Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 241 ~ Untung saja itu mimpi


__ADS_3

Ayu segera mengangkat telepon yang berbunyi tanpa menghiraukan perasaan dari Farhan, yang seketika berubah. Momen romantis yang sudah direncanakan gagal akibat orang lain yang mengganggu.


Ingin sekali dia melempar ponsel itu agar tidak mengganggu, momen di mana sudah diatur sedemikian rupa, hanya bisa mengolah nafas dengan berat. "Siapa yang meneleponmu?" ucap Farhan yang sangat penasaran ingin mengetahui siapa yang menjadi pengacau.


"Sahabatku," jawab Ayu yang mengangkat teleponnya.


Farhan mendelik kesal, mengetahui jika yang menelepon adalah Gabriel. Siapa lagi jika bukan pria yang menjadi rivalnya, tidak pernah membiarkan mereka hidup damai. "Sial, pria itu selalu menjadi penghalang ku!" gumamnya di dalam hati, seraya memperhatikan di sebelahnya dengan raut wajah tak bersahabat, memasang telinga ingin mendengar obrolan mereka. 


"Kau ini kenapa? Tidak baik mendengar pembicaraan orang saat menelepon." Ayu mengetahui niat dari pria itu, memberi peringatan agar tidak melanggar nya. 


Farhan segera menoleh dan mengangkat kedua bahunya dengan enteng, tak ada raut wajah bersalah. "Aku tidak melakukan apapun, lau begitu sensitif. Angkat saja telepon itu, dan jangan berdebat!" 


Ayu segera mengambil jarak, mulai mengangkat telepon. "Halo, ada apa menelponku? "


"Kau di mana? Ada hal yang ingin aku sampaikan kepadamu, dan ini sangatlah penting."


"Baiklah, kau boleh mengatakannya. Ada apa menelepon?"


"Tapi dimana kau sekarang? Suaramu tidak terdengar jelas."


"Dimana aku, itu tidaklah penting. Katakan saja kabar pentingnya."


"Hem, begini, aku menemukan dua peran untuk protagonis wanita dalam serial televisi dan ingin meminta pendapatmu terlebih dulu. Jika kau sudah menyetujuinya, maka pekerjaanku akan muda."


"Aku mempercayaimu, lakukan dan pilih saja sendiri."


"Mana boleh begitu, kau bosnya. Apa kau lupa?" 


"Bukan lupa, aku hanya tidak mengingatnya saja!" 


"Intinya sama saja, perbedaan terletak pada kata yang berbeda."


"Ya, aku mengerti. Tapi untuk sementara waktu aku tidak bisa membahas hal ini, harus membuat kamu janji terlebih dulu. Kau tahukan, bagaimana sulitnya menjalani bisnis lewat telepon."

__ADS_1


"Kita akan bertemu, dan aku akan mengirimkanmu alamat kita untuk berdiskusi mengenai ini. Tapi satu hal yang membuatku bingung."


"Apa?" 


"Kau ada di mana sekarang? Mengapa aku mendengar suara ombak, apa kau sedang berada di pantai? Aku akan menyusulmu."


"Kau tidak perlu tahu, urus saja pekerjaanmu."


"Aku hanya bertanya saja, mengapa kau cepat sekali tersinggung? Apa kau bersama dengan pria itu? Maksudku, pria menjengkelkan seperti Farhan misalnya?"


"Apa aku harus mengatakan kemana dan dengan siapa aku pergi?"


"Bukan begitu maksudku."


"Ah, sudahlah! Kau selalu saja bertanya hal yang tidak perlu aku jawab, Ini bukan urusanmu jadi mohon mengertilah."


"Hem, jaga dirimu baik-baik. Aku tidak akan menanyakannya lagi, tapi segera beritahu jika kamu merasa kesulitan, aku pasti akan menolongmu."


"Tentu saja, apa aku bisa menutup teleponnya sekarang. Maksudku ada seseorang yang sudah bosan mendengar celotehanmu. "


"Aku, sudahlah! Jangan menggangguku lagi."


"Baiklah, aku tutup teleponnya." 


"Hem."


Setelah sambungan telepon terputus, Ayu segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang selalu dia bawa. Tak sengaja melirik pria tampan di sebelahnya, terlihat raut wajah yang cemberut karena merasa cemburu. "Kondisikan ekspresi wajahmu itu," cetus Ayu yang mengejek Farhan. 


"Apa yang dia katakan?" ucap Farhan dengan tatapan menyelidik, dia sangat penasaran dan juga mendengar sayup jika suara di telepon menyebut namanya.


