
Hari yang dinantikan oleh semua orang terutama Ayu dan juga Farhan, kini telah bersiap-siap untuk menyambut acara yang paling penting di dalam hidup mereka yang akan terjadi selama sekali dalam seumur hidup, yaitu pernikahan sebuah ikatan suci dan janji suci yang harus diucapkan. Semua orang hadir dalam acara yang begitu mewah dan juga berkelas, para tamu dari kolega rekan bisnis dan juga beberapa klien penting yang juga ikut hadir dalam acara pernikahan. Semua orang begitu antusias, mereka tidak sabar untuk melihat acara yang begitu sakral dari dua orang cucu dari pengusaha yang terkenal.
Ayu begitu cantik mengenakan gaun putih yang beraksesoris pita di bagian depannya, polesan make up, dan juga beberapa perhiasan di tubuh membuatnya tampak cantik kulit putih yang mendominasi. Seakan cocok menggunakan gaun apapun, namun kali ini dia menggunakan hasil karyanya sendiri yang telah dirancang. Senyum di wajahnya tidak pernah pudar sedikitpun, mengingat akan ikatan yang terjadi dalam seumur hidup, ada perasaan yang bercampur menjadi satu, tapi hal itu membuatnya bervariasi yang sangat deg-degan.
Sementara Farhan telah berada di altar pernikahan, menggunakan tuxedo putih dengan warna yang senada dengan sang mempelai wanita, dia begitu gagah dan juga tampan. Senyum di wajahnya juga tidak pernah pudar, dan hal itu terlihat oleh asisten Heri yang menemaninya yang bersiap-siap menuju altar pernikahan.
"Wah, sepertinya ada yang tidak sabar dengan pernikahan ini?" goda asisten cari yang menahan tawanya.
"Tentu saja, aku bukanlah kau yang masih sendiri. Apa jangan-jangan kau itu seorang gay?" ucapan Farhan berhasil membuat asisten Heri tersenyum kecut, pasalnya dia bukanlah pria yang dituduhkan, karena dirinya masih normal.
"Mengapa ucapan Tuan begitu pedas terdengar? Setelah pernikahan ini selesai, tidak lama lagi akan terjadi pernikahanku."
"Siapa yang menjadi calonmu nanti?"
Asisten Heri tersenyum puas, hendak menyombongkan diri. Jika dirinya juga mempunyai wanita idaman dan sebentar lagi akan menjadi istrinya. "Karena Tuan begitu penasaran, aku akan mengatakannya sebenarnya. Apa Tuan mengenal Dona, asisten nona Ayu"
Farhan menganggukkan kepalanya, dan sedikit terkejut jika pria itu benar-benar akan menikahi wanita yang selalu menemani dan mendukung Ayu. "Baiklah, semoga wanita itu tidak sial menikah denganmu." Ucapnya yang tersenyum geli. "Apa kau sudah menyelesaikan semuanya?"
"Jangan pikirkan itu di hari ini, biarkan aku yang menyelesaikan segalanya. Bersikaplah seorang pengantin, Tuan."
__ADS_1
Farhan menunggu kedatangan dari Ayu yang begitu lama menurutnya, apalagi dia sudah menunggu dengan penuh gelisah dan sangat merindukan wanita itu. Sudah berapa kali dia mengumpat karena sudah dua hari belum bertemu, selalu dihalangi oleh asisten Heri yang begitu setia pada perintah dari kakek Hendrawan.
"Apa kau sudah siap?" tanya Dona sang asisten yang baru saja kembali dari Paris, dia begitu senang jika Ayu akan menikah.
"Aku merasa sangat deg-degan," ungkap Ayu yang memegang dadanya.
"Itu biasa terjadi dan semua wanita pasti akan merasakan hal yang sama denganmu. Aku akan membawamu keluar," Dona membantu Ayu dan keluar dari kamar.
Semua orang begitu terpukau akan kecantikan yang dimiliki Ayu turun melewati tangga, secara perlahan dan begitu anggun terlihat. Terutama Farhan yang tidak berkedip saat melihat wajah cantik dari calon istrinya, dan dia juga tidak merasa senang karena beberapa orang pria yang menatap wajah sang mempelai wanita. "Ingin rasanya aku mengusir mereka," umpatnya begitu kesal.
Ayu dan Farhan saling berhadapan, mengikat janji suci ya begitu sakral, para tamu undangan yang datang sangat antusias. Sebelum mereka mengucapkan sumpah dan juga janji untuk sehidup semati, tiba-tiba beberapa orang yang tidak menyukai Ayu datang dan menghentikan prosesi pernikahan itu.
