
Farhan mengepalkan kedua tangannya, rahang yang mengeras, serta tatapan tajam saat melihat kejadian yang ada di hadapannya. Wajah yang berubah menjadi gelap, saat Ayu dan Gabriel terlihat sangat dekat. Berjalan mendekati mereka dengan kesan aura yang mencekam. Ayu menyadari Farhan yang datang menghampirinya, dengan cepat menjauhkan diri dari Gabriel.
"Aku menunggumu sangat lama di sana." Keluh Farhan.
"Maafkan aku."
"Kau sepertinya menyukai tunanganku," sindir Farhan dengan raut wajah tanpa ekspresi.
"Sepertinya kau memahamiku," sahut Gabriel yang menyeringai.
Farhan mendekati Gabriel, mereka saling melempar tatapan sinis satu sama lain. "Sebaiknya kau jauhi Ayu karena dia tunangan ku." Ancamnya.
"Hei, aku bukanlah__" Belum sempat Ayu meralat perkataa Farhan yang melengos ke arahnya dengan tajam, meng-kode untuk tidak melanjutkan perkataan Ayu.
"Ada dia cemburu? Ck, cemburunya sangat jelek." Batin Ayu yang menggelengkan kepalanya pelan.
Farhan membenarkan dasi Gabriel dengan kasar, hampir mencekik leher sahabatnya itu. Gabriel tetap tenang seraya tertawa. "Ini tidak akan berhasil, kali ini aku tidak akan mundur." Tekad Gabriel.
"Sekeras apapun kau mencoba, itu hanyalah sia-sia." Ucap Farhan dingin.
"Benarkah? Bahkan aku belum mencobanya." Tantang Gabriel santai. Farhan tersenyum sembari membersihkan jas yang melekat di tubuh sahabatnya. Mereka saling menatap satu sama lain dengan pikiran masing-masing yang terlintas di benaknya.
Farhan membalikkan badan dan meletakkan tangannya di pinggang ramping milik Ayu, bermaksud untuk menunjukkan jika wanita yang mereka perebutkan adalah miliknya. "Kau ikut aku!" Titah Farhan melirik Ayu, mengalihkan pandangan ke arah Gabriel dengan datar. "Sebaiknya kau menjaga batasanmu." Tekan Farhan tanpa menoleh, mereka pergi meninggalkan Gabriel yang terlihat patah hati.
"Apa aku tidak ada di hatimu? Walau hanya sebentar saja?!" Gumamnya yang sedih saat melihat punggung Ayu dan Farhan menghilang dari pandangan. Seketika raut wajah Gabriel berubah dengan tersenyum tipis, seakan masa suramnya berlalu dengan cepat. "Aku akan memperlihatkan sisi baikku saat bersama Ayu untuk membuatnya terkesan, Ayu hanyalah milikku dan tidak ada seorangpun yang boleh memilikinya," Lirih pelannya yang bersumpah kepada dirinya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Farhan dan Ayu kembali ke ruang VIP, Ayu mendudukkan dirinya di kursi yang tadi dia duduki. Berusaha untuk melupakan kejadian yang membuatnya merasa gugup, dan mengalihkannya dengan makanan yang hampir dingin di atas meja di hadapannya.
"Seberat apapun masalah yang aku hadapi, tetap saja makan adalah yang paling utama." Lirih pelannya sambil menyuapi mulutnya dengan makanan.
Farhan tidak ingin makan, perutnya seakan kenyang saat memikirkan hubungan antara Ayu dan juga Gabriel, dia hanya terdiam dengan lamunan yang memenuhi isi kepala. Memijat pangkal hidung dan juga pelipis untuk mengurangi rasa sakit di kepala, melirik wajah cantik Ayu yang tampak menggemaskan saat memakan hidangan yang ada di meja makan.
"Kenapa kau diam saja, ayo makanlah!" Celetuk Ayu yang menatap pria tampan di hadapannya.
"Tidak, kau duluan saja."
"Hem, ya sudah." Ayu mengangkat kedua bahunya dan kembali menyuapi mulutnya dengan makanan lezat yang tersedia di atas meja.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa bersama dengan Gabriel?"
"Itu pertemuan yang tidak terduga, apalagi itu tempat umum."
"Benarkah?" Ucap Farhan dengan tatapan menyelidik.
"Kau selalu saja menatapku bagai penjahat, apa kau pikir pertemuan itu disengaja?" Keluh Ayu dengan ketus.
Farhan yang gemas melihat wanita cantik di hadapannya, menyentil kening Ayu membuat sang empunya meringis. "Auh…kau kasar sekali." Ayu mengerucutkan bibirnya sembari mengusap keningnya yang terasa panas akibat sentilan dari pria bersamanya.
