
Ayu, Farhan, dan asisten Heri sangat terkejut saat melihat darah. Dada yang berdarah membuat wanita itu terkapar tak berdaya, memegang dada akibat perbuatan dirinya sendiri.
"Astaga, apa ini? Jadi dia masih ingin memfitnahku?" gumam Ayu yang masih terdengar di telinga Farhan. Dia tahu jika sekretarisnya tidak berbuat apapun pada Kira yang tergeletak di lantai dengan tubuh yang bersimbah darah.
Farhan melirik asisten Heri, dia ingin pria itu menyelesaikan kekacauan yang terjadi. "Perintahkan orang lain untuk mengantarkan Kira ke rumah sakit, kau masih diperlukan di sini!" titahnya.
"Baik Tuan." Asisten Heri dengan cepat bergegas menyuruh bawahan untuk melarikan Kira ke rumah sakit.
Farhan mendekati Ayu dan mengusap pundak wanita itu dengan lembut, memberi rasa ketenangan karena diri tahu jika sang sekretaris tidak bersalah. "Kau tenang saja, ada aku disampingmu!"
"Apa dia akan selamat? Kau melihat segalanya 'bukan? Aku tidak melakukan apapun padanya, dialah yang menjatuhkan dirinya sendiri hingga lukanya terbuka.
"Hem, aku lihat segalanya."
Ayu mengontrol dirinya untuk menenangkan diri, menghirup oksigen sedalam-dalamnya dan mengeluarkannya dengan perlahan, hal itu mampu mengurangi kegelisahannya. "Aku sudah tenang, bisakan tanganmu menyingkir dari bahuku?" ujarnya yang menoleh pada bos yang mengambil kesempatan.
Dengan cepat Farhan mengangkat tangannya ke atas. "Sudah, lalu?"
Ayu menghela nafas dan menatap kepergian Kira yang dibawa oleh beberapa orang ke rumah sakit. "Sebaiknya aku keluar dari sini!" gumamnya di dalam hati, dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Batu saja kakinya hendak keluar, beberapa reporter datang dan bertanya padanya, sebuah pertanyaan yang pastinya menyudutkan seseorang. "Kami ingin mewawancarai anda," ucap salah satu reporter yang mengarahkan alat perekam suara.
"Hem, tentu. Silahkan!"
"Kami masih meragukan kabar yang telah berlalu, untuk lebih jelasnya ingin menanyakan ini kepada anda."
"Ya, lanjutkan." Sambut Ayu tak mempermasalahkannya.
"Ini mengenai pengkhianat yang dilakukan oleh orang dalam, apakah sudah diketahui titik terang dari kejadian lalu?"
__ADS_1
"Saya tidak berhak untuk menjelaskan secara detail, bukan kewajiban saya untuk mengatakannya."
"Kenapa anda sepertinya menutup-nutupi di hadapan awak media, apa yang sebenarnya terjadi dan kami butuh penjelasan dari anda." Cetus salah satu reporter yang masih memaksakan kehendak mereka yang ingin mendapatkan berita.
"Kalian hanya memikirkan karir, tanpa pernah memikirkan bagaimana perasaan orang lain. Sudah aku tegaskan, jika masalah ini tak ingin aku jelaskan. Kalau kalian masih saja tetap bersikeras? Tanyakan langsung pada Ceo dari perusahaan ini." Ayu sudah muak dengan para reporter yang bisanya menyalahkan orang lain demi pekerjaan yang mereka geluti, hal itu malah membuatnya hampir saja meluapkan amarah.
"Tapi kami menginginkan penjelasan dari anda Nona, tolong kerjasamanya."
"Baiklah, jika kalian masih saja bersikeras. Hal itu akan di ungkap oleh Farhan di konferensi pers, jadi harap bersabar."
"Baiklah, kami menunggu hari itu tiba dan menginginkan kejadian yang sebenarnya."
"Hem." Ayu menganggukkan kepala, tak tahu harus berbuat apa.
****
Begitu banyak orang yang menghadiri konferensi pers, bahkan beberapa dari pemilik perusahaan lain yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas juga ikut serta hadir di dalam ruangan. Asisten Heri melakukan tugasnya dengan mencari beberapa target yang ikut hadir dalam berpartisipasi konferensi, berdoa agar mereka yang terlibat hadir di dalam ruangan itu.
