Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 169 ~ Pergi


__ADS_3

Farhan mengerutkan kening karena baru mengenal nama dokter itu. "Dokter Zaki? Apa kakek hanya bisa disembuhkan olehnya? Apa tidak ada cara lain lagi?" desaknya.


"Hanya itu cara satu-satunya, dokter Zaki sangat jenius dan bisa mengatasi masalah penyakit."


"Jika tidak ada pilihan lain, maka baiklah. Dimana aku bisa bertemu dengan dokter itu?"


"Itulah yang menjadi permasalahannya, dokter Zaki telah vakum dari pekerjaannya, cukup sulit untuk menemukannya." Jelas sang dokter.


"Aku tidak mengerti, jelaskan lebih detail!"


"Cukup sulit untuk menemuinya, bahkan tidak ada yang tahu dimana dia tinggal. Dokter Zaki telah di bungkam selama dua puluh tahun karena beberapa hal, dan aku sendiri juga tak memahami alasannya yang menghilang dari dunia medis." 


"Apa kau sangat yakin, jika hanya dokter itu yang bisa menyembuhkan kakek?" tanya Farhan yang menghela nafas berat, seraya menatap sang dokter dengan pasrah.


"Ya, kejeniusannya di cari oleh beberapa orang dan tidak pernah menemukannya."


Farhan terdiam beberapa saat, memutuskan untuk mencari keberadaan dokter yang katanya sangatlah jenius. "Apapun demi kesehatan kakek!" tekadnya yang kuat, berharap jika dia bisa menemukan dokter Zaki.


"Baiklah, saya permisi dulu!" celetuk sang dokter yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


Farhan menarik kursi dan duduk di sebelah kakeknya, menggenggam tangan keriput dengan perasaan sedih. Cukup lama dia memandang wajah sang kakek yang belum sadarkan diri.


Terdengar suara pintu yang terbuka, Farhan segera menoleh ke asal suara dan melihat pengurus Mansion datang menghampirinya. 


"Sebaiknya Tuan pulang saja, biarkan saya yang menjaga tuan besar." 


"Aku akan tetap disini."


"Saya ada disini dan akan menggantikan Tuan." Keukeuh sang pengurus Mansion.


Farhan mengangguk pelan seraya beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah, dia menoleh menatap wajah sang kakek dan segera pergi dari tempat itu.


"Aku akan melakukan menemukan dokter itu dan kakek akan segera sembuh." Gumamnya seraya mengepalkan kedua tangannya.


****


Seorang wanita sedang duduk di dalam mobil, melihat cincin putih bermata permata indah. Sedih melihat cincin tunangan yang tidak akan masuk ke jari manisnya. Otaknya kembali mengingat kejadian dan permasalahan sebelum pertunangan berlangsung, dan berpikir jika mereka tidak berjodoh.

__ADS_1


"Gabriel!" panggil Ayu yang menatap pria yang tengah fokus mengemudi.


"Iya, ada apa?" sahut Gabriel yang segera menoleh beberapa saat, kemudian kembali fokus menyetir.


"Bisakah kau mencariku sebuah rumah?" 


Seketika perkataan Ayu membuat Gabriel terkejut dan menghentikan mobilnya secara mendadak. Menatap wanita di sebelahnya dengan raut wajah penasaran. "Untuk apa kau mencari rumah?"


"Tidak ada yang bisa dipertahankan dari hubunganku dengan Farhan, dan seharusnya aku melakukan hal itu sejak lama." Jawab Ayu yang tak ingin menambah masalah, namun sesungguhnya masalah akan semakin runyam dengan keputusan yang di ambil di saat tidak bisa berpikir jernih.


"Apa kau ingin menghindarinya Farhan?" tebak Gabriel yang menautkan kedua alisnya penuh menyelidik.


"Aku tidak ingin menambah beban pria itu, dan ingin mencari tempat tinggal sendiri."


"Kenapa kau bersikap seolah-olah menjadi orang miskin saja? Bahkan banyak properti yang kau miliki." Tukas Gabriel yang tidak menyetujui permintaan dari wanita pujaan hatinya.


"Jangan membahas masalah itu, kau ingin membantuku atau tidak?" cetus Ayu yang mengerucutkan bibirnya. Tidak menyukai jika Gabriel mengungkap identitas aslinya.


"Begini saja! Bagaimana jika kau tinggal di apartemenku, aku jarang menempatinya dan tentunya gratis." Tawar Gabriel bersemangat.


