
Suasana semakin kacau, semua orang berdesakan melihat apa yang terjadi. Keadaan menjadi buruk saat terdengar suara mobil polisi yang juga ada di sana, menghampiri kerumunan untuk memeriksa apa yang terjadi.Beberapa polisi turun dari mobil, mendatangi Maudi yang tergeletak tak berdaya dengan wajah pucat dan bibir berwarna ungu.
Gabriel berusaha menenangkan Ayu yang semakin memburuk, memberikan rasa kenyamanan untuk bersandar. Dua orang polisi berjalan ke arah mereka, dan mulai melakukan penyelidikan. "Saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan mengenai kasus ini," ucap salah satu polisi yang menatap Gabriel dan Ayu secara bersamaan.
"Tanyakan saja!" Gabriel mengangguk dengan cepat.
"Begini, apa anda ada di saat kejadian itu terjadi?" tanya salah satu polisi dengan tatapan menyelidik.
"Tidak, aku datang di saat wanita itu sudah berada di dalam Danau." Ungkap Gabriel dengan jujur.
"Hem, apa kau melihat siapa saja yang ada di sana?"
"Tentu saja, aku melihat Ayu dan dua orang wanita lainnya. Aku hanya melihat mereka!"
"Apa kau yakin?" selidik sang polisi.
"Tentu saja."
"Apa kau yakin ini kasus berusaha untuk pelenyapan?"
"Entahlah, hanya saja__"
"Ini kasus percobaan pelenyapan seseorang dan aku saksinya!" sela Laras yang memotong perkataan Gabriel, berjalan dengan angkuh menghampiri polisi itu.
"Kau diamlah! Jangan memperkeruh suasana," cetus Gabriel yang kesal dengan wanita itu, menatap tajam Laras.
"Saksi?" ucap polisi yang menautkan kedua alisnya.
"Ya, wanita itulah yang mendorong mantan kedua sekretaris ke Danau." Laras menunjuk Ayu sembari menyeringai. Sedangkan yang ditunjuk hanya terdiam, memikirkan nasib Maudi yang sekarat.
"Apa masalahmu sebenarnya? Aku sangat yakin jika Ayu tidak akanmelakukan hal itu."
"Tapi keyakinan mu tidak akan berguna di hadapan polisi," cetus Laras yang melipat kedua tangan di depan dadanya dengan angkuh.
Gabriel semakin mendekap Ayu, membela sang pujaan hati. "Tutup mulutmu! kau hanya bisa meracau saja." Dengan cepat dia melepaskan dekapan, menatap Laras dengan sangat tajam.
"Sangat mencurigakan!" Polisi itu menatap Ayu dan Laras secara bergantian. "Bisakah kau menceritakan apa yang terjadi?" selidiknya menatap Ayu.
Ayu menghela nafas dalam, menguatkan dirinya dan mengembalikan semangat yang hampir pudah. "Saat itu aku sedang berjalan-jalan mencari lokasi syuting untuk mendukung akting dari brand ambassador. Tiba-tiba aku mendengar suara ranting pohon dan dengan cepat menoleh ke belakang dan menghindar dari Maudi yang ingin mendorongku." Jelasnya.
__ADS_1
"Ck, jangan membual. Sekali pembunuh tetap pembunuh!" sela Laras dengan ketus, sedangkan ketua sekretaris mencerna beberapa informasi yang dia dapatkan.
Ada tiga orang yang terus memberikan pertolongan pertama, menekan dada mantan ketua sekretaris untuk menyelamatkan wanita itu dari kematian. Hingga penyelamatan itu membuahkan hasil saat Maudi menyemburkan seteguk air dari dalam mulutnya. Suster itu tersenyum saat melihat harapan pasiennya.
"Pasien selamat!" ujar sang suster yang menginformasikan keadaan dokter.
"Itu bagus, beri penanganan khusus kepadanya!" titah dokter yang menangani Maudi.
"Baik, Dok!"
Situasi yang makin memanas saat Laras terus saja menuduh Ayu, hingga terhenti saat salah satu polisi menghampiri ketuanya yang sedang menyelidiki kedua wanita di hadapannya itu.
Polisi itu mengatakan bahwa kondisi Maudi baik-baik saja, membuat Ayu menghela nafas dengan lega. Rasa bersalah di hatinya sedikit demi sedikit menghilang.
"Syukurlah jika dia selamat, itu artinya aku bisa membuat laporan untuk membela diri dari si ulat pisang!" batin Ayu.
"Kenapa dia harus hidup? Seharusnya dia mati dan membuat wanita kampung itu masuk penjara, sial!" umpat Laras yang tidak menyukai kabar itu.
