Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
S2 ~ Tamat


__ADS_3

Pernikahan digelar dengan sangat mewah, semua orang tampak hadir dalam ruangan yang begitu megah. Para tamu undangan dari berbagai kalangan, dan juga kolega, rekan bisnis dari keluarga mereka turut hadir memenuhi gedung yang sebelumnya sudah didekorasi. Semua orang menggunakan pakaian formal, sesuai dengan identitas mereka pemilik dari perusahaan, saham dan juga bagian penting lainnya.


Hari yang begitu dinanti-nantikan oleh kedua insan, untuk segera meningkatkan janji suci pernikahan. Aluna tampak cantik dengan gaun putih yang dirancang oleh Ayu, beberapa aksesoris menambah kesan luar biasa. Sang pengantin wanita tampak cantik yang membuat semua orang di dalam ruangan itu takjub dengan kecantikan dari keturunan bangsawan China bermarga Chen, sebentar lagi akan berganti marga mengikuti nama belakang sang suami. 


"Wow, kau terlihat sangat cantik dengan balutan gaun yang cocok dengan tubuhmu," puji Ayu yang tersenyum, sangat puas dengan hasil karyanya yang berperan penting dalam membuat gaun dan juga jas khusus untuk kakak dan kakak iparnya.


"Ini semua karena berkat mu, gaunnya juga sangat nyaman." 


"Apa kau sudah siap?" tanya Ayu yang tersenyum, dia ingin menjadi pengiring pengantin sesuai permintaan Leon. 


Aluna menggenggam tangan Ayu dengan sangat erat yang membuat wanita itu menoleh. "Ada apa?"


"A-aku sangat gugup." Ungkap Aluna yang masih menggenggam tangan Ayu, menelan saliva dengan susah payah yang seakan tersangkut di tenggorokan. 


Ayu mengerti karena dia juga pernah merasakan hal yang sama, mengelus punggung tangan calon kakak iparnya dan tersenyum lembut. "Kau tenanglah, itu wajar terjadi, aku juga pernah berada di posisimu. Tenangkan pikiranmu dengan menghirup oksigen sebanyak mungkin dan mengeluarkannya secara perlahan." Dia memperagakannya dan diikuti oleh Aluna. "Yah, benar begitu. Lakukan sebanyak tiga kali dan kau bisa merasakan manfaatnya. Aku selalu mencobanya dan berhasil," jelasnya dengan bangga. 


"Aku tidak menyangka jika tips mu sangatlah ampuh, mendapatkan Leon sangatlah sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun." Aluna merasa sangat berterima kasih, karena semuanya berkat campur tangan dari Ayu. 


"Tidak perlu sungkan ataupun berterima kasih, karena kau adalah jodoh Leon yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan."


"Hem, apa semuanya sudah menunggu kita di bawah?" tanya Aluna yang masih sedikit gugup, bercermin sekali lagi dan memeriksa apa ada yang salah dan kekurangannya.


"Mereka sudah menunggu, bisakah kita turun sekarang?" 


Aluna menghirup oksigen dan mengeluarkannya dengan perlahan, dia menganggukkan kepala karena semua dirasa sudah cukup. "Tolong, tetaplah bersamaku."


"Aku hanya bisa mengantarkanmu saja, karena aku tidak bisa selalu di sisimu. Kau tahu sendiri, Farhan sangat posesif dengan kondisiku yang tengah hamil kembar." Jelas Ayu yang sedikit sedih.


"Ya sudah, tidak masalah."


Terdengar suara ketukan pintu dan segera dibuka oleh Ayu, terlihat seorang wanita paruh baya yang mengenakan gaun sesuai dengan umurnya tengah tersenyum saat menatap sang mempelai wanita. "Kau terlihat sangat cantik, Sayang. Ayo kita turun! Semua orang telah menunggu."


"Baik, Bi."


"Apa perlu Bibi menemanimu?" tawar Ruo yang tersenyum.


"Tidak, ada Ayu yang menemaniku." Tolak Aluna yang membuat Ruo terkekeh. 


"Baiklah, dan kamu! Jangan terlalu menuruti permintaan Aluna, ingat kandunganmu atau Farhan akan menuntut calon suami keponakanku." Guyon Ruo membuat semua orang terkekeh.


"Aku hanya mengantarkannya dengan hati-hati, Nyonya tidak perlu khawatir lagi." 


"Aku percaya itu, segera bawa mempelai wanita atau Leon sendirilah yang menyusul kalian. Ayu, aku ingin kau memanggilku Bibi, bukankah selama ini kau temannya Aluna? Jangan ada pembeda untuk kita." Terang Ruo yang bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


"Wah, aku tidak menyangka jika yang berbicara dengan kita bibi Ruo." Ucap Aluna yang merasa terkejut dengan perubahan gaya bicara sang bibi yang tiba-tiba saja menjadi cerewet.


