
Setelah sampai di pintu, Ayu menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Mengetuk pintu untuk mendapatkan izin terlebih dulu, setelah mendengar sahutan dari dalam ruangan, Ayu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan sang CEO.
Terlihat dengan jelas Farhan yang sedang duduk dengan tubuh tegak, melipat kedua kaki panjangnya ke depan dan menetap di luar jendela, entah apa yang ada di benaknya. Farhan terlihat sangat tampan dengan jas biru yang melekat di tubuhnya, meningkatkan nilai pesonanya. Seketika Fathan menoleh saat pintu terbuka, melihat siapa yang datang.
"Ada apa Tuan memanggilku?" Ucap Ayu formal seraya menundukkan kepala, dia tak ingin menatap pria yang membuatnya moodnya berantakan.
"Duduklah!" Pinta Farhan, dengan cepat Ayu duduk dan masih mengalihkan pandangannya.
"Kemana kau pergi? Dan bahkan kau tidak meminta cuti dariku?!" Farhan menatap wanita cantik di depannya dengan mengintrogasi layaknya seorang polisi.
"Aku pergi ke Cafe membicarakan mengenai sampel proyek bersama dengan tuan Raymond." Jawab Ayu jujur tanpa menatap mata bosnya.
"Benarkah? Dengan cara tidak meminta izin dariku?" Selidik Farhan yang hanya ingin mencari-cari kesalahan dari sekretaris barunya itu.
"Tidak juga, saat itu aku tidak menemukan Tuan di ruangan dan juga ponsel yang tidak aktif saat aku ingin menghubungimu." Jawab Ayu dengan santai.
"Apa kau hanya mencari alasan saja?"
"Aku mengatakan yang sebenarnya, tanyakan saja pada asisten Heri, jika Tuan tidak mempercayaiku. Jika perlu melihat rekaman Cctv di hari itu!"
"Akan aku tanyakan kepada asisten Heri, tapi dimana sampel yang telah kau buat itu? Dan apa reaksi dari tuan Raymond?" Tanya Farhan dengan penuh selidik.
Ayu mengeluarkan sampel dan memperlihatkan pada bosnya, Farhan mengambil sampel untuk melihat desain unik yang dibuat oleh sekretaris barunya. "Lumayan! Ceritakan bagaimana tanggapan dari tuan Raymond?!" Tukas Farhan yang masih melihat desain indah di tangannya.
"Tuan Raymond sangat puas dengan desain itu dan segera ingin meluncurkannya." Sahut Ayu yang lugas.
"Hem, bagus."
"Jika tidak ada pertanyaan, sebaiknya aku keluar dari ruangan ini." Terang Ayu yang tak ingin berlama-lama disana.
__ADS_1
"Kenapa kau terburu-buru, masih ada pertanyaanku yang harus kau jawab?!" Tekan Farhan yang tersenyum samar.
"Tanyakan saja!"
"Aku sudah mendengar mengenai brand ambassador, tapi aku ingin mendengar langsung darimu."
"Seperti yang Tuan ketahui, jika brand ambassador kali ini adalah Gabriel."
"Ternyata benar, kau mencarinya untuk brand ambassador kali ini." Ucap Farhan dingin dengan tatapan tajam, menggertakkan gigi, mengeraskan rahang, dan juga mengepalkan tangannya dengan erat. Dia sangat marah mengetahui hal itu, setelah mendengar langsung dari mulut Ayu, semakin membuatnya marah.
"Itu benar." Sahut Ayu sekenanya, padahal Gabriel atas rekomendasi dari Raina, kekasihnya Raymond Arnold.
"Sekarang aku tahu apa niatmu?!" Tutur Farhan dingin, sementara Ayu mengerutkan kening karena tak mengerti apa yang dikatakan oleh pria tampan itu.
"Apa maksud Tuan?"
"Wajahmu di luar sangat polos, tapi di dalam kau sangatlah licik. Menggunakan hal semacam ini hanya untuk kepentingan pribadi!" Sindir Farhan yang menahan amarah.
"Apa kau masih tak mengerti? Menjadikan Gabriel sebagai kandidat brand ambassador hanya untuk kepentingan pribadi." Cibir Farhan.
"Kepentingan pribadi dan bekerja adalah dua hal yang berbeda, aku tidak akan melakukan hal itu maupun mencampur adukkan keduanya."
