Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 161 ~ Perih


__ADS_3

Membesarkan kedua pupil mata, saat melihat mobil yang terus berjalan ke depan membuatnya tak bisa mengontrol diri. "Itu memang benar mobil milik Farhan, tambah kecepatan taksinya, Paman!" titahnya yang sangat antusias.


"Baik, Neng!" sahut sang supir yang menambah kecepatan taksinya, hingga mereka hampir dekat dengan mobil yang dikendarai Farhan.


"Tambah kecepatannya, Paman!"


"Ini sudah lebih cepat, Neng." 


Ayu menghela nafas berat, khawatir dan penasaran kemana pria itu pergi. Sang manajer membaca raut wajah penuh kegelisahan dari bosnya, berusaha untuk menenangkan. "Jangan terlalu cemas!" 


"Apa dayaku? Kau sangat mengkhawatirkannya dan penasaran, kenapa dia memutuskan sambungan teleponku." ujar Ayu yang mulai jengah dan kesal.


"Berpikirlah positif, mungkin ada pekerjaan atau kesibukan lain."


"Jika itu terjadi? Maka sekarang dia berada di kantor." Ayu segera mengeluarkan ponselnya sembari melirik mobil Farhan yang hanya berjarak satu mobil dihadapan taksi yang mereka naiki. Sudah beberapa kali dia menghubungi Farhan, tapi tidak membuahkan hasil. "Apa penyebab dia melakukan ini?" batinnya yang menyimpan guratan kekecewaan kepada calon tunangannya.


Sang supir memberhentikan mobil di samping mobil milik Farhan,bermaksud untuk mencari celah agar tidak terhalang. Namun sang pengendara lain malah mengerjai mereka dengan sengaja tak memberi ruang untuk menyalip. Mengetahui hal itu semakin membuat Ayu gusar, mengacak-acak rambutnya yang sekarang seperti orang gila. "Kenapa ini terjadi di saat genting?" 


Setelah mobil itu membelok ke sisi kiri, mereka terbelalak kaget karena tak menemukan mobil Farhan. "Jangan katakan jika kita kehilangan jejak!"


"Itulah kenyataannya, Nona."


"Sial! Ini karena mobil itu menghalangi," gerutunya yang masih kesal. Dia sangat panik dan mencoba sekali lagi menghubungi Farhan yang hanya nihil dan tidak berhasil. Kembali menghubungi calon tunangannya, berharap jika pria itu menjawab panggilannya. "Berhenti di depan, Paman. Aku ingin turun!" pintanya.


"Apa kita akan mencarinya di sekitar sini?" celetuk sang manager.


"Bukan kita, hanya aku saja. Hubungi aku jika kau menemukan keberadaan Farhan."

__ADS_1


"Tapi__."


"Tidak ada kata tapi-tapian, lakukan saja sesuai perkataanku!" tegas Ayu yang segera pergi dari sana. Sedangkan sang manager menghela nafas panjang, pasrah mengenai keputusan bosnya.


Nasib baik menghampiri Ayu yang berkeliling melewati jalanan sebelah kanan sebelumnya telah mencegat taksi dan mencari petunjuk lewat GPS yang dikirimkan oleh hacker terpercaya.


Dari kejauhan terlihat sebuah rumah petani, meminta sang supir untuk menghentikan taksi. Segera turun dan melangkahkan kaki untuk menyusuri tempat itu sesuai lokasi yang diterima. Tak butuh waktu lama hingga dia sampai di depan pintu, menghela nafas dan memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Namun tak ada respon dari dalam, terpaksa dia mendorong pintu dengan perlahan. 


Di dalam rumah yang sangat lumuh, persis seperti gubuk tua yang raib di makan rayap, karena dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Sangat kumuh membuat Farhan semakin bersimpati mengenai kehidupan wanita malang itu. Dia membantu Kira untuk duduk di sofa yang sangat sederhana. Bukan karena cinta lama bersemi kembali, tapi memperlakukan wanita itu dengan baik, hanya di kekang oleh moral. "Jaga dirimu baik-baik, aku pergi dulu!" pamitnya.


Wanita itu segera merengkuh tubuh Farhan dan memeluknya dengan sangat erat, seakan memberi isyarat agar pria itu tak meninggalkannya sendirian. "Jangan pergi, Farhan. Ku mohon!" pintanya yang merengek.


