
Ayu berusaha untuk memberontak, namun cengkraman dari Farhan tak bisa di imbangi oleh kekuatan yang dimiliknya. Pria itu menciumnya dengan paksa, melampiaskan dan mencurahkan seluruh perasaannya. Ciuman kasar penuh pemaksaan, Farhan terus memainkan lidahnya di dalam mulutnya, mengabsen satu persatu gigi yang berderet rapi juga putih.
Farhan tersenyum samar saat wanita yang berada di dekatnya terbuai dengan permainannya, permainan kasar berubah menjadi sangat lembut. Segera dia memberikan ruang agar Ayu bisa bernafas beberapa detik, dan kemudian kembali berciuman.
Keduanya hanyut dalam permainan masing-masing, Ayu meletakkan kedua tangannya di atas bahu pria itu. Semakin membuat Farhan mendalami ciumannya.
Ciuman penuh gairah di antara keduanya, melampiaskan semua kejadian yang mereka hadapi, berbagai macam badai menggetarkan keduanya. Suasana hening yang terlihat romantis membuat mereka ikut terhenyu beberapa lama, mengingat semua kenangan yang pernah mereka lewati bersama.
Entah berapa lama keduanya berciuman, cukup lama melampiaskan dan merindukan satu sama lainnya. Beberapa saat kemudian, ciuman itu berakhir, Farhan menatap manik mata Ayu dengan sangat dalam, mengusap bekas air liurnya yang menempel di bibir bawah wanita itu menggunakan ibu jari.
Farhan tersenyum samar dan bahkan tidak di sadari oleh sekretarisnya, melihat bibir merah merekah yang sedikit membengkak akibat ulahnya sendiri. Kedekatan keduanya teganggu dengan suara seseorang yang membukakan pintu.
"Aargh" pekik Kira yang melihat keduanya sangat dekat, kedua matanya terbelalak kaget.
Menyadari adanya gangguan, Ayu refleks mendorong tubuh kekar itu agar menjauh darinya. Keduanya sangat terkejut dan melihat ke asal suara, sedangkan Kira memandang dua objek yang sangat dekat dan tak bisa mempercayai hal ini.
Farhan segera membenarkan jasnya, seakan dirinya dan sang sekretaris tertangkap basah. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, sedangkan Ayu membalas tatapan dari wanita yang memandangnya dengan sinis.
"Kenapa kau tidak mengetuk pintu dan malah berteriak?" kesal Ayu menatap Kira dengan menyipitkan kedua matanya.
"Aku pikir Farhan hanya seorang diri di ruangannya, dan aku ingin mengatakan hal yang penting."
__ADS_1
Ayu terdiam beberapa saat dan menatap Farhan sekilas. "Bahkan dia diam saja dan tidak mengatakan apapun," batinnya kecewa. "Tapi, walaupun begitu kau bisa mengetuk pintu terlebih dulu 'kan?"
"Apa dayaku? Karena aku terburu-buru." Jawab Kira dengan suara yang sangat lembut, sorot mata yang lembut tanpa merasa bersalah telah melakukan hal itu.
Ayu semakin muak dengan kondisinya sekarang, mengetahui jika Kira ratu dari segala ratu dalam berakting, mampu membuat orang di sekelilingnya termakan dan merasa simpati dengannya. "Bahkan wanita ini sangat licik dibandingkan Vanya, sangat pintar drama dengan wajahnya yang terlihat sangat polos." Gumamnya di dalam hati.
Farhan hanya terdiam dan menyaksikan dua wanita yang yang ada di hadapannya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menjelaskan situasi yang ada. Ayu menjadi jengkel saat Farhan terdiam saja, membuatnya sangat membenci hal ini. Menatap tajam pria itu dan menendang kaki dengan perlahan.
"Ketuk pintu sebelum kau masuk!" tegas Farhan yang menatap Kira dingin.
Seketika Kira menundukkan kepala, meneteskan air mata dengan sangat mudah. Kembali mengangkat wajahnya dan menatap pria tampan di dekatnya. "Aku hanya terlalu bersemangat ingin menemuimu, Farhan. Sungguh, aku tak bermaksud untuk mengganggu kalian!" jelasnya yang berpura-pura sedih.
