Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
S2 ~ Abimanyu, Aditya, dan Flo


__ADS_3

Ayu dan Farhan begitu bahagia, dikaruniai tiga orang anak yang tampan dan juga cantik. Buah hati yang membuahkan hasil, mendapatkan hadiah dari sang pencipta dengan menitipkan ketiga bayi kembar yang sangat menggemaskan. 


Ayu menyusui anaknya secara bergantian, tidak membiarkan anak-anaknya lapar dan juga kekurangan Asi. Senyum tulus di saat mengusap pipi yang sangat lembut, perjuangannya berbuah dengan manis. Kini keluarga mereka menjadi lengkap, kebahagiaan dan rasa cinta menjadikan mereka bersyukur. 


Farhan juga tersenyum mengamati ketiga bayi kembarnya menikmati Asi, sedikit ada rasa cemburu. "Mereka sangat lahap sekali minum Asi," celetuknya sembari menelan saliva dengan susah payah.


"Tentu saja, mereka anak-anak ku dan tidak aku biarkan mereka lapar. Tapi, mengapa wajahmu tampak mesum? Kau cemburu dengan anak kita?" jawab Ayu yang diam-diam mengamati suaminya, mengintrogasi layaknya seorang polisi dengan menyipitkan kedua matanya.


Farhan menggaruk kepalanya, cengengesan saat sang istri mengetahui pola pikir mesumnya. "Tidak, aku hanya ingin memastikan jika mereka minum Asi sesuai porsi." Elaknya.


"Sudahlah, tidak perlu mengelak. Aku sangat tahu jalan pikiranmu yang menuju bawah pusar," sarkas Ayu memelototi suaminya. "Oh ya, aku hampir lupa. Selama beberapa minggu kedepan, aku tidak bisa melayani hasrat dan juga gairah mu itu. Ku harap kau mengerti!" Jelasnya. 


Deg


Sakit tak berdarah, merasakan waktu mundur secara perlahan. Dia sangat shock jika tak mendapatkan jatah, meneguk saliva dengan susah payah seakan tersangkut di tenggorokan. "Sayang, bukankah itu terlalu lama?" ucapnya yang ingin protes.


"Apa gairah mu itu lebih penting dibandingkan aku?"


Farhan terdiam seketika, dia tak ingin merusak kondisi istrinya menuju tahap pemulihan. Seketika dia mengingat perjuangan Ayu yang mempertaruhkan nyawa demi melahirkan anak-anaknya. "Baiklah, aku akan mencoba berpuasa." Pasrahnya yang meringis di dalam hati. 


"Hah, aku lupa. Apa kau sudah menyiapkan nama untuk anak-anak kita?" Ayu menatap suaminya dengan antusias, dia belum menyiapkan nama untuk buah hati tercinta.


"Tenang saja, Sayang. Aku sudah mempersiapkan segalanya," ujar Farhan yang menyombongkan dirinya, karena semenjak Ayu dinyatakan hamil dirinya sudah memikirkan nama seharian penuh. 


"Katakan!" desak Ayu yang menyerahkan kedua putra kembar kepada Farhan.


"Anak pertama ku beri nama Abimanyu Hendrawan, anak kedua bernama Aditya Hendrawan." 


"Abi dan Adit? Wah, itu nama yang bagus. Bagaimana dengan putri kita?" tanya Ayu menyukai nama itu.


"Tentu saja, aku bahkan memikirkannya seharian penuh. Untuk putri kita ku beri nama Flo Hendrawan," ungkap Farhan yang sengaja memberi nama anak bungsunya berawalan dari huruf F, sesuai namanya. 

__ADS_1


"Itu terdengar seperti nama pria."


"Tidak, itu nama yang unik. Apa kau punya nama lain yang berawalan F?"


Dengan cepat Ayu menggelengkan kepala, terpaksa menyetujui perkataan dari suaminya. Semua adil, kedua putra berawalan A seperti awalan namanya dan untuk putrinya akan berawalan F sesuai awalan nama Farhan. "Baiklah, aku setuju."


Setelah semua telah selesai, masuklah Hendrawan, Tirta, dan juga Leon ke dalam ruangan. Mereka sudah tidak sabar untuk menggendong ketiga bayi mungil yang selesai diberi Asi. 


Kedua kakek menggendong Abi dan juga Adit, sementara Leon lebih tertarik menggendong Flo. "Wah, dia sangat cantik dan juga imut. Aku akan menamainya Leona, seperti pamannya yang tampan ini," tuturnya. 


"Namanya Flo, bukan Leona!" ralat Farhan yang tak terima jika nama putrinya diubah oleh kakak ipar.


"Memangnya kenapa? Aku adalah pamannya, apa itu salah?" sahut Leon dengan santai.


