Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 199 ~ Pamer


__ADS_3

Setelah kepergian Ayu dan juga asisten Heri, membuat Kira tersenyum karena leluasa untuk mendapatkan perhatian. "Tidak baik melamun, minumlah kopinya selagi panas!" ucap dengan sangat lembut, tak lupa senyum manis di wajahnya yang selalu terukir secerah mungkin.


Farhan menghentikan lamunannya dan menganggukkan kepala, segera duduk di kursi kebanggaannya. Menyeruput secangkir kopi yang melegakan tenggorokan, membuatnya puas. "Terima kasih untuk kopinya."


"Tidak perlu mengucapkan kalimat itu, aku memahami pekerjaanmu yang sangat padat itu. Berinisiatif untuk membuatkan kopi untukmu, bagaimana rasanya? Apa terlalu manis atau pahit?"


Farhan tersenyum dan kembali menyeruput kopi buatan wanita yang berpura-pura menjadi gadis kecil, Kira. "Tidak, kopinya pas."


"Wah, aku tersanjung." 


"Hem." Farhan kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan yang sempat tertunda, tidak terlalu menanggapi wanita yang masih menatap dirinya.


Suasana hening seketika, ada suatu hal yang terdengar samar olehnya. "Aku tadi mendengar proyek baru yang kau berikan kepada Ayu, benar begitu?" ucapnya yang penuh harap, sangat antusias seakan mendapat lotre.


Farhan mendongakkan kepala beberapa detik. "Hem, itu benar." Sahutnya dan kembali bekerja.


"Apa aku boleh ikut serta, sepertinya menyenangkan."


"Itu bukan permainan, proyek baru untuk dijadikan tender."


"Kau mempercayainya? Maksudku, mempercayai Ayu dengan sepenuh hatimu."


Farhan menghentikan aktivitasnya dan fokus ke asal suara. "Memangnya kenapa? Dia sangat kompeten dan juga pintar dalam menyelesaikan masalah, jadi proyek itu sangat cocok dengannya." Jelasnya yang menekan, memberitahukan jika Ayu cocok menjalankan proyek.


"Sepertinya dia kurang bersemangat untuk itu."


"Apa maksudmu?" 


"Kau jangan tersinggung, aku bisa melihatnya sendiri, bagaimana pancaran mata yang dipenuhi begitu banyak beban. Aku kasihan kepadanya, dia wanita yang sangat kompeten dalam bekerja. Tapi, dia bukanlah robot yang selalu bekerja dan bekerja." 


"Apa maksudmu?" 


"Maksudku, jika ada tambahan orang lain pasti beban di pundaknya akan berkurang."


Farhan tampak berpikir mengenai perkataan Kira, dan merasa kasihan dengan Ayu yang terlalu bekerja bagaikan mesin. "Itu mudah, apa kau punya orang untuk direkomendasikan dalam proyek itu!"


Seketika kedua manik mata tersenyum cerah. "Itu maksudku, hanya saja aku tidak punya orang untuk rekomendasi. Aku baru mengenal mereka dan tidak mengetahui bagaimana mereka bekerja." Kira mengeluarkan jurus andalannya untuk membuat pria di hadapannya takluk, sangat mudah baginya berakting dengan wajah lugu juga lisan. 


"Aku akan minta asisten Heri mencarinya," gumam Farhan yang tak punya pilihan lain.


"Tidak, asisten Heri juga mempunyai begitu banyak pekerjaan. Bagaimana jika aku yang membantu Ayu dalam mengurus proyek itu?"


"Kau?" Farhan tampak ragu, tapi dia tak ingin jika Ayu bekerja terlalu keras.

__ADS_1


"Aku bisa, kau tidak perlu khawatir. Berikan aku sedikit kepercayaan saja, akan aku buktikan kepadamu."


"Baiklah, aku menyetujui kau untuk membantu Ayu dalam pengerjaan proyek dan jangan kecewakan aku."


"Aku tidak akan mengecewakanmu, hanya mempercayaiku saja itu lebih daripada cukup." Tak bisa dilukiskan bagaimana Kira sangat senang dan bersorak di dalam hati. "Hah, akhirnya Farhan menyetujuinya. Mulai sekarang, aku akan memantau Ayu." Gumamnya di dalam hati.


Kira berjalan mendekati Farhan dan memijat kedua bahu pria itu, mendekati hanya karena ingin berpartisipasi dalam proyek. "Kau tidak perlu cemas, aku bisa menanganinya. Akan aku buktikan dengan kerja kerasku, dan sedikit meringankan beban pikiran dari Ayu."


"Singkirkan tanganmu dari bahuku!" tekan Farhan yang kembali risih dengan tingkah Kira yang mencoba bermanjaan dengannya.