Seketika Kira meremas ujung pakaiannya, sakit hati melihat kedekatan Ayu dan Farhan. Namun, dia tak menunjukkan ekspresinya di hadapan orang lain, berusaha untuk menetralkan emosi yang hampir saja tersulut akibat pancingan sang rival. "Kau tidak perlu tahu, aku hanya akan menyampaikan pesanku langsung kepada Farhan, BUKAN DIRIMU!" tekannya yang tersenyum tipis.
Ayu kembali melirik Farhan, mengharapkan pria itu membelanya. Namun, dia hanya bisa menghela nafas panjang saat pria yang diharapkan tak bisa diandalkan. "Sebaiknya aku pergi saja dari sini, tidak ada yang bisa diharapkan dari pria itu!" batinnya yang segera pergi dari tempat itu.
Kira tersenyum di dalam hatinya, kembali menatap Farhan dengan raut wajah sedihnya. "Sepertinya dia marah denganku, aku akan menjelaskan dan kembali meminta maaf!" selorohnya seraya bergegas pergi untuk menyusul Ayu setelah mendapatkan anggukan kepala dari pria itu.
Ayu menuju pintu lift dan ingin masuk ke dalam, namun tangannya ditarik paksa. "Kau?"
"Hai, kenapa kau pergi berburu-buru?"
__ADS_1
Ayu menghempaskan tangan yang berniat menghalanginya, menatap wanita itu dingin. "Apa yang kau inginkan?"
"Aku telah kembali, cinta pertama Farhan yang sebentar lagi akan bersatu. Aku tahu kau sangat sedih dengan hal ini, namun apa boleh buat? Jika kami telah berjanji akan menikah. Wanita yang sangat malang, keputusanmu yang tersebar di internet sudah tepat, memutuskan hubungan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan memanglah menyakitkan. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu," jelasnya dengan wajah yang sangat bersimpati.
Ayu menghela nafas dengan jengah, tak menggubris perkataan wanita itu. Kira semakin kesal, kembali menarik tangan rivalnya dengan sangat kuat membuat sang empunya meringis.
"Aku peringatkan sekali lagi, jauhi Farhan! Dia adalah calon suamiku, dan kau hanya mantan calon tunangannya. Sungguh, kau wanita yang sangat menyedihkan!" Kira menunjuk wajah Ayu dengan perkataan kasarnya.
"Apa kau sudah selesai?" ucap Ayu yang menoleh dengan sekilas dan kembali menatap lurus.
"Aku peringatkan sekali lagi, jauhi Farhan! Karena dia hanya milikku. Kau tahu? Jika saat dewasa nanti, kami sudah berjanji untuk menikah dan membangun rumah tangga bersama. Kau tidak punya kesempatan lagi, hatinya hanya untuk diriku. Terima kasih, karena kau sudah menjaganya dengan sangat baik."
Ayu tampak tak peduli, namun di hatinya merasa sangat sedih. "Apa yang dikatakan olehnya memang benar, karena di hati Farhan hanya ada nama Kira saja." Batinnya yang berpura-pura tegar.
Kira tersenyum licik saat melihat kedatangan Farhan yang menghampiri mereka. "Ini kesempatanku!" gumamnya di dalam hati. "Aku sudah meminta maaf, sepertinya kau tidak memaafkanku. Tolong maafkan aku!" ucapnya yang merangsang Ayu.
Seketika Ayu mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan maksud dari wanita yang berjalan mendekatinya. Tiba-tiba Kira memegang kedua tangannya dan terjatuh ke lantai, semakin membuatnya bingung. Seolah-olah dialah yang menjatuhkan wanita itu dengan sangat kejam.
Adegan yang di nantikan oleh Kira akhirnya terlaksanakan dengan sangat baik, dan kebetulan Farhan melihat hal itu.
Kira menatap wajah Ayu dengan air mata palsu untuk mendapatkan dukungan Farhan, agar pria itu membela dirinya. "Kenapa kau tega melakukan ini padaku?" ucapnya dengan sedih berlinang air mata.
__ADS_1