
Akibat insiden itu, Farhan tidak membiarkan Ayu untuk bekerja membuatnya menjadi sangat bosan dan juga jenuh. Menyingkap selimut dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah beberapa menit di kamar mandi, Ayu keluar dan mulai bersiap-siap untuk kembali ke kantor. Memakai setelan formal, mempoles wajahnya dengan make up tipis, dan tak ketinggalan dengan parfum yang biasa dia kenakan. "Hah, untung saja kaki ku sembuh, di Mansion selama tiga hari membuatku sangat bosan." Monolog Ayu sembari mempersiapkan tas kecil yang biasa dia kenakan.
Setelah bersiap-siap, Ayu masuk ke dalam mobil. "Antarkan aku ke perusahaan, Pak!" ucap Ayu.
"Baik, Nona!" sahut pak supir yang mulai mengemudikan mobilnya.
Di sepanjang perjalanan, Ayu lebih asyik dengan ponselnya, hingga tak menyadari mobil berhenti di gedung pencakar langit.
"Kita sudah sampai di perusahaan, Nona!"
"Eh, terima kasih! Pak." Sahut Ayu yang kembali menyimpan ponselnya, membuka pintu dan turun dari mobil.
Ayu memutuskan untuk ke studio untuk melanjutkan audisi iklan, menyapa dan membalas sapaan dari beberapa karyawan yang bekerja di sana. Saat dia membuka pintu, terlihat semua orang mengalihkan pandangan ke arahnya, dia melihat Gabriel, Raina, dan Raymond yang sudah hadir. Ayu membalas mereka dengan senyuman manis, dengan cepat Raymond dan Gabriel menghampirinya dengan raut wajah yang mencemaskan keadaannya.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Gabriel melihat bekas luka yang ada di kaki Ayu.
"Seperti yang kau lihat!" ujar Ayu dengan santai.
"Seharusnya kau beristirahat," sela Raymond yang khawatir membuat Raina meremas jari-jarinya akibat rasa cemburu di hati.
"Aku sudah beristirahat selama tiga hari, dan ingin melanjutkan audisi iklan ini." Jawab Ayu yang tersenyum sekilas.
"Apa kau yakin?" Tanya Raymond yang melihat bekas luka di kaki sekretaris itu.
"Tentu saja."
"Syukurlah, kau baik-baik saja." Sela Gabriel yang menghela nafas lega.
"Ehem!" Raina berdehem seraya berjalan menghampiri Ayu. "Nasibmu sangat bagus, jika saja tuan Farhan terlambat, kau mungkin sudah tiada."
"Apa kau sedang mendoakan ku untuk mati?" cetus Ayu yang menatap Raina dengan jengah.
__ADS_1
"Tidak, itu simpati dariku."
"Ku harap begitu!" sahut Ayu yang tak ingin membahas kejadian kemarin. Tak lupa dia menyerahkan sebuah gaun yang dirancang nya sendiri kepada Raina. "Ganti pakaianmu dengan gaun yang aku bawakan ini!"
"Baiklah." Raina mengambil gaun yang dirancang oleh Ayu, melangkahkan kakinya menuju ruang ganti pakaian bersama dengan tim wardrobe. Semua orang kagum saat melihat gaun yang sangat indah buatan Ayu yang ada di tangan salah satu tim wardrobe, mereka memuji hasil desainer yang terlihat elegan dan mewah.
Sesampainya di ruang ganti, Raina mengambil gaun di tangan salah satu tim dengan sombong. Masuk ke ruangan dan mulai mengenakan gaun itu, dia memuji kecantikannya sendiri saat di depan cermin besar. Namun, dia kembali melepaskan gaun itu saat ucapan semua orang yang masih terngiang di telinganya, tersenyum licik saat menemukan sebuah ide untuk menjebak Ayu.
"Kalian begitu memuji gaun ini, ambillah!" ketus Raina yang melempar gaun itu mengarah ke salah satu tim wardrobe.
"Kenapa Nona tidak memakainya?" Tanya salah satu tim yang melihat gaun itu.
"Seharusnya kalian memeriksa gaun itu terlebih dulu!" sarkas Raina yang berjalan menghampiri Ayu, meninggalkan tim wardrobe.
"Apa yang salah?" Tanya salah satu tim kepada temannya.
