
Laras segera bergegas menghampiri wanita yang mulai menjauh darinya, menarik bahu wanita itu dengan kasar. Ayu sangat terkejut dengan sikap kasar sepupu dari Farhan, menatap kedua mata wanita itu dengan tajam. "Ada apa?" ketusnya yang malas menghadapi kedua wanita itu.
"Kau tidak boleh pergi, dasar pembunuh!" balas Laras tak kalah ketusnya.
"Hah, sudahlah! Aku tidak ingin berdebat denganmu, itu hanya akan memperburuk suasana."
"Apa kau takut?" Laras tersenyum mengejek diikuti oleh temannya di samping.
"Aku rasa begitu!" sahut wanita yang bersama Laras. Kedua wanita itu terus saja mengejek dan mengulur waktu Ayu untuk tidak bisa melarikan diri, menanti hal ini sejak lama.
"Kalian hanya melihat dari setengah kebenarannya saja, jika tidak tahu apapun, sebaiknya diam!" tekan Ayu yang sangat jengkel.
Laras melirik teman di sampingnya, memberi kode untuk memegang kedua tangan Ayu agar tidak bisa melarikan diri. "Hei, apa yang kau lakukan," ucap Ayu yang sedikit meninggikan suara.
"Diamlah, suaramu hanya akan membuat gendang telinga ku saja."
"Mudah saja, kau tinggal menutupnya." Sahut Ayu enteng.
"Sebaiknya kau telepon polisi." Titah Laras yang menatap temannya.
"Baiklah, gantikan posisiku!" ujar Biru yang mengambil ponsel dari sakunya.
"Hem." Segera Laras memegangi tangan Ayu, dia tersenyum puas saat temannya menelpon polisi yang sebentar lagi akan segera tiba. Sedangkan Ayu menghela nafas dengan kasar, saat melihat aksi kedua orang itu yang sangat menjengkelkan.
Seketika Ayu berpikir maksud dari semua hal ini, menatap Laras dan Biru secara bergantian dengan tatapan penuh curiga. "Mereka datang di saat aku dan mantan ketua sekretaris saling menyerang, seakan ini sudah terencana dengan baik. Tapi siapa dalangnya?Apakah Laras, Maudi, atau Vanya? Ini sangat mencurigakan, seakan kejadian ini saling berkaitan." Batinnya dengan beberapa praduga dan mulai menerka. Dia kembali melihat tujuan Laras untuk memanggil polisi, dan pastinya bukan hal yang bagus.
Laras sangat senang, karena sebentar lagi dia akan mendapatkan Farhan dengan menyingkirkan Ayu. "Wanita kampung itu akan dituduh atas pelenyapan ini! Aku berdoa, semoga mantan ketua sekretaris itu mati tanpa bukti." Batinnya.
"Apa kau sudah selesai? Cepat lepaskan aku!" ucap Ayu yang sudah bosan melihat drama kedua orang itu.
"Aku akan melepaskanmu setelah polisi tiba," sahut Laras yang sangat bahagia dengan itu.
"Aku korbannya disini, tapi aku lah yang dituduh sebagai tersangka. Tapi percuma saja aku menjelaskan ini, karena kalian tidak akan mengerti," cetus Ayu yang berusaha untuk memberontak, menginjak kaki Laras dengan sangat keras membuat wanita itu merintih kesakitan.
"Auh…kurang ajar, kau menginjak kaki ku." Keluh Laras yang kesakitan.
__ADS_1
"Aku sudah muak dengan drama ini, jadi rasakan itu. Kalian tidak bisa terus menindas!" balas Ayu yang tersenyum miring. "Sebaiknya aku pergi!" gumamnya yang berlalu pergi. Namun, Biru dengan cekatan memegang pergelangan tangannya. Ayu terpaksa menggunakan cara kasar dengan mendorong tubuh wanita itu.
Saat ingin pergi, tiba-tiba Gabriel datang menghampirinya. "Syukurlah kau ada di sini, aku sudah mencarimu dari tadi." Ucapnya yang bernafas lega, mencari keberadaan sang wanita pujaan hatinya yang menghilang cukup lama.
"Tenanglah, sekarang kau sudah menemukan ku."
"Ya, kau memang benar. Hanya saja__" ucapan Gabriel terhenti saat melihat penampilan Ayu yang kotor. "Pakaianmu terlihat kotor, apa yang terjadi?"
"Astaga… aku lupa." Ayu sangat terkejut dan menepuk keningnya pelan.
"Ada apa?" desak Gabriel yang panik saat melihat ekspresi terkejut dari wanita itu.
"Cepat panggil ambulans!" ucap Ayu yang mengingat nasib Maudi yang masih berada di Danau.
"Ambulans? Apa yang sebenarnya terjadi?" desak Gabriel yang sangat penasaran.
"Telepon saja dulu," ucap Ayu yang sedikit panik.
