
Farhan meringis kesakitan saat Ayu tak sengaja menyentuh luka di tangannya, dengan refleks dia mengeluarkan suara merintih membuat wanita di sebelahnya menjadi bingung dan penasaran. "Aku mendengarmu meringis kesakitan," celetuk Ayu.
"Mungkin kau salah dengar!"
"Tidak mungkin aku salah dengar, aku mendengarnya dengan sangat jelas." Ayu merasa sangat aneh dengan suara itu.
"Lupakan saja!" Farhan berusaha untuk menghindar.
"Apa kau yakin tidak apa-apa?" tanya Ayu yang berusaha meyakinkan dirinya.
"Ya, aku baik-baik saja dan kau tidak perlu cemas." Jawab Farhan yang terus mengelak, tak ingin jika Ayu mengetahuinya.
"Ya sudah," pasrah Ayu yang tak ingin melanjutkan rasa penasarannya, apalagi pria itu telah menjelaskannya.
"Sebaiknya kita kembali melanjutkan tujuan untuk berenang ke pulau."
Wanita itu terdiam dan tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala menyetujui perkataan dari Farhan. Keduanya kembali berenang untuk sampai ke pulau kecil yang letaknya masih jauh dari pandangan. Menggerakkan tangan dan kaki untuk mendayung, mendorong tubuh melawan ombak.
Sambil berenang, Farhan melihat ke segala arah, mencari keberadaan kapal yang sedang lewat untuk meminta pertolongan. "Kenapa disini tidak ada kapal yang lewat?" batinnya kecewa, hanya mereka berdua di lautan itu. Ingatannya masa lalu kembali terlintas di pikirannya, saat sang ayah juga meninggal di laut. "Aku tak ingin mati disini, kami harus selamat. Apapun yang terjadi, karena ini adalah sumpahku!" tekad yang dimilikinya sangatlah besar, mempunyai harapan tinggi dengan berpikir optimis.
Tubuh yang mulai pegal, bahkan warna jingga dari langit dapat terasa oleh keduanya. Berenang hingga sore hari dan menggantungkan nasib kepada sang kuasa. Tanpa mengeluh, keduanya berjuang untuk tetap hidup. Namun, melihat gelombang air laut yang menghantam mereka sangat mencurigakan membuat Ayu merasa sangat heran. "Eh, ini gelombang apa?" gumamnya di dalam hati, karena tak memikirkan apapun, dia tak menghiraukannya.
"Ayu, berhenti di sana!" titah Farhan yang sedikit meninggikan suara memperingati wanita itu. Ayu segera berhenti, dia tidak mengetahui apapun. "Ada apa?" tanyanya yang mengerutkan kening.
"Cepat mundur!"
"Memangnya kenapa?"
"Gelombang yang menghantam kita disebabkan oleh seekor hiu."
"A-apa? Hiu?" sontak Ayu sangat terkejut, dia sangat takut jika sang penguasa predator itu mengoyak tubuh mereka dan tidak bisa pulang.
__ADS_1
"Kau jangan takut, cepat mundur!"
Ayu segera melakukan sesuai perintah, sedangkan Farhan terus memantau pergerakan Hiu yang semakin mendekat untuk menyerang mangsa. Dengan cepat dia melepaskan jaket pelindung dan mengikatnya di tubuh mungil itu.
"Farhan, apa yang kau lakukan?"
"Ini bisa membantumu, segera pergi dari sini. Kau harus selamat!"
Waktu seakan terhenti mendengarkan ucapan dari pria tampan yang selalu melindunginya, tak terasa bulir air mata menetes begitu saja. Farhan segera mengambil belati di dalam ransel yang masih melekat di punggungnya, dia sudah siap mengorbankan nyawa agar wanita dicintainya selamat tanpa tergores sedikitpun.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian saja, tidak!" seakan bibirnya bergetar, menolak permintaan yang tidak akan dipatuhi.
"Jangan keras kepala, cepat lakukan!"
"Tidak, biarkan aku membantumu."
Farhan terus menolak, namun Ayu bersikeras ingin membantunya menyerang predator laut itu bersama-sama. Karena pertahanan hidup yang sesungguhnya adalah bekerja sama. "Ck, kau wanita yang sangat keras kepala."
Hiu yang semakin dekat, mulai menyerang mangsa. Farhan tak tinggal diam, melayangkan belati untuk bertahan hidup. "Terus bergerak!" titahnya tegas.
