Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 152 ~ Kau di pecat


__ADS_3

Adi kembali mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat, rahang yang mengeras, perlakuan dari Farhan membuatnya semakin membenci keponakannya. Namun, kegelisahan di hatinya semakin bertambah dengan kedatangan Farhan di ruang konferensi pers, bahkan ingin membatalkan pertemuan dengan para awak media. 


Separuh dari tujuan menghilang, dia sangat kebingungan dengan keadaan Farhan yang masih hidup. "Kenapa dia masih hidup? Apa yang aku lewatkan hingga dia selamat?" batinnya kebingungan memikirkan keselamatan pria muda di sebelahnya.


Dia tidak ingin jika nama baiknya tercemar dengan sangat cepat, berusaha untuk mengontrol dirinya agar terpancing emosi. "Kau tidak bisa mengusir mereka!" tegasnya.


"Semuanya sudah jelas, untuk apa konferensi pers di lanjutkan?" jawab Farhan dingin.


"Kau tidak ada hak untuk membubarkan konferensi pers!"


"Aku sangat berhak, karena aku lah presdir dari perusahaan HR Grup. Sedangkan kau hanya bawahanku, wakil presdir!" tekan Farhan dengan raut wajah tajam tanpa ekspresi.


Adi tidak rela jika usahanya sia-sia, dia bahkan mengeluarkan banyak uang untuk menjadi presdir di perusahaan keponakannya sendiri. Rencana licik tidak selamanya menang, sekarang rencana itu menggerogoti dirinya. "Kau tidak ada hak, karena semua ini atas perintah ayahku, Hendrawan."


"Dan jangan lupakan, jika aku cucu kandung dari ayahmu." Tatapan sengit dari keduanya dapat dilihat oleh semua orang yang berada di dalam ruangan itu. 


"Apa yang kau inginkan?" tanya Adi yang mengundang tawa dari Farhan.


"Pria licik sepertimu tidak akan aku lepaskan, mengatakan jika aku sudah mati. Tapi sekarang aku mengerti, kau menginginkan posisiku."


"Percuma saja aku menjelaskan padamu, itu tidak akan membuat perbedaan." Sanggah Adi.


"Tidak perlu repot-repot, masalah ini akan selesai dengan cepat. Asisten Heri!" tegas Farhan memanggil bawahannya.


"Ada apa, Tuan?"


"Keluarkan bukti yang ada dan perlihatkan kepada semua orang!"


"Laksanakan!" Asisten Heri memperlihatkan bukti lainnya, mengenai insiden kecelakaan yang memang disengaja dan beberapa bukti lain yang tidak bisa dielakkan lagi.

__ADS_1


Kedua mata Adi terbelalak dengan lebar, hampir saja kedua bola mata keluar dari tempatnya. Dia sangat terkejut dengan semua bukti yang terus memojokkannya, kegugupannya semakin terlihat dikala dia mengelap keringat di dahi yang menetes dari wajahnya. "Sial, ternyata Farhan sangat cerdik dalam mengumpulkan semua bukti kejahatan ku." Gumamnya di dalam hati, dia berpikir bisa lolos dari para bukti yang ditemukan.


"Apa kau ingin membela dirimu?" celetuk Farhan yang membuyarkan lamunannya.


"Semua bukti itu palsu, dan bisa di buat oleh orang lain. Kemajuan zaman saat ini sangat mumpuni untuk merekayasa semuanya," Adi masih mengelak tak ingin mengakui perbuatannya, bahkan beberapa reporter memaksanya untuk meminta maaf kepada Farhan, tapi di tolaknya. 


Farhan tersenyum tipis, karena menurutnya pria paruh baya itu sangat cocok menjadi pelawak. "Apa kau masih ingin mengelak lagi? Atau aku perlihatkannya pada semua orang mengenai bukti yang pastinya tidak bisa disangkal lagi?"


"Lakukan sesuka hatimu, tapi aku tidak akan percaya." 


"Terlalu cepat mengambil keputusan akan membuatmu menyesal." Farhan bertepuk tangan sebanyak dua kali, semua orang sangat menantikan bukti yang di maksud oleh pria tampan itu.


Betapa terkejutnya semua orang, bahkan beberapa reporter melongo melihat kondisi Hendrawan yang baik-baik saja. Asisten Heri yang mendorong kursi roda pria tua menghampiri semua orang, dan di sebelahnya ada Ayu.