"Jadi, apa alasanmu memilih Gabriel sebagai brand ambassador?"
"Karena kelebihan dari Gabriel sangat cocok untuk brand ambassador." Bantah Ayu dengan ringan. "Jika tidak ada pertanyaan, aku pamit keluar!" Tutur Ayu yang ingin pergi dari ruangan itu, dia tak ingin berdebat apapun lagi dengan pria tampan yang menjelma sebagai bosnya serta calon tunangan.
"Apa kau yakin, alasannya hanya itu?" Ucap Farhan yang tak mempercayai Ayu.
"Begitulah, apa aku boleh pergi?" Ayu tersenyum paksa, berusaha untuk keluar dari ruangan itu dengan cepat.
__ADS_1
"Kau boleh pergi." Ujar Farhan yang membuat Ayu sangat senang. Ayu bergegas pergi dengan raut wajah yang bahagia, seakan dia baru saja keluar dari penjara. Tak ingin berlama-lama di dalam sana, dengan cepat bergegas pergi sebelum sang atasannya berubah pikiran. Ayu tersenyum tipis, dia sangat mengetahui niat Farhan yang hanya mempersulitnya dengan sebuah pertanyaan menjebak, untung saja dia bisa menjawab pertanyaan itu dengan sangat mudah.
Sementara Farhan menatap punggung Ayu yang mulai menghilang dari balik pintu, mengusap wajahnya dengan kasar akibat kesialannya. "Sial, dia wanita yang sangat pintar. Baru saja aku ingin menyudutkannya, tapi dia tidak memberiku celah untuk membuatnya terkena masalah." Umpat Farhan yang marah.
"Hah, syukur lah jika aku bisa keluar dari ruangan terkutuk itu. Pria itu sok berkuasa dan mencari masalah denganku!" Kesal Ayu yang berjalan menuju departemen sekretaris.
Hari ini, Ayu memutuskan untuk kerja lembur. Menyiapkan segala pekerjaannya hingga tuntas, tapi alasan sebenarnya adalah untuk menjauhi Farhan. Dia tak ingin menemui Farhan di Mansion, dan lebih memilih untuk berkutat di layar pipih yang ada di hadapannya.
Pikiran fokus dan tangan yang sibuk menggerakkan kursor, mengetik beberapa data di keyboard. Pekerjaan yang sebentar lagi akan selesai dikerjakan, hingga tatapan fokus terpecahkan saat ponselnya berdering. Ayu mengambil ponsel yang ada di atas meja, melihat siapa penelponnya kali ini dan mengangangkat sambungan telepon saat mengetahui peneleponnya.
"Halo."
"Bagaimana keadaanmu di sana?"
"Sangat buruk kek, aku tidak ingin tinggal di sini dan hentikan perjodohan konyol itu."
"Ada apa denganmu? Apa kau mengalami kesulitan di sana?"
"Benar, kakek tahu? Pria yang akan dijodohkan denganku sangatlah buruk, selalu mencari masalah dan memanfaatkan jabatan nya itu."
"Sabarlah sedikit, kau sendirilah yang menerima tantangan tiga bulan itu."
"Aku melakukannya karena ingin membatalkan perjodohan itu, kek. Aku sangat tersiksa di sini, pria arogan itu, maksudku adalah Farhan. Pria dengan wajah tembok itu selalu saja membuat aku kesal, sifatnya seperti bunglon yang mudah berubah-ubah dalam sekejap, bagaimana menurut kakek?"
"Kau harus sabar dengannya dan tetap rukun, kakek akan menutup teleponnya, jaga dirimu baik-baik. Jika ada masalah, kabari kakekmu ini?!"
"Hah, baiklah."
Ayu kembali meletakkan ponselnya di atas meja, mengusap wajahnya karena lega saat mengeluarkan semua unek-unek yang ada di benaknya saat menceritakan kekurangan Farhan kepada kakeknya. Ayu meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku, dia menoleh ke sekeliling dan sontak terkejut saat melihat Farhan yang sedang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Darimana dia datang?" Gumam Ayu yang terkejut.
Keduanya sangat terkejut dengan situasi itu, Ayu tak menyangka jika bahan obrolannya dengan si kakek ternyata mendengar semua keluhannya tadi. Mereka saling menatap satu sama lain dengan pikiran yang ada di benak masing-masing.