Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
S2 ~ Sehari sebelum pesta


__ADS_3

Perjanjian dua orang telah disetujui bersama, mereka saling membutuhkan dan bisa menunjukkan kepada orang-orang jika mereka sebagai kekasih. "Aku tidak punya banyak waktu, karena ada rapat yang tidak bisa aku tinggalkan. Apa kau ingin aku antarkan?" tawar Mars yang menatap kekasih sewaannya.


"Tidak terima kasih, aku bisa pulang sendiri."


"Ya sudah, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik," Mars membayar bill dan segera beranjak dari kursi, dengan gaya yang sangat cool dan kharisma bagai seorang bos besar. Dia menyunggingkan senyuman tipis setelah keluar dari tempat itu, mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang. 


Aluna berpikir jika masalahnya telah selesai, dan bersantai sejenak untuk melupakan bagaimana perlakuan Leon padanya. "Setidaknya pria itu sangat tampan," ucapnya pelan dan tersenyum. 


Dia mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang dibawa, menghubungi bibi Ruo dan menanyai mengenai kesepakatan. 


"Halo bi."


"Hem, ada apa? Aku lagi sibuk, tapi kau malah mengganggu ku."


"Mengapa bibi marah? Ini menyangkut perjanjian yang bibi katakan padaku."


"Baiklah, apa kau sudah memiliki kekasih?" 


"Tentu saja, dia sangat sesuai dengan kriteria pria yang bibi inginkan."


"Hem, bagus. Bawa dia untuk menemuiku, dan aku ingin menilainya, apa dia layak untuk keluarga chen atau tidak."


"Aku yakin bibi pasti menyukai pemuda itu dan berhenti untuk menjodohkan aku."


"Dan ya, pastikan juga tidak ada kecurangan di antara kita."


"Aku sibuk bi, nanti aku telpon lagi." Dengan terburu-buru, Aluna memutuskan sambungan telepon dari bibinya. Dia tak ingin jika rahasianya yang mencari kekasih sewaan di ketahui dan berusaha untuk menutupinya.


Aluna beranjak dari kursi dan segera pergi meninggalkan tempat itu, dia memutuskan untuk berbelanja di swalayan karena kebutuhannya telah habis. Mendorong troli dengan sangat antusias memilah dan memilih dari merk dan juga kualitasnya, yang terpenting sangat cocok. "Aku harus memilih di kanan atau di kiri? Ini sangat membingungkanku," gumamnya yang memegang bahan makanan kebutuhannya. Terdengar suara dering ponsel yang menghentikan aktivitasnya, dia segera memasukkan bahan makanan ke dalam troli dan menjawab telepon dari nomor tak dikenal.


"Halo, kau siapa?"

__ADS_1


"Jadi kau tidak menyimpan nomorku? Padahal aku kekasihmu."


"Oh Mars, aku pikir siapa. Maaf, aku sellu melupakan hal-hal kecil."


"Tidak masalah, mulai sekarang aku akan mengingatkannya untukmu. Kau berada dimana?" 


"Aku ada di swalayan."


"Bisakah kau datang kekantor ku? Ada yang ingin aku bicarakan dan tentunya sangatlah penting."


"Mengapa mendadak sekali? Aku sedang berbelanja kebutuhan dan juga keperluan bulananku." Aluna sedikit murung saat pria itu seperti menguasainya dengan iming-iming sebagai kekasih sewaan.


"Hem, begitu. Baiklah, aku akan menunggumu setelah pulang dari kantor."


"Baiklah." Akhirnya Aluna bisa bernafas lega, karena pria yang baru dikenalnya sedikit membuatnya bergidik ngeri. "Mengapa Mars sangat berbeda? Aku merasa ada yang aneh dengannya. Lebih baik aku melupakannya dan kembali berbelanja, tapi bagaimana caraku mengambil bahan makanan di rak paling atas?" gerutunya saat mencoba untuk menjangkau, tapi tubuhnya yang tidak terlalu tinggi menyulitkannya. 


Tiba-tiba seseorang menjangkau bahan itu dan memberikannya kepada Aluna, baru saja wanita itu ingin mengucapkan terima kasih, tapi pria yang mengenakan jaket dan menutupi kepalanya berlalu pergi tanpa mengatakan apapun. 