Adi sangat gelisah, apalagi melihat ayah angkatnya juga hadir. "Bagaimana Ayah bisa berada di sini?" batinnya tampak berpikir.


"Ini tidak bisa dipercaya? Karena apa yang dikatakan oleh tuan Adi adalah kebohongan belaka," bisik orang-orang di sekitar yang masih terdengar di telinga sang bahan gosip.


Farhan segera menghampiri sang kakek, dia sangat khawatir mengenai kondisi pria tua yang berada di atas kursi roda. "Apa Kakek yakin dengan ini?" 


"Aku hanya letih saja, tidak perlu mencemaskan pria tua sepertiku."


"Seharusnya Kakek beristirahat, biarkan aku menyelesaikan masalah ini."


"Tidak, aku juga akan turun tangan. Anak durhaka itu harus mendapatkan hukumannya!"


ucap Hendrawan yang menatap anak angkatnya sangat tajam, seakan memangsanya.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya di dalam hati yang sangat gelisah, semua kejahatannya terbongkar dan niatnya juga diketahui. Kehilangan wajah di hadapa semua orang, ingin rasanya dia menghilang dari suasana yang tidak pernah terpikirkan.

__ADS_1


"Bawa aku menemui anak durhaka itu!" titah Hendrawan.


"Baik, Kek."


Farhan mendorong kursi roda sang kakek, menghampiri Adi. "Aku tidak menyangka mengenai perbuatan mu yang silau dengan jabatan tinggi, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini, tapi aku sudah bertekad. Aku sangat menyesal menjadikanmu anak angkatnya, menyayangimu seperti anak kandungku sendiri. Apa ini balasan yang aku dapatkan?" 


Adi tak bisa mengatakan apapun selain diam terpaku, tapi keserakahan di hati membuatnya tetap berpura-pura tenang.


"Kau mengatakan jika aku telah tiada di hadapan publik, hanya untuk menguasai hartaku. Menyekap pria tak berdaya sepertiku dan mengatakan hal yang sangat menjijikkan." Hendrawan mengalihkan perhatiannya menatap semua orang. "Konferensi pers di batalkan!" tegasnya. Dia kembali menatap putra angkatnya dengan tajam. " Farhan tetap menjadi presdir, dan jabatanmu sebagai wakil presdir aku copot. KAU DIPECAT!" 


Adi sangat terkejut, menatap ayah angkatnya tak percaya. 


Konferensi pers selesai, satu per satu reporter ingin mewawancarai Hendrawan untuk menanyakan lebih lanjut. Tapi, asisten Heri menghadang orang-orang yang mengganggu kakek dari bosnya. "Kalian pergilah dari sini, acara sudah selesai dan bubar!" titahnya dengan penuh ketegasan.


Ruangan menjadi kosong, mereka tersenyum karena berhasil membongkar tepat pada waktunya. Mereka keluar dari ruangan rapat,  tiba-tiba Gabriel datang dengan raut wajah yang cemas.


"Ayu, apa kau tidak apa-apa? Aku sudah mencarimu saat mendengar kabar pesawat yang kau naiki mengalami kecelakaan." Tanya Gabriel.


"Aku baik, seperti yang kau lihat!"


"Syukurlah, aku tidak ingin jika wanita yang sangat aku sayangi terluka. Untung saja kau sudah banyak berlatih mengenai situasi ini!" tukas Gabriel yang hampir keceplosan, Untung saja Ayu menginjak kakinya agar tidak mengatakan hal yang akan membongkar identitas palsu yang dipakai selama ini.


"Kau sangat perhatian sekali, jangan memujiku terlalu dalam. Perkataan seperti itu membuatmu dalam masalah, jangan di ulangi lagi!" jawab Ayu pelan yang langsung menginterupsi. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Hendrawan juga Farhan. "Kalian pulang duluan saja, ada yang ingin aku bicarakan kepada Gabriel." 


"Baiklah, hubungi aku jika pria itu mengganggumu!" patuh Farhan yang membawa sang kakek pergi. 


"Tentu saja."


Gabriel memperhatikan wanita di dekatnya dengan sangat dalam. "Apakah pertunangan mu dan dia sudah dibatalkan?" desaknya tak sabar, sedangkan Ayu menyangkalnya.

__ADS_1


 


__ADS_2