Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 128 ~ Bukti


__ADS_3

Kenan menatap Ayu yang dengan sengit, tidak menyukai perkataan dari wanita itu. Berpura-pura menjadi orang baik untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari orang lain. "Heh, aku mengatakan hal yang sebenarnya." Ucap Kenan. Para reporter menyorot mereka, pertikaian dua orang yang sangat menarik untuk di simak. 


"Kau mengatakan semua itu tanpa berpikir dulu," sahut Ayu yang ingin membalas pernyataan dari pria itu. 


Kenan menatap para reporter, menunjuk Ayu dengan penuh ketegasan. "Kalian lihat wanita ini! Akar dari permasalahan ini adalah dirinya, mengambil keuntungan besar dari pembeli dan memberikan bahan baku murah. Selama ini aku hanya diam saja, tapi kali ini tidak lagi. Aku mengungkap segalanya di hadapan semua orang." Serunya yang terus memfitnah Ayu dengan kejam. 


Semua reporter mulai mengerubungi Ayu dan mengarahkan perekam suara. "Apa yang dikatakan oleh tuan Kenan, benar?" tanya salah satu reporter. 


"Apa anda tidak memikirkan bagaimana nasib para korban?"


"Melihat reaksi anda yang sangat tenang, apa itu hanya menutupi kesalahan saja?" 


Serentetan pertanyaan dari para reporter membuat Ayu sangat geram, tapi tidak memperlihatkan ekspresinya. "Pria ini sangat licik," batinnya yang menahan amarah. "Ucapan pria itu dibuat-buat dan sengaja memfitnah ku juga perusahaan, bahkan dia hanya membual tanpa adanya bukti dan saksi. Apakah itu masih bisa di percaya?" 


Kenan sedikit gusar, namun berusaha untuk membuat nama perusahaan HR Grup terpuruk dan hancur dengan fitnah yang dia ucapkan, menatap wanita itu tajam. "Akulah bukti sekaligus saksi nya, jangan mencoba untuk menutupi kesalahanmu."


"Kau sangat munafik dan berwajah dua, pria licik sepertimu tidak akan bisa membuktikan dari perkataanmu." 


"Sepertinya kau salah mengataiku begitu, kaulah yang sangat licik. Mengambil keuntungan besar dengan memberikan bahan murahan." Sinis Kenan. 


"Kau pria tapi mulutmu seperti wanita, cukup disayangkan. Memfitnah orang lain tanpa adanya bukti!" tegas Ayu yang menyerang balik. 


Para reporter terdiam dan menyimak percakapan dari dua orang yang menjadi narasumber berita. "Tapi apa yang dikatakan oleh tuan Kenan, tidak bisa kami abaikan begitu saja."

__ADS_1


"Tapi tetap saja, dia tidak mempunyai bukti," sanggah Ayu seraya tersenyum. 


"Apa kau tidak mendengar dengan baik? Akulah bukti juga saksinya, bagaimana dengan perusahaan yang melakukan kecurangan itu. Apa kalian mempunyai bukti?" tukas Kenan, memasukkan jari-jarinya ke dalam saku celana, tersenyum senang saat Ayu sudah terpojokkan. 


"Bagaimana dengan tanggapan anda mengenai ucapan tuan Kenan?" reporter mulai menyerang Ayu, menggunakan perkataan yang masuk di akal dari pria itu. 


"Hah, kalian menanyakan bukti? Maka, kalian akan mendapatkannya." Ayu mengeluarkan hasil medis saat dia dan Farhan mengalami kecelakaan di gudang, memperlihatkan kepada semua orang. "Aku dan Farhan adalah korbannya, jika kami mengambil keuntungan besar, apa itu dengan mencelakai diri sendiri?"


Seketika semua orang terkejut mendengarkan ucapan dari sekretaris HR Grup, mereka mulai berbisik-bisik membuat posisi Kenan sedikit bergeser. 


