
Vanya mengeluarkan dompet di dalam tas kecilnya, mengambil sejumlah uang dan menyerahkannya kepada mantan ketua sekretaris. "Ini ambillah!" ucapnya.
"Untuk apa uang ini?" jawab Maudi yang mengerutkan kening karena penasaran.
"Kau ambil saja uang ini, aku sangat kasihan dengan nasibmu yang sangat malang." Ucap Vanya yang berpura-pura simpati.
Karena membutuhkan uang, Maudi mengambilnya tanpa ada rasa ragu, tersenyum saat melihat beberapa ikat uang berwarna merah ada di tangannya. "Astaga…uang ini sangat banyak, ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku," batinnya dengan tatapan semangat. "Terima kasih banyak, Nona Vanya sangat bermurah hati sekali!" ucap Maudi yang tersenyum cerah.
"Tentu saja, apa kau tidak ingin membalaskan perbuatan wanita itu?"
"Aku sangat ingin membalasnya, tapi apa dayaku yang hanya seorang pengangguran? Tidak mempunyai pekerjaan membuat aku tidak bisa berbuat apapun." Keluh Maudi yang menyandarkan punggungnya.
"Aku masih ada di sini dan akan membantumu."
"Benarkah?" seloroh Maudi yang sangat antusias.
"Hem. Aku juga tidak menyukainya, wajah wanita kampung itu terlihat sangat polos di luar. Tapi, di dalamnya sangatlah licik." Provokasi Vanya mengumbar kebencian di dalam hati Maudi.
"Aku kehilangan segalanya karena wanita itu," ujar Maudi dengan tatapan penuh kebencian, sedangkan Vanya tersenyum tipis karena sebentar lagi mantan ketua sekretaris berada di genggamannya.
"Ayu harus diberikan pelajaran, karena ulahnya membuatmu sangat menderita." Tekan Vanya yang terus mengompori wanita di sebelahnya.
"Nona memang benar, dia harus membayar lunas semua yang aku alami." Kebencian di hati Maudi mencapai tingkat tertinggi Kehilangan pekerjaan yang didambakan semua orang dan dimasukkan kedalam daftar hitam membuatnya hampir seperti seorang gembel. Kedua tangan yang dikepalkan dengan sempurna, tatapan penuh kemarahan dan rasa benci yang menjalar di seluruh tubuhnya, desiran kebencian kian bergejolak membutakan mata hatinya.
"Itu bagus dan aku mendukungmu."
__ADS_1
"Aku tidak sabar melihat Ayu mati di tanganku," gumamnya seraya tertawa mengerikan, membayangkan jika hal itu segera terlaksanakan dan membuat hatinya puas.
"Bagus! Dengan begini aku tidak perlu mengotori tanganku, biarkan saja mantan ketua sekretaris bodoh itu yang melakukannya. Ini pasti sangat seru!" batin Vanya yang juga tersenyum.
"Sepertinya aku harus pergi, terima kasih uang nya." Maudi berdiri seraya memperlihatkan uang yang ada di tangannya ke atas, dia sangat bahagia karena kehidupannya sebentar lagi berubah setelah membalaskan dendam. Berlalu pergi meninggalkan tempat itu, mulai menyusun rencana untuk melenyapkan Ayu.
Vanya melihat punggung Maudi yang menghilang dari pandangan, mengeluarkan ponsel dari tas kecil dan mulai mencari nomor kontak yang ingin di kirim pesan singkat.
"Aku mengundangmu untuk pertunjukan yang sangat luar biasa, kau hadirlah di syuting jam sembilan besok. Aku ingin kau melihat langsung drama itu di sana!"
Vanya tersenyum saat berhasil mengirim pesan singkat ke Laras, setelah itu memutuskan untuk menghubungi kedua sahabatnya dan berjalan-jalan terlebih dulu baru ke pusat perbelanjaan, membatalkan niatnya yang ingin ke butik, karena mood nya sangat bagus.
****
"Ini sangat seru!" ucap Clara yang melirik Vanya.
"Tentu saja." Sahu Vanya dengan angkuh. "Aku akan mengantar kalian kemana?" tanyanya.
"Ke rumah Jenni saja, aku ingin menginap di sana. Apa kau mau ikut?" tawar Clara yang melirik Vanya dengan sekilas mengendarai mobil.
"Hem, tidak. Sebaiknya aku pulang saja, lain kali saja." Tolak Vanya.
