Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 44 ~ Menggoda


__ADS_3

Farhan meminta Ayu untuk ke ruangannya tanpa ada bantahan sedikitpun membuatnya mengiyakan ucapan dari bosnya dengan terpaksa. "Dia selalu memerintah seenak jidatnya saja, pria ini sangat menyebalkan!" gerutu Ayu dengan mulut komat-kamit menatap punggung bosnya dengan kesal. 


"Diamlah, suaramu membuat telingaku sakit." Sahut Farhan. 


"Ck, kau bisa menutup kedua telingamu itu."


"Apakah dia akan memarahiku atau menyalahkan aku mengenai kekacauan tadi?" Batin Ayu yang berpikir di dalam hatinya. Dia terus berjalan mengekori Farhan, hingga mereka sampai di depan pintu ruangan CEO. 


"Kau mau apa?" Tanya Farhan yang menatap asistennya dengan jengah. 


"Tentu saja masuk ke dalam, Tuan."


"Apa kau ingin di hukum?" Farhan menatap asistennya dengan tatapan dingin membuat bulu kuduk Heri merinding. 


"Tidak, Tuan. Saya akan menunggu di sini saja," sahut Heri dengan cepat dan tersenyum paksa, dia berdiri di dekat pintu dan tidak ingin jika gajinya dipotong lima puluh persen. 


"Good boy." 


"Hanya kita berdua di ruangan ini, apa yang ingin kau bicarakan? Hingga asisten Heri tidak boleh masuk kesini." Tanya Ayu yang sangat penasaran, menatap wajah tampan bosnya itu. 


"Aku hanya memperlihatkan game terbaru kepadamu," jawab Farhan dengan enteng. 


"What? Jadi kau hanya mengatakan hal tidak penting itu denganku?" Ayu sedikit terkejut dengan pernyataan Farhan yang hanya membuang-buang waktu saja. 


Dengan cepat Farhan mengangguk. "Memangnya kenapa?" Tanya Farhan dengan raut wajah tanpa dosa. 


"Astaga…kenapa aku bisa terjebak dengan pria sepertimu, hanya membuang-buang waktuku saja." Ayu yang ingin pergi dari ruangan itu, dengan cepat Farhan menghentikan langkahnya. 


"Kau mau kemana?"


"Aku ingin ke departemen sekretaris, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Tidak, kau di sini saja dan menemaniku bermain game online."


"Apa kau gila? Lepaskan tanganku!" cetus Ayu yang mulai paham bahwa Farhan melakukan itu untuk mendekatinya. "Aku tahu, jika Farhan diam-diam mengagumiku dan ini salah satu pendekatannya. Hah, bagaimana aku bisa lepas dari pria ini?" Batin Ayu yang menghela nafas berat. 


"Kenapa kau diam saja, mendekatlah!" Farhan berjalan mendekati Ayu, dengan cepat dia bergerak menjauh dari pria tampan itu. 


"Tidak."

__ADS_1


"Apa kau menolak bosmu?" Ancam Farhan yang tersenyum tipis. 


"Bukan begitu, sebaiknya kita saling menjauh. Aku tak ingin berdekatan denganmu!" tutur Ayu dengan jujur. 


"Memangnya kenapa? Sebentar lagi kita akan menikah," sahut Farhan dengan santai seraya merubah posisinya berada di atas Ayu. Posisi intim membuat Ayu menelan saliva dengan susah payah. 


"Ada apa dengan pria gila ini?" Batin Ayu yang berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman Farhan. "Apa yang kau inginkan? Lepaskan aku atau orang lain akan salah paham dengan ini." Rengek Ayu sembari memohon untuk dilepaskan. 


"Kau terlihat sangat takut, bukankah kau wanita yang sangat berani? Lihat dirimu sekarang, persis seperti kelinci." 


"Hei, aku bukan kelinci. Tolong lepaskan aku!" pinta Ayu dengan protes. 


"Aku menghukummu karena berbuat kesalahan, tidak memberitahukan mengenai masalah tadi, aku ini bos mu!" tutur Farhan yang semakin mendekati wajahnya. 


"Tidak, aku tidak melakukan kesalahan." Ayu sangat gugup dengan situasinya hingga menutup kedua mata, Farhan tersenyum saat berhasil menggoda Ayu yang terlihat sangat menggemaskan. 


"Kenapa kau menutup mata? Aku tahu, kau pasti ingin aku cium," goda Farhan. 


"Ti-tidak, bukan begitu." Ayu berusaha mengurangi kegugupannya agar tidak terlihat oleh pria yang masih menindih tubuhnya. 