"Baiklah, tidak aku lakukan." Dengan cepat Kira menyingkirkan kedua tangannya. "Selesaikan pekerjaanmu, aku tidak akan mengganggunya. Terima kasih sudah memberikan kepercayaan kepadaku!" 


"Hem." Farhan mengangguk dan kembali fokus pada pekerjaannya, sementara Kira hampir loncat bersenang ria tapi menahannya.


"Aku permisi!" Kira segera berlalu keluar dari ruangan itu, betapa bahagianya dia begitu dengan mudah termakan bujukan darinya. "Hah, aku sangat bahagia. Sebaiknya aku menemui Ayu dan memamerkan hal ini, pasti dia sangat kesal. Aku suka melihat raut wajahnya yang kesal," gumamnya yang melangkahkan kaki menuju kantor departemen sekretaris untuk menemui rivalnya.


Setelah Farhan setuju dengan idenya, Kira berlari menghampiri Ayu dan ingin membuat wanita itu cemburu dengannya. Tak butuh waktu lama baginya bertemu dengan musuhnya, senyum indah selalu terukir di wajahnya dan tak luntur.


"Hai!" sapa Kira dengan lembut.


Ayu yang sedang bekerja terpaksa menghentikan pekerjaannya, menatap wanita di hadapan membuatnya jengah. "Oh kau, ada perlu apa?" tanyanya yang kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Ada yang ingin aku katakan padamu."


"Hem, katakan nanti saja. Aku sedang sibuk!" jawab Ayu bahwasanya dia tak ingin di ganggu.


"Ya, katakan! Aku masih bisa mendengarmu."


Jawab Ayu tanpa menoleh, karena perhatiannya berpusat pada laptop.


"Mulai sekarang, aku akan menjadi rekan satu tim mu dalam mengerjakan proyek baru itu." 


Seketika Ayu menghentikan aktivitasnya karena pembahasan kali ini sangat menarik. "Kau tahu apa yang sedang kau bicarakan?" tegasnya.


"Ya, Farhan telah mempercayaiku dalam membantumu mengerjakan proyek itu." 


"Hah? Itu tidak mungkin." Ayu mengerutkan dahinya karena tak mengerti jalan pikiran Farhan yang terlalu rumit baginya.


"Kenapa kau tidak tanyakan padanya? Farhan sudah mengambil keputusan dan kita akan menjadi satu tim, rekan!" 


Dengan cepat Ayu mengeluarkan ponselnya, ingin menghubungi Farhan dan ingin protes. 


"Halo."

__ADS_1


"Hem, ada apa?"


"Kenapa Kira menyatakan diri sebagai tim ku?" 


"Apa yang dia katakan memang benar, Kira akan membantumu dalam pekerjaan ini."


"Apa kau yakin dengan keputusan itu?" 


"Aku sangat yakin, biarkan dia bekerja dan membuktikan diri."


"Yakin? Dia hanya akan menghambat pekerjaan ku saja." 


"Dia sangat antusias untuk mengurangi bebanmu, biarkan dia membantu pekerjaan ringan saja!"


"Tapi aku__."


"Sudahlah, jalani saja."


Ayu memutuskan sambungan telepon karena sangat kesal dengan keputusan Farhan, sementara Kira tersenyum kemenangan. 


"Sepertinya kau sudah tahu, aku pergi dulu." 


Ayu menatap punggung Kira yang mulai menjauh, meletakkan ponselnya dengan kasar ke atas meja kerja seraya memegangi kepala yang terasa berdenyut. Sedikit marah dengan keputusan atasannya yang tidak masuk akal. "Farhan sangat keterlaluan, menaruh kepercayaan kepada wanita seperti Kira. Hah, ini akan terlihat sulit nanti!" batinnya berdecak kesal.


 


****


Dona, sang manajer akan kembali ke Paris. Hal itu membuat Ayu harus merelakan wanita itu pergi dan mengantarkannya. Di dalam mobil keduanya cukup sulit untuk berpisah, tapi tidak bisa karena pekerjaan yang harus di jalani.


"Aku sedih, kau akan pergi." Tutur Ayu yang cemberut.


"Aku pun begitu, tapi bagaimana lagi? Ini tuntutan pekerjaan."


"Hem, aku mengerti." 


Terdengar suara dering ponsel yang memecahkan suasana, dengan cepat Ayu mengangkat telepon dari Gabriel.


"Iya, halo."


"Hai, aku ingin mengundangmu ke acara ulang tahunku."


"Baiklah, aku akan datang."

__ADS_1


"Kau harus datang, karena kau tamu spesial ku."


"Baiklah."


__ADS_2