Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 171 ~ Ke apartemen


__ADS_3

Kedua memutuskan untuk mengikuti kemana mobil Gabriel pergi, sangat penasaran dengan tujuan sang target. Vanya dan Jenni memfokuskan satu tujuan agar tidak kehilangan jejak, mendapatkan suatu berita dan berharap hubungan Ayu dan Farhan segera berakhir.


"Cukup lama kita mengikuti mereka. Kemana tujuan sebenarnya?" celetuk Jenni yang menoleh.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Kita akan diuntungkan dengan ini," seru Vanya yang tersenyum sumringah.


"Hah, terserah kau saja." Pasrah Jenni menghela nafas jengah. 


"Kau terlihat tidak bersemangat, apa kau tidak tahu apa tujuanku?" cetus Vanya yang jengkel, melirik sahabatnya sepersekian detik.


"Ini hanya akan membuang waktu saja, sebaiknya kita berbelanja dan membeli barang-barang branded." 


"Dasar bodoh! Dengan mengikuti mereka, maka kita bisa mengekspos keduanya. Berita viral yang akan menggemparkan dan mengalahkan trending topik." Vanya sangat bersemangat untuk menjatuhkan rivalnya, mengompori.


"Aku tidak ingin ikut-ikutan, kau saja yang melakukannya."


"Apa kau ini sahabatku atau bukan?"


"Tentu saja aku masih sahabatmu," jawab Jenni.


"Seharusnya kau membantuku."


"Tapi aku sangat takut, bagaimana jika Gabriel marah dan bermasalah denganku? Membayangkannya saja membuat bulu kudukku merinding. Aku tidak ingin berurusan dengan idolaku itu, atau para fans nya menyerangku secara bertubi-tubi. Apa itu yang kau inginkan?" hardik Jenni yang takut.


"Apa yang kau takutkan, bukankah ini bagus untukmu! Simbiosis mutualisme. Wanita kampung itu akan di benci oleh semua orang, dan kau bisa mendapatkan Gabriel, sementara aku mendapatkan Farhan." Goda Vanya yang memberikan ide cemerlangnya.


"Hah, kau ini sangatlah cerdik, Vanya. Mengetahui seluk beluk diriku, dan mempergunakannya di saat yang tepat." Puji Jenni sekaligus jengkel dengan sahabatnya itu.


Vanya tersenyum licik, sangat bangga dengan dirinya sendiri. "Itu pasti! Apa kau masih takut?"


"Tidak, aku akan bergabung denganmu."


"Bagus!"


****

__ADS_1


Gabriel melirik Ayu beberapa detik dia melihat guratan kesedihan yang terpancar di wajah wanita itu. Menghela napas panjang seraya mengemudikan mobil, cukup lama suasana hening tanpa adanya yang mencairkan suasana. 


Sementara ayu lebih memilih membuka jendela, membiarkan wajahnya diterpa oleh angin yang menyejukkan. Beban pikiran yang banyak membuatnya tak bisa mencairkan suasana begitu pula yang dilakukan oleh Gabriel hanya terdiam.


Mobil berhenti tak jauh dari apartemen, Gabriel menoleh ke samping dan melihat wanita cantik yang terbuai oleh lamjnannya sendiri. "Kita sudah sampai, ayo turunlah!" 


"Eh, benarkah?" Sahut ayu.


"Hem." Gabriel segera turun dari mobilnya, mengeluarkan koper yang berisi pakaian dan barang bawaan milik ayu, dia sangat peduli dengan wanita yang menjadi cintanya namun perasaannya hanya dianggap sebatas sahabat.


Ayu segera turun dari mobilnya dan datang menghampiri pia tampan itu. "Terima kasih sudah menolongku!" ucap Ayu tulus sembari melukiskan senyuman indah di wajahnya.


"Tidak masalah, ini masalah kecil saja. Karena kau adalah sahabat ku!" Jawab gabriel yang membalas dengan senyum manis khasnya sendiri.


Gabriell membawa satu koper besar dan menariknya menuju masuk ke dalam apartemen, langkah kaki yang diikuti oleh ayu dari arah belakang. Tak lama keduanya sampai ke apartemen, dan segera masuk ke dalam.


Ayu menyusuri pandangannya ke seluruh ruangan, terlihat dekorasi indah dan juga elegan. 


"Apakah kau menyukai apartemen ku?" celetuk Gabriel yang tersenyum pongah.


"Baguslah jika kau menyukainya."


