
Ayu bisa melihat bagaimana Farhan memegang kedua tangannya, pandangan sendu yang menatap wajahnya menyiratkan suatu perasaan di hati, mengatakan jika pria itu sangat tersiksa kerinduan yang mendalam. Karena sedikit kecewa, dia memutuskan untuk tidak menghiraukan dan memilih membuang wajah.
"Apa kau hanya menemuiku mengenai masalah kantor saja?"
Ayu memaksa untuk menatap lawan bicaranya, sejujurnya enggan. "Ini kantor, tentu aku membahas masalah pekerjaan."
Farhan ingin memeluk tubuh yang terlihat mungil di hadapannya, melepaskan rasa kerinduan. Guratan kesedihan menyelimutinya di saat Ayu memundurkan langkah, bisa melihat raut wajah cantik itu tidak menerima aksinya.
"Jaga batasanmu!" Ayu berkata dingin dan datar.
"Tapi aku__."
"Aku pamit!" sela Ayu yang memotong perkataan bosnya, lebih baik meninggalkan tempat itu secepatnya dan tidak mengharapkan lebih dari pria plin-plan.
"Tunggu!" Farhan mengejar Ayu, dengan cepat menutup pintu ruangan dan menyisakan keduanya yang saling menatap lekat.
"Aku tidak punya banyak waktu."
"Kau mau kemana? Ini masalah kita, luangkan waktumu sedikit untukku!" pinta Farhan dengan dua manik mata berbinar penuh harapan, ingin sekali menyelesaikan kesalahpahaman mereka.
"Lain kali saja, masih banyak pekerjaan yang tertunda. Ini kantor, bersikaplah sebagai atasan juga bawahan sepertiku."
"Lupakan itu, sebentar saja." Bujuk Farhan.
"Aku sibuk, di sore hari aku akan ke rumah sakit menjalankan pengobatan kakek menggunakan akupuntur. Bicarakan jika aku tidak sibuk!" Ayu merasa sesak jika berada di hadapan pria itu, dia tak ingin luluh dengan mudah saat Farhan tak menghargainya dan lebih memilih Kira, lebih tepatnya wanita palsu dari masa lalu.
"Hanya sebentar saja, berikan aku waktu."
"Itu ide yang sangat buruk," Ayu melenggang keluar dari ruangan itu, ingin membuka pintu tapi terhalang oleh tangan kekar yang menahan dengan kuat. Melemparkan tatapan sinis juga menusuk, dia tidak mood untuk berurusan dengan pria tampan di hadapannya.
__ADS_1
Farhan mengambil kesempatan di saat wanita itu lengah, menarik tangan hingga menabrak dadanya yang bidang. Menghamburkan pelukan hangat darai sekretarisnya, tapi tak berlangsung lama saat Ayu memberontak ingin melepaskan diri.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" ketus Ayu dengan meninggikan suaranya, tatapan kesal bercampur marah.
"Aku sudah memintamu sedikit waktu saja, tapi kau menolaknya. Hanya cara ini yang terlintas di otakku!" Farhan memasang raut wajah polos dan tidak bersalah, ingin rasanya Ayu membenturkan kepalanya.
"Kenapa kau selalu melakukan kehendakmu, lepaskan aku!"
Farhan semakin mengeratkan pelukan itu dan merasakan aroma yang dirindukan, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ayu. Pelukan yang terjadi beberapa saat dan kemudian terlepas, dengan cepat memegang kedua bahu, menatap lekat mata indah yang tersuguh di hadapannya. "Ada yang ingin aku katakan padamu, ini mengenai Gabriel."
Hati Ayu sedikit melunak, penasaran apa yang akan dikatakan oleh pria tampan itu. Sedangkan Farhan malah salah tanggap mengenai sikap sekretarisnya yang tidak lagi meronta saat nama Gabriel dibicarakan. "Jauhi pria itu!"
Rasa penasaran berubah tersenyum kecut, hatinya dongkol tak bisa dilukiskan. "Apa maksudmu?"
"Gabriel sudah mempunyai tunangan, jangan mencari masalah dengan wanita sang pianis itu." Farhan mencoba untuk memberikan pengertian agar mantan calon tunangannya mengerti akan situasi terjadi.
"Gabriel memintaku untuk menjauh dari Farhan karena Kira, dan sekarang malah sebaliknya terjadi karena Yuna. Hah, hidupku di penuhi banyaknya benalu dan juga duri. Kapan aku bisa merasa damai?" batinnya yang berteriak. "Tidak ada urusannya denganmu!"