"Apa?" tutur Ayu yang berpura tidak tahu, membuat pria di sebelahnya mendelik kesal.


"Jangan berpura-pura tidak tahu, kita sedang membicarakan Gabriel." Terang Farhan dengan dongkol.

__ADS_1


Ayu tak ingin membahas masalah Gabriel, dia berpura-pura menguap dan mengantuk, agar pria tampan di sebelahnya yang pernah mantan calon tunangannya tidak menanyakan hal lebih lanjut lagi. Jalan satu-satunya yang terlintas di otak, ialah berpura-pura menguap. Seakan hal itu sedikit sulit baginya. "Bicarakan besok saja, aku sudah mengantuk. Lebih baik aku pulang saja!"


"Apa kau tidak menghargai kejutan yang aku berikan?" tukas Farhan yang tahu jika sekretarisnya itu hanya berpura-pura mengantuk, masih memandang wajah Ayu dengan kesal.


Ayu kembali melakukan aktingnya, tidak menggubris perkataan dari pihak tampan yang tadinya sudah bersikap romantis. Suasana mereka kacau akibat sambungan telepon dari ponselnya yang berbunyi, dan setelah itu hanya meninggalkan kecurigaan dan kecemburuan di hati Farhan. "Sudahlah, bahas ini besok saja. Aku benar-benar mengantuk." 


Farhan mengangguk dengan patuh, sangat merasa kasihan dan juga kesal bercampur menjadi satu. "Baiklah, aku akan mengantarmu pulang." Tawarnya.


"Dengan senang hati," sambit Ayu tersenyum dan kembali menguap.


Tidak ada obrolan di antara keduanya, saat perjalanan menuju pulang, Farhan hanya fokus pada jalanan dan tak ingin mengungkit kejadian yang baru saja mereka lewati. Dengan segera menancap gas mobilnya dan membawa wanita itu kembali ke kediamannya.


Tak membutuhkan waktu lama, hingga mereka sampai di apartemen milik Ayu. Perpisahan di antara mereka membuat Farhan kembali merindukan wanita itu. "Terima kasih, sudah bawa aku pulang." Ujar wanita itu yang segera melambaikan tangan di saat mobil miliknya mulai menjauh. 


Ayu segera masuk ke dalam kediamannya, hari yang sangat melelahkan. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dulu, dan barulah puncak yaitu berbaring dan tidur di atas ranjang miliknya. "Ini sangatlah menyenangkan," gumamnya seraya menikmati, dan mulai tertidur.


Sekarang Ayu berada di dalam mimpi dan bertemu dengan Farhan, mereka berada dalam satu ranjang yang sama. Hal itu membuatnya sangat terkejut, jika pria di sebelahnya tidak mengenakan pakaian apapun, segera memeriksa tubuhnya dan bahkan sudah polos ditutupi oleh selimut. "Apa aku sudah melakukan itu dengannya?" gumamnya yang sangat terkejut dan hampir berteriak.


"Jangan berteriak, apa kau menikmati permainan kita? Gaya seperti apa yang kau sukai?"


Keringat di dahi menandakan jika Ayu sangat terkejut, dan menjadikan itu sebagai momok menakutkan. "Tidak," pekiknya yang langsung tersadar dari mimpinya, sembari mengusap keringat di dahi. "Syukurlah, jika tadi itu hanyalah mimpi. Karena itu terasa nyata, hampir saja aku spot jantung karena rasa terkejut ini. Makasih Tuhan, ternyata itu hanya mimpi. Pasti karena aku masih membayangkannya, sebaiknya aku tidur lagi!" Monolognya yang kembali menarik selimut dan memejamkan mata.


****


Di sisi lain, Vanya terus saja mengganggu kakaknya, dia sangat kesal dan ingin mendapatkan bantuan sang kakak. "Ayolah, Kak. Bantu aku untuk mendekati Farhan."


"Mengapa kau terburu-buru?" kesal Biru yang jengkel terhadap adiknya itu.


Dengan cepat Vanya mengeluarkan sebuah bukti kedekatan Ayu dan juga Farhan. "Lihatlah ini, aku mendapatkan foto ini dari Jenni, dan dia mengetahui bahwa Farhan telah menyatakan cintanya dan ditolak oleh Ayu."


"Sudahlah, aku tidak ingin ikut campur dalam masalah ini, biarkan saja bagai air yang mengalir." 


"Apa gunanya aku mempunyai kakak jika tidak menolong adiknya?"

__ADS_1


"Hah, kau selalu saja mengancamku dengan mulut manismu itu."


 


__ADS_2