"Baiklah, beri aku waktu dua menit."
"Hem."
"Bagus."
"Tapi, bisakah kau menceritakan apa yang terjadi?"
"Aku akan memberitahukan nanti, tapi sebelum itu ikutlah bersamaku." Ayu menarik tangan Gabriel karena mulai mencemaskan Maudi yang tidak bisa berenang.
Gabriel pasrah dengan tangannya yang terus di tarik, hingga langkah wanita di depannya terhenti tepat di pinggir jurang. "Sekarang kau lompatlah!" titah Ayu tanpa menoleh, karena perhatiannya tertuju ke dalam jurang.
"Apa kau ini gila? Aku tidak ingin mati muda, jiwaku tidak akan tenang saat cintaku selalu kau tolak," tutur Gabriel yang memelas.
"Hah, kau ini konyol sekali. Lupakan itu dan lompatlah!" Ujar Ayu.
"Baiklah, akan aku lakukan sebagai pembuktian cintaku. Tapi, katakan dulu jika kau mencintaiku." Gabriel mengedipkan sebelah matanya seraya menggoda wanita di hadapannya. Ayu mulai geram dan mendorong Gabriel hingga tercebur ke Danau.
__ADS_1
"Kau tega sekali mendorong ku."
"Hentikan aktingmu! Bantu aku menemukan Maudi yang tercebur di Danau."
"Baiklah…baiklah, kali ini kau menang." Gabriel mulai melakukan pencarian dengan berenang, memeriksa dengan menyusuri Danau. Ayu mengkhawatirkan keadaan Maudi yang tidak bisa berenang, melihat Gabriel dengan seksama, berharap jika pria itu menemukan mantan ketua sekretaris.
"Maudi tidak terlihat, Gabriel belum memberiku kabar. Bagaimana ini?" gumamnya yang berpikir dengan keras.
"Aku menemukannya!" pekik Gabriel dari bawah sana.
"Syukurlah, aku akan menyusulmu di bawah." Balas Ayu yang juga berteriak.
"Baiklah, aku akan menunggumu di sana."
"Hem."
Terdengar suara sirine ambulans, seakan mendapatkan harapan baru. Menghampiri dan meminta tolong kepada sang petugas, membawa mereka untuk menjemput Gabriel dan Maudi.
"Ayo cepatlah, mereka ada di bawah!" desak Ayu yang mencari jalan menuju ke dasar jurang."
"Hati-hati lah Nona, jalannya cukup curam. Kau bisa terjatuh nanti." Sahut salah satu petugas ambulans.
"Kita tak punya banyak waktu, ayo bergegaslah!"
Mereka bergegas menuju dasar jurang, Ayu tak menghiraukan keselamatannya, malah sebaliknya mencemaskan Maudi, walau wanita itu berniat untuk membunuhnya. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai. Ayu membelalakkan kedua matanya saat melihat kondisi Maudi, wajah yang pucat dengan bibir berwarna ungu menandakan wanita yang terbujur itu telah tiada.
"Kau tenang saja, Maudi pasti baik-baik saja!" celetuk Gabriel yang seakan mengerti dengan rasa cemas di benak Ayu.
"Entahlah, aku harap begitu." Ayu mundur selangkah, tubuhnya seakan lemas tak kuasa jika mendengar kabar buruk dari mantan ketua sekretaris, dia hanya berniat untuk memberi Maudi pelajaran agar tidak berniat buruk. "Ini salahku, seharusnya aku menolong Maudi saat itu," batin nya untuk meyakinkan diri, dengan cepat Gabriel berlari untuk menopang tubuhnya yang hampir kehilangan keseimbangan.
Beberapa orang mulai berdatangan, terkejut dengan kedatangan ambulans menarik perhatian semua orang. Bahkan beberapa orang mulai melakukan CPR dan penyelidikan mengenai kasus Maudi. Laras datang untuk memperkeruh keadaan, tersenyum melihat raut wajah terkejut dari Ayu.
"Dasar pembunuh, kau melenyapkan wanita malang itu dengan mendorongnya ke Danau," tuduh Laras yang sangat yakin jika Maudi sudah mati.
"Cukup, hentikan omong kosongmu ini." Ucap Gabriel yang lantang, manatap Laras dengan tajam. Dia sangat khawatir dengan kondisi Ayu yang terlihat buruk, berusaha untuk menenangkannya.
__ADS_1
Bersambung..
Semoga kalian tidak bosan membaca novel ini😘, jangan lupa tinggalkan jejek dengan cara Vote, Like, dan Komen. Up 1x sehari sesuai arahan dari editor, jangan tanya crazy up🤧untuk minta kerangka untuk bab selanjutnya itu sulit. Please..pahami keadaan author ini😌jika tak suka, boleh di skip tanpa meninggalkan komentar jelek🥰🥰🥰