"Apa aku terlihat bercanda? Setidaknya apartemen ku tidak kosong. Kau bisa tinggal sesuka hatimu!"


"Baiklah, terima kasih." 


"Hah, kau selalu saja mengucapkan terima kasih. Apa kau berniat untuk memancing emosiku?" cetus Gabriel berpura-pura kesal.


"Aku sudah biasa mengatakan kalimat sederhana yang mempunyai begitu banyak makna." 


"Tapi itu tidak berlaku di hadapanku."


"Hem." Gabriel berpura-pura marah kepada gadis di sebelahnya, kembali menjalankan mobil menuju Mansion Hendrawan. Dia sangat memahami satu hal, jika Ayu sangat mencintai Farhan, dan masih terobsesi dengan pria itu. Memutuskan untuk keluar dari Mansion mewah hanya untuk menyembunyikan perasaan agar tak larut dalam kesedihan juga kekecewaan. 


Dia melirik wanita cantik di sebelahnya, membuat sang empunya menyadari hal itu. "Mengapa kau melirik ku diam-diam? Apa kau masih menyukaiku dan melupakan perkataanmu?"


"Aku sudah berusaha keras, tapi tidak pernah berhasil. Aku juga tidak mengharapkan apapun darimu, apapun pilihanmu aku tetap mendukung di setiap situasi ku!"


"Astaga…kata-kata mu sangat dalam dan juga bermakna, semoga kau menemukan wanita yang lebih dariku." 

__ADS_1


"Kau lari dari masalah, apa kau sudah memikirkan ini secara berulang?" tanya Gabriel yang segera mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya, aku sudah memikirkannya dan akan tetap pergi dari Mansion itu. Tujuanku hanya satu, ingin bertanggung jawab mengenai kondisi kakek Hendrawan."


"Kau sudah memutuskannya, aku bisa apa?"


Tak lama, mobil berhenti tak jauh dari bangunan mewah yang memiliki kesan tersendiri bagi Ayu, segera membukakan pintu dan turun dari mobil. 


"Aku masuk dulu, ini tidak akan lama!"


"Aku akan selalu menunggumu, bukan hanya menunggu berkemas tapi menunggu cintamu."


Ayu mendelik dan menatap pria tampan di dalam mobil dengan jengah. "Jangan katakan itu? Kau membuatku semakin bersalah."


"Lupakan itu, sebaiknya kau pergi saja dan mulailah mengemasi barang-barang mu!"


"Baiklah, aku pergi dulu!"


"Hem."


Ayu berjalan masuk Mansion kediaman Hendrawan dengan wajah yang sedikit memperlihatkan kesedihan. "Inilah saatnya aku pergi dari sini!" gumamnya seraya menaiki tangga menuju kamar.


Namun hatinya seakan melarang untuk pergi, menyusuri pandangan ke seluruh mansion yang terlihat sangat luas dan juga megah. Begitu banyak kenangan yang tidak bisa dia lupakan, tersenyum sekilas kemudian mulai berkemas. 


Bayang-bayang Farhan masih menari-nari di otaknya, melihat bayangan mereka saat bersama di dalam kamar itu, tertawa sekilas kemudian menyeka air mata yang mulai membasahi pipi. "Inilah yang terbaik! Kira sudah kembali, sebaiknya aku pergi menjauh darinya." Gumannya.


Dengan cepat dia mengambil koper dan membawa semua barang yang dibawa saat menginjak ke Mansion itu. Dia meninggalkan semua barang yang diperoleh dari tempat itu, karena tekad membuatnya tetap kuat. 


Setelah beberapa menit kemudian, semua barangnya telah dimasukkan ke dalam koper. Menghirup udara sangat dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, memberikan semacam kenyamanan dan  semangat baru untuk memulai aktivitas. "Semangat Ayu, kau pasti bisa!" ucapnya yang menyemangati diri sendiri.


Ayu menarik kopernya untuk keluar dari kamar itu dan menguncinya. Baru beberapa langkah, dia kembali menoleh, cukup berat meninggalkan tempat yang mempunyai momen dengan seseorang yang spesial di hatinya.


Menuruni tangga satu persatu, namun netra mata indahnya menemukan seseorang membuka pintu. Mereka saling berkontak mata membuat suasana hening.


 


 

__ADS_1


__ADS_2