
Raut wajah Kenan tidak bisa dijabarkan lagi, hati yang menahan amarah serta tatapan seperti silet tajam. Bibirnya seakan kaku, tak bisa mengatakan apapun lagi hingga apa yang di ada di bukti menjadi pukul telak nya, wajahnya berubah muram, meratapi akhir dari dirinya.
Setelah itu, para reporter mengerti seluruh kejadian dan mulai menyerang Kenan dengan pertanyaan. "Ternyata apa yang di ucapkan oleh nona Ayu sangatlah benar, jika kau pria yang sangat licik!" geram salah satu reporter dengan perkataan tajamnya.
"Sudah jelas sekarang, jika andalah yang menjadi dalang hanya di hasut oleh perusahaan Malhotra. Karena sebelumnya perusahaan itu pernah bersitegang akibat karya yang di plagiat, permasalahan dan rencana dari nona Tiara terbongkar," sambung reporter lainnya.
"Apakah anda ingin membela diri?" tanya reporter yang mendekatkan arah perekam suara kepada narasumber sekaligus tersangka.
"Itu tidak benar, wanita itu yang sedang memfitnahku!" Kenan tak punya pilihan lain, masih tetap mengelak dengan bukti kuat yang diperlihatkan kepada semua orang. Pasrah dengan keadaan, bahkan dia sendiri tak mempunyai bukti apapun.
Farhan mendelik kesal, tidak bisa menerima akibat kesabaran yang kian menipis. Melirik sang asisten, menganggukkan kepala memberi isyarat.
"Laksanakan!" Asisten Heri yang mengerti hanya menganggukkan kepala, beranjak pergi dari sana dan melakukan sesuai perintah. Kepergiannya mendapatkan sorotan dari semua orang, penasaran apa yang akan dilakukan oleh pria itu. Tak butuh waktu lama, asisten Heri membawa seorang pria yang telah di sekap sebelumnya.
"Apa hubungan tuan Kenan dengan pria itu?" tanya salah satu reporter mewakilkan yang lain. Para reporter sangat mengenal saksi, pernah meliput saat pria itu mendekam di balik jeruji. Seorang tahanan polisi yang kabur dan menjadi buronan, namun Farhan bisa menangkap pria itu dan membawanya di hadapan seluruh dunia.
Semua orang menunggu perkataan selanjutnya, bahkan Ayu juga memperlihatkan ekspresi yang sama.
"Kalian pasti mengenal pria ini, dia seorang buronan di internet yang tahu cara merakit bom." Ucap Farhan, melirik saksi bukti mengenai peledakan di gudang.
Ayu menutup mulutnya dan terkejut, tak menyangka jika Farhan menemukan bukti yang dia sendiri tidak tahu.
"Dan pria ini juga terkait dengan beberapa serangan *******," sambung asisten Heri.
Kenan menyeka keringatnya, menutupi kegugupan saat tak ada harapan untuk membela diri.
"Kau jangan diam saja, katakan sesuatu!" asisten Heri terus memaksakan pria itu agar membuka mulut dengan sedikit ancaman.
"Apa yang dikatakan itu sangat benar, pria itulah yang membayarku untuk mencelakakan tuan Farhan dan nona Ayu." Jelasnya.
"Katakan! Berapa jumlah yang kau terima saat bekerja sama dengan Kenan?" aura yang dikeluarkan kian mencekam, bahkan sekeliling Farhan dapat merasakannya.
"Tuan Kenan menjanjikan seratus juta agar bisa merakit bom, semua telah di atur olehnya dan aku tidak mengetahui apapun lagi."
"Kau berbohong, kalian bekerja sama. Berapa banyak uang yang kau dapatkan dari pria itu?" sanggah Kenan yang menatap sang pion menusuk, ingin rasanya dia membunuh pria tak berguna itu. "Sial, aku terjebak!" geramnya di dalam hati.
Tak sampai di situ, Farhan mengeluarkan sebuah bukti transfer sejumlah uang yang di janjikan antara kesepakatan Kenan dan perakit bom. Mengeluarkan ponselnya, dan memperlihatkan kepada semua orang. Sekarang giliran Ayu yang menyerang Kenan dengan tepat sasaran. "Dan aku sudah mengirim bukti aslinya kepada polisi yang sebentar lagi akan datang kesini dan membawa mu dan juga perakit bom." Ucap Ayu yang sangat geram.
Tidak ada yang bisa di lakukan oleh Kenan, sementara Farhan mengambil alih konferensi pers. "Sekarang sudah jelas, jika perusahaan Malhotra dan Kenan lah yang bersalah. Perusahaan hanya korban dari aksi balas dendamnya saja, dan mengenai masalah para korban, atas nama perusahaan kami meminta maaf sebesar-besarnya."
__ADS_1
Semua orang bertepuk tangan, Farhan berhasil memulihkan keadaan dengan sangat baik. Nama perusahaan yang tercemar perlahan mulai bersih dan beberapa para korban yang melihat konferensi pers lewat televisi merasa bersalah kepada Ayu dan perusahaan karena menuding.
