Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 23 ~ Reaksi cincin platinum


__ADS_3

Vanya sibuk dengan menjernihkan pikirannya yang seakan memikirkan rencana selanjutnya dan tersenyum tipis, berjalan mendekati pramusaji itu dengan sangat elegan.


"Mengapa cincin itu ada di dalam tas Ayu? Bukankah kau melihatnya? Kaulah kunci saksi mata yang melihat hal itu dan kenapa kau memfitnah gadis malang itu?" Ucap Vanya yang berpura-pura bertanya.


"Ya, semua terjadi karena ulahku sendiri dan memfitnah Nona Ayu," ucap pramusaji dengan wajahnya yang pucat menyadari semua kesalahan.


"Kau tidak menjawab semua pertanyaanku, katakan dengan jelas, kenapa kau memfitnah gadis itu?" Tanya Vanya yang menekan pramusaji untuk tidak mengungkapkan sebenarnya.


"Kenapa kau diam saja, jawablah pertanyaan dari nona Vanya," celetuk salah satu polisi yang menunjuk tersangka.


"Sa-saya melakukannya karena membenci wanita itu," jawab pramusaji itu sembari menatap Ayu dengan sinis dan juga tajam, sedangkan Vanya tersenyum samar.


"Bagus, setidaknya dia sedikit berguna," batin Vanya.


"Sial, pramusaji ini masih saja membela ketua ubur-ubur itu," gumam Ayu di dalam hati.


"Kenapa kau membenci nona Ayu, apa kesalahan yang dia perbuat?" Tanya polisi dengan tatapan menyelidik.


Pramusaji hanya terdiam memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan kepada polisi itu, Vanya melihat kegelisahan dari wajah pramusaji. Dia takut jika pramusaji itu membongkar kejahatannya di saat benar-benar terpojokkan oleh beberapa pertanyaan dari polisi. "Bukankah kesalahpahaman ini selesai? Jadi untuk apa kalian menanyakannya lagi." Bela Vanya dengan raut wajah lembut menatap polisi dan beberapa para tamu yang masih setia menonton drama itu.


"Hei, ini tidak akan selesai begitu saja. Kaulah yang menuduhku mencuri cincin platinum itu, dan apa ini? Seakan permasalahan ini selesai dengan mudah. Akulah korbannya di sini," cetus Ayu.


"Bukankah lebih baik saling memaafkan?" Vanya tersenyum indah dan melupakan bagaimana caranya saat menuduh Ayu.


"Wow, kau sangat bermurah hati sekali. Tapi aku tetap tidak memaafkan pramusaji yang telah memfitnahku dan sekarang minta maaflah kepada ku?!" ucap Ayu dengan tegas dan juga dingin.


"Sial, wanita itu benar-benar membuat aku sangat kesal. Ingin rasanya aku mencabik-cabik wajahnya," batin Vanya yang mengepalkan kedua tangannya.


"Apa yang kau lamunkan, cepat minta maaf kepada Ayu." Tegas Farhan yang membuka suara.


Vanya sangat kesal karena Farhan juga menuntutnya untuk meminta maaf dan lebih memihak kepada Ayu. "Tapi aku__"

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian, cepat minta maaf sekarang. Kaulah yang menuduhnya pertama kali," potong Farhan membuat Vanya kesal, apalagi saat melihat Ayu yang tersenyum kemenangan.


"Maaf," ucap Vanya yang malas dan juga enggan untuk mengatakan hal itu.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" Ujar Ayu yang meletakkan tangannya di pinggir telinga dan membungkukkan tubuhnya ke samping. Ayu sengaja mengolok-olok Vanya untuk memperingati agar tidak bermain-main kepadanya lagi.


"Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan?" Pekik Vanya yang sangat kesal.


"Jangan membuang waktu lagi, cepat minta maaf!" tekan Farhan yang menatap Vanya dengan tegas.


"Aku minta maaf," tekan Vanya yang segera pergi dari tempat itu, dia sangat kesal hingga meninggalkan semua orang.


Yudistira berjalan mendekati Ayu dengan raut wajah penyesalan karena sudah meragukan wanita itu dan memihak kepada cucunya. Dia tidak berani menatap mata Ayu tetapi berusaha untuk memaafkan kesalahannya yang juga ikut terlibat.


"Aku ingin meminta maaf kepadamu, mencurigaimu sebagai pencuri, demi membela cucuku." Yudistira sangat menyesal, tetapi berusaha untuk memperbaiki kesalahan dengan cara meminta maaf.