Tirta dan Hendrawan saling tersenyum tipis, mereka tahu jika hal ini pasti akan terjadi dan sudah mengantisipasi sebelumnya. "Oh ya, kenapa ini tidak bisa terjadi?"
"Karena Farhan adalah anakku, dan aku tidak merestui pernikahan ini." Ucap Wina yang begitu lantang.
"Kau tidak ada hak untuk mengatakan Farhan adalah putramu, karena bukan kaulah yang melahirkannya, kau hanyalah ibu sambungnya saja dan kau juga wanita mandul."
Wina begitu geram karena Hendrawan mengungkap di hadapan sama orang. "Tapi aku yang merawatnya, tidak seharusnya kalian melupakan aku sebagai ibu dari Farhan, anakku."
__ADS_1
Farhan dan ayu sedikit shock dan tidak menyangka jika Wina bukanlah ibu kandung dan hanya Ibu sambung.
"Benarkah, kau merawatnya atau hanya memanfaatkan keadaan untuk kepentinganmu sendiri. Akan aku jelaskan kepada semua orang, biar kesalahpahaman beberapa tahun yang lalu diungkap di hari ini." Hendrawan sudah tidak tahan lagi dengan semua keburukan yang dilakukan oleh Wina dan juga Adi, sudah menyusut segalanya dengan tuntas. "Ibu macam apa yang mengambil keuntungan dari putranya sendiri? Dan bahkan kau juga membunuh anakku dan bekerja sama dengan Adi, hanya karena harta kalian rela melakukan segalanya. Jika tidak percaya, aku sudah mengumpulkan semua buktinya dan ditambah dengan saksi yang kalian bungkam selama bertahun-tahun."
Hendrawan melirik salah satu orang kepercayaannya, dan segera memperlihatkan kepada semua orang mengenai foto perselingkuhan antara Adi dan juga Wina. Tidak sampai di situ, bahkan kebusukan mereka juga terkuak di hadapan semua orang, hingga keduanya tidak mempunyai wajah lagi. "Video itu sudah membuktikan segalanya, dan juga rekaman suara yang sangat jelas."
Wina tidak bisa berkutik apapun lagi, dan melirik Farhan dengan wajah yang memelas seakan meminta simpati agar putranya bisa menolongnya.
Namun Farhan malah membuang wajahnya, dia sangat membenci Wina yang membunuh ayah kandungnya sendiri, Ayu segera mendekat dan mengusap bahu calon suaminya, dia begitu bersedih atas bukti yang diserahkan oleh kakek Hendrawan.
"Usir mereka semua dari sini!" Hendrawan melirik Wina dan juga Adi setelah memberi mereka tamparan yang cukup keras. Bahkan dia juga melirik Laras dengan tajam, mengingat wanita itu yang tidak tahu berterima kasih malah menjatuhkan calon cucu menantunya. "Dan jangan lupakan untuk memasukkan mereka dalam jeruji besi, aku ingin mereka mendapatkan hukuman yang setimpal dan seadil-adilnya, demi putraku yang mereka lenyapkan!"
"Ayah, tolong maafkan aku, aku khilaf." Wina mencoba untuk membujuk ayah mertuanya, namun hal itu tidak terjadi saat beberapa orang bodyguard memegang tangannya dan membawa mereka menuju kantor polisi.
"Mengapa ayah begitu tega padaku?" ungkap Adi yang protes dengan perlakuan dari ayah angkatnya.
"Aku menyesal telah mengangkatmu sebagai anak, karena dirimu anakku telah tiada. Pergi kalian semua dari hadapanku dan mendekam lah di penjara hingga membusuk, kalian bertiga pantas menerimanya." Hendrawan memegang dadanya yang terasa sedikit sakit, mendapatkan bukti yang begitu pahit yang diterima olehnya. Nelihat kepergian dari Adi, Wina, dan Laras yang terlanjur dia sayangi. Darah tidak akan pernah sama, keserakahan dari mereka menghancurkan ikatan yang selama ini dijalin.
Setelah semua selesai Ayu dan Farhan kembali melanjutkan janji pernikahan mereka, namun kali ini dihalangi oleh Leon yang sangat membenci keduanya. Baru saja dia hendak melangkah, beberapa orang mulai memegang tangannya. "Siapa kalian, lepaskan aku!"
__ADS_1
"Apakah lupa dengan aku?" tutur Tirta yang berjalan menghampiri.