
Vanya melangkahkan kakinya mendekati pria itu, memegang lengan Farhan seraya melempar tatapan penuh harap. "Setelah apa yang kau lakukan kepadaku? Sekarang tidak mengakuinya. Kau tega sekali!" ucapnya seraya berpura-pura sedih.
"Singkirkan tanganmu yang kotormu itu." Farhan mengepalkan kedua tangannya, tatapan lurus kedepan tanpa menoleh.
"Kau tidak bisa memperlakukanku begini." Vanya semakin mempererat cengkraman tangannya semakin membuat Farhan marah.
"Apa kau ini tuli, hah?" menyingkirkan tangan Vanya dengan kasar, menatap wanita itu dengan tajam.
"Tapi aku hanya__"
"Ck, berhentilah berpura-pura. Aku mengingat segalanya dengan sangat baik." Ucap Farhan dengan lantang yang mengingat jika dirinya tidak pernah menyentuh Vanya, tapi malah sebaliknya. Tatapan tajam, rahang mengeras menandakan dia sangat marah.
"Maaf, aku melakukan itu karena sangat mencintaimu, Farhan." Ungkap Vanya dengan tatapan penuh cinta, tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Penolakan membuatnya semakin tertantang, mulai mendekati pria itu dan merayunya. Menatap Farhan penuh gairah, berharap akan tergoda dengan tubuh mulus nan indah miliknya. "Kau pasti menyukaiku, 'bukan? Aku memberimu kesempatan untuk menjamah diriku!" godanya.
Farhan sangat jijik dengan wanita yang menawarkan diri bagai seorang ja*lang, terus menggoda dirinya demi kepuasan tersendiri. Dia mendorong tubuh Vanya hingga terjatuh di atas tempat tidur. "Kau sangat kasar, tapi aku menyukainya!" Vanya tersenyum menggoda, menyukai perlakuan dari pria tampan itu, dan mengira akan menyentuhnya.
"Aku tidak tertarik denganmu!" tolak Farhan yang bersiap-siap, muak dengan sikap dari sahabat kecilnya. Di hatinya masih tersimpan nama Kira dan akan tetap begitu, tidak bisa melupakan gadis kecil yang pernah menyelamatkan hidupnya. "Apa yang kau pikirkan? Aku tidak akan menyentuhmu!" tekannya dengan raut wajah dingin.
Senyum menggoda di wajah Vanya berubah muram, mendengar ucapan Farhan membuatnya sangat marah dan juga kesal. "Aku akan membuktikan, bagaimana kau akan bertekuk lutut saat melihat permainanku di atas ranjang." tuturnya yang tersenyum menyeringai. Tak kehabisan akal, membuatnya semakin berani. Menyentak tali untuk membuka piyama yang melekat di tubuh, membuka kakinya dengan lebar dan melepas kait penutup dua bukit kembar miliknya. "Semua pria tidak akan menolak hal ini, jangan munafik dan bermainlah bersamaku!" cetusnya yang mulai kehilangan kendali.
Bukannya tertarik, Farhan malah semakin tidak menyukai Vanya, melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar. Namun, kedua tangan memeluknya dari belakang menghentikannya. "Menyingkirlah!" tekannya yang masih sabar menghadapi sikap Vanya.
"Aku sangat mencintaimu, dan kau hanya milikku…hanya milikku!" Vanya semakin berani mengklaim dirinya.
"Sadarlah dengan tindakanmu yang sangat murahan." Bentak Farhan. Vanya memegang pergelangan tangan pria itu, tapi dicekal. "Berhentilah bertindak gila!" cetusnya yang marah dan merasa jijik sekaligus.
"Berikan aku kesempatan untuk meraih hatimu, Farhan."
"Aku tidak tertarik!" Di Hati Farhan hanya ada Kira, tidak ada yang bisa menggantikan posisinya.
"Tapi aku mencintaimu!" bujuk Vanya tak ingin menyerah.
"Dan aku semakin jijik denganmu, pakailah piyama mu kembali. Sekarang!" titah Farhan yang tak ingin bantahan.
__ADS_1
Vanya menghela nafas berat, mengikuti kemauan dari sang pujaan hati. "Baiklah," pasrahnya.
Farhan memeriksa ponselnya di saku celana, tidak menemukan keberadaan benda pipih itu. "Dimana ponselku?" gumamnya yang mencari benda pipih itu.
"Apa yang kau cari?" tanya Vanya yang penasaran.
"Ponselku, dimana kau meletakkannya?" balas Farhan dingin.
"Aku menyimpannya di dalam laci di sebelahmu."