"Ya, terserah kau saja." Celetuk Jenni yang bergidik bahu.
Setelah mengantarkan Clara dan Jenni, Vanya memutuskan untuk pulang. Saat di sepanjang perjalanan, tak sengaja dia melihat mobil Farhan yang melintas di depannya. "Sepertinya itu mobil milik Farhan, dia mau kemana?" monolognya yang menyipitkan kedua mata melihat dengan seksama. Benar saja, itu terbukti saat dia melihat plat mobil yang sangat di kenal.
__ADS_1
"Aku harus mengikutinya." Vanya segera memutar arah dan mulai mengikuti kemana mobil itu pergi, karena tak ingin kehilangan jejak.
Farhan keluar dari mobil, naik keatas atap mobil dan memilih duduk disana. Menatap gelapnya langit dihiasi bintang-bintang berkelap-kelip yang sangat indah. Menghela nafas berat saat mengenang kepergian sang ayah yang membuatnya begitu terpukul.
Di saat itu, ayahnya melaut, bertemu dengan badai besar dan menghilang. Pencarian yang terus dilakukan tapi tak membuahkan hasil. Setelah tujuh hari, mayat ayah Farhan yang telah dingin, pucat pasi dan tak bernyawa muncul di tepi pantai.
"Aku sangat merindukanmu, Pa." Lirihnya pelan. Farhan terlihat sangat berbeda dari biasanya, menjadi tak berdaya dengan penderitaan yang dialami. Semua orang mengira jika kejadian kematian sang ayah karena kecelakaan biasa, tapi dia tidak percaya dengan semua itu.
"Papa bisa mengemudikan kapal dan bisa berenang hingga ke daratan pulau, tapi kenyataan ini membuatku semakin yakin. Jika ada seseorang yang ingin menjebak papa." Monolog Farhan ditemani dengan sebotol minuman di tangannya, berharap semua bebannya akan menghilang walau sekejap saja.
Tanpa menunggu, Farhan meneguk minuman yang ada di tangannya untuk menghilangkan beban pikirannya begitu dia memikirkan hal ini. Farhan sangat sedih, mengingat beban yang dipikul cukup berat. Tidak ada tempat untuk mencurahkan isi hatinya, selain menyimpan sendiri.
Farhan kembali meneguk minuman beberapa kali di dalam botol yang sedang dia pegang, rasa pusing di kepala tak di hiraukan. "Pa, kau tahu? Aku sudah mencari Kira di setiap sudut kota, dan tidak menemukannya. Di hatiku masih tersimpan namanya, tapi aku sangat dilema. Andai saja papa ada di sini!" Farhan terus mengoceh tanpa henti, mengeluarkan semua yang ada di hatinya.
"Di satu sisi ada Kira, dan di sisi lain ada Ayu. Aku sangat yakin, jika Ayu adalah gadis penyelamatku dulu. Papa tahu? Aku mulai menyukai sekretarisku itu, sifat dan sikapnya juga persis seperti Kira." Seketika Farhan tertawa renyah. "Sekretaris bodoh itu tidak bisa melakukan satu pekerjaan penting, tidak bisa mencari identitas Ayu yang sebenarnya." Racau Farhan yang berbicara sendiri.
Vanya menghentikan laju mobilnya saat melihat mobil yang dia ikuti tak berada jauh, menyipitkan kedua matanya melihat Farhan yang tengah duduk di atas mobil. "Apa yang sedang dia lakukan?" gumamnya dan memutuskan untuk turun dari mobil.
Melangkahkan kakinya menghampiri pria tampan itu. "Turunlah dari sana, kau sedang apa?" ucap Vanya yang sedikit berteriak.
Farhan menoleh dan tertawa, melompat dari atas yang sekarang berhadapan dengan wanita itu. Vanya sangat terkejut melihat kondisi Farhan yang mabuk berat, dan dia membantu pria itu agar tidak terjatuh. "Kau mabuk?"
"Tidak, aku hanya menghilangkan beban saja." Sahut Farhan enteng sembari menatap wajah Vanya dengan seksama. "Kira, kau kah itu?" lirihnya pelan.
"Benar, aku Kira. Ayo kita pulang, aku akan membantumu!" sahut Vanya yang berpura-pura menjadi gadis kecil penyelamat Farhan dulu. Memapah pria itu dan memasukkannya ke dalam mobil, membawanya untuk pulang ke rumah.
__ADS_1