"Tentu saja itu salah, dia adalah putriku. Jika kau ingin menemaninya maka menikahlah lebih dulu dan mempunyai anak sendiri. Aku sudah memberi namanya Flo," terang Farhan.


"Flo? Yang benar saja, mengapa kau memberi nama pria?" protes Leon.


"Hah, kenapa kalian berdebat. Hei kau! Jika dia ingin memberi nama Flo, tidak perlu protes. Sebaiknya kau menikah dan berikan aku cicit!" tukas Tirta yang membela cucu menantu dibandingkan dengan cucunya sendiri.


"Itu lagi? Sudahlah Kek, aku tidak ingin menikah. Jangan menyangkut pautkan masalah ini dengan pernikahan," keluh Leon yang merasa risih jika Tirta selalu saja mengungkit pernikahan.


"Apa kau ingin aku jodohkan?" ancam Tirta yang menatap Leon dengan tajam.


Leon tidak berdaya jika berdebat dengan Tirta, hal itu membuat Ayu tersenyum bahagia saat keluarganya kembali berkumpul. "Hah, Kakek selalu saja mengancamku itu-itu saja."


"Baiklah, akan aku atur perjodohan mu dengan sekretaris itu. Aku rasa dia sangat cocok, apalagi wanita itu juga baik." Tirta tersenyum menatap cucu bungsunya yang belum mau menikah.


"Wanita gila itu? Tidak, sepertinya itu ide yang sangat buruk. Aku tidak mencintai dan juga bukan tipeku," sombong Leon yang menyukai wanita seksi, dia tidak tertarik dengan sekretarisnya yang berpenampilan sederhana dan juga cupu.


"Kau sombong sekali," sela Farhan dengan tatapan miringnya.

__ADS_1


"Setidaknya aku bisa berkencan dengan beberapa wanita, tidak sepertimu. Aku dulunya berpikir, jika kau pria impoten." Jawab Leon yang membalas dengan telak.


"Sial, buktinya aku menghasilkan tiga bayi dan sudah di pastikan aku normal."


"Sudahlah, kenapa kalian selalu berdebat. Ini kabar membahagiakan, dan janganlah merusak hari baik ini." Ayu menengahi perdebatan Farhan dan juga Leon, dia sangat pusing jika suami dan kakaknya itu bagai air dan juga minyak.


****


Lima tahun kemudian..


Terdengar suara yang memekakkan telinga di pagi hari, untung saja kediaman Hendrawan sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Ya, hampir setiap hari Farhan di kerjai oleh Abi dan juga Adit, membuat suasana Mansion begitu riuh terdengar.


"Abi…Adit, jangan bersembunyi dari Papa. Keluar kalian," pekiknya yang mencari keberadaan putra-putranya.


Farhan terus mencari ke sudut ruangan dan memeriksanya tanpa terlewatkan, dia sangat kesal di saat wajahnya terdapat lukisan kapal dengan kerangka tak beraturan dan juga bulatan kecil seperti telur cicak memenuhi wajahnya, juga ada beberapa tempelan stiker memenuhi tangan dan juga kakinya. "Dimana kalian, hah?" pekiknya sembari bertolak pinggang.


Terdengar cekikikan tak jauh darinya, dan melihat dengan jelas ada dua pasang kaki di sebalik pintu. Farhan sangat bersemangat, namun nasib sialnya selalu saja menghampiri, bola-bola balon membasahi tubuhnya. Dia memejamkan mata dan juga pasrah. "Astaga…mereka selalu saja menyulitkan pagiku," gumamnya yang melihat dua anak laki-laki yang berlari menuruni tangga.


"Oh astaga…apa ini karena Abi dan juga Adit?" tanya Ayu yang membawakan handuk untuk suaminya, sedikit kesulitan untuk mengontrol ketiga anak-anaknya. 


"Siapa lagi jika bukan mereka, ini karena kakek dan juga Leon yang memanjakan mereka." 


Sementara disisi lain, dua anak laki-laki yang berlari tak sengaja menabrak seorang pria. "Paman!" sapa Adit yang memeluk Leon dengan erat.


"Halo Boy, ceritakan kejahilan apa yang kalian perbuat kali ini?" seakan Leon mengerti apa yang dilakukan oleh keponakannya itu.


"Seperti biasa, Paman. Papa selalu saja sibuk bekerja, dan melupakan janjinya. Sangat menyebalkan," tutur Abi yang cemberut.


"Masih ada Paman 'kan? Bersiaplah, Paman akan membawa kalian ke taman bermain. Dimana Flo?" Leon celingukan mencari keponakan perempuannya.


"Flo itu ratu tidur, tentu saja ada di kamarnya." Jawab Abi.

__ADS_1


__ADS_2