
Hari yang sangat melelahkan bagi Ayu, pekerjaan kantor membuatnya sangat sibuk. Ditambah dengan tuduhan palsu membuat kepalanya terasa ingin pecah. Membaringkan tubuh di atas ranjang, melihat langit-langit kamar dan mulai memikirkan sesuatu. "Masalah ini semakin rumit saja, aku harus segera memecahkan kasus mengenai insiden yang diciptakan oleh Maudi." Monolog Ayu dengan penuh tekad dan keyakinan.
Ranjang empuk melepaskan segala kepenatan yang ada, hingga terlintas di pikirannya untuk melihat berita, memantau kemajuan umpatan kebencian dari para warganet. Ayu mengambil laptopnya dan melihat berita terbaru.
"Keadaan yang sangat kacau. Wah, selamat untukmu, Maudi. Berhasil membuat semua orang membenciku, kau pasti sangat senang sekarang. Tapi sayangnya, kemenanganmu tidak akan bertahan lama," gumamnya berbicara sendiri. Suara nada dering ponsel mengalihkan perhatian nya, dengan cepat mengambil ponsel yang tak berada jauh dari jangkauan.
"Halo."
"Halo, ada informasi penting untuk mu."
"Iya, katakan saja!"
"Aku telah menyelidiki mantan ketua sekretaris itu."
"Benarkah?"
"Sesuai yang aku katakan, aku sudah menyelidikinya."
"Wow, itu informasi yang sangat bagus. Kau sungguh luar biasa, aku sangat puas dengan pekerjaanmu."
"Tentu saja, aku hacker terhebat."
"Bisakah kau mengirimkan buktinya?"
"Secepatnya aku akan mengirimkannya, tapi jangan lupa transfer sisa uangnya."
"Jangan cemaskan masalah itu, secepatnya aku akan mentransfernya."
"Aku membutuhkan sisanya sekarang, bisakah kau mentransfernya?"
"Tidak masalah."
Ayu mengutak atik ponselnya, tersenyum saat berhasil mengirimkan sisa uang untuk sang hacker yang membantunya mencarikan sebuah bukti.
"Aku baru saja mengirimnya."
"Terima kasih."
"Sama-sama, kapan kau mengirimkan bukti itu?"
__ADS_1
"Sedang proses pengiriman."
"Bagus, aku akan menutup teleponnya."
"Ya baiklah."
Setelah selesai menelepon, Ayu menggenggam erat ponselnya. Dia sangat senang berita itu, dan menerima semua bukti untuk membersihkan namanya yang dirusak oleh Maudi. "Inilah yang aku tunggu, mundur selangkah untuk menjangkau dua langkah ke depan. Taktik kuno yang sangat manjur, itulah akibatnya jika dia tidak menoleh ke belakang." Gumamnya tersenyum cerah.
Seseorang sedari tadi mengintipnya di tepi pintu yang terbuka, melihat Ayu terlihat senang. Ya, dia adalah Farhan yang berniat ingin masuk ke dalam kamar milik sekretarisnya. Melangkahkan kakinya menghampiri wanita itu dengan penuh kharisma dan dinginnya.
"Ehem." Dehem nya untuk menarik perhatian. Ayu sangat mengenal suara itu dan menoleh dengan tatapan bingung. "Eh, kenapa kau ada di kamarku?" ucapnya yang mengerutkan kening.
"Aku tidak sengaja lewat dan melihat pintu kamarmu terbuka," ujar Farhan. "Sekalian aku ingin menanyakan kabarmu." Bukan tanpa alasan dia masuk kedalam kamar dari wanita itu, ingin menenangkan Ayu yang pastinya sedih dengan kabar yang meluas di internet. Namun, dia sedikit terkejut jika Ayu tampak tenang.
"Bagai air yang sangat tenang menyimpan begitu banyak bahaya," batinnya sembari memperhatikan raut wajah sekretaris sekaligus calon tunangannya yang terlihat tenang bagai air, tidak ada kesedihan di dalamnya.
"Hah, aku lupa menutup pintu. Harusnya kau mengetuk pintu dulu, bagaimana jika saat itu aku berpakaian seksi?" Ayu mengkhayalkan jika dirinya memakai pakaian kurang bahan, pasti pria yang tak jauh darinya memanfaatkan.
"Bukan salahku, tapi kau sendirilah yang sangat ceroboh. Tapi, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Jika pun tak sengaja melihat tubuh polosmu tanpa sehelai benang pun aku tidak akan tertarik melihat tubuhmu yang lurus seperti papan." Cibir Farhan.