"Kenapa para pria sama saja? Kau ataupun Gabriel sama saja." Amarah Ayu tak bisa terbendung lagi, dirinya bukanlah anak kecil yang mudah di hasut.
"Aku mohon agar kau menjauh dari Gabriel!" pintanya yang takut kehilangan wanita itu, bertindak egois bukanlah suatu kejahatan baginya.
"Berhenti mengatur hidupku, terserah aku mau dekat dengan siapa. Apa kau cemburu, hah?" tatapan tajam terus menatap netra elang di hadapannya, memperlihatkan rasa tertekan dari dua orang pria. "Kau menyukai Kira, dan bahkan mencarinya. Aku bukanlah pengganti siapapun, berhentilah dan jangan mengurusi masalahku."
"Kau tidak akan mengerti, pria itu sudah mempunyai tunangan. Jangan merusak hubungan orang lain!" jelas Farhan yang tak ingin sekretarisnya terjerumus.
Seketika Ayu tertawa, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri yang tidak ada harga di mata pria itu. Nasibnya yang malang karena terjerat akan cinta Farhan, rasa cinta yang selalu mengujinya dengan kehadiran masa lalu menghantui bagai momok yang menakutkan. Tidak akan lama lagi, kebenaran dari Kira akan segera diungkap di hadapan semua orang. "Kau sangat lucu, cemburu dengan kedekatan ku dan Gabriel di saat bersama. Apa kau saja yang mempunyai perasaan? Aku juga wanita biasa, mempunyai rasa cemburu, tapi kau seakan buta dengan kehadiranku. Sekarang kau menjelaskan hal ini padaku?" sedikit merasakan kelegaan di hati, mengeluarkan seluruh unek-uneknya.
Farhan terdiam bagai patung, hal itu semakin membuat Ayu tersenyum miris dengan jalan cinta yang penuh ujian. Seakan hati yang sudah tak sanggup menambah beban, sedikit dukungan dari manajer memecut dan memberikan harapan. "Kau mengatakan cinta padaku, tapi Kira masih ada di antara kita. Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
__ADS_1
Farhan terdiam beberapa saat dan menatap Ayu dengan tatapan teduh. "Aku ingin mengejarmu dan juga cintamu kembali, ingin mendapatkanmu. Aku mencintaimu!" ungkapnya.
"Jangan mengatakan kata itu, kau sendiri tidak memahaminya dengan baik," Ayu kembali meringis dan ingin pergi, tapi dua tangan yang melingkar di pinggang membuatnya tak berkutik.
Ketika hubungan mereka akan mereda menjadi lebih baik, suara ketukan pintu yang terus berulang membuat suasana canggung. Terlihat seorang wanita yang mendobrak pintu karena tidak ada sahutan dari dalam ruangan, Kira melihat begitu dekatnya Ayu dan juga Farhan.
Wajah yang menghitam karena melihat keromantisan mereka, berjalan menghampiri dan menarik paksa tangan Ayu agar menjauh dari Farjan, dia tersenyum palsu dan berusaha mengontrol amarah di hati. "Ini kantor, tolong jaga sikapmu!"
Ayu melirik Farhan dan tersenyum miring. "Semua yang dikatakan olehnya hanya omong kosong, tidak berkutik dengan sikap kurang ajar Kira. Dasar egois!" batin nya mengumpat kesal.
"Aku terburu-buru, jadi maaf. Oh ya, kau ingin makan apa di malam hari? Aku akan memasaknya untukmu." Kira tersenyum manis mengalahkan gula, menawarkan Farhan dan melupakan keberadaan Ayu yang masih di sana.
"Tidak ada gunanya aku disini, Farhan juga tidak bisa diharapkan." Ayu segera berlalu pergi, hati yang tadinya mulai luluh tapi hancur saat pria itu hanya diam saja seperti tak terjadi apapun.
Farhan menyadari kesalahannya yang membiarkan Ayu pergi, balas budi membuatnya tak bisa melakukan apapun.
"Katakan, kau ingin makan apa nanti malam?" ulang Kira yang bersemangat.
"Tidak perlu, hari ini aku lembur. Pergilah dari sini, aku ingin kembali bekerja!"
Ayu mengeluarkan ponselnya, menghubungi hacker.
"Halo."
"Hem, aku butuh bantuanmu."
"Katakan saja."
"Selidiki Ceo dari perusahaan Sky Grup."
__ADS_1
"Baiklah, beri aku waktu."