Farhan melepaskan pelukan itu dan menatap Kira. "Tugasku memastikan mu untuk sampai dengan aman."


"Kau tidak peduli denganku lagi?" tutur Kira yang menatap sendu, pelupuk mata yang menyimpan cairan bening.


Merasakan hal yang tidak menguntungkan, membuat Kira berpura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian dan rasa simpati. "Auh…sakit!" ucapnya yang memegang luka di lutut.


"Itu hanya luka kecil saja." Farhan berjalan tanpa menoleh, membuat wanita itu hampir saja kehabisan kata-kata. 


"Aku ingin meminta hakku!" tegas Kira menghentikan langkah pria itu.


"Apa maksudmu?" ucapnya sembari menoleh.


"Ya, aku ingin menagih janjimu untuk menikahiku di saat kita sudah dewasa!"


Farhan terdiam, membuat salah satu sudut bibir wanita itu di tarik ke atas. "Kau tidak bisa menyangkalnya! Dan aku ingin meminta hakku." Kira tersenyum samar dan berjalan ke arah pria tampan itu dan memeluknya dengan erat. Terlukis senyuman indah menghiasi wajahnya, tersenyum bahagia.

__ADS_1


Momen yang terlihat sangat jelas di mata seseorang yang berada di ambang pintu, melihat keduanya tengah memeluk mesra. Seakan waktu terhenti, tercengang melihat pemandangan yang membuat hatinya semakin teriris. Raut wajah tanpa ekspresi digambarkan oleh ayu yang merasa sesak, perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Farhan awalnya ingin mendorong tubuh wanita itu, namun tak sengaja bertatapan mata berkontak langsung dengan calon tunangannya. "Ayu," lirih pelannya yang sangat terkejut. Kembali mendorong tubuh wanita yang menempel seperti cicak, tidak ingin jika calon tunangannya salah paham.


Kira tersenyum samar, membuat Ayu cemburu dengannya. Ada guratan kebahagiaan yang terpancar di wajahnya, semakin memeluk Farhan dengan erat. "Jangan pergi! Aku mohon!" pintanya yang semakin hanyut dalam pelukan hangat.


"Lepaskan aku!"


"Jangan katakan itu, aku sangat merindukanmu. Auh…sakit!" ucap Kira yang berpura-pura untuk mendapatkan perhatian Farhan.


Perlahan pelukan itu semakin renggang, Farhan memegang kedua bahu wanita itu dan menatapnya tegas. "Sakit? Bukankah lukanya sudah di balut." tanyanya yang melupakan keberadaan Ayu yang semakin merasa cemburu, hati yang panas saat pria itu mengacuhkannya.


"Apa wanita itu adalah Kira? Dia sudah kembali?" batinnya yang sangat kecewa dengan Farhan, seakan janji manisnya hanya di bibir saja. "Sepertinya aku menganggu kalian!" ucapnya yang masih berdiri di dekat pintu.


Farhan menoleh beberapa detik, mengkhawatirkan Kira yang tiba-tiba saja merasakan sakit di lukanya. "Kau pulang saja dulu, aku akan menyusulmu."


"Kau mengusirku?"


"Jangan salah paham! Aku akan menjelaskan hal ini padamu nanti."


Ayu menganggukkan kepala, dia sekarang sangat paham dan memahami situasinya saat ini


Ada rasa kemarahan besar di hatinya, mengingat pria yang dia cintai lebih mengutamakan wanita lain. Berusaha tetap tegar dan tenang, tak ingin memperlihatkan jika dia sangat rapuh.


Segera bergegas pergi dari tempat itu karena tak ingin berlama-lama, perasaan yang penuh kemarahan, air mata terus mengalir tanpa bisa dikendalikan olehnya. Menyeka air mata yang jatuh dan segera masuk ke dalam taksi untuk pergi menjauh dari rumah petani itu.


"Dia lebih mementingkan Kira di bandingkan aku, apa aku hanya dianggap sebagai pengganti saja? Dan setelah melampiaskannya padaku, dia kembali pada cintanya. Kenapa ini sangat menyakitkan? Aku begitu bodoh, termakan ucapan dari pria itu. Kenapa aku dijodohkan dengan pria yang masih terikat dengan masa lalunya?" Batinnya yang terisak, rasa sakit yang belum pernah dia rasakan.

__ADS_1


__ADS_2