
Ayu dan Aluna keduanya sepakat kabur dan bersembunyi untuk menghindari para pengawal yang dikerahkan oleh Farhan, Leon, Mars. Mereka berlari berusaha sekuat tenaga, berambisi untuk kabur dari kejaran para pria tampan, setelah memastikan situasi yang aman.
Keduanya mengatur nafas yang terengah-engah, menyiasati dan mencari jalan keluar. "Sebenarnya apa alasanmu lari?" tanya Ayu sembari mengontrol ritme jantungnya yang berdetak sangat cepat.
"Tentu saja menghindari Leon dan juga Mars, mereka bertengkar entah masalah apa. Aku tidak menyukai keributan dan kabur," jawab Aluna dengan santai.
"Hah, kau ini ada-ada saja."
"Aku? Alasanku lebih logis, tapi kau tidak. Kabur hanya menghindari hubungan intim suami istri, padahal itu olahraga yang sangat menyenangkan." Aluna mulai membayangkan menggunakan pikiran yang mulai kotor.
"Dasar mesum, mengapa kau tidak menikah saja? Dengan begitu kau bisa menikmati dan merasakan sendiri sensasinya," tutur Ayu.
"Hah, apa dayaku? Kau sudah tahu kalau aku menyukai Leon, tapi pria itu malah bersikap arogan dan memasukkan ku dalam daftar hitam, sangat keterlaluan." Gerutu Aluna yang mengingat secara sepintas momen yang menyakitkan itu.
"Dasar konyol, dia mencintaimu. Kau tidak perlu khawatir sekarang."
"Apa? Di-dia menyukai ku? Darimana kau tahu?" seketika Aluna berbinar cerah, seakan terbang tinggi di angkasa.
Dengan cepat Ayu menganggukkan kepala, namun tetap waspada dalam persembunyian mereka. "Untuk apa aku berbohong, kau temanku dan aku juga memberimu tips mendapatkan pria yang dicintai."
"Aku sudah mengikuti tips yang kau berikan, tapi hasilnya berbeda. Entahlah, aku memang menyukai Leon, tapi setelah aku berpikir-pikir Mars juga sesuai dengan tipe ku." Aluna sangat bersemangat jika membahas para pria tampan.
"Hah, kau tidak mempunyai pendirian."
"Kesalahan bukan karenaku, tapi kakakmu itu yang jual mahal padaku. Saat aku mulai beralih pandangan, dia malah mengejar." Ungkap Aluna yang sangat kesal dengan Leon.
"Terserah kau saja, apa bibi Ruo tahu mengenai ini?" ucap Ayu yang sangat penasaran, dia tidak terlalu mengenal keluarga Aluna, hanya mengetahui ringkasannya saja.
Spontan Aluna membekap mulut Ayu saat mendengar tapak sepatu yang menuju ke lokasi mereka. "Sttt…kau diamlah! Atau kita akan ketahuan." Bisiknya yang perlahan melepaskan bekapan.
Kedua wanita itu melihat dari celah pintu secara bergantian, mata yang melotot tak percaya saat melihat Farhan dan Leon yang bertemu. "Semoga tidak ketahuan, ya Tuhan…tolong aku!" batin Aluna, sementara Ayu menelan saliva dengan susah payah.
"Mengapa kau tampak kacau?" tanya Leon yang memperhatikan Farhan yang mengenakan celana dan kaos lengan pendek.
Farhan mengusap wajahnya, hasrat yang berada di ujung tertahan akibat sang istri kabur dari kamar hotel yang di pesan olehnya. "Istriku kabur," ucapnya pelan di telinga Leon.
Leon menyusuri pandangan dari atas hingga bawah, menatapnya dengan penuh selidik. "Apa kau menyakiti adikku?" tuduhnya seraya memelintir baju Farhan.
"Kau marah di saat yang tidak tepat, setidaknya kau tanyakan dulu." Farhan menghela nafas dengan jengah.
Perlahan Leon melepaskan tangannya yang pelintiran baju adik iparnya. "Aku memberimu kesempatan, apa yang terjadi?"
"Ayu kabur saat aku ingin unboxing," ucapnya pelan, sedangkan Leon menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baiklah, apa kau melihat Aluna? Maksudku dia juga kabur."
__ADS_1
"Dia kabur? Tapi mengapa?"