"Kau pria yang sangat menyebalkan, jika kau melihatnya pasti ingin melihatnya lagi."
Ayu mendengus kesal mendengar perkataan Farhan yang mengejek tubuhnya. "Hah, berhentilah membual karena itu hanya akan membuang waktumu yang sangat berharga." Ayu tidak ingin berdebat dengan pria tampan itu, baginya sekarang permasalahan yang akan selesai.
"Ck, kau mengusirku?" Cibir Farhan yang terus menantang Ayu.
"Tidak juga. Kau sangat antusias dan bersemangat sekali ya!" sindir Ayu yang jengah dengan keberadaaan Farhan.
"Aku hanya meluruskan perkataanmu saja, sepertinya kau tersinggung." Goda Farhan yang menyukai raut wajah sekretarisnya, terlihat sangat menggemaskan.
"Sebaiknya kau keluar dari kamar ku!" usir Ayu yang berusaha menahan emosi agar tidak meluap.
"Baiklah, tanpa mengusir pun aku juga akan pergi." Farhan mengalah dan pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan Ayu melihat punggung pria itu hingga menghilang dari balik pintu.
Suasana sunyi membuat suara notifikasi ponsel terdengar dengan sangat jelas, Ayu sangat antusias dan fokus ke layar ponsel. Dengan cepat dia menghubungi si pengirim yang tak lain adalah hacker.
"Halo."
"Aku sudah melihatnya, sekali lagi aku ucapkan terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama."
Ayu mematikan sambungan telepon, tersenyum puas dengan semua bukti yang baru saja dia lihat.
****
Keesokan harinya, Semua reporter kembali mengerubungi Maudi dan menanyakan beberapa pertanyaan yang menyudutkan Ayu.
"Kami ingin mewawancarai anda."
"Tentu saja," sahut Maudi yang telah memasang kesedihan di wajahnya.
"Apakah video yang tersebar mengenai ibu anda yang didorong hingga jatuh ke tanah itu benar adanya?" tanya reporter yang mengarahkan rekaman di hadapan Maudi.
"Video itu asli dengan beberapa orang yang melihat kejadian secara langsung." Sahut Maudi meneteskan air mata.
"Dan bagaimana dengan tanggapan anda?" tanya sang reporter.
"Ayu sangat keterlaluan, ibuku hanya membela anaknya. Seorang ibu yang kembali memperebutkan harga diri, tapi wanita itu malah mendorong ibuku…hiks!" Jelas Maudi yang menghapus air matanya.
"Apa langkah anda selanjutnya?"
"Aku hanya ingin keadilan untukku dan juga ibuku, wanita itu terlihat lugu tapi di hatinya sangat busuk." Serentetan pertanyaan bertubi-tubi dari reporter membuat Maudi semakin bersemangat untuk menjatuhkan musuhnya.
"Apakah ada saksi lain dari kejahatan Ayu?"
"Aku saksi matanya, bagaimana wanita itu berniat membunuh Maudi," sela Laras yang juga berjalan menghampiri mantan ketua sekretaris itu, menciptakan masalah untuk musuh yang sama. Semua orang juga menyorot Laras yang memberikan kesaksian memberatkan Ayu.
"Saya Laras, menyatakan jika perkataan dari Maudi adalah benar. Karena di saat itu, sayalah saksi yang tak sengaja melihat pertarungan Maudi dan juga wanita pembunuh itu. Bahkan dia juga mengancam dengan pisau, wanita itu sangat licik memutar balikkan fakta." Tutur Laras. Kedua wanita itu saling melirik sepersekian detik, tersenyum tipis dan kembali menjalankan akting.
Semua orang yang menonton acara di televisi secara langsung mengenai pernyataan percobaan pembunuhan Maudi membuat para penonton menyumpahi wanita itu dan mendapatkan hukuman yang setimpal.
"Dasar gadis jahat! Dia memfitnah Maudi dan juga ibunya." Komentar para penonton yang melihat acara di televisi.
"Itu benar, semoga keturunan kita tidak mempunyai sikap seperti Ayu itu, sangat rendahan." Tambah salah satu penonton membenarkan. Semua orang yang menonton acara televisi mendukung Maudi, mereka sangat bersimpati dan mendoakan mantan ketua sekretaris.
Tak lama, Ayu berjalan menghampiri kerumunan dengan raut wajah tenang. Semua orang sangat terkejut dan menilai jika wanita itu tak tahu malu.
__ADS_1