
Farhan sangat kesal dengan ucapan yang keluar dari mulut wanita itu, walaupun sudah membujuknya berulang kali tetap tidak berhasil. "Dasar wanita keras kepala," umpat Farhan datar.
"Ck, kau pria arogan yang sangat menyebalkan." Balas Ayu menunjuk wajah bosnya. Farhan menangkap tangan Ayu, menatapnya dengan penuh arti yang tidak bisa di baca oleh Ayu, tindakan yang berubah-ubah membuatnya bingung dengan sifat dari Farhan.
"Hei, lepaskan tanganku!" Tukas Ayu dengan nada ancaman.
"Tidak!" Tolak Farhan yang berjalan semakin mendekati Ayu dengan menyeringai tipis. Tidak ada cara lain selain memundurkan langkah, seketika keberaniannya hilang saat melihat tatapan mata elang yang ingin menjadikannya mangsa.
"Ya tuhan…tatapannya itu." Gumam Ayu yang menelan saliva dengan susah payah. Berusaha memberontak dan ingin memukul Farhan, tapi dia kalah cepat saat tangannya di cekal oleh pria tampan itu.
"Kau gadis yang sangat nakal." Farhan menggunakan kesempatan memegang kedua tangan Ayu, mengangkatnya ke atas dan mengunci pergerakan wanita itu jika sewaktu-waktu kembali memberontak. Posisi dengan jarak diantaranya mereka sangatlah dekat, hembusan nafas satu sama lainnya dapat terasa. Mata saling menatap beberapa detik, seakan waktu berhenti sejenak, posisi seperti memeluk dan ingin mencium bibir ranum milik wanita cantik di dalam cengkramamnya.
"Dia sangat cantik," batin Farhan yang terpesona.
"Dia terlihat tampan. Astaga, apa yang aku pikirkan?! Tidak." Gumam Ayu di dalam hati sembari mengedipkan kedua matanya dan menggelengkan kepala dengan pelan.
Hingga suasana terhenti akibat pintu yang terbuka dengan lebar, seorang wanita yang meremas ujung bajunya melihat dengan jelas kedekatan antara Ayu dan juga Farhan. "Kak!" Panggil Laras yang berusaha untuk tersenyum.
Ayu mendorong tubuh Farhan dengan cepat, membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan. Farhan berdehem untuk memecahkan suasana ambigu. "Kenapa kau kemari?" Ujar Farhan datar.
"Aku membawakan obat untukmu." Laras memperlihatkan kotak obat yang ada di tangannya.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dulu?" Tukas Ayu yang tidak menyukai tindakan dari sepupu Farhan.
Laras menoleh dan tersenyum penuh arti. "Memangnya kenapa? Dia adalah kakakku."
"Apa kau yakin?" Tekan Ayu yang tersenyum tipis saat mengetahui perasaan dari Laras kepada Farhan.
"Ck, aku tidak ada urusan denganmu." Ketus Laras yang membuang muka. "Kak, aku akan mengobati luka di tanganmu!" Tawarnya dengan mata berbinar dan sangat semangat.
__ADS_1
"Itu tidak diperlukan, aku ada disini!" Celetuk Ayu yang menunjuk dirinya sendiri.
"Tidak, sebaiknya kau saja yang pergi dan urus pekerjaanmu!" Cibir Laras yang melirik sinis.
Farhan tidak menyukai kedatangan Laras yang datang untuk mengganggu keromantisan nya dengan Ayu, hanya menatap kedua wanita di hadapannya tanpa mengatakan apapun.
"Kau baik sekali, sudah mengingatkanku akan hal itu. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot dengan semua ini, apa kau pikir aku tidak bisa mengganti perbannya?" Sindir Ayu.
"Hah, berbicara denganmu membuat waktu berhargaku terbuang dengan sia-sia." Laras melengos dan datang menghampiri kakak sepupunya, berharap dia bisa semakin dekat dan mengambil hati dari pria yang selama ini dicintai. "Ayo, Kak. Duduklah! Aku akan mengobati luka di tanganmu." Laras tersenyum saat menarik tangan Farhan, dan membawanya ke sofa. "Aku akan memperlihatkan posisimu sebenarnya, Ayu Kirana!" Batinnya.
Farhan terus di paksa untuk duduk di sofa, membuatnya menjadi kesal karena perlakuan Laras yang menuntut. Dia berdiri dengan tegap, memandangi adik sepupunya dengan tatapan menusuk.
