
Ayu terdiam beberapa detik, dan mengabaikan suara lewat ponselnya yang sedari tadi memanggil namanya. Jadi dia tahu, mengapa cukup sulit mendapatkan informasi dari Kira asli, yang ternyata rahasia besar itu ditutupi oleh kakeknya sendiri. Karena rasa penasaran di hati, nasib ponsel di lempar di atas ranjang, tidak peduli dengan telepon yang masih terhubung.
"Aku harus mencari kakek, dan menanyakan masalah ini." Gumamnya yang berlari keluar dari kamar, tidak peduli dengan larangan sang kakek untuk tidak keluar dari tempat itu, tetapi dia harus menyelesaikan permasalahan ini sebelum dia menikah.
Terlihat seorang pria tua dengan rambut berwarna perak yang tersenyum ke arahnya, dia segera menghampiri dengan sejuta pertanyaan yang ada di benak.
"Mengapa kau keluar dari kamar? Bukankah Kakek sudah melarangmu?"
"Aku ingin berbicara mengenai hal penting, hanya berdua saja," tegas Ayu yang melirik Bimo asisten pribadi dari Tirta.
"Saya permisi dulu," tutur Bima yang beranjak meninggalkan mereka.
"Ada apa? Sepertinya wajahmu terlihat sangat serius, katakan!" Tirta melihat raut wajah kecemasan yang seakan bercampur aduk menjadi satu menyerangnya dengan tumpuan yang begitu menyudutkan.
"Apa aku Kira?"
Tirta menghilang nafas akhirnya semua terkuak di hari ini, dia segera duduk di sofa empuk tak jauh darinya mengingat bagaimana kejadian dulu bermula yang membuatnya tidak berdaya.
"Jawab pertanyaanku, Kek. Apakah aku Kira?" desak Ayu yang ingin mendengar kebenarannya langsung lewat mulut kakeknya.
"Ya, kamu adalah Kira."
__ADS_1
"Kenapa aku tidak bisa mengingat masa laluku, dan bahkan bayang-bayang masa lalu ibuku juga tidak aku dapatkan. Ceritakan semua padaku tanpa ada yang terlewati, aku sangat ingin memulai hubungan baru ini tanpa ada beban."
"Duduklah disampingku, akan kuceritakan segalanya kepadamu." Tirta menepuk sofa di sebelahnya, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Aku tidak tahu memulai cerita ini dari mana, aku sudah menduga jika hal ini pasti akan terungkap. Pernikahan dari kedua orang tuamu begitu meriah, hanya saja pernikahan itu didasari oleh perjodohanku dengan orang tua ibumu. Keduanya saling mencintai, hanya saja masa lalu dari ibumu yang berhubungan dengan mantan kekasihnya, yaitu dokter Zaki yang kau temui di hutan belantara. Hingga sekarang pria itu masih mencintai ibumu walaupun sudah tiada, ayahmu sangat marah dengan hubungan di masa lalu itu dan tidak bisa menerima hingga keduanya bertengkar cukup hebat di saat kau masih kecil. Itulah yang menyebabkan ibumu dan ayahmu kecelakaan, bertengkar di dalam mobil. Kamu masih kecil dan begitu trauma akan kehilangan kedua orang tua, aku sudah bersusah payah untuk membuatmu agar melupakan segalanya. Namun trauma itu masih membekas, kejadian penculikan yang kau alami saat itu dan terjatuh di jurang membuatmu hilang ingatan dan memori di masa kecil." Ungkap Tirta yang tidak ingin menyembunyikan apapun lagi mengatakan yang sejujur-jujurnya.
"Kenapa Kakek tidak mengatakan hal itu dari dulu?"
"Karena disaat itu aku rapuh dan tidak ingin kehilanganmu, aku tidak berdaya." Jawab Tirta yang lesu.
"Apa Kakek sudah menyusuri penyebab dari kematian kedua orang tuaku? Aku merasa jika itu disengaja." ucap Ayu dengan tatapan intimidasi.
"Aku juga masih mencari penyebabnya hingga saat ini, tetapi tidak menemukannya. Polisi menemukan jika itu murni kecelakaan."
"Itu karena obat yang kau konsumsi efek samping membuatmu melupakan sebagian memori di masa kecil, kau hampir depresi. Juga karena benturan keras di kepala menjadi pemicu utama."