Dengan cepat Farhan membuka laci, dan menemukan ponselnya dalam keadaan mati. Menghidupkan ponsel itu, karena perasaannya menjadi gelisah. Entah apa yang terjadi, bahkan melupakan jika dirinya masih berada di kamar Vanya. Sontak kedua matanya terbelalak kaget saat melihat banyaknya panggilan yang tak terjawab. "Kenapa aku sangat ceroboh? Andai saja saat itu aku tidak mabuk dan ini tidak akan terjadi," batin Farhan yang menyesali perbuatannya.
"Aku sudah mengenakan piyama," celetuk Vanya berusaha mengalihkan perhatian Farhan.
"Hem," balas Farhan yang berdehem, karena seluruh perhatiannya tertuju ke layar pipi di genggaman tangannya, mengecek satu persatu daftar kontak yang menghubunginya. Namun, aktivitasnya terhenti saat ponselnya berdering, mengangkatnya setelah mengetahui si penelepon.
"Halo tuan!"
"Iya, ada apa?"
"Masalah? Ck, katakan dengan benar."
"Benar tuan, nona Ayu dituduh sebagai pembunuh!"
"APA? Tuduhan pembunuhan?"
"Nona Ayu dituduh percobaan pembunuhan pada nona Maudi."
"Dimana Ayu sekarang?"
"Ada di kantor polisi, tuan."
Farhan mematikan sambungan telepon secara sepihak, perasaan cemas hinggap di benaknya. "Sial! Ini tidak bisa dibiarkan." Gumamnya yang bergegas keluar dari kamar tanpa menghiraukan Vanya yang sedari tadi menatapnya.
__ADS_1
"Sepertinya permainanku berjalan dengan lancar, cukup lama aku menunggu hari ini. Hari dimana wanita kampung itu menderita," batinnya tersenyum puas.
Farhan melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa keluar dari rumah itu, melihat ke sekeliling yang hanya ada pohon-pohon rindang dan jauh dari jalan raya. "Sial, tidak ada mobil di sini!" umpat Farhan yang mencari mobil terparkir di halaman rumah Vanya, sembari mengusap rambutnya dengan kasar. "Sebaiknya aku ke jalan raya dan mencari taksi!" gumamnya dan bergegas pergi dari sana, rumah Vanya yang berada di pinggir kota membuatnya sangat kesulitan mencari tumpangan, apalagi posisinya saat ini di malam hari. Setelah sampai di pinggir jalan, melihat kiri dan kanan jalanan, berharap ada kendaraan. Tidak ada siapapun di sana selain dirinya sendiri, pikirannya semakin gusar membayangkan Ayu terkena masalah besar.
Farhan mengambil ponsel yang ada di saku celana, mencari nomor kontak asisten bodoh dan menghubunginya.
"Halo, tuan."
"Hem, jemput aku sekarang juga. Lokasinya sudah aku kirimkan!"
"Maaf, tuan. Aku sedang sibuk!"
"Sialan, aku ini bos mu. Apa kau ingin dipecat?"
"Pecat saja, aku tidak takut."
"KAU!"
"Jangan salah paham, tuan. Aku sedang mengurus kasus nona Ayu yang berada di kantor polisi. Tunggulah setengah jam lagi!"
"Aku tidak bisa menunggu selama itu."
Farhan mematikan sambungan telepon, sangat kesal dengan asisten bodohnya yang berani mengacuhkan perkataannya. Sementara di tempat lain, asisten Heri tersenyum bahagia bisa membalas tuannya dengan alasan Ayu.
"Wah…ternyata nama nona Ayu sangat berpengaruh dalam menaklukkan tuan Farhan." Monolognya.
Setelah beberapa lama menunggu semakin membuat Farhan kesal. "Kemana semuanya taksi? Tidak ada yang lewat satupun kendaraan disini!" keluhnya. Hingga dia melihat satu mobil yang melintas, namun harapannya hilang saat mengetahui pengemudinya.
"Hai, apa kau butuh tumpangan?" Vanya tersenyum ke arahnya, sengaja menyembunyikan mobilnya agar tidak di temukan oleh Farhan yang terdiam mempertahankan tatapan dingin dan arogannya. "Ayo, naiklah. Aku akan mengantarkanmu!" ajaknya.
Farhan tampak berpikir. "Sebaiknya aku pergi bersamanya!" batinnya, memutuskan karena tidak ada pilihan lain. Masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Vanya. Di sepanjang perjalanan, Vanya tersenyum puas dan sesekali melirik wajah tampan dari pria di sampingnya.
Sesampainya di kantor polisi, Farhan bergegas turun dan mencari keberadaan dari wanita yang membuatnya merasa cemas.
__ADS_1