Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 204 ~ Berkumpulnya para rival


__ADS_3

Semua orang mendengar suara yang dapat mengalihkan arah pandangan, sebuah suara yang terdengar begitu nyaring. Terlihat seorang wanita cantik yang tak lain adalah pianis terkenal membuat para reporter dan wartawan juga mengerubungi nya bagaikan gula dan juga semut. 


Ayu terdiam, memikirkan apakah wanita yang akan menjadi saksi adalah teman atau lawan. "Aku tidak yakin jika wanita itu akan membelaku dan menjadi saksi. Apa yang dia inginkan, aku harus siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya." Gumamnya di dalam hati yang memandangi wanita itu beberapa saat.


Lain halnya dengan Vanya dan Jenni, mereka begitu tertarik dengan wanita yang menjadi saksi. Entah mengapa keduanya yakin, jika wanita itu akan membelanya. Apalagi tidak ada bukti yang condong ke arah mereka, membuat keduanya penuh percaya diri. 


"Sepertinya dia berpihak kepada kita," bisik Jenni.


"Entahlah, bisa saja dia membela wanita kampung itu." Sahut Vanya yang membalas dengan berbisik, dia sedikit ragu dan kembali memandang ulang untuk membuktikannya.


"Dasar konyol, lihatlah tatapannya pada wanita kampung itu, sinis dan juga dipenuhi dendam."


"Kau yakin?"


"Percaya padaku." Jawab Jenni yang tersenyum tipis.


Para reporter dan wartawan berlomba-lomba mendekatkan alat perekam suara mengarah pada wanita yang menjadi saksi dari pertikaian. "Apa anda melihatnya dengan sangat jelas?" 


"Ya, aku melihat apa yang terjadi saat itu, bahkan dengan sangat jelas. Aku dengar Cctv nya tidak bekerja dengan baik, tapi aku berada tak jauh dari perdebatan ketiga wanita itu." Jelas Yuna selaku saksi.


"Bagaimana kejadian sesungguhnya?" tanya salah satu reporter yang mulai mengajukan serentetan pertanyaan.


"Aku melihat bagaimana nona Jenni memperlihatkan gaun indahnya dengan harga yang sangat mahal, dari tatapan nona Ayu mengarah pada ketidaksukaan. Aku mendengar jika wanita itu pergi dan menerobos, nona Vanya datang dan menghentikan wanita itu itu. Ketiganya mulai adu mulut, hal itulah yang membuat si tersangka saat ini dengan sengaja merusak gaun nan indah." Terang Yuna yang melirik musuhnya dengan sinis. "Inilah akibatnya jika berani mendekati Gabriel ku." Batinnya yang sangat puas. 


Seketika Vanya dan Jenni tersenyum mengembang, di mana bukti yang tidak bisa membela rival mereka. "Kalian sudah dengar apa yang terjadi, dan menyimpulkannya."

__ADS_1


Para reporter itu manggut-manggut kepala, mereka menerima keterangan dari saksi. Sedangkan Ayu tak berkedip mendengar kesaksian yang akan menyudutkannya, namun berusaha untuk menahan emosi ingin menampar ketiga wanita itu. "Jadi wanita itu hanya memperparah situasi, dan memberatkan kepadaku. Ada masalah apa wanita itu denganku?" batinnya yang mencari jawaban, berpikir mengenai kesalahan apa diperbuatnya pada Yuna.


"Perselisihan antara nona Jenni dan nona Ayu yang berakibat rusaknya gaun itu, aku telah menjelaskan segalanya dan kalian bisa menilai dari apa yang aku terangkan walaupun tidak ada CCTV, tetapi aku sebagai saksi bisa membuktikan semuanya melihat dengan apa yang sebenarnya terjadi dari jarak yang cukup dekat."


Seketika Ayu diam, saat reporter mulai menatapnya dengan pandangan tak suka, berpikir jika apa yang dikatakan oleh Yuna memang benar adanya. "Mereka hanya melihat dan mendengar dari wanita itu, dan tidak bisa dipercaya. Apa masalahnya denganku? Padahal aku tidak membuat kesalahan padanya, tapi dia sudah bersekongkol dengan Vanya dan juga Jenni untuk melawanku. Hah, nasibku sungguh miris sekali." Gumamnya seraya menghela nafas dengan jengah.


