pukul telak dari wanita yang membuatnya tertarik. 


"Aku tidak bisa diam, karena aku korban dari kecerobohan dari sekretaris bodoh itu." Pekik Raina protes. Walau merasa tersudutkan, dia masih mengejek Ayu untuk menutupi rencananya yang sebentar lagi akan dibongkar oleh sekretaris Farhan. 


Ayu mengambil gaun yang ada di tangan Farhan, memperlihatkan kepada semua orang bagian kancing yang hilang. "Kalian bisa melihatnya dengan jelas, bagian kancing berlian di sisi bawah itu sama dengan yang di atas. Tapi sebelum itu, bisakan penata cahaya untuk menyoroti kancing ini!" ucapnya seraya memanggil penata cahaya. 


"Apa kalian tidak mendengarnya? Cepat lakukan!" titah Farhan dengan lantang, suara yang menggema membuat para penata cahaya segera menghampiri bosnya dan melakukan sesuai perintah. 

__ADS_1


"Baik Tuan." 


"Dan jangan lupakan untuk menyorot tangan Raina," tutur Ayu yang membuat sang tersangka semakin gugup dan juga gelisah. 


__ADS_2