"Kau ini sangat lucu sekali," ucap Farhan yang tertawa saat melihat ketakutan di wajah sekretaris nya. "Aku akan mengandalkannya untuk hal semacam ini di masa depan." batin Farhan yang menemukan cara jitu untuk menaklukkan wanita itu. 


"Rasakan, itu akibatnya jika kau menggangguku lagi." Ayu pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang sangat kesal kepada bosnya, menghindari suasana yang semakin ambigu. Berjalan dengan mulut yang terus mengumpat Farhan membuat asisten Heri penasaran dengan apa yang terjadi. 


"Kenapa nona Ayu terlihat kesal, apa yang terjadi?" Gumam Heri yang tampak berpikir. 


Sementara Farhan melihat kepergian Ayu, ini pertama kalinya ada seorang wanita menolak jika didekati membuatnya sangat penasaran mengenai identitas Ayu yang tidak diketahui. 


"Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia tidak tertarik kepadaku? Ini sedikit mencurigakan, apalagi alat menggambar yang dipakai Ayu sangatlah mahal." Lirih Farhan. 


"Heri," panggil Farhan dengan suara tegas. 


Dengan cepat asisten Heri masuk ke dalam ruangan dan menundukkan kepala dengan hormat. "Saya, Tuan."


"Cepat, cari identitas dari wanita itu." Titah Farhan yang menatap lurus. 


"Maaf, Tuan. Wanita yang mana?" Heri menatap tuannya dengan memiringkan kepala karena penasaran. 


"Jangan banyak bertanya atau gajimu dipotong lima puluh persen." Ancam Farhan yang membuat asisten Heri meringis. 

__ADS_1


"Jangan tuan, aku akan melaksanakan tugasku," sahut Heri dengan cepat. "Tapi identitas siapa yang harus aku cari?" Tanya asisten Heri yang membuat Farhan kesal. "Identitas sekretaris baru itu." Dengan cepat Farhan melepaskan sepatunya melempar asisten Heri yang sudah berlari keluar dari ruangannya. 


"Dasar bos gila, apa dia pikir aku ini peramal? Yang mengetahui segala isi hatinya," umpat asisten Heri yang berjalan keluar sembari mengeluarkan ponsel menghubungi anak buahnya untuk mencari identitas dari Ayu Kirana. 


Farhan mengatur nafasnya saat menghadapi asistennya itu. "Dasar asisten bodoh, seharusnya dia mengerti apa yang ada di hatiku. Sebaiknya aku pergi ke kediaman kakek dan menanyakan ini." Farhan bersiap-siap dan pergi meninggalkan ruangannya karena rasa penasaran mengenai identitas wanita yang dijodohkan dengannya. 


Farhan berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil, mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Mobil berhenti di sebuah bangunan mewah dengan gaya klasik kuno, dengan cepat Farhan turun dari mobil dan bergegas masuk untuk menemui kakeknya. 


"Tuan, anda di sini?" Tanya kepala pelayan yang menyambut kedatangan Farhan, cucu dari pemilik mansion itu. 


"Hem, dimana kakek? Aku tidak melihatnya?" Tanya Farhan yang celingukan mencari keberadaan Hendrawan. 


"Kenapa kau mencariku? Tidak seperti biasanya!" tutur seseorang yang tak lain adalah Hendrawan yang berjalan mendekati cucunya. 


"Bagaimana kondisi Kakek?" Tanya Farhan basa-basi seraya memeluk Hendrawan. 


"Aku baik, tapi kenapa kau disini? Sangat mencurigakan."


"Oh ayolah Kek, aku datang untuk mengunjungimu!" ujar Farhan memelas.


"Hei, anak muda. Aku sangat memahami karakter mu itu, katakan saja ada apa kamu kemari?" Celetuk Hendrawan to the point. 


"Hehe…ternyata Kakek memahami diriku, aku kesini ingin menanyakan latar belakang Ayu, wanita yang akan dijodohkan denganku." Farhan cengengesan sembari menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal saat sang kakek mengetahui niatnya. 


"Apa kau mulai tertarik kepada gadis itu?" Tanya Hendrawan dengan sangat antusias. 


"Tidak, aku hanya penasaran saja." Sahut Farhan yang seketika merubah ekspresi Hendrawan menjadi cemberut. 


"Kau cari tahu saja sendiri, kenapa kau menanyakan ini padaku?!" ketus Hendrawan. 


"Ayolah Kek, aku sangat ingin mengetahui latar belakangnya."


"Tidak, cari tahu saja sendiri. Sebaiknya kau pergilah dari Mansion ku," usir Hendrawan. 


"Kakek mengusirku?" 


"Ya, begitulah." Sahut Hendrawan dengan santai. 


 

__ADS_1


__ADS_2