
Perasaannya semakin terluka dan sedih, mengingat Farhan lebih memilih wanita itu dibandingkan dengan dirinya. Sementara Gabriel terus terus saja berceloteh tanpa henti untuk menghibur wanita di sebelahnya.
Tak ada reaksi membuatnya segera menoleh, melihat wanita yang sedang menatap sesuatu.
"Apa yang dia lihat?" gumamnya mengerutkan dahi, mengikuti arah pandang wanita itu dan melihat seorang wanita cantik menuju ruangan tempat sang kakek Hendrawan dirawat. "Wanita itu sangat mirip di foto berita terkini, apa itu artinya dia adalah Kira?" gumamnya sangat pelan, bahkan hanya terdengar samar.
Pandangannya segera dialihkan. "Apa itu Kira?"
Ayu tak bisa menjawab, seakan tenggorokannya menjadi sakit, lidah terasa keluh tak mampu dikuasai dengan baik. Dia hanya mengangguk pelan seraya menyeka air mata yang entah sudah berapa banyak dikeluarkan.
"Sebaiknya kita pergi meninggalkan tempat ini yang tidak baik untukmu." Ajak Gabriel yang disetujui oleh wanita di sebelahnya.
Di sisi lain, Kira sangat bersemangat untuk pergi menuju bangsal tempat kakek Hendrawan dirawat. Tidak sabar menemui keluarga Farhan dan sangat yakin dengan hubungannya. Namun langkahnya terhenti saat beberapa security yang menjaga tempat itu mencegatnya, menatapnya seakan ingin menelannya hidup-hidup. "Anda di larang untuk masuk."
"Kenapa? Aku hanya ingin menjenguk kakek Hendrawan saja."
"Semua sudah diatur, silahkan kembalilah dan jangan mempersulit pekerjaan kami!"
Kira tampak berpikir, bagaimana dia diperbolehkan untuk menjenguk. Tersenyum saat menemukan caranya, dengan cepat mengeluarkan foto dan memperlihatkan kepada para security. "Sekarang, apa aku boleh masuk?"
Salah satu dari security mengambil foto itu, mereka melihatnya secara bergantian. Gak berani mengabaikan hal itu, membuat salah satunya segera melapor pada sang pembuat peraturan.
Tak lama, Farhan muncul membuat wanita yang telah menunggunya menjadi tersenyum sumringah. "Akhirnya dia datang juga!" gumamnya.
"Kenapa kau kesini? Apa lukamu baik-baik saja?" tanya Farhan yang menatap wanita di hadapannya. Dia peduli kepada wanita yang mengaku sebagai Kira.
__ADS_1
Kira tersenyum polos dan menganggukkan kepala. "Aku sudah baikan, kau tidak perlu mencemaskannya lagi."
"Baiklah, tapi kenapa kau mendadak di sini dan siapa yang memberitahumu jika aku di sini?" Farhan mengerutkan kening, keheranan melihat Kira yang selalu mengetahui lokasinya.
Kira tersenyum tanpa berniat untuk menjawabnya. "Aku sangat sedih saat mendengar pembatalan pertunanganmu, apa itu karena aku?" lirihnya yang mulai meneteskan air mata.
Seketika Farhan melihat air mata yang menetes, kepolosan dari Kira membuatnya mempercayai dengan mudah tanpa menyelidikinya terlebih dulu. "Ini bukan salahmu, kau tidak terlibat dalam hal ini. Hanya saja calon tunanganku sedikit sensitif."
"Jauh di lubuk hatiku yang sangat sedih dengan kabar ini."
"Sudah! Lupakan Saja."
"Baiklah, tujuan keduaku kesini dengan membayar hutang tapi di cicil. Apa boleh?"
"Tidak, aku ikhlas menolongmu. Pergunakan saja uangmu untuk membiayai kebutuhan di kota ini.
Farhan tak tega untuk menerima uang dari wanita itu, segera mengeluarkan ponsel untuk menghubungi sang asisten.
"Halo."
"Iya tuan, ada apa?"
"Aku ingin kau memindahkan nenek Kira ke rumah sakit ini untuk perawatan yang lebih baik."
"Kira yang mana tuan?"
__ADS_1
"Astaga, kau ini selalu saja membuat aku kesal."
"Bagaimana lagi? Pekerjaan kantor membuat aku kelelahan hingga tak fokus lagi dalam bekerja.
"Ck, apa mulutmu ingin aku sumpal?"
"Baiklah, sekarang aku mengerti."
"Hem, bagus. Jangan sampai kau berbuat kecerobohan!"
"Laksanakan, tuan."
Setelah telepon selesai, Farhan melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat sang kakek di rawat. Dia menatap wajah keriput itu dengan kesedihan, keadaan yang hingga saat ini belum sadarkan diri. "Dok, kenapa kakek masih belum sadarkan diri?" desaknya.
"Tidak yang bisa kita lakukan selain menunggu dan memantau perkembangan kondisi pasien."
"Apa tidak ada cara lainnya."
"Apa maksudmu mengatakan itu?"
"Sangat sulit untuk menyembuhkan tuan besar Hendrawan."
"Aku tidak bisa mengharapkan siapa pun, lakukan apa saja yang bisa membantu kesehatan kakek."
"Hah, aku baru ingat! Kondisi pasien harus ditangani oleh dokter senior. Dia sudah menangani beberapa kasus, dan berhasil berkat kerja kerasnya.
__ADS_1
"Siapa nama dokter itu?" desaknya yang sangat menginginkan kesembuhan sang kakek.
"Dia adalah dokter yang sangat jenius, mengetahui ilmu medis dan menyembuhkan orang lain dengan sangat mudah. Namanya dokter zaki."