"Baiklah, kau boleh pergi!" titah ketua polisi seraya menarik perhatiannya ke wanita yang selalu terpojokkan. "Mohon kerjasamanya!"
"Aku tidak berbohong, mengatakan kejadian dengan sebenar-benarnya." Seloroh Ayu.
"Untung saja aku menghindar, tindakan Maudi di luar batas normal.Menggunakan pisau untuk mengancamku!"
"Pisau?"
"Itu benar!"
"Timku tidak menemukan pisau yang kau maksud."
"Itu karena dia hanya mengarang cerita saja, aku bukti dari tindakan kejahatan yang dia lakukan." Sela Laras.
"Jangan membela pembicaraan ini!" tegas Ayu.
"Anda tenang lah!" ujar ketua polisi melirik Laras beberapa detik saja membuat Laras terdiam. "Anda bisa melanjutkan nya!"
"Karena situasinya sangat buruk, Maudi ingin mengancam dengan sebilah pisau, melumpuhkan pergerakannya menggunakan teknik kuncian. Pisau itu terlepas dari genggaman nya dan aku membuangnya ke Danau." Jelas Ayu yang kembali mengingat kejadian tadi.
"Sudahlah, jangan membuat alasan karena kau yang berusaha mencelakai Maudi. Wanita malang itu terjebak dengan mulutmu yang manis itu. Ck, sangat menjijikkan!" sela Laras.
__ADS_1
"Apa kau ini mempunyai kebiasaan untuk menyela pembicaraan?" kesal Ayu.
"Aku berusaha membela kebenaran saja."
"Diamlah, berbicara saat aku memintanya!" tegas ketua polisi yang juga merasa risih dengan Laras. "Lalu? Bagaimana wanita itu bisa jatuh ke Danau, ceritakan segalanya."
"Saat itu terjadi pertarungan antara aku dan Maudi, dia terus menyerang tanpa ampun. Aku hanya mencoba untuk melindungi diriku."
"Benarkah? Tapi aku melihatmu mendorongnya hingga masuk ke Danau." Celetuk Laras yang masih menyela.
"Ya tuhan…suaramu membuatku sangat muak. Berhentilah!" Ayu mendengus kesal, menatap Laras dan mendelik.
"Kalian membuat penyelidikan ini tidak akan selesai hingga esok," cibir ketua polisi yang melirik Laras. "Baiklah, aku akan menanganinya dan mencatat semua laporan dari kalian."
"Hem."
****
Disisi lain Farhan terbangun, melihat sekeliling ruangan yang terasa asing baginya. Memegangi kedua kepala menggunakan kedua tangannya karena rasa sakit yang masih terasa, melihat jam dinding yang sudah lewat jam sepuluh malam. "Kepalaku masih sakit, tapi di mana aku sekarang?"
Setelah berpikir beberapa saat, menyadari jika dia berada di rumah Vanya. Terlihat jelas saat melihat beberapa foto yang menghiasi dinding terdapat banyak sekali foto dari sahabat masa kecilnya. "Kenapa aku sampai di sini?" gumamnya yang berusaha memahami situasi.
"Karena saat itu kau dalam keadaan mabuk," jawab seseorang yang tak lain adalah Vanya. Farhan mengalihkan perhatian ke asal suara, terkejut dengan kedatangan Vanya yang menghampirinya menggunakan piyama seksi dan sedikit tembus pandang.
"Ck, pakai pakaianmu dengan benar!" cibir Farhan.
"Apa? Kau bahkan melihat segalanya, sangat liar!" sahut Vanya dengan suara seksi dan menggoda.
Farhan mulai mengingat semua yang terjadi kemarin. "Jangan membohongiku lagi, hentikan sandiwaramu!" bentak Farhan dengan tatapan tajam dan membunuh bagai elang yang ingin memangsa target.
"Aku hanya membantumu, tapi kau malah melampiaskan nafsu padaku."
"CUKUP! aku tidak mungkin melakukan itu padamu." Bantah Farhan.
Vanya duduk di pinggir ranjang, menatap mata pria tampan itu dengan sendu dan nanar. "Bagaimana kau mengingatnya? Saat itu posisinya dalam keadaan mabuk berat."
"Aku bukan pria bodoh yang bisa kau tipu!" tegas Farhan yang membentak wanita itu. "Aku mengingat segalanya dan kau jangan mencoba untuk menjebakku!"
"Ba-bagaimana mungkin? Saat itu kau mabuk." Vanya sangat gugup, rencananya tak berjalan mulus untuk menjebak Farhan.
__ADS_1