Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 38 ~ Rencana Vanya dan Maudi


__ADS_3

Ayu mulai memperkenalkan seluruh proyek dengan sangat teratur, satu persatu dia kenalkan dengan begitu detail tanpa ada yang terlewatkan. Dengan kepintarannya, memudahkan segala kesulitan, sesuai yang diharapkan jika penyampaiannya membuat orang lain juga memahami dan terpukau, kecuali Maudi.  


Ketua sekretaris melongo dengan penjelasan bawahannya tanpa menggunakan naskah, semua rencananya hanya sia-sia. "Apa ini? Aku bahkan berusaha untuk membuatnya malu. Tapi bagaimana itu mungkin? Seorang gadis kampung bisa menyelesaikan layaknya seorang profesional?! Sungguh, ini diluar kendaliku. Hah, ini sangat menyebalkan!" keluh Maudi di dalam hati kesal dengan rencananya yang gagal. Kebenciannya semakin bertambah saat Ayu malah semakin menonjol dengan berkat kecerdasan iq yang dia miliki. 


Ayu melirik ketua sekretaris dengan senyuman samar tanpa diketahui oleh orang lain. "Aku sangat yakin, jika kau pasti sangat kesal dengan ini. Mau bagaimana lagi? Aku harus mengeluarkan seluruh kemampuan ku untuk menghadapi duri di setiap jalanku," batinnya. 


Farhan sangat terkejut, matanya tidak pernah lepas saat memandang wanita cantik yang sedang berdiri. Berkharisma dan juga sangat cekatan membuatnya semakin mengagumi sosok wanita itu. "Dia sangat memukau, melakukannya dengan mudah tanpa adanya naskah dan persiapan," batin Farhan yang menarik kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. 


Tatapan mereka bertemu, saat Ayu menangkap basah jika sang bos selalu saja memandangnya. "Kenapa dia menatapku begitu?" Gumam Ayu yang mengembalikan ekspresi nya seperti semula. "Saya sudah menjelaskan dengan begitu rinci dan juga detail, saya harap kalian semua mengerti dengan penjelasan yang saya berikan." Ayu kembali duduk di kursinya, semua tak luput dari tatapan Farhan yang menyukai kinerja dari wanita itu. 


Selang beberapa saat kemudian, Maya maju ke depan untuk mempresentasikan hasil desainnya kepada semua orang yang ada di ruangan itu. "Ini adalah beberapa desain yang sudah dirancang dengan sedemikian rupa, ada begitu banyak keunikan yang membuatnya semakin bersinar. Penambahan beberapa berlian di pertengahan perhiasan menjadi ciri khas tersendiri," jelas Maya yang menunjukkan beberapa gambar perhiasan. 


Farhan tidak begitu tertarik dengan penjelasan itu, apalagi terlihat jika beberapa aksesoris yang menurutnya sangatlah membosankan. Menghela nafas sembari dan menatap Ayu dengan dalam. "Bagaimana pendapatmu?" Tanya Farhan yang meminta pendapat kepada sekretaris barunya. Dia juga menghentikan Maya untuk melanjutkan penjelasan hasil desain karena membuat telinganya panas. 


"Tidak unik dan terlalu biasa, dan ada beberapa celah yang membuat desain itu sangat jelek dan juga kuno," jawab Ayu dengan jujur. 


"Ck, berani sekali dia mengomentari hasil desain yang aku buat dengan penuh kerja keras?!" Umpat Maya di dalam hati, karena tak berani mengatakannya secara langsung. "Benarkah? Tapi yang aku lihat hasil desain perhiasan itu sangat bagus dan juga unik." Tutur Maya yang tak ingin mengalah. 


"Jangan melihat di satu sisi saja, tapi perhatikan di dua sisi atau jika perlu tiga sisi sekaligus. Barulah kau akan melihat kekurangan pada karyamu itu."


"Dia mengatakan hal itu seakan mengerti saja!" batin Maya. "Oh ya, tapi aku sudah melihat berbagai segi dan itu sempurna." Maya tersenyum mengejek Ayu dengan senyuman paksa. Penilaian dari Ayu membuat Maya yang berdiri  disana sedikit marah, karna desain tersebut sebagian besarnya berasal dari pendapatnya, namun malah dinilai jelek oleh Ayu di depan bos besar. 


