
Ayu merasakan agak sakit perut setelah bernyanyi, dengan bergegas dia turun dari panggung menuju toilet. Tak lama dia sampai ke toilet dan menutup pintu, beberapa saat kemudian Ayu keluar dari ruangan sempit tempat buang hajat.
"Hah, sangat lega sekali," gumamnya sembari mencuci tangan di wastafel.
Seorang pria Mediterania, pria berperawakan pendek, hidung yang sempit dan sering agak bengkok, prevalensi rambut dan mata yang gelap, dan kulit berwarna coklat gelap. Dengan setelan jas dan perut seperti gentong bir dan menghentikan Ayu yang ingin keluar dari toilet.
"Apakah kau adalah penyanyi baru?" Tanya pria itu.
Ayu menatap dengan sekilas, dia tidak menyukai keberadaan pria itu. "Tidak."
Pria Mediterania menyunggingkan senyuman di wajahnya, sembari memegang tangan Ayu, memberinya segepok uang dan memandangnya dengan tatapan penuh nafsu.
"Ck, aku sangat jijik melihat tatapan nya yang penuh dengan nafsu." batin Ayu. Dia sangat marah dengan pria yang menganggapnya wanita malam, dengan cepat dia melemparkan uang yang diberikan pria pendek itu tepat mengenai wajahnya. "Aku bukan wanita murahan yang bisa kau bayar dengan segepok uang," ketus Ayu yang menolak pria Mediterania secara mentah-mentah.
"Ayolah, kita bisa bersenang-senang dan aku akan membayarmu lebih tinggi," bujuk pria itu.
"Jangan berharap terlalu tinggi, jika jatuh pasti sakit rasanya. Sebaiknya pergilah dan jangan halangi aku," cetus Ayu yang berusaha untuk melewati pria yang selalu menghalangi jalannya.
"Bagaimana jika aku memberimu sepuluh kali lipat, bahkan dua puluh kali lipat sekaligus. Itu tawaran yang sangat menarik 'bukan? Hanya perlu melayaniku satu malam saja dengan goyanganmu itu," tutur pria itu di sela-sela tawanya.
"Jangan memaksaku dengan keinginan liarmu karena Itu tidak akan terjadi. Walaupun badanmu kurus sekalipun, aku tetap tidak ingin menghabisikan satu malampun," tolak Ayu dengan jengah.
__ADS_1
Sehingga raut wajah pria itu berubah, lalu mengusap bahu Ayu dengan sangat lembut dan tak lupa tatapan nafsunya saat melihat wanita cantik.
"Dasar brengsek, berani sekali kau melecehkan aku!" pekik Ayu yang memarahi pria itu karena berani melecehkannya, kemarahan dan emosi yang tidak bisa dibendung lagi membuatnya mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna hendak memberikan pelajaran kepada pria gendut itu.
"Biarkan dia pergi!" Terdengar suara yang akrab di telinga dari arah belakang, dingin, dan juga suram. Mereka mengalihkan pandangan menatap asal suara, pria Mediterania merasa sangat kesal dengan kehadiran orang yang membuatnya terganggu.
Detik berikutnya, pada saat yang sama dengan teriakan pria itu, terlihat sosok pria tampan bak pahlawan kesiangan, siapa lagi jika bukan Farhan dengan postur tubuh yang tinggi dan tegak muncul di depan Ayu menghalangi pria Mediterania yang ingin melanjutkan aktivitasnya.
Farhan menatap pria Mediterania dengan menundukkan kepala, bukan karena menghormati pria itu, tetapi ukuran pria gendut seperti kentongan hanya sebatas dadanya saja.
"Jangan menatapku begitu, leherku sangat sakit melihat tubuhmu yang tinggi seperti pohon pinus," keluh pria itu yang mendelik kesal.
"Jangan pernah menyentuh wanita ini jika tak ingin aku memukul kepala dan membuat tubuhmu semakin pendek," sahut Farhan.
