
Ayu sedikit terkejut dengan Farhan yang memasak untuknya. "Apa kau yakin ini untuk ku?" Tanya Ayu yang ingin meyakinkan dirinya tak salah mendengar.
"Hem, coba kau cicipi dan katakan bagaimana rasanya."
Ayu mengambil sendok yang tak jauh dari jangkauan, mencicipi masakan yang membuatnya semakin lapar. "Masakanmu sangat lezat!" puji Ayu dengan sangat antusias, kembali menyuapi mulutnya dengan makanan di atas piring.
"Tentu saja, aku ke dapur dulu." Sahut Farhan sombong.
"Manis sekali," gumam Ayu yang menoel pipi Farhan.
"Eh, apa yang kau lakukan?" Farhan berusaha menutupi wajahnya dari tangan jahil sekretaris nya."Hentikan ini!"
"Baiklah." Ayu tersenyum saat melihat wajah Farhan yang tampak menggemaskan, melihat punggung pria itu menuju dapur.
Ayu menarik kursi, menikmati hidangan yang dibuat khusus oleh Farhan. Dia menatap pria tampan itu yang sedang berkutat di dapur, meletakkan kedua tangannya di dagu sebagai penopang kepala. "Sangat romantis!" gumamnya yang tersenyum.
Farhan memotong beberapa sayuran setelah mencuci bersih, mulai mengolahnya menjadi makanan lezat. Sesekali dia melirik Ayu yang sedang menatapnya, dan membalasnya dengan senyuman. Suasana yang membuat keduanya semakin dekat satu sama lainnya, Ayu bahkan mulai memuji Farhan sebagai pria idaman semua wanita.
"Sebaiknya aku menyusulnya." Ayu berjalan ke dapur dan ingin membantu Farhan. Tapi, Farhan segera menghampirinya untuk menahan langkahnya.
"Sebaiknya kau duduk saja." Ucap Farhan yang sangat khawatir dengan kondisi kaki Ayu yang belum sembuh.
"Aku hanya ingin membantumu."
"Tidak, sebaiknya kau duduk di sini." Farhan membantu Ayu untuk duduk.
Ayu tersenyum saat mendapatkan perlakuan istimewa dari pria itu, mendongakkan kepala menatap wajah tampan dari bosnya. Karena gemas, Farhan membalasnya dengan mengacak-acak rambut sekretarisnya.
"Kau merusak tatanan rambutku," keluh Ayu yang cemberut.
"Kau lebih cocok seperti itu!" kekeh Farhan yang berjalan menuju dapur untuk melanjutkan aktivitas memasaknya.
Setelah beberapa lama, Farhan menyajikan masakannya di atas meja makan. Hampir saja Ayu meneteskan air liurnya saat melihat makanan penggugah selera.
"Kau tidak akan kenyang jika melihatnya," goda Farhan yang tersenyum melihat ekspresi wanita itu.
Dengan cepat Ayu mengelap bibirnya, membalikkan piring di depannya dan mulai mengisi dengan beberapa masakan spesial dari Farhan. "Aku akui, masakanmu sangat lezat sekali." Puji Ayu membuat Farhan terkekeh.
"Jika kau menyukainya, habiskan saja!"
"Tidak, makanan itu tidak akan muat dalam perutku ini." Ucap Ayu sambil mengelus perutnya.
"Aku akan membantumu, aku juga lapar."
__ADS_1
"Itu bagus." Mereka tersenyum dan mulai menikmati hidangan di atas meja dengan lahap.
Terdengar suara nada dering ponsel, Farhan mengecek ponselnya yang berada di saku celananya, tertera nama asisten bodoh dan mengangkat telepon.
"Halo tuan."
"Hem, kenapa kau menelponku?"
"Mengenai insiden kemarin, tuan."
"Katakan, apa kau mendapatkan bukti penyelidikan itu?"
"Sepertinya begitu, pengurus bagian lampu telah mengundurkan diri. Aku sudah mengecek beberapa kru yang menangani bagian properti."
"Apa kau mengerti dengan pola pikir ku?"
"Saya mengerti, tuan. Ada dalang di balik semua kejadian yang hampir menimpa nona Ayu."
"Cari tahu segalanya, aku ingin pelakunya terungkap."
"Baik tuan, kunci utama adalah pengurus lampu itu."
"Aku mempercayaimu."
"Asisten Heri."
"Apa dia mendapatkan bukti?" Tanya Ayu yang antusias.
