Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 121 ~ Perancis


__ADS_3

Farhan menarik tangan Ayu untuk pergi meninggalkan tempat itu, mereka masuk ke dalam mobil. "Masuklah!" titahnya setelah membukakan pintu mobil. 


"Hem," jawab Ayu dan segera masuk ke dalam mobil, di ikuti oleh Farhan yang duduk di sebelah sekretarisnya. 


Kedua terdiam sejenak, hingga salah satu dari mereka membuka suara. "Mungkin keberadaanku tidak bisa diterima oleh semua orang, dan memilih untuk mundur." Ujar Ayu yang masih memikirkan perkataan Wina. 


"Apa maksudmu?" tanya Farhan yang menatap lawan bicaranya. 


Ayu juga menatap Farhan dengan penuh keyakinan, mengenai beban yang diterima selama ini. "Aku akan mengundurkan diri setelah dua bulan dan aku juga tak ingin membuatmu kesusahan lagi," jelasnya. 


"Apa maksudmu dengan mengatakan hal itu?" Farhan mengerutkan keningnya, terkejut dengan ucapan Ayu yang sangat berbeda. 


"Kau pasti mengetahui maksudku, ini sudah cukup! Aku tak ingin membuatmu dalam masalah lagi karena ku."


"Apa itu karena ucapan mama?" tebak Farhan. 


Ayu terdiam membuatnya semakin yakin jika penyebabnya adalah ibunya sendiri. 


"Aku berpikir hal yang sama, apa dikatakan oleh nyonya Wina benar adanya," ucap pelan Ayu seraya memalingkan wajah. 


Farhan patah hati setelah mendengarnya, kecewa yang menyelimuti perasaannya saat ini. Lidah seakan keluh untuk mengatakan sesuatu pada wanita itu. "Tolong, jangan katakan itu. Aku akan mengatur mama dengan sangat baik."


"Tidak, aku akan tetap pada keputusanku dan setelah masa perjodohan selesai? Anggap saja kita tak mengenal."


"Itu ide yang sangat buruk, aku tak akan melakukan hal itu, karena perjodohan ini tetap dilaksanakan." Keukeuh Farhan. 


"Semua masalah yang terjadi padamu, semuanya karena aku dan kau tidak bisa mengelak lagi." Peringatan Ayu yang menohok membuat Farhan terdiam, memikirkan calon tunangannya yang sangat keras kepala. 


"Tidak ada yang bisa merubah perjodohan yang telah di tetapkan oleh kedua kakek kita." Cetus Farhan yang membuat Ayu kembali terdiam, memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela, dan melihat padatnya lalu lintas. 

__ADS_1


Setelah sampai di bandara, mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam private jet milik Farhan, dia membantu sekretarisnya dan memegang tangan wanita itu agar tidak terjatuh. "Terima kasih!" ucap Ayu yang tersenyum sejenak. 


"Hem," sahut Farhan yang mengangguk pelan. 


Keduanya duduk di kursi yang telah disiapkan terlebih dulu, Ayu meremas jari-jarinya yang sedikit gugup, dengan cepat Farhan memegang tangan wanita itu dan tersenyum. "Jangan cemas, sebentar lagi pesawat lepas landas. Tutup kedua matamu jika kau merasa takut," ucap Farhan yang berusaha menenangkan sekretarisnya. 


"Baiklah, kau memang benar. " 


Setelah pesawat lepas landas, selama itu pula Ayu memejamkan kedua matanya dan kembali tenang saat Farhan masih menggenggam kedua tangannya. "Kau tidak perlu khawatir, aku ada di sampingmu!" lirihnya pelan disertai senyuman di wajah. 


beberapa saat kemudian tiba-tiba lampu di pesawat menjadi padam, keadaan sekeliling begitu gelap membuat Ayu merasakan sesak dan juga ketakutan. Dengan sigap Farhan memeluk erat wanita yang takut pada kegelapan itu, mengetahui jika Ayu mempunyai phobia akan keadaan gelap. "Kau jangan takut, pesawat hanya mengalami turbulensi." Ucap Farhan yang mencoba untuk menenangkan wanita dalam pelukannya. 


Mendengarkan perkataan bos sekaligus calon tunangannya membuat Ayu kembali tenang, namun dia semakin memeluk dengan erat. Farhan membelai rambut indah dari calon tunangannya, sesekali mencium aroma yang sama. 


