
Vanya tersenyum dengan pertemuan mereka, yang memiliki maksud tertentu. Dia hanya ingin, jika Yuna merasa jengkel dengan foto-foto yang dia tunjukkan. Tanpa diketahui oleh wanita itu, jika dirinya tersenyum tipis tanpa di sadari. "Kau sudah melihatnya sendiri, bagaimana kedekatan antara tunanganmu itu dengan Ayu. Apa kau hanya diam saja? Jika tunanganmu direbut olehnya atau bergabung denganku. Akar dari permasalahan kita berdua adalah wanita itu, aku menginginkan Farhan, dan kau menginginkan Gabriel. Itu impas 'bukan." tukas nya yang berusaha untuk memprovokasi sang pianis terkenal itu, berharap jika dia mendapatkan sekutu yang nantinya akan berguna.
Yuna menggenggam teleponnya dengan sangat geram, melihat seorang wanita yang tengah berpose romantis dengan Gabriel. Hal itu menyulut emosi yang ada di hatinya. "Apakah kau yakin, ini mereka atau hanya foto editing saja?" tanyanya dengan penuh selidik melirik Vanya dengan curiga.
"Tidak perlu mencurigaiku, tidak ada untungnya jika aku berbohong. aku mendapatkan bukti dari sahabatku sendiri, dia mengikuti saat wanita itu dan tunanganmu menghabiskan waktu berdua di Villa." terangnya yang berusaha untuk tidak terjadi kesalahpahaman, dia menginginkan jika tuduhan itu tepat sasaran.
"Anggap aku percaya jika ini asli foto mereka, apa kau punya rencana untuk membalas wanita itu?" Yuna tak memiliki rencana apapun, dan hanya menyerahkan kepada Vanya.
Seketika Vanya tersenyum bahagia, rencana yang sudah dipersiapkan dengan matang dan menjadikan Yuna sebagai pionnya kali ini. "Kau tenang saja, aku sudah mempunyai rencana yang sangat bagus dan aku yakin ini akan berhasil."
"Apa rencana yang kau miliki saat ini?" Yuna mengangkat sebelah alisnya ke atas dengan penasaran, apa bencana yang akan dijalankan oleh hanya kali ini Dan berharap berhasil.
"Aku mendapatkan informas, jika mereka akan mengadakan syuting, aku akan mengirimkan alamatnya."
"Baiklah, bisa kau katakan mengenai rencananya."
"Aku belum selesai bicara, dan kau malah memotongnya. Dengarkan dulu, dan jangan menyela. Aku ingin kau mendorong Ayu di saat dia sedang memainkan perannya."
"Apa kau gila? Mana mungkin aku melakukan itu, bisa-bisa aku masuk penjara dan berurusan dengan polisi dan juga Farhan. Tidak, aku tidak ingin melakukan rencanamu itu," tolak Yuna dengan cepat.
__ADS_1
"Tenang saja, aku masih punya banyak rencana lainnya,cyang terpenting kau bisa menjebak wanita itu dan serahkan selebihnya kepadaku."
"Nah, jika begitu aku bisa bernafas lega. Jadi, setidaknya rencana ini lebih terlihat mudah bagiku."
"Baiklah, aku pergi dulu!"
Yuna segera pergi meninggalkan tempat itu, dan memikirkan bagaimana dia akan menjebak Ayu tanpa meninggalkan jejak. Apalagi rencana yang dimiliki oleh Vanya tidak cukup efisien, yang hanya merugikannya saja.
Sementara Vanya menyunggingkan senyuman manisnya, mengingat dirinya mempunyai pion baru. "Ini awal yang bagus, aku tidak akan mengotori tanganku, biarkan saja wanita itu yang menanganinya. Dasar wanita bodoh!" umpatnya dengan tersenyum meremehkan Yuna yang sudah menjauh. "Mengambil keuntungan dari emosi orang lain itu sangatlah menyenangkan, setidaknya masih ada pion yang akan menyerang," batinnya.
****
Ayu udah Gabriel sampai ke tujuan mereka yaitu di lokasi syuting, yang nantinya mereka akan memainkan peran sebagai protagonis wanita dan protagonis pria. Keduanya akan menghabiskan hal-hal romantis, sesuai dengan naskah yang diberikan. Tapi sebelum itu, keduanya didandani sesuai dengan karakter yang akan diperankan, Bahkan mereka sudah latihan mengenai peran yang ada di naskah.
"Semua sudah stand by, kita bisa melakukannya sekarang." jawab salah satu penanggung jawab dari syuting.
"Apa kau sudah siap?" tanya Gabriel yang melirik wanita di depannya dengan sekilas. Dengan cepat Ayu menganggukkan kepala, karena dia ingin menunjukkan bakatnya dalam bidang akting dan hal itu akan dibuktikan nya sekarang. "Aku sudah siap."
Sutradara mulai terlihat serius, memastikan semuanya berjalan dengan sangat baik. Terutama kepada artis yang sebagai peran utama, yaitu Gabriel dan Ayu yang menganggukkan kepala, mengartikan jika keduanya telah siap. Di saat sang sutradara mengatakan "action" semuanya menjalankan peran masing-masing sesuai dengan instruksi yang telah dilakukan sebelumnya.
__ADS_1
Di dalam pantauan kamera, Ayu menunjukkan kebolehannya dalam berakting. Berjalan ke arah Gabriel yang mengenakan jas, tersenyum dan menyerahkan sebuah amplop.
"Amplop apa ini?" tanya Gabriel yang bermain dalam perannya.
"Aku ingin meminta cuti untuk beberapa hari kedepan, Tuan. Sudah lama aku tidak mengambil hari libur."
"Baiklah, kau boleh pergi, sesuai dengan apa yang kau inginkan."
"Jadi maksudnya, saya boleh mengambil cuti?" tanya Ayu di dalam perannya, sangat antusias dan bersemangat.
"Hem."
Ayu yang memerankan karakter sebagai tokoh yang bernama Luna sedikit terkejut, karena atasannya yang bernama Dev mengizinkan pergi tanpa embel-embel perintah. "Semudah itu? Biasanya Tuan selalu menyulitkan ku."
"Itu artinya kau juga setuju dengan cintaku," tutur Dav yang diperankan oleh Gabriel berjalan mendekati lawan mainnya hingga meninggalkan jarak yang cukup dekat.
"Tuan, apa yang kau lakukan? Ini sangat dekat."
"Aku sangat bahagia, Luna. Kau sudah setuju dan menerimaku sebagai kekasihmu," Gabriel menjalankan perannya dan mencium lawan bicaranya dengan penuh penghayatan.
__ADS_1
Gabriel sangat senang, karena perannya yang menjadi Dav membuat dirinya bisa berciuman dengan Ayu yang berperan sebagai Luna. "Aku sangat mencintaimu, aku berjanji akan menghabiskan seluruh hidupku bersama denganmu," batinnya.