"Baik."
Farhan bergulat dengan sang predator laut yang berukuran hampir tiga meter, keberanian nya tidak goyah sedikitpun. "Ini lah saatnya," gumamnya seraya menyerang hiu dengan mencari titik lemah. Melirik mata, insang, dan juga hidung, ketiganya adalah bagian sensitif dari ikan itu. Sedangkan Ayu juga membantu untuk menikam sang predator penguasa laut menggunakan kemampuannya.
Hiu menyeret tubuh Farhan menjauh darinya, Ayu bahkan mencoba untuk menyelam dan mencari keberadaan pria itu. Dia sangat panik dan juga gelisah, karena tidak tenang memutuskan untuk menyelam. "Farhan…Farhan, kau di mana?" pekiknya disertai tangisan.
Tak ada jawaban, Ayu mulai putus asa karena hari mulai gelap. "Farhan…tolong kembalilah! Aku membutuhkanmu!" pekiknya. Tangisannya terhenti saat melihat banyak darah, dan segera berenang untuk mencari keberadaan Farhan. Sontak kedua pupilnya membesar saat melihat tubuh yang mengapung di laut dan semakin membuatnya berenang dengan sangat cepat.
"Farhan…Farhan bangunlah! Buka kedua matamu, aku membutuhkan dirimu!" Ayu menepuk pipi pria itu, raut wajah yang ketakutan sangat jelas terlihat.
Farhan membuka kedua matanya dengan perlahan, tersenyum seraya mengusap kedua pipi wanita Ayu dengan sangat lembut. "Jangan mengkhawatirkan aku, aku masih hidup." Lirihnya.
__ADS_1
Seketika Ayu menghela nafas lega, dan tersenyum. Tapi kembali cemas dengan banyaknya darah yang menempel di tubuh calon tunangannya, mencuci bekas darah yang melekat di tubuh Farhan menggunakan air laut. Tak sengaja dia melihat luka di pergelangan tangan pria itu, tapi Farhan berusaha untuk menutupinya.
"Jangan menutupinya dariku, bagaimana kau mendapatkan luka di pergelangan tanganmu?" tanya Ayu dengan tatapan penuh menyelidik.
"Hanya luka kecil saja."
"Lukanya sangat dalam, jangan membohongiku. Cepat tunjukkan padaku!"
"Bukan apa-apa." Lirih Farhan yang merasakan bekas luka berdenyut membuatnya semakin kesakitan.
"Biarkan aku memeriksanya!"
"Tidak perlu, luka ini tidak sakit."
"Jangan keras kepala, Farhan Hendrawan!" Segera Ayu memeriksa pergelangan tangan pria itu dengan paksa. Di saat memeriksanya, Ayu merasa pesimis setelah melihat luka. "Lukanya cukup dalam, di tambah dengan air laut yang semakin membuatnya kesakitan." Gumamnya.
"Apa kau masih kuat untuk berenang sampai ke pulau?" Ayu sangat khawatir mengenai kondisi Farhan, apalagi tubuh pria itu menggigil dan demam.
"Aku akan mencobanya." Sahut Farhan yang sebenarnya tidak kuat untuk bertahan, karena kondisinya sangatlah buruk.
Ayu mengikatkan jaket pelampung di tubuh lemah itu, dan mengiring nya menuju pulau kecil dengan susah payah. Dia merasa kesulitan, saat Farhan tidak bisa berenang lebih jauh lagi dan memutuskan berhenti sejenak untuk memulihkan tenaga.
"Kau lanjutkan hingga ke tepian, aku hanya akan menjadi bebanmu saja. Sebaiknya kau pergi dan tinggalkan aku." Lirih Farhan.
"Kau sadar dengan apa yang kau katakan? Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, pulau itu tidak jauh. Bertahanlah hingga kita sampai ke bibir pantai!" tukas Ayu tak terima.
Tubuh Farhan semakin lemah, kondisinya yang sekarat tak mempunyai pilihan lain selain pasrah akan kematian yang menjemput. "Aku tidak bisa bertahan lagi, aku minta maaf."
"Hai, pria angkuh! Jika kau mengatakan sepatah kata lagi? Aku tidak akan berbicara padamu," ucap Ayu yang meninggikan suaranya dan mulai menangis.
"Maaf, aku tidak bisa lagi melindungimu." Lirih Farhan.
__ADS_1