Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
S2 ~ Kelepasan


__ADS_3

Ayu segera mendorong tubuh suaminya, tersenyum saat melihat raut wajah yang memelas. "Lihat wajahmu itu! Kau lebih terlihat seperti Abi dan juga Adit," guraunya. 


"Mereka anak-anakku, tentu saja ada kesamaan untuk itu. Tapi kenapa Flo begitu berbeda? Dia hanya menyukai makanan dan juga tidur, kau harus membatasi pola makan yang sangat buruk itu. Berapa banyak kalori yang dia makan setiap harinya? Bahkan tubuhnya itu sangat gemuk." Ungkap Farhan yang merasa aneh dengan anak bungsunya begitu berbeda.


"Setiap anak mempunyai karakter sendiri, cepat atau lambat mereka akan memahami kehidupan. Mengenai pola makan, akan aku urus masalah itu." Jawab Ayu. 


Farhan tersenyum saat melihat raut wajah Ayu yang tersenyum, mencintai orang yang sama sewaktu kecil. Dia memeluknya dengan erat, takut akan kehilangan dan juga perpisahan. 


Pintu terbuka dengan lebar, membuat kedua sepasang suami istri yang dilanda mabuk asmara sangat terkejut. Farhan dengan cepat melepaskan pelukan itu dan berpura-pura membenarkan jasnya, sedangkan Ayu merapikan rambutnya sembari tersenyum ke arah kakak dan ketiga anak-anaknya.


"Heh, kalian merusak dan menodai pandangan ketiga keponakanku." Leon menghela nafas dengan berat, karena perbuatan dari sepasang suami istri yang romantis tidak tahu tempat. "Kalian duduk di sofa dulu, Paman ingin mengobrol dengan papa dan mama kalian!"


"Baik, Paman." Sahut ketiganya dengan serempak, mereka segera berjalan menuju sofa sambil memakan kue coklat yang dibeli setelah merengek.


"Kenapa kita selalu saja di usir?" celetuk Adit yang menatap kembarannya secara bergantian, menarik perhatiannya kembali kepada ketiga orang-orang dewasa. 


"Entahlah, mungkin karena kita kecil." Sahut Flo tanpa menoleh, perhatiannya lebih berfokus pada cemilan manis yang menggoyang lidahnya.


"Itulah nasib anak kecil seperti kita, dan aku juga tidak tertarik dengan kehidupan orang dewasa, sangat merepotkan." Abi memberikan pendapatnya mengenai orang dewasa yang begitu sibuk bekerja, lebih mementingkan uang dibandingkan kebersamaan.


 "Dasar bodoh, setiap tahun kita akan tumbuh dan juga menjadi orang dewasa seperti mereka." Ujar Flo, walaupun dia tidak banyak bicara namun kemampuan berpikirnya melebihi batas anak seusianya. 


Leon menatap dua orang sebagai tersangka, menyusuri pandangan dari bawah hingga ke atas seraya melipat kedua tangan di depan dadanya. "Apa kalian tidak berpikir mengenai rusak nya mental anak-anak dan sangat berpengaruh kepada mereka, mereka akan mencontohnya dan hal itu sangatlah buruk." Jelasnya menatap dua tersangka secara bergantian.


"Kau akan mengerti setelah menikah," jawab Farhan yang menatap kakak iparnya tanpa rasa bersalah, dia tahu jika Leon hanya iri mengingat umur pria itu hampir empat puluh tahun.

__ADS_1


Leon yang kesal menjentik kening Farhan dengan keras, membuat sang empunya meringis. "Harusnya kau menyaring kata-kata mu itu sebelum mengucapkannya." 


"Kau membuat aku kesal," geram Farhan.


"Sudahlah, kenapa setiap pertemuan kalian selalu terjadi perdebatan? Kalian memberikan contoh yang buruk pada ketiga anak-anakku," Ayu menengahi perdebatan unfaedah yang terdengar, menatap wajah ketiga anaknya secara sekilas.


"Sebaiknya kau terima untuk di jodohkan dengan sekretaris mu itu, siapa namanya…aku lupa." Farhan tampak berpikir, mencoba mengingat nama dari pendonor darah sekaligus penyelamat nyawa istri tercinta. 


"Aluna," sela Ayu yang masih mengingat eanita baik itu, dia bahkan mencari tahu mengenai identitas dari sekretaris kakaknya. "Dia wanita yang baik, kau akan bahagia jika bersama dengannya."