"Pengurus lampu melarikan diri, itu bisa dijadikan sebuah bukti. Ada orang yang sengaja menjatuhkan lampu gantung itu," jelas Farhan. Ayu terdiam saat memikirkan perkataannya.
Setelah selesai makan, Ayu kembali berjalan ke kamarnya. Dia berjalan menuju ranjang, dan duduk di salah satu sisinya. "Sebaiknya aku melepaskan perban ini," monolognya seraya membuka laci nakas yang berada di sampingnya.
Ayu mengambil salep dan melepaskan perban di kakinya secara perlahan, mengolesi salep yang terasa dingin saat bersentuhan langsung dengan kulitnya. Baru saja dia ingin meratakan salep di pinggir luka kakinya terhenti saat tangannya di cekal oleh seseorang. Ayu menatap sang pelaku yang tak lain adalah Farhan.
"Aku akan membantumu!" Farhan merebut salep yang ada di tangan Ayu, membantu mengolesi salep di kaki wanita itu secara perlahan dan hati-hati.
Ayu tersenyum seraya menggelengkan kepala, dia tidak ingin mencegah Farhan untuk mengolesi salep di kakinya. Jika pun dia mencegah, Farhan akan tetap melakukannya. Hati yang keras di milikinya perlahan mencair, saat pria itu memberikan perhatian lebih kepadanya.
Ayu terus menatap tindakan Farhan yang memperhatikannya, merawatnya dengan sepenuh hati. Terlihat jelas di wajah Ayu yang memerah tersipu malu, perlakuan dari bos sekaligus calon tunangan membuat pertahanannya goyah.
"Dia sangat baik padaku, selalu ada di saat aku butuh bantuan. Apa aku tertarik padanya?" batin Ayu, dia terus tersenyum dan tidak menyadari jika Farhan telah selesai mengobati kakinya.
"Aku sudah selesai mengobatinya."
__ADS_1
"Eh, terima kasih." Sahut Ayu saat mendengar suara Farhan yang menyadarkannya dari lamunan.
"Hem."
Saat dia hendak berdiri, Ayu kehilangan keseimbangan saat kakinya terasa kesemutan dan jatuh menimpa Farhan. Posisi yang cukup intim, keduanya saling menatap dan lupa untuk berkedip, begitu terasa desiran sengatan listrik antara Farhan dan juga Ayu.
Farhan ingin mencium Ayu yang sedang menindihnya, menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Tapi, kesempatan itu hilang saat mendengar dering ponsel miliknya. Dia tidak menghiraukan suara yang mengganggu keromantisan nya dan ingin mencium wanita di atasnya.
"Ponselmu berdering!" tutur Ayu yang ingin berdiri, tapi kedua tangan Farhan menghalanginya.
"Biarkan saja."
"Siapa tahu itu telepon penting!" bujuk Ayu.
"Tidak lebih penting dari ini," sahut Farhan yang semakin mendekap tubuh Ayu.
Momen yang pas, suasana yang mendukung, tapi nada dering ponselnya seakan tak membiarkan dia untuk mencium Ayu. Dengan terpaksa Farhan melepaskan dekapannya, mengambil ponsel yang ada di saku. Tertera nama asisten bodoh yang meneleponnya berulang kali. Ayu segera menjauh dari Farhan, agar tidak mengganggu pembicaraan yang menurutnya sangat penting.
"Ck, dasar pengganggu!" umpat Farhan yang kesal seraya mengangkat telepon.
"Halo tuan."
"Gajimu aku potong dua puluh lima persen!"
"A-apa? Kenapa bisa begitu?"
"Kau merusak suasana hati ku, jangan banyak mengeluh atau gajimu aku potong lagi."
"Kenapa tuan cepat sekali tersinggung! Hehe…aku hanya bercanda saja tadi."
"Heh, katakan ada apa?"
"Pekerja bagian lampu telah kabur ke luar negeri dan akun banknya tercatat ada transfer sebesar lima ratus juta."
"Bagus, lanjutkan pekerjaanmu."
"Baik tuan."
Farhan menutup sambungan telepon dan tampak berpikir mengenai insiden terjadi, sedangkan Ayu menghampiri Farhan. Mereka mulai berdiskusi mengenai dalang dibalik semua ini.
"Apa itu dari asisten Heri?" Tanya Ayu yang di anggukkan kepala oleh Farhan, mengiyakan perkataannya.
"Aku masih menyelidiki dalang dari insiden lampu gantung itu."
__ADS_1
"Tapi aku tidak mengerti, apa dia dari musuhmu atau musuhku?" pikir Ayu.