"Aku menyukainya, keningmu sangat pas untuk dijadikan objek!" Ucap Farhan datar.
"Sangat menyebalkan."
Farhan dan Ayu kembali menikmati hidangan makanan diatas meja, saat sedang asyik makan, Ayu memegangi perutnya yang terasa nyeri. "Perut ku sangat sakit," Lirihnya Pelan seraya memegangi perut dengan erat, rasa sakit yang tak tertahankan.
Saat mendengarkan gasrak gusruk di depan, dengan cepat Farhan mendongakkan kepala. "Kau kenapa?" Tanya Farhan yang panik.
"Ini tanggal berapa?" Tanya Ayu yang meringis menatap Farhan.
"Kenapa aku bisa lupa." Ayu menepuk keningnya saat melupakan jika kedatangan tamu bulanan. Dia menyentak kursi ingin pergi ke toilet, tapi tiba-tiba Ayu pingsan membuat Farhan sangat terkejut dan berlari ke arah Ayu.
"Ayu…Ayu, bagunlah!" Farhan menepuk pipi wanita itu dengan pelan, karena situasi membuat Farhan sangat khawatir dan juga cemas berlebihan. Memeluk Ayu dengan sangat erat, takut jika wanita itu kenapa-napa.
Pandangannya tak sengaja melihat ada noda darah di rok Ayu. "Kenapa dia berdarah?" Ucap Farhan yang semakin kalap, dengan cepat dia menelepon dokter.
"Halo."
"Suatu keajaiban kau menelpon ku, bagaimana kabarmu?"
"Ck, itu tidak penting sekarang. Datang ke Mansion sekarang juga."
"Ada apa? Suaramu terdengar khawatir?"
"Jangan banyak bertanya, lakukan perintahku."
"Baiklah."
__ADS_1
Sambungan telepon terputus, segera Farhan menggendong tubuh Ayu ala bridal style untuk keluar dari tempat itu menuju mobilnya. Farhan meletakkan tubuh Ayu dengan sangat perlahan dan penuh hati-hati, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia sangat khawatir sehingga pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernih, perasaan khawatir dan penuh kecemasan selalu muncul di benak Farhan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di Mansion Hendrawan, segera Farhan menggendong tubuh Ayu dan membawanya menuju kamar. Langkah yang tergesa-gesa dengan pikiran kalut, Farhan menendang pintu kamar dan membaringkan tubuh Ayu dengan sangat perlahan.
"Sialan, kenapa dia datang sangat terlambat!" Umpat Farhan yang kesal.
Seseorang berlari masuk ke kamar, seorang pria tampan dengan jas putih yang melekat di tubuhnya. "Siapa yang sakit?" Tanya sang dokter menatap Farhan.
"Kau terlambat dua menit," sahut Farhan dingin.
"Lupakan itu, di mana pasienku?" Tanya sang dokter yang mengerutkan keningnya.
"Apa kau buta? Periksa wanita yang tengah berbaring di atas ranjang itu, aku melihat jika pakaian di belakangnya ada noda darah dan juga pingsan." Farhan sangat kesal dengan dokter sekaligus teman masa kecilnya yang bernama Reffan.
Dengan cepat Reffan memeriksa Ayu, dia ikut cemas saat melihat Farhan. "Bagaimana? Apa dia punya penyakit serius?" Farhan menatap Reffan dengan kesal saat pria itu hanya diam tanpa menjawab. Seketika tawa Reffan pecah saat melihat wajah temannya yang cemas.
"Kenapa kau tertawa? Cepat jawab pertanyaanku." Kesal Farhan.
"Kau cemas tanpa alasan."
"Apa maksudmu?"
"Apa kau tidak bisa membedakan antara penyakit dan menstruasi?" Sahut Reffan dengan jengah.
"Lalu, kenapa dia pingsan?"
"Dasar bodoh, itu terjadi karena gula darahnya rendah dan menyebabkan dia pingsan di tambah lagi dengan tamu bulanannya." Jelas Reffan.
"Bukanlah profesiku, itulah gunanya dirimu." Ucap Farhan dengan enteng.
"Ck, kau ini." Geram Reffan.
Ayu membuka matanya, menatap sekeliling. "Aku di mana?"
Dengan cepat Farhan menghampiri Ayu. "Kau ada di Mansion!" Sahutnya.
"Apa yang terjadi?" Lirih Ayu yang memegang kepalanya seraya menatap Farhan.
__ADS_1