Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 50 ~ Kedatangan Laras


__ADS_3

Farhan yang mendengarkan keributan di luar membuatnya menghentikan pekerjaan sejenak. "Di luar sangat ribut sekali, aku akan memeriksanya." Farhan melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa keluar dari ruang kerjanya, dengan cepat dia menuruni tangga dan terlihat pertikaian dari dua orang wanita yang sangat dia kenal. 


"Apa yang terjadi?" Tanya Farhan yang heran saat melihat Laras yang terjatuh ke lantai.


"Kak, lihat lah apa yang diperbuat olehnya. Dia mendorongku hingga terjatuh!" Ucap Laras yang mengadu, raut wajah yang pura-pura sedih untuk mendapatkan perhatian dari kakak sepupunya. Sedangkan Ayu tidak peduli dengan perkataan Laras yang mengadu kepada Farhan, hanya acuh tak acuh bagai angin lewat. Melihat bagaimana Laras berperan, dan menilainya sebagai artis terbaik. 


"Benarkah?" Celetuk Farhan dengan tatapan tajam dan menyelidik. 


"Aku tidak berbohong, wanita itu sangat kasar. Dia mendorongku hingga terjatuh, seharusnya Kakak mengusirnya dari Villa ini." 


"Hentikan drama ini."


"Apa maksud Kakak?" Tanya Laras yang sangat terkejut dengan perkataan Farhan. 


"Jangan berpura-pura, apa kau pikir jika Villa ini tidak ada CCTV? Apa perlu aku putarkan rekamannya?" Jawab Farhan yang sangat percaya kepada Ayu. 


Laras sangat tidak percaya dengan perkataan Farhan yang lebih membela Ayu dan dia juga melupakan jika di setiap sudut terpantau CCTV. Laras terdiam, dia tidak bisa mengelak lagi, rencana untuk mengusir Ayu dari Villa gagal total. "Sial, kenapa aku melupakan hal itu," batin Laras yang mengumpati kebodohannya dan berusaha untuk berdiri karena aktingnya tidak berjalan dengan sempurna. Sementara Ayu sangat bahagia mendengar pembelaan Farhan kepada nya, kembali menambah nilai plus di mata Ayu. 


"Dan kenapa kau ada di sini?" Tanya Farhan yang membuat Laras tersentak kaget, dia mengetahui keberadaan Farhan dan Ayu yang ada di Villa karena sering memantau aktivitas kakak sepupunya diam-diam. 


"A-aku…mengetahuinya dan menebaknya! Selain di Mansion, Kakak pasti mengunjungi tempat ini." 


"Kau sedikit gugup, apa kau diam-diam mengikuti kami?" Celetuk Ayu yang tersenyum miring. 


"Dia adalah kakakku, tentu saja aku mengetahui tempat yang biasa dia kunjungi."


"Lalu? Ada perlu apa kau di sini?" Tanya Ayu yang terus memojokkan Laras. 


"Terserah padaku saja." Ketus Laras yang mengelak. 


"Sebaiknya aku pergi saja, ini hanya akan membuang-buang waktu saja." Gumam Ayu di dalam hati seraya pergi meninggalkan tempat itu. 

__ADS_1


"Kau mau kemana?" Ujar Farhan yang sedikit meninggikan suaranya. 


"Aku ingin bekerja." Jawab Ayu yang menoleh sepersekian detik dan kembali berjalan lurus. 


"Aku sudah memberimu cuti," ucap Farhan yang membuat Ayu menoleh. 


"Aku berterima kasih untuk itu, hanya saja aku harus bekerja." Balas Ayu yang kembali melangkahkan kakinya keluar dari Villa. 


Dia tidak ingin merusak citranya dan tidak ingin membuat orang lain membicarakannya dengan memanfaatkan kesempatan dengan menjadi calon tunangan Farhan dan Ayu tidak ingin itu terjadi. "Sebaiknya aku harus bersiap-siap dan pergi ke kantor, lebih baik terlambat daripada tidak datang sama sekali." Gumam Ayu yang mencegat taksi untuk mengantarkannya ke butik membeli baju yang akan dikenakan ke kantor. 


Farhan menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tatapannya beralih menatap wanita yang ada di hadapannya. "Aku peringatkan kepadamu, untuk tidak menyusahkan Ayu, dan jika itu terjadi? Maka kau harus menanggung akibatnya." Ancam Farhan yang menunjuk adik sepupunya. 


