Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 153 ~ Cinta Gabriel


__ADS_3

Gabriel menatap wajah cantik di hadapannya, mempunyai harapan besar dari pertanyaan yang dia lontarkan. Kedua manik matanya terus mengarah untuk meminta jawaban. "Bagaimana hubunganmu dengan Farhan?"


"Jangan tanyakan itu lagi," elak Ayu yang tak ingin menjawab, memalingkan wajahnya ke samping.


Gabriel memegang kedua bahu wanita di hadapannya, membungkukkan badan untuk menyamakan tinggi. "Tapi, aku menginginkan jawaban dari mu!" keluhnya.


Ayu hanya terdiam, tidak ingin jika orang lain mengetahui privasinya. Hal itu semakin membuat Gabriel sangat gelisah, melepaskan cengkramannya dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa sekarang kau mulai mencintai Farhan? Kapan kau menyukainya? Apa kelebihan pria itu yang tidak aku miliki? Apa aku seburuk itu?" begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada Ayu. 


"Kenapa kau diam saja? katakan! Jika itu tidak benar dan aku salah!" Gabriel terus memaksa wanita di hadapannya dengan pertanyaan beruntun, memastikan dugaannya tidak benar.


"Iya, aku mencintai Farhan!"


Seakan suara itu terus menggema di telinganya, Gabriel memundurkan langkah kaki, dua tungkai yang menopang tubuh terasa sangat lemah, saat mendengar jawaban yang tidak ingin dia dengar. "Kau pasti berbohong!"


"Aku mengatakan yang sebenarnya."


Gabriel sangat kecewa, memendam perasaan kepada Ayu. Dunianya terhenti dalam sekejap, seakan tidak ada lagi mempunyai kesempatan untuk meluluhkan hati wanita yang sangat dia cintai. "Tapi kenapa? Kenapa lebih memilih pria yang baru saja kau kenal? Bahkan aku mengenalmu sangat lama." 


"Karena cinta tidak bisa dipaksakan, tolong mengertilah!" Ayu berusaha memberi penjelasan, karena dia juga tak berdaya.


"Aku harus mengerti di bagian mana? Sudah lama aku mendekatimu, tapi kau tidak pernah membuka hati untukku. Kau tahu? Aku bahkan telah berencana untuk menikahimu dan mempunyai keluarga kecil yang bahagia, kau menghancurkan mimpiku, Ayu." 


"Maafkan aku!"


"Apa yang kau harapkan dari pria itu? Dia hanya mencintai gadis kecil penyelamatnya, aku tak ingin jika kau hanya dijadikan bayang-bayang Kira."


Ayu tersenyum, menatap pria di depannya dengan teduh. "Farhan hanya mencintaiku, jangan cemaskan masalah itu."


Gabriel menarik rambutnya dengan erat, hati yang perih saat dipatahkan dengan sekejap mata, dan kembali memegang kedua tangan lentik. "Jangan mengambil kesimpulan secepat ini, aku tidak ingin jika kau hanya menjadi pelampiasan saja. Ubah keputusanmu dan terimalah cintaku, ku mohon!" 


Ayu merasa tak nyaman dengan ucapan Gabriel, dan berusaha untuk melepaskan tangan yang dicengkeram oleh pria itu. "Jangan seperti ini, carilah wanita lain! Dan lepaskan tanganku!" ucapnya seraya melirik tangannya.


"Di hatiku hanya ada nama mu, tolong pikirkan sekali lagi!"

__ADS_1


****


Sementara di tempat lain ada dua orang wanita di dalam mobil dan salah satunya mengemudikannya, suasana yang sangat berisik.


"Vanya, jangan berlebihan!"


"Diamlah! Kemudikan saja mobilnya dalam kecepatan penuh. Aku sudah tak sabar ingin menemui Farhan dan menanyakan kabarnya," keluh Vanya.


Jenni mendelik kesal kepada sahabatnya, tetap fokus dengan kecepatan sedang. Dia tak menggubris perkataan Vanya yang bisa mengancam keselamatan dirinya. 


"Mobilmu sangat lamban!" cibir Vanya yang sudah tak sabar ingin segera sampai ke perusahaan HR Grup.


"Sabarlah! Aku tak ingin mati muda akibat permintaan konyolmu."


"Cepatlah! Aku hanya ingin menemui pria idamanku, kau tidak akan mengerti jika menjadi diriku."


"Kau membuat kepalaku pusing, diamlah! Aku butuh ketenangan untuk menyetir mobil ini." Cetus Jenni yang sangat kesal.


