
Bukti nyata yang di perlihatkan oleh Ayu, semakin membuat Maudi mengelak, tak ingin mengakui kesalahan, mengatakan jika rekaman video itu hanya rekayasa belaka. Pernyataan itu berhasil menyita perhatian semua orang, terutama para reporter yang antusias mendapatkan kabar terbaik dan tak ingin menyia-nyiakannya.
"Bukti yang ditujukan itu terlihat real, bagaimana pendapat anda?" tanya reporter dengan antusias.
"Seperti yang aku katakan, jika video itu tidak asli, dengan memanfaatkan kecanggihan di zaman sekarang, tidak perlu diragukan lagi." Bantah Maudi yang keukeuh dengan tuduhannya.
"Dan aku sangat yakin jika seluruh masyarakat pintar dalam menanggapi video kebenaran mengenai dirimu," sela Ayu.
"Ck, tapi aku tidak percaya dengan bukti rekaman video itu. Apa kau hanya mempunyai bukti lain?" tantang Laras yang menatap musuhnya dengan sinis.
Tidak ada ekspresi yang ditunjukkan Ayu, semakin membuat Laras dan Maudi saling melirik. Mereka mengira jika wanita di sebelahnya kalah, tapi Ayu mengambil sesuatu dari tas kecilnya dan menjadi pusat perhatian semua orang. Terdapat catatan history penelusuran yang menunjukkan hasil bagaimana mendorong orang jatuh seakan-akan seperti kecelakaan.
Seketika Maudi berkeringat, berusaha mengontrol kegelisahannya dengan bukti kedua. "Situasi ku semakin terjepit!" batinnya yang tampak memikirkan sesuatu.
"Keringat di dahimu menunjukkan segalanya," ejek Ayu yang melihat raut wajah gelisah dari mantan ketua sekretaris.
"Tidak juga, di sini gerah. Apalagi berada tak jauh darimu!" sanggah Maudi.
"Bukti itu juga tak bisa menyalahkan Maudi," seloroh Laras yang ikut membantu. Mereka tetap membantah dan menanyakan keaslian video itu, bahkan catatan history penelusuran insiden itu juga di sanggah mentah-mentah. Kontroversi yang semakin rumit ditambah lagi dengan Maudi yang berpura-pura tenang menghadapi situasinya.
"Aku punya bukti lainnya," ucap Ayu dengan lantang membuat posisi Maudi jatuh. Siapa sangka, jika dia mempunyai bukti lainnya membuat semua orang tercengang, bahkan kedua wanita yang tadinya bersemangat dalam tuduhan palsu juga melongo tak percaya.
"Hentikan bicaramu yang besar juga mengada-ngada, aku sudah muak dengan pernyataanmu itu!" sarkas Laras ketus.
"Sebenarnya aku tidak banyak bicara, namun kalian selalu saja meracau layaknya burung beo dan memancingku." Ujar Ayu dengan ekspresi tenangnya, memegang kartu As di tangan membuatnya dengan mudah membongkar kenyataan dan kebusukan hati Maudi.
"Bisakah anda memperlihatkan bukti selanjutnya?" tanya reporter yang semakin tertarik dengan pertikaian ketiga wanita itu, bersemangat mengarahkan alat perekam suara dan menyiarkannya secara langsung.
Ayu memperlihatkan ponselnya, dengan sebuah rekaman baru untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Semua perhatian tertuju dengan benda pipih itu, bahkan para kru menyorotnya. Mereka sangat antusias melihat sebuah rekaman percakapan antara Maudi dan ibunya Lina.
"Kenapa kau bisa di pecat?"
__ADS_1
"Karena Ayu membuatku kehilangan segalanya," ucap Maudi yang menunduk sedih.
"Berusahalah mencari pekerjaan baru, dasar pemalas!
Jika kau terus menganggur, kita mau makan apa? Bahkan Ayahmu itu tidak bisa diandalkan." Keluh Lina yang mendengus kesal dengan nasibnya yang miskin.
"Aku sudah mencoba untuk mencoba mencari pekerjaan, tapi semua orang menolakku." Ucap Maudi yang di dalam rekaman ponsel Ayu, dia menghela nafas berat.
"Ibu di kejar-kejar rentenir akibat hutang ayahmu ada di mana-mana, dan sebentar lagi mereka akan menagih nya. Ibu sangat membenci situasi ini," ujar Lina yang memalingkan wajah.
"Jangan katakan jika ayah bermain judi lagi?"
"Itu sudah kebiasaan ayahmu, dia selalu mempersulit keadaan ekonomi keluarga." Keluh Lina.