"Apa kau ingin mencari mati? Berurusan denganku sama saja mengantarkan nyawanya sendiri," Ancam Farhan yang mengeraskan rahangnya dan menggertakkan gigi, tatapan tajam dan dingin mengarah ke pria yang berani melecehkan wanita yang akan dijodohkan dengannya. Seketika pria Mediterania takut dengan ancaman Farhan yang sangat serius terlihat dari ekspresi wajah yang tidak berbohong. Badannya bergetar dengan sendirinya, tubuh mereka tidak sebanding.
"Dia berperawakan sangat tinggi dan sepertinya pria itu seperti mafia, sebaiknya aku pergi saja sebelum nyawaku melayang di tangan pria itu!" batin pria Mediterania yang tampak berpikir.
"Apa yang kau lamunkan? Sebaiknya tinggalkan tempat ini sebelum aku mengempeskan tubuhmu itu."
"Baiklah, aku akan pergi!" jawab pria Mediterania dengan cepat sembari bergegas meninggalkan kedua orang yang menatap punggungnya yang mulai menjauh dari sana.
__ADS_1
Mereka saling menatap satu sama lain, dengan beberapa pikiran yang ada di benak masing-masing. Ayu merasa jika aura ekspresi dingin kali ini sangat berbeda, dan memutuskan untuk pergi.
"Sebaiknya aku pergi sebelum pria ini bertanya dengan banyak hal," gumamnya di dalam hati. Ayu ingin berlari dari tempat itu dan tidak ingin terjadi masalah yang akan merepotkannya.
Di saat Ayu ingin pergi, Farhan menghentikan langkahnya dengan memegang pergelangan tangan dari wanita cantik itu. Dengan cepat dia menarik tangan Ayu untuk masuk ke toilet pria, menutup pintu toilet dengan kasar dan menguncinya dengan tangan kosong.
Ayu menelan salivanya dengan susah payah, terasa seperti tersangkut di tenggorokannya. Tatapan dari Farhan seperti ingin memangsa lawannya dengan sangat keji dan juga kejam. Memundurkan langkah kakinya dengan perlahan untuk menjauh dari pria tampan yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
Pikiran Ayu mulai memikirkan hal yang tidak-tidak, apalagi dengan pintu yang dikunci. "Kenapa dia menatapku begitu? Kenapa dia mengunci pintu toilet? Kenapa dia terus melangkahkan kakinya untuk mendekatiku?" Batin Ayu dengan serentetan pertanyaan yang ada di otaknya.
Langkah mundurnya terhenti di saat dia tidak bisa mundur, terhalang tembok membuatnya sedikit berkeringat. Dengan cepat Farhan mengukung tubuh Ayu menggunakan kedua tangannya, tidak memberikan celah untuk wanita itu kabur.
"Nona, kau tau siapa dirimu?" ucap Farhan. Dia melihat jika Ayu bernyanyi untuk aktor yang berusia 19 tahun dan membuatnya sangat kesal, dan ada pria Mediterania yang membuatnya semakin marah karena berani menyentuh bahu Ayu.
" A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Tidak mengerti? Setelah semua yang terjadi hari ini?!" Tekan Farhan dengan tatapan intimidasi.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, cepat bukakan pintu toilet itu dan biarkan aku pergi," cetus Ayu yang sangat malas meladeni sikap pria tampan yang menurutnya sangat aneh.
Tanpa menghiraukan ucapan Ayu, perhatian Farhan beralih dengan gaun yang berlogo sedang dikenakan oleh wanita cantik di dalam kungkungannya. Dia mengetahui harga fantastis dari gaun yang sedang dikenakan Ayu dan berpikir juga itu pemberian dari aktor terkenal, Zio Davin.
__ADS_1
Bendungan kemarahan yang ada di benak Farhan tidak bisa ditahan lagi, dia memukul dinding dengan sangat keras seraya menatap Ayu dengan sangat tajam dan juga dingin. Seluruh perhatiannya teralihkan kepada wanita yang ada di depannya, tatapan mata saling bertemu satu sama lainnya.
Kemarahan Farhan tidak bisa dielakkan lagi, tanpa berpikir panjang mencium bibir ranum milik Ayu dengan sedikit kasar. Tak terima dengan perlakuan pria itu, Dia berusaha memberontak ingin memukul tubuh Farhan. Tapi aksinya terhenti di saat Farhan memegang kedua tangannya.