"Apartemen mu sangat bersih dan juga menyejukkan mata."


Gabriel menunjukkan kamar yang akan ditempati oleh ayu. "Ini kamarnya dan kau boleh memakainya sesuka hatimu."


Ayu mengangguk kan kepala menatap pria tampan yang berada dihadapannya. " kapan kau akan pergi?" 


"Kau mau mengusirku setelah aku memberikanmu tempat tinggal? Apa itu adil untukku?"


"Ck, berhentilah bersikap kekanak-kanakan atau aku akan memukul wajahmu!" Kesal ayu dengan jengah.


Sorotan mata dalam dan serius menatap wanita yang berada dihadapannya. "Kenapa kau tidak mengungkapkan identitas mu yang sebenarnya? Apa yang ingin kau tunjukkan kepada semua orang?" 


"Bukan apa-apa karena aku tidak ingin menunjukkan siapa aku yang sebenarnya."

__ADS_1


"Oh ayolah mau sampai kapan kau menutupi identitas mu itu, Ayu Kirana. Bahkan kekayaan mu tidak sebanding dengan apa yang aku miliki, dan kenapa kau lebih memilih di hina dan dicaci maki oleh orang lain yang menganggapmu wanita lemah dan juga miskin."


"Biarkan saja mereka menghinaku, karena aku tidak peduli!"


Gabriel menghela nafas panjang, tak mengetahui alasan yang sebenarnya. Meletakkan koper besar itu tak jauh dari pemiliknya. "Apakah kau tidak ingin membungkam mulut orang yang menghina mu dan tetap diam dengan identitas mu sekarang?" tekannya.


"Jangan bahas hal ini lagi, aku tidak ingin membicarakan mereka."


"Itu satu-satunya cara agar rumor jelek mengenai dirimu segera berakhir."


"Aku sangat lelah sebaiknya kau pergi saja dari sini!" 


"Hah, baiklah karena aku tidak akan memaksamu. Bagaimana jika kita memantau apa yang sebenarnya terjadi karena aku sangat yakin jika kau tidak bersalah dalam hal ini!" Semangat Gabriel dengan antusias.


"Aku akan menyelesaikan masalah ku sendiri terima kasih sudah membantuku."


Gabriel menghela napas, dia tak ingin memaksa ayu dan terlalu ikut campur dalam permasalahan yang terjadi saat ini. "Ya sudah, jika kau tak ingin mengatakannya kepadaku dan jika terjadi masalah segera hubungi aku." Jelasnya seraya menepuk pelan bahu wanita itu.


Ayu membalasnya tersenyum senang bukan kepala dengan pelan, menatap punggung pria itu yang mulai menghilang dari balik pintu. 


Setelah kepergian Gabriel, Ayu segera membuka laptopnya dan mencari informasi mengenai kondisi kakek Hendrawan dengan cara meretasnya. Tak butuh waktu lama, sistem keamanan yang ada di rumah sakit berhasil di retasnya. Ada guratan kesedihan terpancar di matanya yang indah, saat melihat tubuh tua yang masih terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.


 Rekaman cctv yang menunjukkan obrolan farhan dan juga dokter mengatakan jika kesembuhan kakek, betapa terkejutnya tidak ada jalan untuk kesembuhan dari Hendrawan. 


"Aku harus bertanggung jawab mengenai kondisi kakek hendrawan, karena akulah penyebab dari masalah yang terjadi. Apa aku harus meminta bantuan kepada dokter Zaki?" Menolognya seraya berpikir panjang. "Tidak punya pilihan lain, mau tak mau terpaksa menghubungi dokter senior, dokter Zaki."


Keesokan harinya, ayu memutuskan untuk berangkat ke kantor tidak menghiraukan gosip yang menyudutkannya. Bahkan tatapan beberapa karyawan tak membuatnya sedih.


"Jika aku menjadi dirinya, mungkin tak berani datang ke tempat ini." Foto salah satu karyawan yang berisi dengan teman sebelahnya.


"Tentu saja, dia tak mempunyai malu sama sekali." Balas wanita yang berada di sebelahnya, melirik ayu dengan sinis. 


"Wanita yang sangat menjijikkan! Tidak bisa aku bayangkan jika Ayu menjadi istri dari tuan Farhan Hendrawan."


Ayu melirik beberapa wanita yang membicarakan nya dan mulai melangkahkan kaki untuk mencari keberadaan asisten Hari.

__ADS_1


   


__ADS_2