Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 192 ~ Ciuman paksa


__ADS_3

Farhan mengepalkan tangan dan merasa kesal dengan wanita di sampingnya, selalu saja mencoba untuk menjelekkan wanita yang dia cintai. Menepiskan tangan yang terus melingkar di tangan kekarnya, dirinya tak bisa lagi berpikiran jernih. 


"Apa kau selalu saja mengambil kesempatan untuk mengatakan hal yang buruk mengenai Ayu, hah?" tegas Farhan yang menepis tangan Kira dengan kasar, mendekatkan wajah dan menyorotnya tajam. 


"Farhan, kau__."


"Ya, aku peringatkan kepadamu untuk tidak melewati batas."


Kira sangat terkejut dengan apa yang diucapkan Farhan dalam keadaan marah, namun sedikit merasa senang karena berhasil membuat pria itu marah dan memprovokasinya. "Sepertinya aku berhasil membuatnya marah, tidak masalah kalau dia marah padaku, yang terpenting Ayu menjadi sasaran utamanya." Gumamnya di dalam hati.


"Apa maksudmu dengan ini?" 


"Menjauhlah dariku, kau membuat aku risih. Apakah kau akan selalu menempel padaku?" ucap Farhan yang mengatakan segalanya. Dia melampiaskan kemarahannya kepada gadis itu dengan mengungkit kesalahan Kira.


Kira kembali memasang raut wajahnya yang sedih, menundukkan kepala dan berlinangan air mata yang menetes begitu mudah ke lantai. Mendongakkan kepala dan menatap pria di hadapannya, guratan kesedihan seperti yang dia lakukan sebelumnya. "Sepertinya kau tidak menyukai keberadaan ku, untuk apa aku tetap disini dan mengharapkan cintamu. Kau juga sudah berubah, lebih memilih wanita itu dibandingkan aku yang pernah menyelamatkanmu. Apa kau lupa, bagaimana aku menyelamatkanmu dari kematian? Dan kau juga berjanji akan menikahiku, jangan sampai kau mengingkarinya, Farhan." Ucapnya yang berlalu pergi tanpa memperdulikan panggilan dari pria tampan itu. 


Kira tersenyum, berhasil mempengaruhi Farhan dengan menyematkan kata pernah menyelamatkanmu, suatu hal sederhana yang pastinya tertuju tepat sasaran. "Aku ingin kau mengantarkan ku pulang, ayolah!" bujuknya.


"Tidak, kau pulang saja sendiri." Tolak Farhan yang masih menatap kepergian Ayu bersama dengan sahabat kecilnya. "Tidak aku biarkan mereka untuk bersama." Batinnya bertekad seraya mengepalkan kedua tangannya, dia bergegas pergi dan tak menghiraukan teriakan dari Kira, karena lebih mengutamakan perasaannya.


"Kenapa kau selalu membela dirinya dibandingkan aku? Farhan…Farhan, kembalilah!" pekik Kira yang menatap punggung pria itu, dia sangat kesal dan menghentakkan kakinya. "Sial, kenapa harus ada Ayu yang selalu membuatnya berpaling dariku!" gumamnya yang tak bisa menerima perlakuan seperti itu.


****


Di sepanjang perjalanan, Ayu hanya terdiam membuat suasana hening. Dia masih mengingat bagaimana ucapan yang dilontarkan oleh Gabriel sebelum memasuki hutan, tapi dia begitu cepat memaafkan dan melupakannya, tak ingin jika persahabatan mereka menjadi rusak. 


Mobil berhenti dan mereka segera turun menuju apartemen milik Gabriel yang masih dihuni oleh Ayu, tidak ada obrolan sama sekali membuat pria itu memberanikan diri untuk membuka suara setelah bertarung dengan pikiran dan juga perasaannya. 


Ayu hendak membuka pintu, tapi dicekal oleh Gabriel. Melihat hal itu membuatnya segera menoleh dan melirik tangan seorang pria yang memegang tangannya. "Ada apa?" 

__ADS_1


"Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu," ucap Gabriel yang sedikit gugup.


"Katakan!" 


Gabriel memegang kedua tangan Ayu dengan tatapan teduhnya, menatap dalam seakan memperlihatkan perasaan yang tidak pernah bisa dia lupakan. "Aku mencintaimu." 


Dengan cepat, Ayu menyingkirkan tangan pria itu dan menatapnya sebagai peringatan karena telah mengingkari janji. "Apa ini yang kau inginkan?" 