Ayu menghampiri asisten Heri, kedua matanya yang masih menyusuri tempat itu mencari keberadaan sang target. "Bagaimana, apa kau menemukannya?"
"Aku masih belum melihat satu orang pun yang berkaitan dalam kasus ini, tunggu sebentar lagi dan aku akan mengabarimu!" kata asisten Heri yang kembali melakukan tugasnya.
Sementara Ayu kembali ke posisi semula, berada di samping Farhan dan ingin membuktikan jika dirinya tidaklah bersalah. Sebuah fitnah yang menghantui dirinya, menyebabkan nama yang tercemar dan juga reputasi yang buruk. "Kau bisa memulainya, semoga berhasil!" bisiknya yang sedikit mencondong tubuh ke pria di sebelahnya.
"Hem."
"Terima kasih, bagi kalian yang sudah berpartisipasi untuk konferensi pers yang saya adakan ini. Ingin mengumpulkan kalian semua hanya menyelesaikan permasalahan dan mengklasifikasi ketidakbersalahan Ayu, yang sebagai sekretaris di perusahaan." Ucap Farhan dengan lantang penuh kharisma.
Para reporter mulai menyimak apa yang akan dijelaskan, menunggu hari ini tiba. Mereka berharap, jika mereka mendapatkan berita yang sangat bagus untuk diliput. "Baiklah, kami menunggu hari ini tiba. Bisa dijelaskan bagaimana dan apa yang terjadi sebenarnya?"
__ADS_1
"Tentu saja! Mengenai permasalahan yang terjadi, sudah jelas jika sekretarisku yang bernama Ayu tidak bersalah."
"Bagaimana anda begitu yakin? Masalah plagiat ini masih belum terpecahkan." Sela salah satu reporter yang menantang Ceo dari perusahaan HR Grup.
"Turunkan pandangan matamu, yang bisa berakibat fatal nantinya, aku belum selesai bicara, dan kalian masih saja menilainya. Untuk sekarang, aku akan memaafkan kalian, tetapi tidak melakukan kesalahan untuk kedua kalinya!" Farhan menatap para reporter itu secara bergantian, marah jika ada yang menyela penjelasan. "Mengenai plagiat ini pelakunya bukanlah Ayu, melainkan orang lain. Orang itu telah mendapatkan hukumannya!" jelasnya panjang.
Semua orang dan para reporter menganggukkan kepala, alasan yang logis membuat mereka percaya jika Apa yang dibicarakan oleh CEO dari perusahaan HR Grup adalah benar.
"Bukankah itu disebabkan oleh orang dalam yang mengkhianati perusahaan?" ucap seseorang yang membuat orang lain menoleh ke sumber suara.
Ayu asisten Heri dan Farhan juga memperhatikan pria yang baru saja masuk, seorang pria tampan yang juga berprofesi sebagai CEO dari perusahaan Sky Grup di Australia.
Pria itu masuk dengan begitu angkuhnya, hal yang membuat Ayu sangat menyesal telah menyelamatkan pria itu yang tak lain adalah Leon. "Apa yang disombongkan? Wajahnya terlihat menjengkelkan," batinnya mengumpat.
Leon terus melangkahkan kakinya berdiri di sebelah Ayu pria sombong yang seakan dirinya adalah dewa dalam bisnis. "Bagaimana, kau suka kejutannya?"
"Hem, jangan sombong!"
"Tentu saja!" sahut Leon dengan angkuh, tak menghiraukan tatapan Farhan yang tersirat.
"Aku sudah menghitung waktunya, dan permainan ini akan semakin seru." Ungkap Ayu membuat semua orang penasaran. "Apa yang diucapkan oleh tuan Leon tidaklah benar, pelakunya sudah dihukum. Mengenai perkembangan bisnis, aku sudah menghitungnya sejak hari ini."
"Waktu apa yang anda maksud?" tanya salah satu reporter mewakili pertanyaan semua orang.
Ayu tidak menjawab, dia mencondongkan tubuhnya mendekati Leon. "Yang aku maksud adalah pemerintah telah merilis rencana pengembangan sekitar, apa kau tidak tahu hal ini?" bisiknya tersenyum puas.
Tiba-tiba wajah Leon berubah, dia sangat marah dan menatap Ayu dengan wajahnya yang kejam.
__ADS_1