"Bisa saja bukti itu palsu!" elak Kenan yang menutupi kesalahannya. 


"Kalian bisa memeriksakan kebenaran dari hasil laporan dari dokter, dan aku tahu bagaimana pria licik sepertimu melakukan semuanya." Terang Ayu dengan raut wajah yang tenang. 


"Apa kalian tahu, jika seseorang bersalah akan merasa gelisah dan berkeringat." Ayu mendekati pria itu, tersenyum saat melihat keringat di dahi Kenan. 


Perdebatan yang semakin memanas, keadaan memihak kepada Ayu, semua orang bisa melihat kejadian itu dengan sangat jelas. "Benar, dahi yang berkeringat menandakan jika seseorang dalam keadaan gelisah." Celetuk salah satu dari reporter, di anggukkan kepala oleh beberapa orang di sekitar. 


"Ck, berhentilah membual."


"Baiklah, kau boleh menganggapku begitu. Satu pernyataan ku, kau pergi meninggalkan gudang sebelum ledakan terjadi dengan alasan menelepon. Itu bisa dijadikan bukti, jika kau adalah tersangka dan pelakunya." Semua ungkapan Ayu yang dicurigai kepada Kenan. 


"Saat itu aku menerima panggilan yang tidak bisa aku tinggalkan__"

__ADS_1


"Dan kau berpamitan kepada Farhan, benar begitu?" sambung Ayu dengan tatapan menyelidik. 


"Ya, kau bisa menanyakan ini kepada tuan Farhan."


"Apakah menelepon harus pergi menjauh?" 


"Pertanyaan yang sangat konyol," bantah Kenan yang meninggikan suara. 


"Jawab saja pertanyaanku, apa kau takut terbongkar di hadapan semua awak media?" Ayu mengalihkan perhatiannya kepada reporter, melirik pria di sebelahnya dan tersenyum. "Kalian pasti belum memahami hal ini, tapi tenang saja karena aku akan memberitahu kebenaran pada semua orang." Tuturnya tegas dan dingin. 


"Wanita ini tidak bisa di anggap sepele, dia sangat cerdik dalam mempertahankan reputasinya. Tapi, aku tidak akan menyerah dengan mudah, apalagi imbalan membuatku tergiur," pikir Kenan di dalam hati. 


"Kemana Farhan? Dia belum muncul dari tadi," batin Ayu yang celingukan, dengan terpaksa mengeluarkan sebuah bukti rekaman yang dikirimkan oleh hacker."Kalian lihatlah rekaman yang ada di ponselku, dan beberapa kamera boleh menyoroti nya."


Semua reporter mengalihkan perhatian terhadap bukti yang ada di dalam layar ponsel milik Ayu, sementara Kenan berpikir dengan keras. "Bukti apa yang ingin dia tunjukkan?" batinnya. 


Di rekaman itu, Kenan dan seorang perempuan sedang melakukan percakapan dan merencanakan akan meledakkan gudang. Semua orang sangat terkejut dan mengerti jika ledakan itu bukanlah kecelakaan, tapi ada seseorang yang sengaja melakukannya. Dalam percakapan itu sangat jelas, jika pelakunya adalah Kenan. Semoa orang menatap tersangka dengan tatapan ketus juga sinis, mereka yak menyangka jika pelakunya adalah orang dalam.


"Tidak, itu bukanlag suaraku. Bisa saja itu hanya di dubber oleh orang lain yang suaranya sangat mirip denganku," bantah Kenan yang sangat khawatir, tidak habis pikir bagaimana Ayu mendapatkan rekaman dirinya bersama dengan seorang wanita.


"Bisa kita buktikan itu, hanya perlu mencari penilai voiceprint untuk membuktikan benar atau salahnya." Imbuh Ayu yang tersenyum melihat ekspresi Kenan, terlihat sangat mengemaskan dengan kekalahan yang sebentar lagi dia tuai.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2