"Farhan telah menemukan cintanya, yaitu Kira. Aku hanya ingin membuatmu sadar akan perasaan mereka, kalian tidak akan bersama karena pria itu hanya mencintai gadis kecil dari masa lalunya saja. Aku mencintaimu begitu dalam dan juga tulus, betapa besarnya aku mencintaimu. Kali ini saja, katakan ya untuk membalaskan ungkapan perasaan ku."


"Kau ini pria seperti apa? Kemana janji itu?" jawab Ayu dingin.


"Persetan dengan semua janji itu, aku tak ingin kau menderita karena dia."


"Aku tak menduga jika kau melupakan janji dengan sangat mudah."


Gabriel kembali menggenggam dua tangan lentik dan meletakkan ke dadanya. "Aku sangat mencintaimu, hanya dirimu. Berikan aku satu kesempatan!"


"Apa itu artinya kau menolakku?"


"Ya, seperti perkataanku sebelumnya." Tolak Ayu yang tak ingin memperpanjang dan harapan untuk pria yang hanya dianggap seorang teman. Kecewa dengan pria itu yang tidak memegang janjinya, bahkan menjelekkan Farhan demi tujuannya. "Sebaiknya kau pergi!" usir Ayu dengan perkataan halus.


Gabriel kembali menelan pil pahit, lagi dan lagi hanya penolakan yang dia terima. Luka tak berdarah membuatnya patah hati, terpaksa melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu. "Baiklah, jaga dirimu!" lirihnya yang menoleh beberapa detik dan kembali melanjutkan langkahnya.


Ayu menatap kepergian pria itu dan menghela nafas panjang. "Aku harap dia mengerti, dan cinta juga  gumamnya yang segera membuka pintu. Namun, dia merasakan sekelebat bayangan hitam yang mengikutinya masuk ke dalam apartemen.


"Apa tadi? Aku merasa ada orang lain, mungkin saja itu hanya perasaan ku," gumam Ayu sembari mengusap tengkuk lehernya.


Di saat Ayu menoleh, betapa terkejutnya dia saat melihat seorang tamu tak diundang yang tengah menatap tajam. Sorot mata elang membuat siapa saja ketakutan, tersirat kemarahan yang ingin meluap.

__ADS_1


"Kau?"


Orang itu terus saja menatap Ayu tanpa berkedip, menarik tubuh sasaran nya ke dinding dan mencengkram, tak ingin mangsa kabur dari genggaman nya. "Apa yang dia katakan padamu? Kenapa memegang kedua tanganmu? Katakan padaku!" ucap pria itu yang mengintimidasi.


"Farhan, lepaskan aku!"


"Jawab pertanyaanku!"


"Dia hanya mengantarkanku, tidak lebih daripada itu."


"Apa kau pikir aku percaya? Aku melihat segalanya, kau menerima tanganmu dipegang olehnya. Apa yang kalian bicarakan, hah?" paksa Farhan, dia tak menyukai interaksi yang dilakukan oleh Gabriel dan juga wanita di dalam cengkramannya. Hatinya terasa terbakar dan tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, perasaan marah yang ingin dia lampiaskan.


"Kau cemburu tanpa alasan, harusnya aku yang marah bukan dirimu."


"Aku tidak ingin melihat ini lagi, kenapa kau memberinya harapan yang tidak bisa kau kabulkan?"


"Apa maksudmu? Kau mendengarnya?" 


"Ya, aku mendengar dengan sangat jelas."


"Itu artinya kau juga mendengar jawaban apa yang aku berikan kepada Gabriel, berhentilah menudingku dan lepaskan aku."


"Tidak akan."


Ayu terus memberontak, melakukan perlawanan sengit agar menghindar dari singa yang ingin menerkamnya. "Aku tidak bersalah, tapi kau selalu saja menyalahkan aku."


"Tidak bersalah? Kau bahkan pulang bersama dengannya dan menolak tawaranku."


"Apa maumu sebenarnya?" tanya Ayu menatap netra mata elang di hadapannya.

__ADS_1


"Apa mau ku?" ulang Farhan tersenyum menyeringai, memegang tengkuk leher wanita cantik di depannya dan semakin tertantang dengan penolakan.  Memiringkan wajahnya dan mencium bibir merah merekah milik dengan paksa, meluapkan seluruh emosinya, menjajahkan mulut rongga dan mengabsen deretan gigi yang tersusun rapi.


 


__ADS_2