"Tidak banyak waktu untuk menceritakannya sekarang, aku harus cepat sebelum Mars menemukan Aluna terlebih dulu." Terang Leon yang sangat gelisah, tidak ingin kalah saing dari musuh bebuyutannya.
"Bagaimana?" ucap Aluna yang penasaran, berpikir jika para pria itu sudah tidak berada di tempat tak jauh dari persembunyiannya. Dengan cepat Ayu membekap mulut wanita di sebelahnya, takut akan ketahuan.
"Sttt…mereka masih ada di sekitar sini, pelankan suaramu." Bisik Ayu yang di balas dengan anggukan kepala oleh Aluna.
"Eh, apa kau dengar suara itu?" ucap Leon yang bertanya pada Farhan, menguji pendengarannya yang tidak salah.
"Hem, aku mendengarnya sekilas. Ada apa?" tanya Farhan dengan santai dan hendak pergi.
"Aku tahu ini, cepat telepon istrimu sekarang juga." Leon mulai curiga dengan ruangan yang belum mereka periksa, sementara dua orang wanita di dalam ruangan itu segera mencari tempat sembunyi dan pindah. Tapi terlambat saat suara dering ponsel milik Ayu berbunyi.
"Astaga…tamat riwayatku," lirih pelan Ayu lupa meninggalkan ponsel yang selalu dia bawa.
"Apa ada rencana kedua?" bisik Aluna.
"Aku lupa dengan rencana kedua di saat terdesak."
Leon dan Farhan saling melirik dan menarik perhatian mereka pada satu ruangan yang terlihat mencurigakan. "Apa kau tahu apa yang ada di pikiranku saat ini?"
"Tentu saja, mereka bersembunyi di sana."
Leon dan Farhan mendobrak pintu dalam dua kali percobaan, mereka segera masuk dan tersenyum tipis saat menemukan lokasi dua tikus kecil.
"Aku tahu kalian bersembunyi di sini, keluar!" ucap Leon dengan lantang.
"Ayu, dimana kau bersembunyi, sayang? Berhentilah bersembunyi dan tunjukkan dirimu." Sambung Farhan.
Ayu dan Aluna menelan saliva yang tersangkut ke tenggorokan, mengumpat diri sendiri saat persembunyian mereka di temukan.
"Oh baiklah, sepertinya kau ingin aku menemukanmu. Tapi, jangan salahkan aku dengan kosekuensi yang harus kau terima, sayang." Ancam Farhan yang tersenyum penuh arti. "Aku akan menghitung, satu…dua…ti__."
Belum sempat Farhan menyelesaikan kalimatnya, Ayu keluar dari persembunyiannya dengan raut wajah tersenyum paksa. "Kenapa kau cepat sekali emosi, Sayang." Bujuknya yang berusaha semaksimal mungkin.
"Jika kau tidak keluar, aku akan menemukanmu dan menciummu di hadapan semua orang!" ancam Leon.
"Aku disini!" Aluna pasrah dan keluar saat mendengar ancaman yang keluar dari mulut Leon.
"Oho, jadi kalian berdua telah bersekongkol dengan kabur bersama? Ini suatu tindakan yang sangat buruk."
"Tidak, kami tidak bersekongkol. Kami tak sengaja bertabrakan dan memutuskan bersembunyi di sini." Jelas Ayu.
"Oh begitu? Jadi kalian tidak sengaja?" ujar Leon yang menunjuk dua orang wanita yang menjadi tersangka.
__ADS_1
"Iya," sahut Ayu dan Aluna serentak.
Farhan melipat kedua tangannya menatap wajah sang istri dengan penuh penyelidikan, kabur di saat hasratnya sudah berada di ujung. "Ikut aku," tukas nya yang menarik tangan Ayu keluar dari ruangan itu.
"Habislah aku," lirih Ayu yang meringis, membayangkan nasib kedepannya yang pasti mendapat hukuman. Dia sudah tahu mengenai hukuman apa yang akan dilakukannya, tentu saja melayani nafsu sang suami semalaman.
"Farhan, maafkan aku. Kita bisa bicarakan ini baik-baik, bukankah itu ide yang sangat bagus?" tawarnya untuk berkompromi.
"Tidak ada yang harus dibicarakan, kau menyiksaku dengan hasrat yang berada di puncak."
"Ayolah, mengapa kau selalu menghubungkan segala hal dengan hubungan intim," Ayu memelas, memperlihatkan puppy eyes dan berharap akan keringanan hukuman.