Ayu meneteskan air matanya yang sudah tidak tahan lagi dibendung, apalagi mengingat kedua orang tuanya yang telah tiada membuatnya begitu kesepian, hanya ada kakeknya saja yang selalu berada di samping. Dia menghamburkan pelukan pada tubuh tua renta itu dan menangis sepuas hatinya, melepaskannya setelah sepersekian detik.
"Maafkan Kakek yang telah menyembunyikan ini, tapi satu hal yang harus kau ingat, jika Kira itu adalah dirimu sendiri. Di masa kecil kedua orang tuamu selalu memanggilmu dengan nama itu," terang Tirta yang mengelus pucuk kepala dari cucunya mencurahkan kasih sayang dan kesalahannya yang lalai.
Ayu segera menjaga air matanya, tak ingin bersedih dan mengingat masa lalu lagi. "Jika aku Kira, lalu siapa wanita yang mengaku menjadi aku? Dan dari mana dia mengetahui memori dari Farhan sewaktu kecil yang pernah diculik?"
__ADS_1
"Leon mengetahui segalanya, dialah yang memerintah wanita palsu itu untuk berpura-pura demi keuntungan pribadinya sendiri, dan pria itu juga bekerja sama dengan Adi, paman dari Farhan. Kakek dan kakek Hendrawan sudah menyelidiki segalanya dan mendapatkan bukti."
"Tapi, siapa Leon Aku bahkan tidak mengenalinya?"
"Dia itu adalah kakak tirimu, dia tidak ingin kau hidup tenang dan selalu menyusahkanmu. Aku bahkan mencoba untuk menjauhkannya darimu namun perlakuannya yang begitu buruk membuatku tidak tahan lagi ingin segera mengakhiri segalanya."
"Apa? Dia kakak tiriku?" Ayu segera menyembunyikan raut wajahnya yang tersentak kaget, mendengar penjelasan kakek yang telah dirahasiakan darinya.
"Ya, karena ayahmu mempunyai anak dari wanita lain, dia tidak ingin seluruh harta warisan yang ditinggalkan oleh ayahmu jatuh di tanganmu." Penjelasan dari kakeknya membuat Ayu tersentak kaget, dia tidak tahu mengenai masa lalu yang sudah dilewati oleh kedua orang tuanya. Entah mengapa dia merasa bersimpati dengan pria yang ingin menjatuhkan dirinya. "Apa Kakek tidak pernah bicara dengan Leon?"
"Aku tidak begitu akrab dengannya, karena sikap posesif ku padamu. Aku sengaja menyekolahkannya jauh, tetapi tidak tahu jika pria itu selalu menyusahkanmu saja. Dalang dibalik itu semua adalah Leon dan juga Adi, mereka begitu serakah dan juga tamak akan harta."
Ayu menganggukkan kepalanya seakan teka-teki yang selama ini memenuhi otaknya sudah terjawab dengan tuntas, dan kali ini dia tahu langkah apa yang akan dilakukan untuk mengungkap segalanya sebelum hari pernikahan. "Jadi, karena itulah dia mengetahui masa lalu Farhan yang pernah."
"Leon juga mengetahui segalanya, teruslah berjuang dan jangan berputus asa."
Ayu tersenyum dengan lega, karena semua sudah terungkap yang membuatnya bisa menjalankan rencana berikutnya bersama dengan Alvaro. "Aku cukup senang dan juga lega karena permasalahan ini sudah terungkap, aku merasa tidak takut lagi jika wanita yang selama ini dihati Farhan adalah aku."
Tirta kembali mengusap rambut dari cucunya senyum hangat, dan kelegaan di hati membuat bebannya terasa ringan. "Jangan berpikir terlalu banyak karena besok adalah hari pernikahanmu dengan Farhan. Aku tidak ingin jika ada kesalahan apapun."
"Aku begitu rapuh dengan semua ini, ungkapan dari masa lalu yang kakek ceritakan benar-benar membuatku bisa bernapas. Aku ingin kembali ke kamarku!"
__ADS_1
"Baiklah, katakan jika kau membutuhkan sesuatu."
Ayu menganggukkan kepalanya dan kembali ke kamar, dia menghubungi sang hacker untuk menambah bukti baru. Dia tidak tahu mengapa Leon dan notaben sebagai kakak tirinya itu sangat membenci dirinya, dan selalu menyulitkan. Padahal dia tidak pernah berurusan dengan pria itu.