Ayu tidak menghiraukan ucapan pria tua itu dan lebih memilih pergi meninggalkan pesta. Baru beberapa melangkah, Ayu berbalik badan sembari menatap pria tua itu. "Aku sangat menghormati orang yang lebih tua dariku, anda sudah seperti kakek ku sendiri. Anda sangatlah berpengalaman lebih dari pada aku, setidaknya belajarlah dari pengalaman itu." Ayu menyindir Yudistira hingga dia terpaku, karena apa yang dikatakan oleh Ayu benar adanya.


Meninggalkan pesta dengan membuat beberapa orang bungkam akibat kepintarannya yang tidak bisa di bodohi dengan mudah, Ayu terus berjalan keluar dari hotel sembari menunggu taksi.


Tak lama menunggu, tiba-tiba hujan deras membasahi tubuhnya. Ayu mengadahkan kepalanya ke atas dan menikmati setiap tetes air hujan yang membasahi tubuhnya. Hingga kesenangan itu pudar saat ada mobil yang berhenti tepat di hadapannya.


"Ck, kali ini siapa yang mengganggu kesenanganku?" Gerutu Ayu yang mendelik kesal sembari melihat sang pelakunya. "Hah, kamu lagi?!"


"Cepatlah masuk ke dalam mobil atau kau akan sakit," tawar Farhan.


"Apa pedulimu, aku sedang menikmati hujan."


"Ini perintah!" Tegas Farhan yang tak ingin dibantah, dengan terpaksa Ayu masuk ke dalam mobil. Farhan tersenyum dan melihat pakaian Ayu yang basah kuyup, pakaian yang awalnya sederhana terlihat seksi. Dia tertegun saat melihat gadis cantik di sebelahnya, hingga lupa akan berkedip.


"Dia terlihat sangat seksi dengan pakaian basah itu," batin Farhan dengan pikiran yang mulai travelling.

__ADS_1


"Aku sudah masuk ke dalam mobil, ayo kemudikan mobilnya," tutur Ayu yang menyadarkan lamunan Farhan.


"Eh, baiklah."


Farhan mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan kota yang memanjakan mata. "Ini bukan jalan ke Mansion," gumam Ayu tampak berpikir. Dia menoleh ke samping, menatap wajah pria tampan itu karena rasa penasaran. "Ini bukan jalan ke Mansion? Kemana kau membawaku pergi?"


"Ke rumah sakit," jawab Farhan yang singkat, padat, dan jelas.


Tak lama mobil berhenti di depan rumah sakit, Farhan membawa Ayu masuk ke dalam dan memeriksakan kondisi jarinya yang alergi akibat cincin yang berbahan platinum. mereka melangkah masuk ke dalam ruangan dokter untuk memeriksa, Farhan menghentikan langkahnya menatap gadis itu dengan dalam membuat Ayu menjadi risih.


"Kenapa kau menatapku begitu?"


"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Farhan yang menatap Ayu dengan serius.


"Melakukan apa?" Sahut Ayu dengan polos.


"Kenapa kau menyakiti tubuhmu hanya untuk membuktikan jika kau tidak bersalah?" Tegur Farhan yang sangat kesal dengan tindakan dari gadis itu.


"Karena itu adalah cara paling cepat yang ada di otakku! Oh ya, terima kasih karena kau telah mempercayaiku," ucap Ayu dengan tulus.


"Hem," jawab Farhan yang hanya berdehem.


"Tidak ada yang perlu dicemaskan, itu hanya alergi biasa. Saya akan memberikan salep untuk mengurangi gatal dan reaksi dari alergi itu," sela sang dokter yang memberikan salep itu di tangan Ayu.


"Terima kasih, Dok." Sahut Ayu yang tersenyum sambil menerima salep dari tangan dokter.


"Sama-sama."


Setelah pemeriksaan, mereka kembali ke Mansion. Tidak ada obrolan di saat dalam perjalan pulang, keheningan dengan lamunan masing-masing. Keduanya memasuki ruangan, Farhan berjalan menuju masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sementara Ayu mengobati tangannya.


Selesai mengobati tangannya, Ayu sangat senang. Dia berdiri tanpa melihat seseorang yang di dekatnya, hingga tak sengaja Ayu dan Farhan bertabrakan.

__ADS_1


__ADS_2