Tak lama, pesawat dengan cepat kembali ke keadaan semula. Ayu melepaskan pelukannya saat dan sedikit gugup dengan situasinya sekarang. "Maaf!" hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. 


"Aku baik-baik saja, sekali lagi aku ucapkan terima kasih."


"Sudahlah, mau sampai berapa kali kau mengucapkan kata itu. Kau adalah tanggung jawabku, sudah seharusnya aku menjagamu."


"Tapi tetap saja aku harus mengatakannya kepadamu, untung saja kau ikut bersamaku. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpa kau," jelas Ayu yang menatap Farhan dengan antusias. 


Ayu tersenyum tanpa membalas perkataan dari calon tunangannya, hatinya tersentuh saat melihat perhatian dari pria di sebelahnya. "Farhan sangat peduli padaku, tapi di hatinya hanya ada nama Kira saja dan aku bukan pengganti siapapun." Batinnya dengan raut wajah datar saat mengingat Farhan menyukai Kira. Tidak ada obrolan di antara keduanya yang di sibukkan dengan pikiran masing-masing. 


"Aku sangat yakin jika Kira adalah Ayu, mereka orang yang sama," gumam Farhan di dalam hatinya, pencarian selama ini telah usai dengan hadirnya Ayu. 


Akhirnya pesawat mendarat dengan mulus, keduanya memutuskan untuk keluar dan berjalan berdampingan. Terlihat dengan jelas Kenan dan juga Raymond yang menunggu kedatangan mereka, menyambut dengan senyuman manis. 


Mereka berjalan mendekat menghampiri dua pria tampan itu dan menyapanya. "Bagaimana perjalananmu, Nona Ayu?" tanya Raymond tersenyum manis dan tak menghiraukan yang tatapan tajam dari Farhan. 

__ADS_1


"Perjalananku lancar, walau sedikit ada kendala." Jawab Ayu yang membuat Raymond hendak memeluknya, tapi dengan cepat Farhan mengantisipasi dengan memeluk pria itu. "Di larang memeluknya!" 


"Dia bukan milik siapapun," jawab Raymond yang melirik wanita cantik di hadapannya. 


"Calon istriku, ingat itu!" ancam Farhan sembari melepaskan pelukan. "Bagaimana laporan di pabrik nomor satu?" tanyanya yang menatap Kenan, penanggung jawab pabrik di Perancis. 


"Jika pabrik nomor satu memang tidak memenuhi persyaratan, Tuan." Jawab Kenan. 


"Hem, aku juga minta maaf. Karena aku juga mempunyai peranan penting dalam pertanggungjawaban atas operasi disini, dan karena kelalaianku membuat nona Ayu bermasalah." Celetuk Raymond yang sedikit menyesal dengan kecerobohannya, berimbas pada wanita yang membuatnya tertarik. 


"Ini semua sudah terjadi, tidak perlu menyalahkan diri." Sela Ayu. 


"Tapi, tetap saja akulah yang lalai." 


"Jangan permasalahkan ini lagi, karena semuanya sudah terjadi. Tapi aku sedikit heran bagaimana ini bisa terjadi?" ungkap Ayu yang sangat penasaran. 


"Kita akan tahu hal itu setelah menyelidikinya," imbuh Farhan yang menoleh ke arah sekretarisnya. 


"Ehem, saya sudah menyiapkan penginapan untuk Tuan dan juga nona Ayu. Sebaiknya kalian beristirahat setelah melakukan perjalanan yang sangat jauh." Pinta Kenan yang merasa bersimpati. 


"Kami datang bukan untuk beristirahat, bawa aku ke pabrik nomor satu!" pinta Ayu yang menatap Kenan. 


"Apa yang di katakan Kenan memang benar, jangan paksakan diri dengan mengabaikan kesehatan mu." Ujar Raymond yang merasa kasihan pada Ayu. 


"Aku tidak bisa melakukan hal itu, aku hanya ingin menyelidiki hal ini dan menyelesaikan permasalahan yang ada."


"Hem, baiklah. Jika itu keputusannya, maka aku akan ikut pergi bersama denganmu," tukas Farhan yang mengetahui sikap keras kepala dari gadis itu. 


 

__ADS_1


__ADS_2