"Tunggu, akan aku periksa." Salah satu tim yang memegang gaun mulai memeriksa, melihat bagian depan yang terlihat sempurna. Tapi saat memeriksa, terlihat kancing berlian di bagian belakang gaun itu hilang. "Pantas saja!"
Semua tim wardrobe mengikuti langkah Raina yang menghampiri sekretaris sekaligus perancang busananya.
Ayu tersentak kaget dan menoleh ke asal suara. "Aku tidak mengerti," jawabnya yang mengerutkan kening.
"Apa perkataan ku masih kurang jelas? Periksalah gaun itu sebelum memberikannya padaku!" cibir Raina dengan tatapan sinis, melipat kedua tangan di depan dadanya. "Mana gaunnya!" teriaknya seraya menyodorkan tangan dengan angkuh.
"Ini." Salah satu tim yang memegang gaun itu memberikannya di tangan Raina. Gabriel dan Raymond melihat hal itu, berusaha untuk memahami apa yang terjadi.
Raina melempar gaun itu tepat mengenai wajah Ayu. "Kancing berlian di belakang gaun itu hilang, sangat ceroboh."
"Bagaimana mungkin? Aku yang merancangnya." Ayu memeriksa gaun bagian belakang, dan memang benar, tidak ada kancing berlian di sana.
"Mungkin saja kancing itu terjatuh saat kau berada di ruang ganti." Celetuk Gabriel.
"Aku rasa begitu," lirih Ayu.
__ADS_1
"Begini saja! Kalian periksalah di ruang ganti, mungkin ada di sana." Saran Gabriel sembari memerintah tim wardrobe.
"Baik." Tim wardrobe bergegas ke ruang ganti pakaian, mereka memeriksa setiap sudut ruangan dan hasilnya tetap nihil. Terpaksa mereka kembali dengan raut wajah kecewa.
"Apa kalian menemukannya?" Tanya Gabriel yang sangat antusias.
"Kami sudah memeriksanya dan tidak menemukan kancing berlian itu," jawab salah satu tim, sedangkan Raina tersenyum tipis saat rencananya berjalan dengan sempurna.
Ayu terlihat kecewa saat mendengarkan hal itu, kembali memeriksa gaun dan melihatnya dengan sangat teliti. "Tidak ada benang yang tertinggal di gaun ini, sudah pasti ada yang sengaja memotongnya. Siapa yang melakukan ini? Apa mungkin ini perbuatan dari Raina yang mengambil kancing berlian itu dan berniat untuk menjebakku," gumam Ayu di dalam hatinya, dia sangat yakin karena sudah memeriksanya terlebih dulu. Apalagi kancing berlian yang melekat di gaun juga tidak ditemukan di ruang ganti pakaian.
"Begitu ceroboh!" cibir Raina yang tersenyum miring.
Ayu berdiri dan menatap Raina dengan dalam. "Serahkan kancing berlian itu!" ucapnya yang menadahkan tangan di hadapan Raina.
"Apa kau gila? Kancing berlian itu tidak ada padaku, kau menyalahkan aku atas sikapmu yang sangat ceroboh? Sangat menjijikkan." Elak Raina yang meninggikan suara.
"Aku sangat yakin, jika kau yang mengambilnya."
"Tidak ada manfaatnya bagiku untuk mengambil kancing itu." Ketus Raina.
Ayu menghela nafas dengan kasar, dia sangat yakin jika Raina sedang menjebaknya. "Aku tidak ingin mengatakan untuk kesekian kalinya, cepat serahkan kancing berlian itu."
Raina berjalan menuju kekasihnya, bergelayut manja berusaha untuk mendapatkan pembelaan dari Raymond. Ayu memutarkan kedua bola mata dengan jengah, saat melihat sikap wanita itu.
"Dia terus menuduhku, Honey." Ujar Raina dengan manja, mengusap tangan Raymond agar membelanya.
"Hentikan ini!" Raymond menghempaskan tangan kekasihnya yang selalu bergelayutan seperti monyet.
Gabriel terdiam, dia mulai memikirkan kejadian hari ini karena lebih mempercayai dugaan Ayu. "Sebaiknya kau menyerahkan kancing berlian itu," selorohnya sembari menatap Raina dengan tajam.
"Kau menuduhku?" ketus Raina yang berusaha untuk berakting.
"Aku tidak menuduhmu, hanya meminta kancing itu," sahut Gabriel dengan santai.
__ADS_1
"Itu sama saja kau menuduhku."