Laras menjadi sedih saat mendengar ancaman yang keluar dari mulut Farhan, seketika raut sedihnya berubah menjadi khawatir saat melihat luka di tangan sebelah kiri dari kakak sepupunya. Laras memegang tangan Farhan, terlihat dengan jelas tangan yang dibalut dengan perban. "Apa yang terjadi Kak? Kenapa tanganmu bisa terluka?" Tanya nya sambil menatap mata Farhan dengan nanar. 


"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil saja." Dengan cepat Farhan menyembunyikan tangan kirinya ke belakang dan berlalu pergi meninggalkan Laras yang menatap kepergiannya. 


"Aku tahu, jika ini karena ulah wanita kampung itu. Dia selalu saja menyusahkan kak Farhan, dasar wanita licik seperti ular yang berbisa." Laras mengepalkan kedua tangannya, dia sangat membenci Ayu yang dibela oleh Farhan. "Aku akan membalas dendam karena membuat Farhan lebih membela wanita kampung itu."


"Biarkan aku menemanimu," Rengek Laras. 


"Tidak, pergi sekarang juga." Dengan langkah gontai, Laras terpaksa pergi dari Villa itu. Berjalan keluar seraya mengumpat Ayu yang selalu menang darinya. 


Ayu yang telah sampai di gedung pencakar langit, dengan cepat memasuki perusahaan tempat dia bekerja setelah mengganti pakaiannya. Ayu datang jam setengah sebelas siang, dan berjalan menuju departemen sekretaris. Berjalan mendekati meja tempat dia bekerja, dan memulai mengerjakan proyek besar dari perusahaan milik Raymond Arnold. 


Pekerjaannya terhenti saat terdengar suara nada dering ponselnya yang berbunyi, dengan cepat Ayu mengangkat setelah mengetahui siapa yang menelepon nya.


"Halo."


"Iya, halo tuan Raymond."


"Oh ayolah, jangan memanggilku dengan embel-embel tuan. Panggil Ray saja untukmu!"

__ADS_1


"Baiklah, Ray. Ada yang bisa dibantu?"


"Aku ingin mengatakan, jika aku sangat puas dengan desain proyek yang kau berikan."


"Syukurlah, jika kau menyukainya."


"Tentu saja, desain proyek yang kau kerjakan sangat membuatku tertarik dan juga sangat memuaskan."


"Itu bagus, jika kau puas."


"Tapi kapan proyeknya selesai? Dan proses proyeknya agar bisa cepat diluncurkan ke pasaran." 


"Secepatnya aku akan mengerjakannya." 


"Baiklah, aku akan berkunjung ke perusahan HR Grup dan melihat perkembangan dari proyek yang sedang kau buat."


"Baiklah, aku akan menunggu kedatanganmu dan menyambutnya."


"Hem." Ayu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sangat teliti agar tidak mengecewakan Raymond Arnold. 


Pada pukul tiga sore, seorang pria tampan datang sesuai dengan perkataan saat di telepon. Raymond datang bersama dengan asisten Dion yang berada di sisi kirinya, Ayu mengukir senyum di wajahnya saat melihat kedatangan dari klien pentingnya. Mereka saling berjabat tangan dan membawanya menuju ruang rapat. 


"Apa kau telah menyiapkan semuanya?" Ucap Raymond kepada asistennya, pandangannya selalu menatap Ayu dan sesekali melihat jalan. 


"Sudah, Tuan." Sahut Dion dengan cepat. "Apa ini? Tuan selalu saja memandangi sekretaris itu." Batin Dion yang menghela nafas dengan berat. 


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di ruang rapat. "Silahkan duduk, Tuan." Ucap Ayu yang mempersilahkan. 


"Hem." Raymond duduk di kursi yang telah tersedia khusus untuknya, dan di ikuti oleh asisten Dion. 


Ayu memulai rapat setelah semua orang berkumpul. Baru saja dia ingin memulai rapat, tapi terganggu saat mendengar ketukan pintu yang berasal dari luar. Bahkan yang berada di dalam ruang rapat menjadi terkejut saat seseorang mendorong pintu rapat dengan paksa. Mereka menoleh ke asal suara dengan tatapan yang sulit di artikan. 

__ADS_1


__ADS_2