Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 118 ~ Membuat Vanya cemburu


__ADS_3

Farhan menatap pria paruh baya itu, sangat kesal dengan sang ibu yang menjadi pelopor dalam ikut campur mengusir sekretaris yang bernama Ayu. "Kau tidak bisa mengusirku begitu saja," sentak Adi yang memberontak. 


"Akulah bosnya, mengatur siapa yang boleh masuk kesini atau tidak," tukas Farhan yang menatap tajam pria paruh baya itu. 


"Kau tidak bisa melakukanku seperti ini, aku paman mu!" protes Adi yang mendapatkan perlakuan kasar dari security, berusaha menggunakan kedudukannya yang sebagai seorang keponakan, anak angkat dari Hendrawan. 


Farhan sengaja tak memberi Adi peluang untuk mencari muka, mengetahui niat dari pria itu sangat tidak baik dan todak dapat di percaya. Dia tak ingin mengikuti saran dari pamannya untuk memecat Ayu dari pekerjaan, otak Adi yang sangat licik dapat dibaca olehnya, dengan cara mengkambing hitamkan sekretarisnya dengan tipu muslihat. 


Adi sedikit kesal dan berusaha untuk merebut hati keponakan nya, tidak ingin menimbulkan kesan buruk. "Kenapa kau cepat sekali marah, aku hanya pria tua dan tak akan melawan." Ucapnya dengan memelas, berusaha untuk mencair kan kemarahan dari pria muda itu. 


"Pergilah dari sini!" Farhan menatap pria itu dengan tajam, melirik kedua security yang bertugas dengan sebuah isyarat. 


"Lepaskan aku! Jika kau ingin mengusirku, maka baiklah, aku akan pergi dari ruangan mu." Adi yang memberontak membuat Farhan kembali melirik kedua security untuk melepaskan pamannya. 


Ayu berjalan menuju ruangannya dan mendesak penguji setempat untuk melakukan riset lebih jauh lagi mengenai permasalahan yang ada. "Kau uji sekali lagi, mungkin saja terjadi masalah," bujuknya yang memohon. 


"Aku sudah mengujinya berulang kali dan hasilnya tetap sama, berupaya untuk menguji perhiasan itu dan tidak ada masalah yang terdeteksi di perhiasan setelah diproduksi." Jelas sang penguji setempat dengan penuh keyakinan. 


"Bagaimana itu mungkin? Jika cabang pabrik yang ada di Perancis saja terdeteksi zat radioaktif, kenapa di sini seakan tak tercemar? Ini sangat mustahil," gumamnya tampak berpikir. Ayu kembali menatap orang itu dan tersenyum. "Baiklah, terima kasih mengenai laporan mu." 


"Sama-sama."


Ayu membawa sebuah laporan menuju ke ruangan milik Farhan, mengingat ada kejanggalan dalam memproduksi perhiasan hasil rancangannya. Di perjalanan, dia kembali berpapasan dengan Adi dan menyapanya dengan sangat sopan. "Ada perlu apa anda kesini?" tanyanya dengan penasaran. 


"Hanya mengunjungi bosmu saja."


"Hem, baiklah. Kalau begitu, sebaiknya aku masuk ke dalam."


"Baiklah, terserah kau saja. Aku juga ingin pergi!" celetuk Adi yang berlalu pergi, meninggalkan Ayu yang menatap punggungnya. Masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu dan mendapatkan izin dari sang atasan. "Bacalah dokumen ini!" 

__ADS_1


"Dokumen?" Farhan segera mengambil dokumen itu dan membukanya, membaca satu persatu lembaran kertas. 


"Bagaimana menurutmu?" tanya Ayu meminta pendapat. 


"Kenapa hasilnya sangat berbeda dengan cabang di Perancis?"


"Itulah yang tidak aku mengerti, penguji di daerah setempat mengatakan jika perhiasan yang di produksi itu bersih, tidak ada bahan berbahaya." Jelas Ayu yang sangat antusias. 


"Sangat mencurigakan, pasti seseorang atau banyak pihak yang berusaha untuk memonopoli hal ini."


"Entahlah, aku merasa begitu."


Farhan melirik sekretaris cantiknya, tersenyum saat melihat dengan jelas ekspresi dari Ayu. Meletakkan dokumen di sampingnya seraya tersenyum, setidaknya bebannya sedikit berkurang dengan adanya sang calon istri ikut andil dalam permasalahan yang terjadi.