"Karena sangat nikmat," jawab Farhan sekenanya saja dan menggendong tubuh Ayu seperti sekarung beras di bahu.
"Hei, turunkan aku! Apa kau tidak malu yang menjadi bahan tontonan semua orang?" Ayu memperhatikan beberapa orang yang lewat, menyembunyikan wajahnya yang merasa sangat malu.
"Tidak, kau sendirilah yang nekat untuk kabur." Jawab Farhan yang dingin, Ayu menghela nafas pasrah akan menjadi santapan suaminya semalam suntuk.
Akhirnya mereka sampai di depan kamar hotel, Farhan membuka pintu dan menguncinya. Sedikit melemparkan tubuh sang istri di atas ranjang empuk yang berukuran king size dan mulai membuka pakaiannya.
"Farhan, bagaimana jika hukuman itu dijalankan lusa? Aku sangat lelah akibat berlari dan juga mengantuk. Ah, aku lupa menelepon anak-anak kita, mungkin saja mereka tidak bisa tidur karena kita di sini." Ayu sangat gugup dan mencoba untuk mencari alasan logis untuk menghentikan aksi sang suami yang sekarang menindih tubuhnya.
"Tidak bisa, Sayang. Ini hukuman yang cocok dan juga nikmat, bersiaplah." Bisik Farhan yang menggigit telinga Ayu dengan perlahan dan mencium bibir merah dengan lembut, memperdalam ciuman yang kian menuntut.
Dia juga memainkan tangan untuk membuka pakaian sang istri dan melemparnya sembarang arah. "Hari ini kau milikku," bisiknya yang mencium dan juga meraba bagian kesukaannya.
Menghabiskan malam bersama tanpa gangguan merupakan suatu prestasi yang patut di banggakan, itulah mengapa Farhan meminta jatah lebih saat ketiga anak kembar tak berada di dekat mereka.
Disisi lain, Leon juga menyeret tangan Aluna dan membawa keluar dari hotel. Dia menggendong tubuh mungil itu seperti sekarung beras yang terasa ringan. Sedikit marah karena wanita itu mencoba untuk lari darinya, sebuah pantangan yang bertolak belakang.
"Leon, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" pekik Aluna yang memukul punggung dari pria tampan itu.
Leon tidak menjawab, terus melangkahkan kakinya menuju keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan oleh pengawalnya. Dia memasukkan tubuh mungil Aluna dengan penuh hati-hati ke dalam mobil, dan dirinya duduk di sebelah untuk mengamankan jika wanita itu tidak akan kabur lagi. "Kau tidak boleh kabur, atau akan menerima hukuman."
"Memangnya kau siapa, jangan mengatur hidupku. Aku bukanlah mainan yang seenaknya kau buang dan mengambilnya kembali, apa karena kau itu pria berkuasa dan memanfaatkan semua nya dengan tahta mu itu? Kau pria brengsek yang pernah aku temui, lepaskan aku! Kau tidak pantas aku perjuangkan, lebih baik aku bersama dengan Mars." Ungkap Aluna yang mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini di tahannya, berjuang beberapa tahun dan menyerah saat pria itu tidak menginginkannya.
Tiba-tiba Leon mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Aluna dengan lembut, tidak membiarkan wanita itu mengeluh ataupun berteriak.
"Hemp." Aluna berusaha untuk melepaskan ciuman itu, dia sangat kesal dengan Leon yang berbuat sesuka hati.
Leon segera melepaskan ciuman itu saat melihat Aluna yang kekurangan oksigen, dn melepaskannya.
Aluna yang mendapatkan celah mendorong tubuh Leon dan menamparnya dengan kasar. "Berani sekali kau merebut ciuman pertamaku!" ucap Aluna yang begitu marah menunjuk wajah pria di sebelahnya dan melupakan bagaimana perasaannya mengenai cinta. "Apa kau berpikir jika aku ini wanita murahan? Kau tidak ada hak untuk menciumku, jauhi aku!" pekiknya yang kehabisan cara saat mantan bosnya malah memeluk tubuhnya dengan erat.
Sementara di sisi lain, Mars begitu patah hati melihat kepergian dari Aluna bersama dengan Leon dalam satu mobil. Dia sangat marah dengan apa yang terjadi dan menganggapnya suatu kesalahan besar. "Aku tidak akan kalah darinya," gumamnya sambil mengepal kedua tangannya dengan sangat erat, menggertakkan gigi dan emosi yang ingin di lampiaskan.
__ADS_1