"Aku rasa, hasil yang ditunjukkan oleh perancang perhiasan sangatlah indah dan tidak ada masalah," celetuk Maudi. 

__ADS_1


"Kau sangat mengerti dengan desain ya!" ejek Ayu yang menatap mata Maudi dengan seksama. 


Sedangkan Farhan hanya melihat perkara ketiga wanita yang bersitegang di ruang konferensi rapat, mengetuk meja yang ada di hadapannya seraya berpikir mengenai keputusan yang akan dia ambil. 


"Bukan begitu, hanya saja orang lain melihat desain dan membuat mata mereka sakit, dan untuk Nona Maya, jangan pernah puas pada suatu karya dan akan membuatmu terlena, akan aku tunjukan bagian kekurangan yang membuat desain mu tidak menarik." Ayu berdiri dari duduk nya, berjalan mendekat ke arah Angel untuk menjelaskan maksud perkataan nya. 


"Apa kau berusaha untuk menarik perhatian tuan Farhan?" Bisik Maya.


"Itu sama sekali tidak penting, aku hanya akan mengoreksi pekerjaan mu yang bisa membuat perusahaan mengalami kerugian," balas Ayu yang juga berbisik dengan seringaian tipis. 


Dia mulai menjelaskan semua pengetahuan mengenai desain perhiasan yang membuat Angel terpojokkan dan termakan keangkuhan dirinya sendiri, dan kembali duduk ke kursinya setelah selesai. 


"Hem, apa yang dijelaskan oleh nona Ayu sangatlah pas mengenai selera pasar internasional, sangat menarik dan juga berkelas."  Ujar Farhan yang semakin membuat senyum dan semangat Maya semakin memudar. 


Setelah rapat selesai, satu persatu orang meninggalkan ruangan itu, tinggallah Ayu dan Farhan. Ayu yang ingin meninggalkan tempat itu tangannya di cekal oleh Farhan, menghentikan langkahnya. 


"Lepaskan tanganku," ketus Ayu. 


"Aku tidak menyangka jika kau sangat pintar dalam ilmu desain."


"Kau sedang memujiku atau menghinaku?"


"Tentu saja memujimu, tapi bagaimana kau melakukan semua itu? Bahkan performa mu hari ini sangat mengejutkan aku," ujar Farhan yang terkesan. Ayu mendelik kesal sembari menatap bos tampannya sambil mendelik, mengabaikan Farhan dan berjalan keluar ruangan. 

__ADS_1


Sementara Farhan hanya melihat punggung wanita itu yang menghilang dari balik pintu. "Sikapnya selalu saja ketus, padahal aku hanya mengungkapkan pujian saja." Lirihnya yang berjalan keluar ruangan. 


Ayu pergi ke kamar mandi saat ada panggilan mendesak, dengan langkah yang terburu-buru untuk masuk ke toilet


"Akhirnya lega!" gumamnya yang ingin keluar dari toilet. Dia ingin membuka pintu tapi, tak sengaja mendengar percakapan antara Maudi dan Vanya yang bekerja sama. "Kenapa ketua ubur-ubur masih disini? Sepertinya mereka sedang membuat rencana baru untukku," Batinnya yang mengintip di sela-sela pintu. 


"Bagaimana? Apa kau punya rencana?" Tanya Vanya. 


"Semua rencana ku selalu saja gagal," jawab Maudi yang mendengus kesal. 


"Sebaiknya kau mengikuti rencanaku untuk mengeluarkan wanita kampung itu dari perusahaan ini, aku sangat jijik saat melihat wajahnya," tukas Vanya. 


"Hah, aku bahkan sangat muak."


"Oho, jadi mereka ingin menendangku dari sini? Tidak semudah itu!" gumam Ayu di dalam hatinya sembari menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. 


"Bagaimana caranya?" Desak Maudi yang memegang lengan Vanya. 


"Tenanglah, aku akan membisikkannya kepada mu." Vanya membisikkan rencana licik yang ada di otaknya, membuat Ayu kesal karena tak bisa mendengar. 


"Ck, apa yang mereka bisikkan? Apa pun itu, semoga saja aku melewati dengan mudah dan dua langkah ke depan dari mereka," batinnya yang memutuskan untuk melawan. 


 

__ADS_1


__ADS_2