"Aku juga tidak tahu! Ibu tahu sendiri, jika aku di pecat dan bahkan semua perusahaan menolakku akibat pria arogan itu." Maudi menatap ibunya, memikirkan nasib mempunyai ayah yang suka berhutang untuk bermain judi, hingga mereka terkena imbasnya dengan hutang selilit pinggang.
"Berpikirlah, Ibu tak ingin jika rentenir-rentenir itu mengejar dan terus menagih hutang. Itu sangat mengganggu!"
"Apa itu?" desak Lina yang menghampiri anaknya.
"Aku ingin membunuh Ayu agar bisa membantu ayah untuk membayar hutangnya!" Maudi dan Lina tersenyum smirk dan saling menatap penuh arti.
Setelah rekaman itu terhenti, semua reporter sangat terkejut dengan fakta baru dan penonton siaran langsung memarahi Maudi yang menjadi biang keladinya.
"Astaga…ternyata Maudi lah yang ingin membunuh."
"Sudah ku duga, karena bukti awal yang di berikan Ayu sudah menguak fakta sebenarnya. Tapi, wanita tak tahu diri itu terus menyalahkan Ayu." Sahut seorang wanita yang sangat kesal seraya perhatiannya tertuju kepada siaran langsung di televisi.
"Itu bagus, kelicikan di lawan dengan kecerdasan dan Maudi tidak bisa mengelak dari beberapa bukti yang ada."
"Dan pada akhirnya, kebenaran akan menjadi pemenangnya."
__ADS_1
Di tempat lokasi, Ayu tersenyum samar melihat video yang di berikan hacker sangat berguna dalam membalikkan keadaan. "Pekerjaan Hacker itu sangat bagus, membongkar kebusukan maudi untuk membersihkan namaku yang tercemar. " Batinnya yang sangat senang.
"Sial, bagaimana dia mendapatkan rekaman ku dengan ibu saat pembicaraan itu?" gumam Maudi yang mulai menebak mencari jalan.
"Maudi sangat bodoh, dia menghancurkan rencana yang berjalan dengan sangat baik." Geram Laras di dalam hatinya, mengeraskan rahang karena kebodohan dari mantan ketua sekretaris.
Sementara di tempat lain, Farhan tersenyum melihat layar komputernya. Mengingat cara Ayu yang mengungkap kejelekan dan keburukan dari Maudi, beserta menunjukkan bukti-buktinya supaya mantan ketua sekretaris tidak bisa bangkit lagi.
"Wanita tangguh dan juga mandiri, kepribadiannya membuat aku kagum. Bisa menyelesaikan masalahnya sendiri," gumam Farhan yang memantau rekaman Cctv.
"Bagaimana selanjutnya, Tuan?" tanya asisten Heri yang sedikit membungkukkan badan.
"Tunggulah beberapa saat lagi, aku masih ingin melihat hal yang sangat menarik ini!" jawab Farhan tanpa menoleh, lebih tertarik dengan layar komputer di hadapannya.
"Baiklah."
Di tempat kejadian, Maudi mempertahankan citra namanya agar tidak ternoda terus membantahnya. "Bukti-bukti itu tidak benar, aku di jebak!" teriaknya.
"Siapa yang menjebak siapa? Bukti ada di depan mata, beberapa video mengenai perbuatanmu." Ucap Ayu yang melirik tajam.
"Apa itu benar?" tanya reporter yang masih berada di sana, seketika pandangan mereka semakin yakin dengan Ayu yang hanya di jebak oleh Maudi yang saat itu memerlukan uang untuk membayar semua hutang sang ayah kalah berjudi.
"Itu semua bohong, dia berusaha menjebakku!" ucap Maudi yang berteriak, sedangkan Laras mulai mencemaskan dirinya.
"Situasi di luar kendali," gumam pelannya yang sedikit memundurkan langkah.
Tak lama, seorang pria tampan dengan setelan jas melekat di tubuhnya, berjalan menghampiri kerumunan itu. Mengarah mendekati Ayu dengan merengkuh pinggang langsing itu dengan mesra, sontak perhatian itu berhasil membuat semua orang sedikit terkejut.
"Apa kalian sudah selesai dengan wawancara ini? Sudah terlihat jelas siapa pelaku aslinya, yaitu Maudi." Bela Farhan. "Sudah cukup kalian mewawancarai calon istriku."
Melihat kedatangan Farhan dan mengklaim Ayu sebagai calon istrinya, membuat para penonton siaran langsung sangat senang.
__ADS_1