Asisten Heri, Ayu, dan Farhan saling menatap secara bergantian. Mereka tersenyum kemenangan, menang dalam menghadapi musuh di dunia bisnis.
"Permasalahan selesai sampai di sini, kalian bahkan sudah mendapatkan informasi yang solid." Celetuk Ayu yang bisa bernafas lega, Farhan berhasil membalikkan keadaan dengan sedikit intrik.
Di internet banyak orang yang berkomentar meminta maaf karena menuding orang yang salah, para investor saham mulai menghubungi asisten Heri dan kembali menjalin kerja sama. Malahan berita berbalik kepada perusahaan Malhotra. Semua orang mulai memuji Farhan dan Ayu yang melewati masa sulit bersama, hingga ikatan cinta semakin berkembang.
****
Di hotel, Ayu sedang berbaring dan melihat laptopnya. Dia sangat senang dengan permasalahan yang telah selesai, begitu banyak komentar di internet yang memujinya juga Farhan. "Akhirnya permasalahan ini selesai juga, aku sangat merindukan Indonesia." Monolognya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, dia menoleh dan melihat pria tampan dengan pakaian casual, sangat cocok di tubuh Farhan. "Kau sedang apa?" tanyanya seraya berjalan mendekat.
Ayu segera duduk dan tersenyum. "Ada apa?"
"Tidak, aku hanya bosan di kamar."
"Lalu?"
Farhan tersenyum dan duduk disebelah calon tunangannya. "Apa kau sudah melihat komentar di internet?"
"Bagaimana menurutmu?" tanya Farhan penuh harapan, menanti jawaban mengenai kelanjutan hubungan mereka.
"Bagaimana apa nya?" Ayu berpura-pura tak tahu.
"Mengenai hubungan kita, aku ingin kau menjadi istriku."
Ayu gelagapan dan mengalihkan pembicaraan, membuat Farhan semakin gemas dengannya. "Tidak masalah jika kau menolakku sekarang, tapi kau hanya milikku!"
"Eh, kau terlihat memaksakan kehendak." Seloroh Ayu, menatap Farhan dengan senyuman terukir di wajahnya.
"Tentu saja, walau kau menolakku tapi tetap saja Ayu hanya untuk Farhan. Jika kau kabur kelubang semut pun aku tetap mengejarmu dan memaksa untuk bersedia menikah denganku!" ucap Farhan yang berhasil membuat kedua pipi Ayu bersemu merah seperti tomat.
"Dasar wanita!" batin Farhan yang menggelengkan kepala.
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa."
__ADS_1
"Kapan kita akan pulang? Aku sangat merindukan Indonesia." Tutur Ayu dengan manja.
Farhan sangat gemas dengan wanita di sebelahnya, membelai rambut Ayu lembut dan menatap dua manik mata indah. "Dua hari lagi, kita akan pulang. Sabarlah, anggap ini pemanasan honeymoon kita." Jawabnya asal disertai tawa. Ayu ikut tertawa, melihat waktu telah larut malam. "Sebaiknya kau pergi!"
"Kenapa?"
"Ini sudah larut malam, keluarlah dari sini!"
"Kamar ini terlihat nyaman, aku memutuskan untuk tidur di sini." Goda Farhan.
"Apa ini juga termasuk latihan tidur seranjang?" jengah Ayu.
"Bisa jadi."
"Tidak, keluarlah!" Ayu menarik tangan Farhan dan mendorong tubuh pria itu untuk keluar dari kamarnya dan mengunci pintu.
Sementara Farhan cemberut, apalagi dia ingin melakukan perkataan Ayu untuk berlatih tidur seranjang. "Sebaiknya aku pergi." Melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu menuju kamarnya, tapi seseorang telah menunggu di pintu kamar.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Farhan yang menatap asisten bodohnya menyelidik. Asisten Heri tersenyum dan menghampiri atasannya, menyerahkan sebuah buku tebal. "Ini untukmu, Tuan."
"Buku?"
"Tentu saja ini buku, tapi bukan buku sembarangan."
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Ini buku seribu satu cara untuk menaklukkan wanita, anggap ini hadiah dariku." Seru asisten Heri bersemangat.
"Ck, apa kau meragukan kemampuanku?" bentak Farhan.
"Jangan tersinggung, Tuan. Maksudku sangat baik, karena Tuan tak punya pengalaman sama sekali tentang wanita. Aku pernah mencoba tips di buku ini, dan berhasil."
"Apa kau sedang mengejekku?"
"Tidak, hanya saja aku melihat Tuan selalu gagal dalam meluluhkan hati nona Ayu." Seketika gelak tawa asisten Heri pecah, menertawai nasib percintaan bosnya yang malang. Segera mengambil langkah seribu untuk menghindari amukan akibat membangunkan singa yang tertidur.
"Dasar asisten sialan! Apa kau ingin dipecat?" pekik Farhan yang sangat kesal, melirik buku dan hendak membuangnya ke tong sampah. "Sebaiknya aku mencoba, siapa tau berhasil." Gumamnya yang kembali menyimpan buku itu.
__ADS_1