"Tapi itulah faktanya. Ayo, turun!" 


Kedua wanita itu keluar dari ruangan hias dan berjalan dengan begitu anggunnya, apalagi di saat sang mempelai wanita menjadi sorotan semua orang yang memuji kecantikan wanita berketurunan Chinese. 


"Dia sangat cantik, tapi aku tidak rela jika para pria lain menikmati kecantikan yang seharusnya menjadi milikku." Gumam Leon yang mengumpati semua pria yang ada di dalam gedung. 

__ADS_1


Sedangkan Farhan tersenyum, karena juga pernah melewati fase itu. "Itulah yang aku lewati dulu, dan sekarang tibalah bagianmu." Bisiknya. 


Leon menoleh ke arah samping dan sangat kesal saat Farhan menoleh ke arah pengantin, sengaja mengusap wajah adik ipar dan tersenyum puas. "Itu pengantinku, jangan mencoba untuk menatapnya." 


"Ada apa denganmu? Apa kau pikir aku pria yang sama dengan para pria di sana," cetus Farhan yang mengarahkan pandangan dan juga merasakan cemburu. 


"Ck, jangan berbohong. Sorot pandang matamu saja mengarah kesana." 


"Aku tidak tertarik dengan wanita lain, aku sedang menatap istriku yang bersebelahan dengan calon istrimu. Lihatlah Ayu, dia sangat cantik melebihi pengantinmu, apalagi dengan tubuhnya yang berisi membuatku puas saat memeluk tubuhnya itu." Ucap Farhan yang berterus terang, sedangkan Leon memasang raut wajah tak bersalah setelah menuduh. 


"Sekarang kau menyingkirlah!" usir Leon yang menyambut kedatangan dari mempelai wanita. Lain halnya dengan Farhan yang begitu jengkel dengan kakak iparnya itu, namun seketika berubah saat menggandeng tangan istrinya. 


"Ayo kita turun, kau pasti sangat kelelahan." Farhan menggendong tubuh Ayu ala bridal style di hadapan semua orang, bahkan para para tamu bingung siapa yang menjadi pengantin sebenarnya. 


"Sayang, turunkan aku. Kalau kau bersikap romantis, mereka akan salah paham dan berpikir jika kita sepasang pengantin."


"Biarkan saja apa yang mereka pikirkan, tapi saat ini dirimu yang menjadi prioritas ku." Farhan mencium bibir Ayu dan menurunkannya dengan sangat perlahan.


"Dimana anak-anak?" tanya Ayu yang celingukan mencari keberadaan ketiga anak kembarnya yang sudah dari tadi tidak terlihat. 


"Jangan mencemaskan mereka, jika mereka menghilang tinggal cari saja di perhidangan makanan." Jawab Farhan yang melihat dari kejauhan ketiga anak kembarnya yang menikmati cemilan manis seperti kue dan brownies.


"Tapi tetap saja, kau harus menjaga mereka." 


"Tenang saja, mereka duduk bersama keluarga asisten Heri yang juga mempunyai anak sebaya. Semoga mereka menjadi teman yang baik." 


"Hem, baiklah." Akhirnya Ayu bisa menghela nafas, mengingat ketiga anaknya dalam keadaan baik.


Keduanya telah sah menjadi sepasang suami-istri istri, dan mereka semua berbahagia dan bertepuk tangan. 


Tirta menangis karena bebannya sudah lepas, kini dirinya pasrah jika sewaktu-waktu nyawanya dicabut. "Kini misiku tuntas. Sayang, pasti kau melihat pernikahan cucumu yang sangat meriah ini. Aku telah berhasil menjalankan amanahmu sebelum meninggalkan aku. Dan untuk putraku, kau sekarang bisa tenang karena aku telah mengantarkan anak-anakmu hingga ke altar pernikahan sesuai yang kau inginkan. Jika kalian ingin menjemputku, aku tak mempermasalahkannya." Batinnya yang segera menyeka air mata.


Leon dan Aluna sangat bahagia, bahkan air mata kebahagiaan menetes dengan sendirinya. Cinta yang disatukan lewat pernikahan sangatlah membahagiakan. 


"Aku mencintaimu." Ucap tulus Leon yang memeluk istrinya.


"Aku juga mencintaimu." Balas Aluna.


"Hah, akhirnya paman Leon menikah." Ucap Flo seraya menyuapi mulutnya yang entah menghabiskan berapa potong kue. 


"Dari tadi kau selalu makan kue, tubuhmu terlihat gemuk seperti ikan buntal." Ucap seorang anak kecil yang duduk di sebelah Adit.


"Lalu, apa aku merugikanmu? Ini perut dan juga mulutku, tidak perlu repot mengurus orang lain." Cibir Flo yang geram. 


"Dasar ikan buntal," ejek bocah kecil yang bernama Mahendra, anak semata wayang dari pasangan asisten Heri dan Dona. 