Aluna baru saja menyelesaikan belanja bulanannya dan membayar tagihan, mengangkat semua belanja satu persatu ke dalam mobil. "Sangat melelahkan, aku harus ke kantor Mars." Batinnya sembari melihat alamat yang beberapa menit mengirim.


"Eh, bukankah perusahaan milik Mars selalu menjadi saingan Sky Grup? Itu artinya kekasih sewaanku dan juga Leon, hubungan keduanya sangat tidak baik dan juga sehat. Wah, sepertinya aku punya kesempatan untuk membuatnya cemburu." Kesempatan yang ada di depan mata, tak melewatkan dengan sia-sia. 


Aluna segera mengemudikan mobilnya menuju perusahaan Ma Grup, perusahaan yang selalu tidak pernah akur atau tidak pernah menjalin kerjasama dari perusahaan milik Leon. Dia melajukan kendaraan agar segera sampai, tak sabar ingin mendengar perkataan dari pria itu. 


Sesampainya di perusahaan Ma Grup, Aluna bertanya kepada seorang wanita bagian HRD, menanyakan temu janji yang sudah di sepakati. "Apa saya bisa bertemu dengan tuan Mars?" 


"Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?" 


"Sudah, kau bisa menanyakan langsung pada orang yang bersangkutan." 


"Baiklah, duduk di kursi tunggu. Tuan Mars sedang bertemu dengan kliennya dan sebentar lagi akan selesai."

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih." Aluna memutuskan untuk duduk karena kakinya tidak sanggup berduri terlalu lama, apalagi menunggu orang yang sibuk. "Mengapa dia memintaku kesini? Aku bisa mati bosan di buatnya, jika itu tidak penting maka aku akan meninju wajahnya itu." Umpatnya yang sangat kesal.


Aluna semakin kesal saat melirik jam yang melingkar di tangannya, sudah menunggu hampir satu jam. "Mars keterlaluan, dia memintaku untuk menunggu. Aku hampir berlumut disini," geramnya. 


"Maafkan aku, aku lupa ada agenda pertemuan dengan klien penting." Sahut seseorang yang tak lain adalah Mars, menghampiri wanita yang terlihat menggemaskan sedang kesal padanya.


"Kau membuang waktu berhargaku!" 


"Maaf, ayo ikut keruanganku!" ajaknya yang di ikuti oleh Aluna. 


Ini kali pertama Aluna menginjakkan kaki di kantor milik kekasih sewaannya, menyusuti pandangan melihat dekorasi di ruangan yang terlihat mewah. "Tidak jauh berbeda dengan kantor milik Leon." Lirihnya.


"Duduklah!"


Aluna hanya terdiam dan melihat Mars memberinya minuman. "Aku tidak minum, katakan dengan berterua terang. Mengapa kau memintaku kesini? Ingat! Kita hanya kekasih pura-pura saja, hanya saling bekerjasama." Jelas Aluna yang mengingatkan.


"Iya, aku tahu hal itu. Beginilah aku yang apa adanya." Jawab Mars yang mengangkat kedua bahunya.


"Apa tujuanmu?" selidik Aluna.


"Nanti malam akan ada pesta dengan beberapa pemilik perusahaan terkenal, bisa di katakan acara tahunan. Aku tidak ingin membawa wanita lain, hanya kau saja."


"Hanya itu? Aku menunggumu selama hampir satu jam, mengapa kau tidak meneleponku saja?" protes Aluna tampak kesal.


"Aku tidak suka berbicara rencana kewat telepon, dan ini gaun untuk kau pakai di acara nanti malam." Mars menyerahkan paper bag yang berisi satu style gaun berwarna hitam tampak seksi. 


Alun mengembang gaun itu, melihatnya dengan pandangan tak suka. "Apa kau bercanda? Gaun yang belum selesai di jahit malah kau serahkan padaku." Dia kembali menyerahkan gaun itu pada Mars dan menolak untuk memakainya. 


"Aku tidak tahu seleramu, bagaimana jika sekarang kita pergi ke butik dan memilih gaun yang cocok untukmu?"


"Nah, itu baru benar. Gaun hitam itu membuatku seperti wanita murahan, wanita cantik tak selamanya dipandang dengan apa yang dia pakai. Tapi, kecocokannya." Tutur Aluna.

__ADS_1


"Hem, baiklah."


__ADS_2