Jenni semakin geram dengan tingkah Vanya seperti seorang anak kecil yang kehabisan antrian permen kapas, menoleh beberapa saat menatap sahabatnya dengan jengah. "Dan aku tidak ingin mati di usia muda, dan aku juga masih sendiri."


Perdebatan di antara dua wanita di dalam mobil semakin riuh, hingga tidak menyadari jika mereka telah sampai ke tujuan. Mereka segera turun dari mobil dan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam perusahaan milik Farhan. Kali ini, Vanya sangat bersemangat untuk menemukan keberadaan pria yang disukainya.


Jenni menyusuri pandangan dan tak sengaja melihat Gabriel yang menarik tangan Ayu, tidak membiarkan wanita itu pergi meninggalkannya. Seketika raut wajah Jenni berubah cemberut, tidak menyukai pemandangan yang baru saja dilihat. 


Vanya yang sangat bersemangat menoleh ke belakang, dan melihat sahabatnya tidak mengikutinya, dengan terpaksa dia berbalik dan melihat arah pandangan dari Jenni. "Si gadis kampung dan Gabriel?" Vanya sangat terkejut, tapi bahagia saat rivalnya bersama dengan pria lain tampak mesra. "Wah, aku tak menyangka, jika Ayu juga merebut idolamu!" 


Jenni terdiam seraya meremas kedua tangannya, sedangkan Vanya tersenyum bisa memanasi sahabatnya sendiri. "Situasi yang sangat pas, aku ingin semua orang membenci wanita sialan itu!" gumamnya di dalam hati.


"Apa kau punya rencana?" Jenni menatap Vanya dengan tegas.


"Tentu saja!" Vanya mendekatkan tubuhnya dan mulai membisikkan suatu rencana kepada sang sahabat agar bisa mengusir Ayu dari sana.


Kebahagiaan Vanya semakin terpancar saat melihat kemunculan pria yang sangat dia cintai, dan segera meninggalkan Jenni demi menyambut Farhan. "Bagaimana keadaanmu?" tanya nya yang terlihat khawatir.

__ADS_1


"Seperti yang kau lihat!" Farhan sangat malas untuk meladeni Vanya, karena dia tak bisa meninggalkan Ayu bersama Gabriel terlalu lama.


"Aku sangat khawatir dengan kondisimu, tapi syukurlah jika kau selamat."


"Hem."


"Apa kau mencari wanita kampung itu? Maksudku Ayu?"


"Ya."


"Sepertinya kau datang terlambat, aku melihat Ayu tengah berpelukan dengan Gabriel dengan sangat mesra sekali. Mereka terlihat sangat menikmatinya!" 


Seketika raut wajah Farhan berubah, dia sangat marah dengan ucapan sahabat kecilnya. Mengeraskan rahang dan menggertakkan gigi tanpa ekspresi membuat Vanya semakin bergerilya untuk menjelekkan rivalnya. "Sebentar lagi, gadis kampung itu akan mendapatkan hukumannya dan hubungan keduanya renggang." Batinnya yang sangat licik.


"Seharusnya Ayu menjaga perasaanmu dengan membatasi pergaulannya dengan seorang pria, jika menyangkut urusan kerja itu tidak masalah. Namun, yang aku lihat sangatlah berbeda. Keduanya sedang melampiaskan rasa kerinduan, saat kau dan dia mengalami kecelakaan pesawat." Vanya terus mengompori rivalnya dan berharap jika Farhan memutuskan hubungan.


"Bisakah kau diam?" bentak Farhan yang dingin.


"A-apa maksudmu?" Vanya sangat terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan oleh pria idamannya.


"Berhentilah bersikap bodoh! Fan jangan menjelekkan Ayu lagi, kau pasti mengenalku! Aku tidak ingin mendengarkan ini lagi, kau pasti tahu konsekuensinya." Tekan Farhan yang pergi meninggalkan tempat itu. 


Vanya menghentakkan kakinya dengan kesal, tak rela dengan ucapan Farhan. "Kenapa dia selalu dingin padaku?" geramnya seraya melihat punggung pria itu yang mulai menghilang. 


Di sisi lain, Ayu duduk di dalam mobil Gabriel, dan melupakan kejadian yang baru saja mereka hadapi. 


"Bagaimana perkembangan perusahaan? ucap Ayu mengganti topik pembicaraan sambil menoleh ke samping.


"Perkembangan perusahaan sangat pesat."


"Itu karena tekad dan juga kegigihanmu, dan yang pastinya kau berinvestasi dengan tepat." Seru Ayu untuk memecahkan kecanggungan diantara mereka.


  

__ADS_1


__ADS_2