"Mengapa setiap masalah selalu saja dikaitkan dengan perjodohan, kalian begitu bahagia dengan penderitaanku." Leon sangat kesal dan melirik segelas air mineral, dia meminumnya dengan tandas mengacuhkan peringatan dari Farhan. "Kau kenapa?" tanyanya setelah menghabiskan air yang sudah dicampur dengan obat kembung.


"Sebenarnya aku malu untuk mengatakan kebenarannya, tapi kau harus tahu kalau gelas yang berisi air mineral, sudah aku campurkan dengan obat buang angin." Jujur Farhan yang tersenyum tanpa rasa bersalah, karena dirinya sudah melarang tapi hanya dibalas dengan acuh oleh kakak iparnya.


"Perutku kembung, tidak mengeluarkan kentut sangat membuatku tersiksa. Aku sudah memperingati mu tadi, tapi kau sendiri seperti setan kehausan." 


Leon menepuk keningnya pelan, entah mengapa harinya begitu sial saat ini. Pertama bertemu dengan Aluna yang secara tak sengaja dan juga begitu ceroboh. "Sial," umpatnya yang begitu kesal.


"Sebaiknya kau pergi dari sini!" usir Farhan.


"Berani sekali kau mengusirku? Aku sudah menjaga si kembar, apa ini balasannya untukku." Sentak Leon yang menunjuk wajah adik iparnya. 


"Jangan salah paham, karena sebentar lagi kau akan merasakan efek dari obat itu. Jangan merusak aroma ruanganku dengan bau menyengat itu," tutur Farhan yang tidak peduli saat efek mulai bekerja pada kakak iparnya.


Leon mulai merasakan perutnya yang terasa ingin mengeluarkan gas, namun dia tetap memaksakan diri dan tinggal di ruangan itu. 

__ADS_1


Abi dan Adit sedang bermain kejar-kejaran, mereka lupa sedang berada dimana. "Ayo kejar aku, dasar payah!" 


"Aku akan mengejarmu," balas Abi yang menambah kecepatan langkah kakinya.


Karena keasyikan bermain membuat Adit kelelahan hingga menabrak Leon, hingga hembusan angin setumpuk yang terdengar nyaring begitu menyengat menerpa wajahnya. Spontan dia menutup hidungnya, di ikuti oleh Abi sedangkan Flo tertawa keras sembari menyuapi mulutnya dengan cemilan yang masih tersisa.


"Baunya seperti bangkai," teriak Adit yang segera menjauh.


"Aku sudah menahannya, tapi kau malah malah menabrak Pamanmu ini." Leon sedikit malu, kejadian memalukan yang membuatnya hanya bisa cengengesan. "Ini semua karena salahmu," tuduhnya pada Farhan.


"Aku? Berani sekali kau menyalahkan aku atas tidak ceroboh mu, pergi sana! Aroma kentutmu membuat bulu hidungku keriting." Balas Farhan tak ingin mengalah.


"Itu dinamakan kentut terjepit, dan korban kesialan itu terjadi kepada Adit. Anggap itu sebagai hadiah mu," seru Abi yang terus saja terkekeh geli, begitu lucu hingga dia tertawa memegang perut kecilnya.


"Sangat bau dan aku benci dengan bunyi nya," sambung Adit yang masih trauma dengan kejadian yang baru saja dia rasakan.


"Kalian semua mengejekku? Jika saja papa kalian tidak meletakkan air yang dicampur obat, aku tidak akan seperti ini," protes Leon yang kembali memegang perutnya, dan tak sengaja kelepasan membuat semua orang berlari keluar ruangan yang aromanya dengan cepat menyebar. 


"Paman Leon sangat jorok," kesal Flo yang masih memikirkan cemilannya yang tersisa, namun tidak selera makan lagi saat aroma laknat itu menghancurkan keinginannya.


Ayu dan Farhan saling menatap sepersekian detik, mereka tertawa geli dengan situasi yang sangat konyol itu. 


"Kau harus bujuk kakek untuk mempercepat perjodohan Leon dengan Aluna," desak Farhan yang begitu bersimpati dengan kakak iparnya, dia tahu bagaimana rasa disaat sendiri.


"Kau tenang saja, kakekku sudah mengatur segalanya. Aku yakin dengan rencana kali ini tidak akan meleset, kita sudah mengenalnya dengan baik, bagaimana perjodohan kita berhasil." Ucap Ayu yang begitu penuh keyakinan.

__ADS_1


__ADS_2