"Apa yang membuat kalian bertengkar? Apa ini masalah percintaan?" tanya salah satu reporter yang mewakili reporter lainnya.


"Untuk apa aku menjelaskannya, bahkan kalian mempercayai hanya satu pihak saja dengan kesaksian dari satu orang, dan bahkan Cctv juga tidak bisa merekam apa yang terjadi saat itu tapi bukan berarti aku bersalah." 


"Kau hanya perlu mengakui kesalahan mu, dan meminta maaf di hadapanku. Aku tidak akan menghakimi hanya dengan meminta maaf saja." Tutur Jenni yang tersenyum miring.


"Aku tidak akan meminta maaf dengan apa yang terjadi saat ini."


"Sudah bersalah kau juga wanita angkuh, turunkan sedikit egomu dan minta maaflah padaku." Ketus Jenni menghakimi. 


Tak lama kemudian, Farhan muncul membuat kehebohan para wartawan dan juga reporter di tempat itu, mereka segera mengepung dan mengarahkan alat perekam suara mewawancarainya. "Apa yang membuat anda datang ke sini, dengan membawa nona kira?" 


"Kalian pasangan yang serasi, apa benar jika nona Ayu hanya pelampiasan saja?"


"Siapa yang anda cintai dari ketiga wanita cantik di dekat anda?" 


Kira tersenyum dengan cerah, melihat situasi yang mempertanyakan hubungannya dan pria di sebelah. Dia sangat yakin, jika dirinyalah yang menang dari antara dua wanita lainnya. 


Lain halnya dengan Vanya yang sangat kesal dengan kedatangan rival yang bertambah. 

__ADS_1


sedangkan Ayu tampak murung, melihat dengan jelas kedekatan yang tak ingin melihatnya. 


"Dia datang bersama Farhan? Tapi apa dayaku, Kira yang selalu di hatinya. Sedangkan aku?" begitulah yang dipikirkan Ayu yang sangat kecewa, tidak ingin mendengar masalah percintaannya yang begitu buruk.


"Apa anda berusaha untuk menjadi perebut dan berusaha mendapatkan tuan Farhan?" tanya salah satu reporter kepada Ayu.


"Apa Anda berniat untuk menjadi penghalang cinta tuan Farhan dan juga nona Kira?" 


"Apakah anda mengincar tuan Farhan karena dia orang yang terpandang di kota ini, dan juga kaya? Aku dengar anda dari kampung dan juga miskin."


Semua orang mulai mempertanyakannya, menekan Ayu selangkah demi selangkah untuk mendapatkan kepuasan pribadi, terutama Vanya dan juga Kira. Mereka sama-sama ingin bersaing untuk mendapatkan pria tampan seperti Farhan, yang menjadi tujuan tersendiri. 


"Kenapa kalian selalu membesar-besarkan masalah, yang hanya sepele saja. Bisakah kita membicarakan inti dari permasalahan yang terjadi?" tekan Ayu yang menatap semua orang dengan secara bergantian, lalu memusatkan perhatiannya kepada ketiga wanita yang Bahkan bertambah satu memusuhinya.


Vanya berjalan mendekati kelihatan pria tampan itu dan menggandeng tangannya, tak ingin kalah dari Kira yang menempel bagaikan seekor cicak, tatapan sengit dan menusuk mengarah pada wanita itu. "Wanita ini juga menjadi penghalang ku dengan Farhan." Batinnya.


Farhan hanya terdiam dan tidak ingin menjawab pertanyaan yang membuatnya tidak perlu menjelaskan, karena itu bersifat pribadi dan privasi. 


"Begini saja, walaupun tidak ada Cctv yang merekam kejadian itu tetapi aku masih sangat yakin jika ada yang masih tertinggal di sana. Bisakah mengambil keluar Cctv periode waktu tersebut?" pinta Ayu. 


"Itu tidak diperlukan, karena tidak adanya bukti yang akan kau dapatkan." Sela Vanya. 


"Kita lihat saja nanti!" yakin Ayu yang tak goyah. 


"Aku bisa membuktikannya, Ayu tidak bersalah!" ucap Farhan membela.

__ADS_1


   


__ADS_2