"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Ayu dengan polos. 


"Sepertinya kau melupakan sesuatu!" ujar Farhan yang membuat Ayu seakan bermain tebak-tebakan. 


"Apa kau lupa, jika aku harus meminum obat flu?" jelas Farhan yang memberikan isyarat agar wanita di hadapannya kembali menyuapinya. 


Ayu mengerti maksud perkataan dari bosnya, menelepon seseorang untuk membawakan makanan dan juga air hangat. Tak beberapa lama, seseorang datang membawakan makanan untuk Farhan. "Apa aku harus menyuapimu?" tanyanya sedikit ragu. 


"Hem, cepat lakukan!" Farhan membuka mulutnya dengan lebar, menunggu suapan dari sang sekretaris cantiknya. Walau sedikit ragu, Ayu menganggukkan kepala dan mulai menyuapi bosnya dengan telaten.


"Kau ini sangat manja, kedua tanganmu masih menganggur dan malah memintaku untuk menyuapimu."


"Entahlah, rasanya sangat berbeda jika menyuapi makanan sendiri."


"Hah, terserah kau saja." Pasrah Ayu dan kembali menyuapu bayi besarnya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian, makanan habis tak bersisa membuat Ayu sangat senang, memberikan segelas air hangat tapi dihentikan oleh Farhan. 


"Aku tidak ingin bibirku melepuh minum air di dalam gelas itu."


"Apa kau tidak minum setelah makan?" cetus Ayu yang memaksa bosnya. 


"Periksa suhu minuman itu, jika sudah pas kau boleh memberikannya kepadaku."


"Aku kau ingin aku meminumnya?" ucap Ayu yang di anggukkan kepala oleh Farhan. Dia meneguk air di dalam gelas dan memastikan jika suhu airnya pas. "Airnya pas, tidak terlalu panas."


"Ya sudah, sini air minumnya! Aku sangat haus!" minta Farhan, dan segera minum di satu gelas yang sama tanpa merasa jijik sekalipun. 


Ayu merasa malu saat ciuman tak langsung terjadi padanya, membuat Farhan tersenyum tipis. "Ada apa di pipimu?" tanyanya. 


"Memangnya ada apa?" tanya Ayu yang sedikit terkejut seraya memegangi kedua pipinya. 


"Terlihat berwarna merah seperti tomat," goda Farhan yang tertawa saat berhasil membuat pipi dari sekretarisnya semakin memerah. 


Hal itu tak luput dari pandangan Vanya yang nyelonong masuk, dia sangat iri dengan kemesraan dan kedekatan dari pria yang dia sukai bersama dengan wanita kampung. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain, sangat kesal dengan situasi itu. 


Seketika Ayu mengingat saat Farhan dan Vanya berdansa, kembali membuat moodnya sangat buruk. Farhan segera bertindak, menarik tangan sekretaris yang ingin menjauh darinya. Hingga kaki Ayu tergelincir dan terjatuh di atas badan pria tampan itu, kedua pandangan yang saling bertemu semakin membuat Vanya tak suka. Farhan tak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan mencium bibir wanita di atasnya, bibir ranum milik sang sekretaris seakan menjadi candu baginya. Keduanya saling berciuman mesra, tanpa menghiraukan jika di sana masih ada orang lain. 


"Berani sekali wanita kampung itu mengambil kesempatan yang ada, akan aku beri dia pelajaran." Batinnya yang menahan amarah, segera mendekati mereka dan menarik tangan rivalnya dengan kasar. "Bagunlah, kau menimpa tubuh Farhan." 


Ayu terkejut dengan kedatangan Vanya, tapi tersenyum saat mendapatkan sebuah ide untuk membuat wanita itu cemburu. Segera dia berdiri dan membantu Farhan, dan memeluk tubuh kekar itu dengan erat. 


"Kapan kau datang? Kau jangan terkejut, kami memang suka seperti ini. Benarkan 'kan, Sayang?" ucap Ayu yang mencoba untuk memanasi Vanya. 


"Tentu saja," sahut Farhan yang mencium pucuk kepala dari wanita yang memeluknya. 

__ADS_1


"Sial, kenapa mereka semakin dekat." Batin Vanya yang sangat cemburu. 


    


__ADS_2