"Kau persis seperti tangkai sapu, kurus." Balas Flo yang juga tak mengalah, sementara Heri dan Dona hanya tertawa dengan pertengkaran kecil anak-anak.


"Tidak boleh berkata buruk padanya," sergah Dona.


"Tapi, aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

__ADS_1


"Dan aku tidak peduli, sangat menyebalkan." Sela Flo.


"Kenapa kalian selalu saja bertengkar setiap kali bertemu? Telingaku rasanya ingin pecah," kesal Abi.


"Dia yang mulai," sahut Flo dan Mahendra yang saling menunjuk. 


"Wah, sepertinya anak kita sudah menemukan jodohnya." Heri tersenyum ke arah istrinya. 


"Hem, mungkin saja."


Pernikahan yang sangat indah bak negeri dongeng, kini seluruh keluarga memutuskan untuk mengambil foto bersama sebagai kenang-kenangan yang akan di ingat untuk selamanya. Semua orang berpose dengan gaya mereka masing-masing, ada yang tersenyum bahagia, ada juga yang cemberut saat anak-anak yang berdiri di barisan paling depan membuat kerusuhan. 


"Ck, mengapa mereka tidak puas berfoto?" umpat Leon yang sudah tidak sanggup lagi, karena dirinya hanya membayangkan bagaimana gaya untuk malam pertama. Seketika terbesit di pikirannya,sebuah ide yang akan membuat mereka terbebas. "Apa kau merasa lelah, Sayang?" bisiknya.


"Tidak." Aluna lanjut berfoto ria dengan beberapa orang teman dan juga tamu. 


"Aku sangat lelah. Ayo, kita ke kamar!" ajak Leon yang belum berputus asa.


"Ya sudah, kau bisa pergi ke ruang istirahat."


"Ya Tuhan, mengapa dia tidak peka? Aku sudah tidak tahan dan tidak bisa menunggu hingga malam hari tiba, itu sangatlah lama." Batin Leon yang memaksakan diri untuk tersenyum.


"Ada apa? Sepertinya kau terlihat gelisah," bisik Farhan yang mengerti akan kegelisahan dari kakak iparnya. 


"Ck, kau selalu saja ikut campur."


"Hem, ya sudah." Farhan tersenyum puas dengan raut wajah kakak iparnya. 


****


Aluna sangat malu saat berada dalam satu kamar dengan pria yang sekarang menjadi suaminya, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia lewati. Rasa deg-degan apalagi mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, sang suami tengah membersihkan diri membuatnya mulai berkeringat dingin. 


"Astaga…mengapa aku tiba-tiba sangat takut memikirkan malam pertama?" gumamnya yang menelan saliva saat melihat Leon yang berjalan ke arahnya menggunakan handuk putih, bagian dada yang terekspos dengan sangat jelas. Tetesan air di rambut pria yang menjadi suaminya itu membasahi pipi semakin membuat degupan jantung semakin berdetak sangat cepat. "Bersihkan dirimu, kau akan merasa lebih baik setelahnya."


Leon yang menyentuh pipi istrinya karena hasrat tak bisa dibendung lagi, mengikuti kemana Aluna pergi. "Kau mau apa?" 


"Bagaimana jika kita mandi bersama," ucap Leon yang tersenyum. 


"Tidak boleh," Aluna menutup pintu kamar mandi dan segera membersihkan tubuh. 


Beberapa saat kemudian, Leon menelan saliva saat melihat paha yang putih mulus. Hasrat lelakinya mulai bangkit dan segera menghampiri. 


"A-apa yang kau lakukan? Aku belum mengenakan pakaian." Aluna sangat gugup saat Leon masih mengenakan handuk.


"Untuk apa mengenakan pakaian jika akhirnya aku buka?" Leon sudah tidak sabar dan segera mencium Aluna dengan lembut, semakin lama kian menuntut. Bahkan kedua tangannya tak dibiarkan menganggur, memainkan aset berharga yang sudah menjadi miliknya. "Kau hanya milikku seutuhnya." Bisiknya yang mencium leher sang istri dengan sangat lembut. 


Saat penyatuan akan segera dimulai, terdengar suara petasan dari luar ruangan. Leon yang sangat kesal, segera menutup tubuh Aluna yang sudah polos dengan selimut. Dia segera membuka pintu, terlihat dua orang anak kecil yang sudah berlari. Siapa lagi jika bukan Abi dan Adit atas suruhan Farhan.


"Hah, akhirnya aku bisa membalaskan dendam." Farhan tersenyum puas, lain halnya dengan Leon yang sangat geram dengan keluarganya yang ajaib. 


Leon menutup pintu kamar dan menguncinya, kembali memulai pemanasan dari awal hingga penyatuan memasuki goa.

__ADS_1


...Tamat...


__ADS_2