"HENTIKAN. Kau jagalah batasanmu, sebaiknya kau pergi dari ruanganku!" Ucap Farhan yang meninggikan suara, menunjuk pintu keluar dengan tatapan tajam mengarah kepada adik sepupunya.
"Tapi, Kak! Aku hanya__"
Laras tersentak kaget, dia sangat cemburu dengan kedekatan Ayu dan Farhan yang semakin hari kian membaik, apalagi Farhan selalu saja membela calon tunangannya. Menundukkan kepala dan melangkah keluar ruangan, sebelum benar-benar pergi, Laras menoleh menatap Ayu dengan sinis, seakan semua ini belum berakhir.
"Aku akan membuatmu menjauh dari kak Farhan, sebaiknya aku memanfaatkan Vanya. Aku rasa ini akan menyenangkan, dan kak Farhan akan menjadi milikku," Gumam Laras yang tersenyum smirk saat menemukan sebuah ide untuk menyingkirkan Ayu.
Ayu dan Farhan melihat punggung Laras yang menghilang dari balik pintu, Farhan yang ingin melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, sedangkan Ayu kembali ke departemen sekretaris untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Ketika tiba waktunya untuk pulang kerja, Farhan membawa Ayu ke Restoran untuk makan. "Bagaimana? Apa kau setuju?" Tanya Farhan yang menatap sekretaris nya.
"Kepalamu terbentur di mana?" Tanya Ayu bengong dengan ajakan dari Farhan yang seperti bunglon.
"Aku baik, kenapa kau bengong saja, kemas semua barang mu dan kita ke Restoran." Titah Farhan yang peduli dengan wanita yang membuatnya tertarik.
"Aku menunggumu di mobil dalam waktu tiga menit, jika terlambat kau akan dihukum." Farhan berlalu pergi menuju mobilnya yang terparkir. Ayu menatap kepergian bos tampannya dengan wajah yang melongo. "Sifatnya sangat tidak terduga!" Lirih pelannya.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam tanpa ada yang ingin membuka suara. Hingga mobil berhenti di sebuah Restoran mewah. Mereka turun dari mobil, Ayu hanya berjalan mengikuti langkah kaki Farhan yang membawanya ke meja kosong. Ayu melirik pria di hadapannya yang terlihat sangat tampan dengan penampilannya berbeda dari biasanya yang biasanya hanya mengenakan pakain formal seperti jas, tapi hari ini Farhan sengaja memakai pakaian casual. Dia menyunggingkan senyuman di wajah datarnya saat menyadari Ayu yang meliriknya.
"Apa aku tampan dengan pakaian yang berbeda?" Goda Farhan.
"Eh, tidak! Biasa saja." Elak Ayu yang gelagapan.
"Kau terlihat gugup."
"Aku tidak merasa begitu."
"Hem, terserah padamu saja."
Suasana yang tenang dan sunyi terganggu akibat nada dering ponsel milik Ayu. Dia melihat ponselnya yang tergeletak di atas meja dan melihat siapa si penelpon, ternyata yang meneleponnya adalah Gabriel.
"Kenapa dia menelpon ku?" Gumam Ayu yang mematikan ponselnya. Sementara Farhan hanya melihat dan berpikir siapa yang menelepon Ayu saat wanita itu bersama dengannya. "Siapa yang menelepon mu?" Tanya Farhan dengan posesif.
"Telepon tidak penting." Sahut Ayu yang tak ingin membahasnya.
"Hem."
Tak lama telepon kembali berdering, Ayu hanya mengacuhkannya. Telepon yang terus berdering membuat Ayu sangat kesal dan mengambil ponselnya dan ingin mengangkat telepon dari Gabriel.
"Aku permisi dulu." Ayu menyentak kursi seraya melirik Farhan dengan sekilas.
"Kenapa kau tidak mengangkatnya di sini saja?" Tanya Farhan yang sangat penasaran.
"Tidak, ini privasi ku." Ayu berjalan keluar untuk menghindari Farhan agar tidak mendengarkan perkataannya lewat telepon, karena itu termasuk privasinya. Farhan menatap kepergian Ayu yang membuatnya moodnya kembali memburuk, dia tidak menyukai jika Ayu menghindarinya hanya untuk mengangkat telepon.
__ADS_1